
Lembaran Baru..
Setelah tragedi pengusiran di apartemen Pandu, kini mereka memutuskan untuk pulang, di dalam mobil hingga sampai mansion mereka saling diam.
"Fel.. Are you okay?." Tanya Bram khawatir.
"No.. Its bad Bram, apa yang aku takutkan kini terjadi." Jawab Felicia meneteskan air mata.
"Cepat atau lambat memang semua akan terungkap, kebohongan mau di sembunyikan serapat apapun pasti nantinya akan tercium juga." Ucap Bram dengan lembut.
"Tapi aku gak sanggup kehilangan Pandu, hiks..hiks.." Ucap Felicia menangis terisak.
"Ini memang sulit, tapi aku yakin kamu bisa melewatinya. Maafin aku karena semua ini salahku yang dulunya tergoda oleh ajakanmu, benar kata Pandu jika kita bisa mengontrolnya mungkin ini tidak akan terjadi." Ucap Bram menyesal.
"Aku juga sangat menyesal Bram.. Hiks..hiks.. Mau membalikkan keadaan juga udah gak bisa." Ucap Felicia menangis terisak.
"Kamu mau gak kita memulai semuanya dari awal? Kita buka lembaran baru, karena sekarang sudah tidak ada yang perlu di tutupi lagi.. Jadi kita bisa memulainya dari awal." Pinta Bram penuh harap.
"Kan masih ada seseorang yang belum mengetahui ini Bram, dan untuk memulai dari awal? Aku masih belum yakin." Tolak Felicia.
"Siapa?? Semua sudah mengetahuinya kan?." Tanya Bram penasaran.
"Kekasihmu.. Pasti dia belum tau kebenarannya kan? Sampai sekarang kamu masih menyembunyikannya." Ucap Felicia menatap Bram lekat.
"Tidak perlu menjelaskan apapun padanya karena hubungan kami sudah kandas beberapa bulan yang lalu." Jawab Bram sendu.
"Loh?? Kenapa bisa putus? Apa kamu sudah jujur padanya?." Tanya Felicia terkejut.
"Tidak.. Karena dia ketahuan selingkuh dan alasannya pacaran denganku hanya untuk menguras hartaku saja." Jawab Bram sedih.
"Darimana kamu tau?." Tanya Felicia.
"Aku sendiri yang memergokinya dan mendengar alasannya." Ucap Bram lirih.
"Astaga, kenapa kamu gak cerita?." Tanya Felicia simpati.
"Karena aku gak mau membebani fikiranmu, masalah kita dan rahasia yang kamu sembunyikan dari Pandu sudah membuatmu sangat tertekan apalagi kalau nantinya kamu tau posisiku sudah putus dengannya." Ucap Bram tersenyum getir.
"Maaf Bram karena aku hanya terlalu fokus pada diriku sendiri dan selama ini tak peduli padamu, maafkan aku yang terlalu mengabaikanmu." Ucap Felicia merasa bersalah.
"Tak perlu seperti itu, ini memang sudah takdirnya. Jadi aku gak perlu susah payah menjelaskan atau pun memutus hubungan dengannya, dia sendiri yang membuat kesalahan." Ucap Bram sendu.
"Tapi tetap saja aku gak ada di posisimu ketika sedih, sedangkan kamu selalu ada untukku." Ucap Felicia tak enak hati.
"Udahlah gak perlu gitu, masalahnya juga sudah berlalu. Aku udah gak memusingkannya lagi, yang penting antara masalahku dan masalahmu semuanya udah clear, aku harap kita bisa memulainya dari awal. Jika kamu belum siap setidaknya ini demi anak kita." Ucap Bram bijak.
"Nanti coba aku fikirkan Bram, biarkan seperti ini dulu. Aku masih ingin menenangkan fikiran." Pinta Felicia dengan suara parau.
__ADS_1
"Baiklah.. Semoga setelah ini hubungan kita menjadi membaik." Pinta Bram lalu beranjak dari kamar.
