
Setelah mobil Bram melaju dan tidak tampak bayangannya lagi, kini Felicia dan Vina masuk ke rumah.
"Kamu beneran udah sarapan sayang?." Tanya Vina memastikan.
"Sudah mah tadi Bram yang masak, dia jago loh masaknya." Puji Felicia dengan bangga.
"Iya kah? Kok kalian masak sendiri emang art kalian kemana?." Tanya Vina penasaran.
"Bi Iin izin pulang kampung karena orang tuanya sakit, balik kerja seminggu lagi mah. Makanya Bram tadi minta aku ke rumah mamahnya aja, dia takutnya nanti kalau aku pengen makan sesuatu gak ada yang buatin." Ucap Felicia manyun.
"Lalu kenapa kamu malah kesini? Harusnya turuti kata suamimu, dia sekarang sudah jadi suamimu loh Fel.. Apa kamu gak kasihan dia nantinya bolak-balik, tadi aja buru-buru gitu." Tanya Vina heran.
"Feli belum siap mah, Feli takut serumah sama mertua. Lihat di sinetron rata-rata mama mertua itu galak." Jawab Felicia bergidik ngeri.
"Astaga itu kan di sinetron, gak semua mertua seperti itu. Mamahnya Bram baik loh nyatanya waktu kita di rumah sakit mereka merawat kita sampai sembuh, dari situ harusnya kamu bisa menilai." Ucap Vina dengan lembut.
"Tetep aja mah masih takut, ntar aja deh kesananya kalau sama Bram." Jawab Felicia tak mau dibantah.
"Yaudah terserah kamu aja yang penting mama udah kasih tau. Gimana rumah tangga kalian?." Tanya Vina penasaran.
"Ya baik-baik aja mah, la gimana coba?." Tanya Felicia bingung.
"Syukurlah kalau gak ada masalah, mamah sempet curiga sama kalian kenapa tiba-tiba Bram membawamu kesini sepagi ini, ternyata dugaan mama salah." Ucap Vina lega.
"Mamah kira ada apa dengan pernikahaan kami?." Tanya Felicia penasaran.
"Ya mamah kira kalian bertengkar hebat terus kamu di kembalikan kesini dengan alibi gak ada orang di rumah dan Bram buru-buru ke kantor." Ucap Vina.
"Astaga.. Enggak mah, kami baik-baik saja malah kemarin habis kontrol kandungan." Ucap Felicia antusias.
__ADS_1
"Iya kah? Kenapa gak ajak mamah sih? Kan mau lihat wajah cucu mamah." Protes Vina kesal.
"Nanti pas udah lahir mamah malah bisa lihat dengan puas." Jawab Felicia tersenyum senang.
"Kapan lahirannya?." Tanya Vina tak sabar.
"Prediksi bulan besok mah, doain ya semoga semuanya lancar.. Mau cewek apa cowok yang penting sehat dan lengkap." Pinta Felicia menggengam tangan Vina.
"Cepat sekali ya? Aamiin.. Mamah gak menuntut harus cewek atau cowok yang terpenting kamu dan bayinya sehat itu udah cukup buat mamah." Ucap Vina meneteskan air mata.
"Dont cry mom.. Nanti aku ikutan sedih." Rengek Felicia menyeka air mata mamahnya.
"Mamah gak menyangka kamu akan menjadi seorang ibu, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua. Rasanya waktu cepat sekali berlalu." Ucap Vina tak menyangka.
"Iya mah kadang Feli dan juga Bram gak menyangka akan hal ini. Padahal rasanya baru kemarin kami lulus sekolah tapi sekarang udah mau jadi orang tua." Ucap Felicia terharu.
"Makanya itu mamah merasa sudah tua." Ucap Vina terkekeh.
"Momen seperti ini gak akan terulang lagi, momen dimana Felicia belum seutuhnya menjadi seorang ibu. Selagi Felicia masih sendiri banyak momen yang udah aku lewati dengan sangat cepat hingga kini putriku sudah menikah dan sebentar lagi menjadi seorang ibu. Semoga pernikahan ini adalah keputusan yang terbaik bagi kalian ya sayang, mamah gak mau melihatmu terpuruk lagi." Batin Vina menatap Felicia lekat lalu memeluknya.
