PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 106- Kejujuran


__ADS_3

"Baiklah.. akan saya usahakan namun saya meminta waktu, saya tidak mau langsung terlihat mengambil alih perusahaan, saya ingin semuanya berjalan rapi," pinta Bram mengalah.


"Baik.. semoga setelah ini kalian tidak ada pertengkaran lagi," pinta Vina.


"Kalau begitu mari Fel kita pulang, aku gak mau pulang ke masion sendirian," ajak Bram dan Felicia menyetujuinya.


Lalu mereka pulang ke mansion dengan perasaan lega, setidaknya Bram menyanggupi permintaannya untuk mengambil alih perusahaan, ia ingin keluarga Thalia bisa hidup enak berkat kerja kerasnya sendiri bukan dari harta Bram.


"Bram apa yang nanti bakal kamu lakuin untuk mengambil perusahaanmu?" tanya Felicia penasaran.


"Hmm aku masih belum ada rencana, lebih baik aku cari info dulu bagaimana orang tua Thalia mengurus perusahaan dan mencari celah, setelah itu baru aku menyerang secara halus," ucap Bram.


"Apakah itu tidak terlalu lama?" tanya Felicia kecewa.


"Tidak semudah itu mengambil alih perusahaan soalnya waktu itu aku memberikannya secara resmi, orang tua Thalia menginginkan ada hitam diatas putih, jadi pengalihan perusahaan ada saksinya yaitu pengacara, itu menandakan bahwa orang tua Thalia memang pemilik perusahaan secara resmi," ucap Bram.


"Kenapa waktu itu kamu mau-mau aja disuruh pakai pengacara, jadinya sekarang ribet kan," cibir Felicia kesal.


"Yang dulu biarlah berlalu, kalau dibahas terus yang ada kamu marah lagi terus keluar dari sini bawa anak-anak, mengadu lagi pada orang tuamu dan nantinya aku di panggil lagi," sindir Bram.

__ADS_1


"Kamu menyindirku?" tanya Felicia kesal.


"Memang begitu tingkahmu ketika ada masalah, tolong kurang sikapmu yang seperti itu, apa kamu kemarin gak kasihan sama anak-anak?? mereka menangis histeris apalagi Emil, dia pasti terguncang psikisnya.. apapun masalah yang menimpa kita, tolong selesaikanlah disini dan hanya kita saja yang mengetahuinya, jangan lagi libatkan orang tua.. kasihan mereka sudah banyak fikiran dan ingin menikmati hari tua malah memikirkan masalah anaknya, bersikaplah dewasa sayang.. kita sudah memiliki 2 anak apalagi Emil sudah mau remaja, kalau sikapmu begini terus aku jadi takut esok Emil akan menirunya," pinta Bram dengan lembut.


"Apa aku salah ketika ada masalah lari ke rumah orang tua?? aku hanya kesana loh bukan kemana-mana apalagi sampai ke apartemen dan main gila, aku pun pergi membawa anak-anak," protes Felicia.


"Kamu tidak salah pergi ke rumah orang tuamu, yang menjadi permasalahan adalah kamu setiap kesana karena lari dari masalah dan orang tuamu mengetahui itu, apa kamu tidak memikirkan bagaimana penilaian orang tuamu terhadapku?? mereka bisa saja loh mengira aku tidak becus mendidikmu, mereka fikir aku selalu membuatmu susah dan menderita," ucap Bram.


"Ya mau bagaimana pun fikiran mereka tentangmu tetap saja kan kamu itu menantunya, udahlah jangan menasehati orang dulu kalau kamu saja biang dari masalahnya, selesaiin dulu tuh permintaanku," protes Felicia.


"Kok kamu gak mendengarkanku?" tanya Bram mulai kesal.


"Aku abai bagaimana?? segala kebutuhanmu dan anak-anak aku penuhi, uang masa depan, kartu unlimited, villa, apartemen, kapal pesiar, perusahaan, semua aku persiapkan untuk anak-anak, aku juga selalu mencurahkan waktuku untuk kalian, apa pernah sesibuk-sibuknya aku sampai melupakan kalian? pernah gak?? tidak kan? karena kalian sekarang prioritas di hidupku jadi apa yang aku punya dan aku hasilkan ya semua untuk kalian, dimana letak abaiku?" tanya Bram tak terima.