"Permintaanmu tidaklah salah Bram, hanya saja aku masih belum siap kehilangan Pandu. Jadi untuk memulai semua dari awal rasanya tidak mungkin, hatiku masih untuk dia." Batin Felicia menatap kepergian Bram.
"Memang semua ini tidak mudah, setidaknya aku sudah berusaha lebih baik setiap harinya. Urusan perasaan biarlah semesta yang menentukan, entah sampai esok pun kami masih belum ada rasa satu sama lain setidaknya aku tetap akan bersamanya karena ia adalah ibu dari anakku kelak. Apalagi aku gak mau mengecewakan orang tuaku lagi, berbuat baik pada Felicia dan bertanggung jawab pada bayi yang di kandungnya itu sudah cukup baik untuk saat ini." Gumam Bram menyesap rokok di balkon.
Pagi hari…
"Pagi Fel, kamu lagi ngapain?." Sapa Bram mengikuti Felicia di dapur.
"Lagi buat sarapan untuk kita." Jawab Felicia sibuk berkutat masak.
"Loh kemana bi Iin?." Tanya Bram.
"Bi Iin izin pulang kampung katanya orang tuanya sakit, jadi ya mau gak mau aku izinkan, nanti kembali lagi seminggu kemudian." Ucap Felicia kerepotan memasak.
"Kenapa gak beritahu aku? Kan aku bisa menyuruh art di rumah mamah untuk sementara kerja disini. Kamu bisa masak?." Tanya Bram ragu-ragu.
"Yaa liat di youtube begini step by stepnya, semoga enak lah." Ucap Felicia tak yakin.
"Emang kamu masak apa?." Tanya Bram ragu-ragu.
"Nasi goreng telor, itu menu simple untuk sarapan." Jawab Felicia fokus menonton youtube dan mempraktekannya.
"Itu sangat mudah Fel.. Ngapain pakai nonton tutorial segala. Sini aku buatin aja, kamu duduk disana." Ucap Bram mengambil alih.
"Yaudah kamu goreng telor aja sana, itu sangat gampang dan gak beresiko." Perintah Bram dan Felicia langsung mengambil teflon serta telor. Ketika membuka cangkang telor dan menumpahkannya di teflon, tangan Felicia terkena cipratan minyak panas.
"Aduh sakit banget." Rintih Felicia mengipas-kipas tangannya.
"Astaga kamu kenapa?? Masak telor ya jangan gede gini dong kompornya, minyaknya pun jangan tercampur air. Masak telor aja kamu gak bisa gimana mau masak yang lainnya." Protes Bram lalu membalurkan tepung di tangan Felicia.
"Namanya lagi belajar, jangan di hujat dong. Sakit nih, panas." Protes Felicia kesal.
"Lain kali kalau gak bisa jangan memaksa." Cibir Bram kesal.
"Bisa gak jangan ngomel terus, tanganku panas gini nanti kalau melepuh gimana?." Tanya Felicia panik.
"Tidak akan.. Tadi sudah aku kasih pertolongan pertama, kamu duduk aja biar aku yang masak." Ucap Bram menuntun Felicia duduk.
Lalu Bram berkutat di dapur dengan cekatan hingga membuat Felicia melongo tak percaya, ia fikir Bram sama sepertinya yang gak bisa urusan dapur, namun prediksinya meleset, Bram justru jago dalam hal masak memasak.
"Gue kalah sama suami gue sendiri, dia aja cekatan dan sangat meyakinkan sekali memasaknya, sedangkan gue?? Ngupas bawang aja gak selesai-selesai apalagi perihal perbumbuan. Malunya aku." Batin Felicia menatap Bram yang sedang memasak.
Setelah makanan siap mereka langsung menyantapnya, Felicia terkesima dengan rasa masakan suaminya itu.
"Bram.." Sapa Felicia sembari mengunyah.
__ADS_1
"Di kunyah dulu sampai habis baru bicara." Ucap Bram memperingati.
