
Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang.
"Mau kemana lagi sayang?" tanya Bram penuh perhatian.
"Pulang aja deh capek soalnya," jawab Thalia dengan wajah lesu.
"Siap tuan putri," Jawab Bram dengan gerakan hormat lalu menenteng semua belanjaan kekasihnya.
"Sini sayang jangan semuanya kamu yang bawa nanti kecapekan loh, kan berat," ucap Thalia tak enak hati.
"Enggak kok sayang tenang aja. Lebih berat menahan rindu padamu," rayu Bram.
"Haha kamu ini ya gombal terus daritadi. Aku juga kalau lagi rindu rasanya berat banget.. Rindu itu berat sayang," jawab Thalia terkekeh.
"Rindu itu berat, kamu gak akan kuat.. Jadi biarkan aku saja yang menanggungnya. Jangan lagi menahan rindu," rayu Bram lagi.
"Kalau gak menahan rindu ya mana bisa? Setiap aku kangen kan gak selalu kamu temui," jawab Thalia manyun.
"Maaf ya sayang makanya jangan menahan rindu.. Jika sedang rindu padaku dan tidak bisa berjumpa maka pandanglah foto kita berdua dan sebut namaku 3x didalam hatimu," rayu Bram dengan senyum manis.
"Setelah aku sebut namamu 3x apa yang akan di dapat?" tanya Thalia penasaran.
"Yang kamu dapat nantinya adalah kamu akan semakin cinta dan sayang padaku," rayu Bram.
"Ahhh.. Itu mah gak usah ditanya sayang, sudah pasti tambah sayang dan cinta dong. Kamu aja so sweet gini, cewek mana yang gak meleleh dengerin rayuanmu," ucap Thalia mencolek lengan Bram.
"Yang terpenting aku melakukannya hanya padamu saja sayang. Aku tidak mudah mengumbar gombalan pada semua wanita jika dihatiku tidak benar-benar mencintainya," jawab Bram jujur.
"I believe.. Memang aku menjadi salah satu wanita beruntung yang bisa memilikimu," ucap Thalia kagum dan Bram hanya menjawabnya dengan senyuman manis lalu mereka bergandengan tangan dengan mesra menuju mobil.
__ADS_1
20 Menit kemudian mereka sudah tiba di rumah Thalia. Niat hati ingin mampir sebentar tetapi harus tertunda karena ia segera di suruh pulang oleh papahnya.
"Maaf ya sayang gak bisa mampir soalnya papah segera menyuruh pulang," ucap Bram dengan sedih.
"Ya sebenarnya aku masih kangen.. Tapi gimana lagi? Papah kamu yang suruh. Yaudah deh," jawab Thalia pasrah dengan wajah cemberut.
"Jangan cemberut gitu dong sayang, next time kita hangout lagi," bujuk Bram.
"Ya next time nya itu kapan sayang?? kita aja hampir 4 bulan loh gak ketemu. Setelah ini berapa lama lagi coba?" protes Thalia kesal.
"Aku usahakan secepatnya ya.. Yaudah aku pergi dulu, bye sayang," pamit Bram mencium kening Thalia dan berpelukan sebentar.
"Hug me again, please," rengek Thalia dengan manja.
"Oke sayang," jawab Bram lalu memeluk Thalia cukup lama dan akhirnya ia lepaskan lalu segera pergi.
"Maafin gue sayang sebenarnya gue juga masih kangen tapi entah kenapa Papah tiba-tiba menyuruh pulang.. Sebenarnya tujuan gue ngajak hangout sebagai bentuk perpisahan kita sebelum nantinya gue jadi suami Felicia. Gue ingin merasakan pergi denganmu secara bebas tanpa ada ikatan resmi dari siapapun.. Tetapi semua terhalang karena Papah. Maaf ya Thalia, esok ketika kita bertemu lagi situasinya sudah berbeda, statusku sudah menjadi suami orang," gumam Bram sedih sambil menyetir mobil.
#Di Mansion Bram#
"Ada apa pah?" tanya Bram tanpa basa-basi.
