
"Sini duduk dulu sayang, untung tante langsung inisiatif ajak kesini coba kalau masih belanja nanti kamu bisa pingsan," ucap Dina khawatir.
"Terima kasih tante dan maaf sudah merepotkan," jawab Felicia lirih.
"Sudah-sudah, kita makan dulu sembari istirahat supaya tenagamu pulih lagi," ucap Dina lalu memesan makanan.
Ketika mereka sedang makan bersama tiba-tiba Felicia mual dan berlari ke kamar mandi.
"Hoek.. hoek.." suara mual Felicia.
"Sayang are you okay?" tanya Dina mengetuk pintu dengan perasaan khawatir.
Cekrek.. suara pintu terbuka dan Felicia keluar dengan lesu.
"Astaga kamu lemas sekali sayang.. bisa jalan?" tanya Dina panik.
"Bisa tante, jangan cemas begitu ya nanti aku ikut panik," ucap Felicia lirih lalu berjalan pelan menuju meja.
"Syukurlah.. sebenarnya ada apa denganmu Fel? kenapa tiba-tiba mual ketika baru makan satu suap? ini kan menu kesuakaanmu di restoran ini," tanya Dina heran.
"Iya tante, memang akhir-akhir ini Felicia sering mual-mual kalau makan," jawab Felicia lirih.
"Astaga jangan-jangan dia hamil? Tapi dengan siapa? Pandu sedang kuliah di luar negeri, atau dia selingkuh? ah mana mungkin mereka kan saling mencintai," batin Dina tak yakin.
"Apa kamu mual kalau mencium atau makan tertentu? terus kamu terkadang menginginkan makan sesuatu seperti ngidam?" tanya Dina memastikan dan dijawab anggukan kepala oleh Felicia.
"Astaga.. Jangan-jangan.." gumam Dina tak percaya.
"Jangan-jangan kenapa tante?" Tmtanya Felicia panik.
"Kamu telat haid?" tanya Dina lagi.
"Iya tante tapi kata dokter itu lumrah karena Felicia koma hampir 3 bulan dan hanya berbaring lemah tanpa pergerakan apapun, obat yang Felicia konsumsi pun terkadang membuat Felicia langsung mual dan hilang nafsu makan seperti sekarang ini, Felicia lagi gak selera makan tapi Feli paksa jadinya ya mual," alibi Felicia agar tante Dina tak curiga kalau dia hamil.
"Ohh.. iya juga sih mungkin pengaruh obat dari dokter karena dosisnya tinggi, kalau gak mau makan gak usah dipaksa sayang atau mau ganti menu aja?" tawar Dina penuh perhatian meskipun sedikit curiga.
__ADS_1
"Iya tante ganti coklat panas aja," jawab Felicia sembari memijat keningnya pelan.
"Kalau pusing mending langsung pulang saja gimana?" tanya Dina.
"Yaudah tante gak papa pulang aja," jawab Felicia pasrah lalu mereka pulang dalam diam dengan fikiran masing-masing.
Sesampainya dirumah Felicia, Dina langsung pamit pergi karena hatinya sedang kacau melihat perubahan dari Felicia.
"Tante langsung pulang saja ya sayang biar kamu bisa istirahat," ucap Dina.
"Hati-hati tante," jawab Felicia sambil melambaikan tangan dan Dina membalasnya dengan senyuman.
"Semoga tante Dina tidak curiga sama sekali, gue belum bisa berpisah dengan Pandu," gumam Felicia sembari menatap kepergian Tante Dina.
Sementara itu di perjalanan, Dina tak henti-hentinya menerka apa yang disembunyikan oleh Felicia. Mau menuduh yang bukan-bukan tapi tidak mungkin.. Lalu ia menelfon suaminya untuk mencari solusi.
"Halo, pah masih di kantor?" tanya Dina.
"Masih mah, ada apa?" Tanya Wijaya penasaran.
"Bahas apa mah? halo.. halo" ucap Wijaya bingung.
"Entah ini firasatku benar atau salah tapi kenapa hatiku sangat yakin kalau Felicia itu hamil, lbih baik aku diskusikan dulu sama Papah sebelum Pandu mengetahui ini, takutnya akan menganggu belajarnya disana," gumam Dina memijat keningnya.
15 menit berlalu kini Dina sudah tiba di kantor suaminya dan berlenggang masuk. Seluruh staff menyapa istri bos besar ketika berpapasan.
"Selamat siang bu," sapa staffnya dan dijawab anggukan kepala oleh Dina.
Di ruangan CEO.
"Mah.." sapa Wijaya memeluk istrinya dengan mesra.
"Pah ada yang perlu kita bahas, ini sangat sensitif pah," ucap Dina melepas pelukan suaminya.