"Udah habis nih.. Masakanmu enak juga ya ternyata." Puji Felicia.
"Pastinya lah kan aku jago masak. Beruntung kan kamu punya suami paket komplit kayak aku ini." Ucap Bram menyombongkan diri.
"Bisa gak kamu jangan over percaya diri, di puji sedikit jawabannya kemana-mana." Ucap Felicia kesal.
"Itu faktanya." Jawab Bram kembali menyantap sarapan.
"Next time ajari masak ya?." Pinta Felicia penuh harap.
"Uhuk.. Uhuk.. Gak salah denger nih aku? Kamu mau masak telor dan kupas bawang aja heboh gitu apalagi mau masak lainnya." Ejek Bram tersenyum sinis.
"Jangan meledek gitu dong gue ini mau berusaha. Mau ya?." Rengek Felicia.
"Lihat saja nanti kalau aku gak sibuk, habis ini kamu tak antar ke rumah mamah aja ya." Ucap Bram tak berani menatap Felicia karena ia gugup di puji masakannya enak.
"Loh kenapa emangnya?." Tanya Felicia terkejut.
"Disini gak ada orang dan aku harus kembali kerja, apalagi bi Iin izin kan? Nanti kalau kamu laper siapa yang mau masakin?." Ucap Bram penuh perhatian.
"Katanya kamu mau minta tolong salah satu art mamahmu part time disini, gimana sih?." Jawab Felicia kesal.
"Iya tapi mulai besok lah, mana bisa kabari mendadak gini. Mereka juga punya job desk masing-masing.. Jadi habis ini aku anter ke rumah mamah." Ucap Bram telah selesai makan.
"Kalau ke mansionku aja gimana Bram? Aku pengen ketemu mamah." Pinta Felicia menatap lekat Bram.
"Yaudah kamu siap-siap dulu sana, perjalanan ke mansionmu kan butuh waktu lumayan lama. Jangan sampai nanti aku telat masuk kantor." Ucap Bram memperingati dan Felicia langsung masuk ke kamar untuk siap-siap.
"Padahal tujuanku ajak dia ke rumah biar bisa makin akrab sama mamah, tapi sepertinya dia belum siap bertemu lagi dengan orang tuaku.. Lebih baik jangan dipaksa takutnya nanti dia gak nyaman." Gumam Bram lalu main hp sambil menunggu istrinya selesai dandan.
Setelah selesai mereka langsung melajukan mobil menuju mansion Felicia. Hari ini Felicia sangat senang karena bisa bertemu lagi dengan orang tuanya.. Ia sudah tidak sabar.
Di manison Felicia.
"Mah.. I miss you so much." Sapa Felicia memeluk mamahnya erat.
"Me too Felicia.. Akhirnya kamu main kesini tapi kenapa pagi-pagi sekali? Kalian udah sarapan?." Tanya Vina penuh perhatian.
"Sudah tante, Felicia minta main kesini karena dirumah gak ada orang, di satu sisi Bram juga khawatir kalau nanti ada apa-apa sama Felicia." Ucap Bram.
"Iya bener itu tapi kan jarak dari rumah kalian kesini lumayan jauh loh, kenapa gak ke rumahmu aja Bram?." Tanya Vina curiga.
"Felicia yang ingin kesini tante, sebenarnya Bram udah usul ke rumah mamah aja tapi Felicianya gak mau dan merengek minta diantarkan kesini. Tante maaf ni bukannya gak sopan tapi Bram harus segera berangkat ke kantor." Ucap Bram dengan terburu-buru.
"Oh iya iya Bram yaudah kamu hati-hati di jalan ya, tenang aja istrimu akan aman disini." Ucap Vina menepuk pelan bahu menantunya.
__ADS_1
"Saya percaya tante. Saya permisi dulu, Fel kalau ada apa-apa segera kabari aku." Pesan Bram pada Felicia dan dijawab anggukan kepala oleh Felicia.