"Mah.. Tetap menjadi mamah yang hebat bagi Felicia ya, aku ingin jadi perempuan hebat dan kuat seperti mamah. Semoga nanti aku bisa mendidik anakku seperti cara mendidik mamah padaku dulu." Ucap Felicia menyeka air mata.
"Iya sayang.. Mamah akan selalu menjadi tempat berteduhmu, mamah harap kamu nantinya menjadi orang tua yang lebih hebat dari mamah." Ucap Vina tulus.
"Aamiin.. Terima kasih banyak mah, kini Felicia rasanya sangat lega karena semuanya udah clear." Ucap Felicia dengan perasaan bahagia.
"Maksudnya gimana?." Tanya Vina curiga.
"Pandu dan orang tuanya sudah mengetahui semuanya mah, jadi gak ada yang di tutupi lagi." Ucap Felicia.
__ADS_1
"Kapan mereka tau?." Tanya Vina terkejut.
"Kemarin kami gak sengaja ketemu Pandu di mall ketika makan siang. Mau gak mau akhirnya Bram mengakui ini semua, kalau orang tua Felicia jauh sebelum Pandu mengetahuinya.. Papah Pandu sampai di jebloskan ke penjara oleh Bram." Ucap Felicia.
"Loh loh kok bisa gitu? Kenapa kalian tidak memberitahu ke kami?." Tanya Vina terkejut.
"Mamah ingat kejadian Felicia dan Bram di villa sebelum menikah? Sehari sebelum pulang, Feli di teror sama seseorang dan setelah di usut ternyata dalangnya adalah om Hartanto, papahnya Pandu." Ucap Felicia sendu.
"Astaga kok kalian diam aja mendapat masalah seperti ini? Apa motifnya sampai menerormu di villa?." Tanya Vina penasaran.
"Karena Bram fikir masalah ini cukup menjadi rahasia kami saja, dia gak mau menambah beban fikiran kedua orang tua masing-masing.. Motifnya ya karena om Hartanto kecewa sama Felicia dan juga Bram yang selalu saja lolos dari pantauannya dan juga Bram selalu bisa membantah tudingan-tudingan Pandu." Ucap Felicia sedih.
"Tapi kan gak seharusnya kayak gini caranya Fel.. Kalau papahmu tau pasti gak terima, bener tuh tindakan suamimu untuk jeblosin ke penjara, biar dia jera. Mamah jadi geram sendiri hiih." Ucap Vina emosi.
"Udahlah mah semua sudah ditangani pihak kepolisian kok, awalnya Feli juga merasa gitu tapi makin kesini Feli bisa menerima alasan om Hartanto melakukan itu ya meskipun caranya salah sih. Mungkin itu bentuk sayang seorang ayah pada anaknya, udahlah mah Feli kesini mau quality time sama mamah bukan bahas masalah." Ucap Felicia tak mau memperpanjang masalah.
"Tapi mamah masih gak terima, bisa bawa mamah ke polsek buat ketemu papanya pandu?." Tanya Vina menahan amarah.
"Jangan deh mah itu bukan jalan terbaik, serahin aja sama pihak kepolisian. Lagian Feli males ketemu sama om Hartanto bisa-bisa Feli kontraksi lagi." Sungut Felicia.
"Apa? Kamu sampai kontraksi karena dia?? Beraninya membahayakan putriku." Gertak Vina terkejut.
"Iya mah tapi untungnya gak papa kok, Bram cekatan memberi pertolongan. Ayok mah kita me time aja.." Rengek Felicia bergelanyut manja.
"Awas ya kalau sampai kalian menyembunyikan hal berbahaya kayak gini lagi, jangan harap nanti mamah dan papa tinggal diam. Jangan di fikir setelah menikah maka kami akan diam aja melihatmu dalam bahaya." Gertak Vina dengan sorot mata tajam.
"Iya mamah sayang.. Gak lagi, ayok kita kemana gitu, mumpung main kesini loh." Rayu Felicia.
"Beneran ya.. Yuk kita ke salon, mamah rencana mau message sama creambath." Ajak Vina antusias.
__ADS_1
"Yuk mah." Jawab Felicia senang, kemudian keduanya pergi ke salon langganan yang biasa mereka kunjungi. Salon kelas atas yang customernya para istri konglomerat dan pejabat.