"Pulang ya ucapkan salam dulu terus duduk dan bilang baik-baik bukan malah begini. Kayak lagi bicara sama musuh," ucap Wijaya ketus.
"Udahlah Pah langsung aja intinya apa? Bram capek banget hari ini," jawab Bram jengah.
"Capek habis belanjain cewekmu barang-barang branded, iya? Inget Bram kamu itu mau menjadi S U A M I, jadi tidak seharusnya masih menjalin hubungan dengannya. Sadarlah Bram dia itu cuma memanfaatkanmu aja," ucap Wijaya menahan emosi.
"Thalia biar menjadi urusanku, entah dia hanya memanfaatkanku atau tidak yang terpenting Bram sayang padanya," jawab Bram malas debat.
__ADS_1
"Kamu ini ya susah di bilangin," cecar Wijaya menahan gejolak di dadanya.
"Langsung to the point aja pah," jawab Bram datar.
"Kenapa kamu meninggalkan Felicia sendirian di rumah sakit?" tanya Wijaya kesal.
"Siapa yang meninggalkannya di rumah sakit sendirian? disana ada orang tuanya kok kebetulan mereka keluar sebentar cari makan. Jangan asal nuduh deh Pah," jawab Bram tak terima.
"Makanya itu papah memberitahumu Bram kalau Felicia di rumah sakit sendirian. Orang tuanya bukan cari makan melainkan pulang ke mansionnya sebentar untuk memberitahu pada pegawainya jika besok Felicia pulang. Orang tuanya minta tolong di siapin kamar dan segala keperluannya. Pas mereka balik ke rumah sakit tiba-tiba Felicia sedang menangis dan kamu gak ada di situ. Mereka fikir kalian habis bertengkar," ucap Wijaya kesal.
"Lah.. salahnya sendiri mereka gak bilang mau pulang. Lagian kalau hanya menyuruh mempersiapkan segala keperluan Felicia nantinya selepas pulang kenapa harus datang kesana? Kan bisa via telepon. Mereka pamitnya mau cari makan ya Bram fikir memang begitu, jadi ini bukan sepenuhnya salah Bram," ucap Bram tak mau disalahkan.
"Kamu ini ya bukannya meminta maaf sama keluarga Felicia malah melempar kesalahan pada mereka," ucap Wijaya tak habis fikir.
"Memang begitu kan? Bram gak salah kok kenapa harus Bram yang meminta maaf?? Felicia menangis ya bukan sepenuhnya salah Bram. Kenapa mereka tidak menanyakan langsung dan malah berspekulasi sendiri?" tanya Bram dengan ketus.
"Ya karena kamu orang terakhir yang bersamanya jadi mereka mengira kalau kalian habis bertengkar" jawab Wijaya ketus.
"Papah juga gak menanyakan kan kenapa Felicia menangis? papah lebih memilih menyalahkan Bram?" tanya Bram tak percaya.
"Ya Papa fikir memang kebenarannya begitu," jawab Wijaya tak mau kalah.
"Terserah kalian saja lah mau menganggapnya bagaimana, Bram capek mau istirahat, kepala rasanya penat sekali. Mau Bram jelasin yang sebenarnya pun juga percuma kalau kalian hanya berspekulasi sendiri tanpa bertanya terlebih dahulu. Bram gak bisa bayangin bagaimana nantinya setelah menikah dengan Felicia dan tinggal bersama orang tuanya, bisa-bisa Bram tekanan batin," ucap Bram dengan kesal sambil bergidik ngeri.
"Bram.. jaga ucapan kamu," gertak Wijaya.
"Itu kenyataannya, Bram selalu berfikir seribu kali dan membayangkan bagaimana ribetnya hidup dengan mereka. Bram bisa-bisa gak betah dirumah.. papahnya emosian, mamah dan anaknya baperan.. aduh pusing," jawab Bram menepuk jidatnya.
"Sudahlah sana kamu ke kamar, bicara denganmu bikin papah makin pusing, jangan lagi kamu mencari gara-gara dengan Felicia," ultimatum Wijaya dan Bram tak mengubrisnya lalu memilih masuk ke kamar.
__ADS_1