
"Selamat siang.. saya mau memeriksa Emil dulu ya," sapa dokter dengan ramah.
"Baik dok.." jawab Bram memberi ruang.
"Bagaimana hasilnya dok?" tanya Felicia penasaran.
"Hmm.. hasilnya bagus dan juga hasil laboratorium menunjukkan perubahan yang signifikan, jadi hari ini anak anda boleh pulang.. tapi ingat ya bu dan pak, jaga asupan makannya dan anak anda jangan terlalu capek," ucap dokter menatap keduanya bergantian.
"Syukurlah dokter kami senang mendengarnya, terima kasih dok.." jawab Felicia bernafas lega.
"Baik dok saya akan pastikan Emil mendapat asupan yang sangat baik dan akan saya jaga kesehatannya," ucap Bram melirik Felicia.
"Kenapa dia mengatakan sambil menatapku seperti itu? apa dia menyinidr? cih.. kekanak-kanakan sekali," batin Felicia memalingkan wajah.
"Baik kalau begitu saya permisi dulu, nanti biar suster yang mengarahkan proses administrasinya," ucap dokter berlalu pergi.
"Mamah.. Emil udah boleh pulang?" tanya Emil penasaran.
"Sudah sayang.." jawab Felicia antusias.
"Hore... nanti mamah tinggal bareng lagi ya sama Emil dan juga papah, jangan pisah rumah lagi.. Emil sedih," pinta Emil.
"Emm.. gimana kalau Emil main ke rumah oma?" tanya Felicia mencari alasan.
"Boleh mah.. Emil mau.. ayo kesana sekarang, yeyeye.." jawab Emil bersorak.
"Kamu barusan sembuh boy, jangan berpergian dulu," tolak Bram.
"No.. Emil sudah sembuh, Emil mau main ke rumah oma," protes Emil cemberut.
"Main ke rumah oma besok kalau sudah sembuh ya, habis ini pulang ke rumah dulu," bujuk Bram lembut.
"No papah, pulang ke rumah ya ajak mamah, kalau papah gak mau ya Emil sama mamah aja," protes Emil.
"Oke.. mamah ikut pulang dengan kita, tapi janji ya jangan pergi-pergi dulu sebelum Emil bener-bener sembuh," ucap Bram mengalah.
"Hore... asik... mamah ikut pulang yeye," ucap Emil bersorak senang.
"Beneran aku boleh pulang?" tanya Felicia tak percaya.
"Iya.. demi kesembuhan Emil," Jawab Bram canggung.
"Terima kasih Bram, terima kasih banget," ucap Felicia terharu lalu meneteskan air mata.
__ADS_1
"Gak perlu berterima kasih, ini permintaannya Emil dan ini semua di lakukan karena aku ingin Emil secepatnya sembuh," ucap Bram sok cuek.
"Baiklah.. apapun alasanmu tetap aku berterima kasih," jawab Felicia terharu.
Lalu mereka pulang ke mansion yang sudah 5 bulan tidak di tempati, Felicia berharap bahwa pernikahannya masih bisa di perbaiki.
"Tuan.. nyonya? akhirnya kalian kembali," ucap bibi merasa senang.
"Iya bi, doain ya semoga kami bisa memulainya dengan baik, ini semua berkat Emil.. dia yang menginginkan kami hidup serumah lagi," ucap Felicia senang.
"Pasti nyonya.. saya mendoakan yang terbaik untuk keluarga kecil anda," ucap bibi dengan tulus.
"Terima kasih bi.." jawab Felicia setelah itu bergegas ke kamar Emil.
"Mamah kok disini?" tanya Emil kaget.
"Memangnya kenapa sayang? gak boleh ya??" tanya Felicia heran.
"Ya boleh mah tapi nanti mamah tidurnya di kamar mamah sama papah loh," ucap Emil dengan polosnya.
"Haha iya sayang.. mamah mau menengok anak mamah yang tampan ini, mamah mau main dulu sama kamu," ucap Felicia berbohong, sebenarnya ia canggung masuk kamar utama. ia takut Bram menolaknya dan menyuruh tidur di kamar lain.
"Boleh mah.. Emil juga masih kangen sama mamah, main robot-robotan yuk mah, kemarin waktu beli mainan belum di unboxing," ucap Emil memberikan mainannya lalu mereka bermain dengan seru dan tertawa riang.