"Duduk dulu mah biar bicaranya lebih enak, gak biasanya kamu serius seperti ini, mau minum dulu?" tawar Wijaya penuh perhatian dan Dina mengangguk setuju.
__ADS_1
"Bentar papa telfon dulu," jawab Wijaya lalu menelfon sekretarisnya supaya memberitahu OB membuatkan teh untuk istrinya.
"Sudah mah, kalau masih kesal lebih baik duduk-duduk dulu biar bicaranya lebih rileks," usul Wijaya memegang tangan Dina.
"Gak bisa pah.. ini harus segera dicari jalan keluarnya," ucap Dina sudah tak sabar.
"Baiklah.. papah akan dengarkan dulu penjelasan dari mamah baru setelah itu kita cari jalan keluarnya," ucap Wijaya siap mendengarkan keluhan istri tercintanya.
"Makasih pah.. jadi tadi siang mamah datang ke mansion Felicia, niatnya mau ajak belanja soalnya besok kan ada arisan, setelah tiba di Mall dan kalap belanja, mamah inisiatif ngajakin Felicia makan siang karena tadi jeng Vina berpesan Felicia gak boleh terlalu capek, makanya itu mamah ajak makan di restoran favorite kami, mamah pesenin menu kesukaannya dan baru satu suapan tiba-tiba dia mual-mual Pah," ucap Dina serius.
"Lalu Mah?" tanya Wijaya penasaran.
"Ya ketika Mamah samperin ke kamar mandi dia lemas banget, oh iya sebelum itu kan kami mau masuk ke resto eh Felicia tiba-tiba sempoyongan, mamah udah curiga ketika itu, yang kedua ya waktu di kamar mandi dia mual-mual,.terus mamah nanya apakah dia ada ngidam makanan atau minuman tertentu dia jawab iya, terus mamah tanya lagi apakah dia ada telat datang bulan dan apakah papah tau jawabannya? dia jawab iya, dengan alibi posisinya habis selesai koma dan masih mengkomsumsi obat dokter, mamah semakin curiga dong, apa iya efek obat sampai pengaruh ke siklus haid? mamah perempuan jadinya tau kalau itu gak mungkin, mamah gak mau suudzon tapi kok ya tanda-tandanya mendekati wanita yang sedang hamil, mamah jadi serba salah, mau nanya langsung takut tersinggung tapi kalau di pendam kok rasanya janggal," ucap Dina memijat keningnya.
"Apa?? jadi mamah menduga kalau Felicia hamil? tapi dengan siapa mah? anak kita saja kuliah di luar negeri," ucap Wijaya terkejut.
"Makanya itu mamah jadi bingung di posisi ini, kalau hamil ya mana mungkin kan anak kita kuliah di luar negeri tapi kalau selingkuh pun rasanya enggak deh, papah tau sendiri kan kalau mereka saling mencintai," ucap Dina bingung.
"Iya sih mah.. Jangan asal tuduh dulu, siapa tau dia mual karena pengaruh atau tidak cocok dengan obatnya, dan tadi mamah bilang kalau Felicia sempat koma? kenapa hanya mamah yang tau? kok papah gak dikabari?" tanya Wijaya bingung.
"Mamah aja taunya pas tadi main kesana kok, mereka sempat kecelakaan dan kondisi Felicia yang paling parah, dia koma 3 bulan, tujuan mamah datang kesana ya karena permintaan Pandu untuk memantau Felicia kenapa menghilang begitu lama," ucap Dina setelah iti menyeruput teh.
"Kok aneh ya mah? mereka kecelakaan sampai masuk rumah sakit kok gak ada yang kabari kita? seperti ada yang mereka sembunyikan," ucap Wijaya menganalisa.
"Mamah juga berfikir begitu," jawab Dina menganggukan kepala.
"Gini aja mah besok kita terbang ke Amerika buat tanya langsung sama Pandu apakah dia pacaran dengan Felicia sudah sampai melebihi batas, setelah mendapat jawaban Pandu baru kita nanti mencari info apa yang sebenarnya di sembunyikan dari mereka," usul Wijaya.
"Jangan besok kan mamah ada arisan, senin aja ya," bujuk Dina.
"Iya terserah mamah aja, tadi katanya mau segera menyelesaikan masalah kenapa sekarang menunda," Ucap Wijaya heran.
"Besok kan mamah arisan dan mamah udah belanja buat penampilan besok, sayang dong kalau gak di tampilkan," ucap Dina tak mau disalahkan.
"Iya deh perempuan selalu benar" jawab Wijaya mengalah dan di hadiahi oleh Dina kecupan mesra di pipi suaminya.
__ADS_1