"Itu kan harta, lagi-lagi harta saja yang kau banggakan dan kau perlihatkan, dimana kamu beberapa bulan terakhir ini? sibuk dengan Naomi dan Felicia kan? untung segera ketahuan coba kalau enggak? mungkin sampai sekarang kamu masih disana atau bahkan sudah bercinta lagi untuk yang entah keberapa kalinya," sindir Felicia sakit hati.


"Janganlah kembali membuka luka lama, semua sudah jelas dan Naomi bukan anak biologisku, aku tidak suka memperdebatkan masalah yang sudah lalu," ucap Bram jengah.


"Kamu tidak menyukainya? apalagi denganku Bram??? sakit rasanya.." teriak Felicia berlinang air mata.

__ADS_1


"Tapi semua itu tidak terbukti kan? aku tidak seranjang dengannya dan Naomi bukan anakku, apalagi yang membuatmu sakit hati?? karena menyita waktu kalian? setidaknya kalian tau alasannya kan dan kini membuahkan hasil, jadi cukup membahas masalah itu lagi," perintah Bram menahan amarah.


"Apa dulu Thalia istimewa dan sangat berarti di hidupmu?" tanya Felicia.


"Untuk apa menanyakan hal yang sudah basi, jika dia istimewa mengapa aku lebih menyayangimu," ucap Bram tak suka.


"Kamu menyayangiku karena pernah melakukan kesalahan, sampai sekarang terkadang aku masih bimbang.. apakah benar kamu menyayangiku atau hanya bentuk pertanggung jawabanmu karena sudah menghamiliku?" tanya Felicia sedih.


"Apa maksudmu berbicara seperti itu? harus beberapa kali aku katakan jika hati ini hanya ada kalian.. kamu, Emil dan Eleora saja, kalian prioritasku, kurang bukti apa?? apa selama ini kurang?" tanya Bram tak habis pikir.


"Perasaan orang tidak ada yang tau, siapa tau dihatimu masih ada rasa meskipun itu sedikit," ucap Felicia lirih.


"Haha tuduhan yang tak mendasar, harusnya aku menanyakan itu kepadamu, bagaimana perasaanmu dengan Pandu? apa iya sudah hilang atau masih ada sisa rasa?" tanya Bram membuat Felicia tak bisa berkutik.


"A..aku? ke..kenapa malah balik tanya," ucap Felicia terbata.


"Kenapa?? benar kan dugaanku tadi kalau kamu masih ada sisa rasa, aku sampai sekarang juga belum yakin akan pernyataan perasaanmu waktu itu tapi setidaknya aku menerimanya karena aku fikir ucapan adalah doa, aku berharap seiring berjalannya waktu memang benar kamu memiliki rasa padaku.. tetapi semua sirna ketika masa lalumu menghubungiku kembali, raut wajah dan gesture tubuhmu menunjukkan bahwa kamu masih berharap padanya, apa kamu juga tidak tau bagaimana perasaanku saat mengetahui itu?? aku pun juga sakit, sangat sakit... sudah berapa tahun kita menikah namun sampai detik ini kamu menjaga perasaan untuk masa lalu dan sekarang dengan entengnya kamu menuduhku kalau aku masih ada rasa dan mengistimewakan Thalia, jangan memutar balikkan fakta jika itu semua terjadi padamu.. aku terkadang sampai tak habis fikir kurangku dimana sampai kamu susah sekali membuka hati, aku fikir kehadiran Eleora bisa membuka sedikit celah di hatimu di masuki oleh namaku namun sayang semua itu hanya harapan semu," ucap Bram mengeluarkan semua uneg-uneg di hatinya dengan kesal.


Felicia yang mendengar semua itu hanya bisa diam seribu bahasa, dia menyadari bahwa kesalahannya tidak hanya bersumber pada Bram saja melainkan dirinya juga.

__ADS_1


"Setidaknya Bram memang sudah melupakan Thalia dan membuktikan bahwa diantara mereka tidak ada apapun setelah putus, sedangkan aku?? sampai detik ini perasaanku masih ada untuk Pandu, ya meskipun hari itu aku menyatakan perasaanku pada Bram tapi ternyata hati tak bisa di bohongi," batin Felicia berlinang air mata.


__ADS_2