"Maafkan papah ya jika beberapa bulan ini memisahkan kalian, keputusanku untuk menerima Felicia pulang kemari bukanlah keputusan yang salah.. semoga dengan hadirnya Felicia bisa membuat kondisi Emil cepat pulih," batin Bram dengan tenang.
Tanpa disadari olehnya, Emil melihat kedatangan papahnya lalu mengajak bermain bersama.
"Papah? kenapa diam aja disitu? sini masuk dong kita main bareng," ajak Emil membuyarkan lamunan Bram.
"Ehh.. Iya boy, papah masuk nih.. wah kalian asyik sekali mainnya, papah kok gak diajak?" ucap Bram ikut duduk.
"Tadi cuma mamah yang masuk kesini, jadi ya ajaknya cuma mamah.. papah sih tadi langsung menghilang," protes Emil.
"Maaf ya boy tadi papah ada urusan sebentar," ucap Bram menelungkupkan tangan.
"Ya udah berhubung ada mamah juga papah disini, gimana kalau main kuda-kudaan? papah yang jadi kudanya dan Emil yang naik?" usul Felicia membuat Bram terkejut.
"Apa?" ucap Bram kaget.
"Papah gak mau ya?? ayo dong pah.." rengek Emil menarik-narik baju Bram.
"Iyadeh.. yuk," jawab Bram mengalah lalu mereka bermain bersama dengan riang.
__ADS_1
"Hahaha.. papah payah ah, masak kalah terus," ejek Emil tersenyum senang.
"Eits.. kamu mengejek papah?? rasakan ini.." ucap Bram lalu menggelitik badan anaknya hingga timbul tawa yang pecah.
"Sudah Bram, kasihan Emil sampai ampun ampun begitu," ucap Felicia.
"Iya pah hahaha ampun papah..ampun.." rengek Emil tertawa geli.
"Masih mau mengejek papah lagi?" Tanya Bram memastikan.
"Tidak pah.. ampun.." rengek Emil.
"Oke papah akan lepaskan, mainnya udah dulu yuk, lanjut besok lagi," ucap Bram.
"Yahhh tapi masih seru pah," jawab Emil kecewa.
"Iya sayang.. papah tau, tapi lanjutin besok lagi ya biar kamu bisa istirahat juga, apa kamu gak mau kalau cepet sembuh?" ucap Bram membujuk.
"Mau dong pah.. nanti kalau Emil udah sembuh mainnya lebih lama lagi ya, tuh lihat pah masih ada mainan yang belum di unboxing," ucap Emil menunjuk beberapa mainannya yang masih terbungkus.
"Siap bos.. sekarang tidur ya, good night Emil.." ucap Bram membelai rambut Emil lalu menciumnya.
"Iya sayang besok bisa main lagi, sekarang istirahat ya, good night sayangnya mamah.. i most love you," ucap Felicia mencium kening anaknya.
"I love you too mah, pah.. tetap seperti ini terus ya, Emil seneng bangettt..." pinta Emil mentap keduanya bergantian.
"Iya sayang.. kami keluar dulu ya, bye.." ucap Bram mengajak Felicia keluar kamar karena ia tak mau mendengar permintaan Emil yang lebih lagi.
#Di kamar utama#
"Bram kok kamu ajak aku kesini?" tanya Felicia heran.
"Why?? this your room, too" ucap Bram.
"Aku fikir kamu gak mau sekamar lagi denganku, makanya tadi aku ke kamar Emil.. aku takut kalau nanti tiba-tiba masuk kesini terus kamu usir," ucap Felicia menatap Bram dengan sedih.
"Astaga... apa aku seanak-anak itu? gak mungkin lah.. sampai sekarang kamu masih menjadi istriku, tidak ada larangan untukmu memasuki kamarmu sendiri," ucap Bram tak habis fikir.
"Ya aku kan hanya berjaga-jaga, daripada nantinya malu di denger pegawai kita kalau aku di usir dari kamar ini lebih baik aku ke kamar Emil," ucap Felicia memainkan jari-jari tangannya.
"Ahh kamu selalu saja over thingking, kalau aku sudah mengajakmu pulang ya berarti semuanya sudah kembali lagi seperti dulu," ucap Bram kesal.
"Se...serius Bram?" tanya Felicia dengan mata berbinar.
__ADS_1