
Pagi hari yang sangat cerah dan sinarnya yang terang membangunkan Bram dari tidur lelapnya.
"Hoam.. jam berapa nih? gue harus jemput Felicia di rumah sakit," gumam Bram lalu melihat jam di meja kamarnya.
"Astaga udah jam 09.00 WIB, Felicia udah pulang belum ya?" gumam Bram lalu cepat-cepat mandi dan prepare, setelah selesai Bram langsung menuju rumah sakit.
#Di Rumah sakit#
"Selamat pagi semuanya.. Maaf terlambat," sapa Bram sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Pagi Bram akhirnya kamu dateng juga. gue fikir loe lupa," sapa Felicia lembut dengan senyumnya yang menawan.
"Dia baru bangun, tadi susah banget di banguninnya apalagi kamarnya di kunci, di ketuk seribu kali gak nyaut," ucap Wijaya membuat Bram malu.
"Pah jangan gitu ah.. masak kita menjelek-jelekan anak sendiri di depan besan," bisik Wina tak suka.
"Yaudah gakpapa mungkin Bram sedang ada banyak urusan jadinya terlalu kecapekan, yang terpenting dia kesini," ucap Vina menengahi.
"Fyuh.. untung belum pulang, setidaknya gue gak di cap pria yang suka umbar janji. Setidaknya ada lah sedikit plusnya dari gue dimata bokapnya," batin Bram dengan lega.
Lalu dokter datang dan memeriksa keadaan Felicia setelah itu di putuskan boleh pulang. Sembari menunggu proses administrasi, Felicia berkemas pakaianya dibantu oleh mamahnya dan juga mamahnya Bram.
"Akhirnya ya jeng Felicia boleh pulang jadi besok minggu bisa fitting baju lagi," ucap Wina sambil memasukkan beberapa potong baju Felicia.
"Iya jeng semoga ini terakhir kalinya anak saya masuk rumah sakit karena musibah,saya gak tega melihatnya terus menerus terbaring lemah seperti itu," harapan Vina.
"Aamiin" jawab Wina.
Setelah selesai berkemas dan proses administrasi, mereka langsung pulang ke mansion Felicia. Namun karena masih ada urusan jadinya orang tua Bram gak bisa mengantar sampai rumah.
"Maaf pak Tanoe, saya dan istri tidak bisa mengantar sampai rumah soalnya mau mengurus keperluan pernikahan dan ada beberapa urusan lain," ucap Wijaya tak enak hati.
"Tidak apa-apa pak, justru kami berterima kasih karena kalian berulang kali membantu kami. Semoga urusannya dilancarkan dan dipermudah," ucap Soetanoe dengan senyum.
"Terima kasih pak.. Aamiin. Kalau begitu kami permisi dulu," pamit Wijaya lalu mereka bergegas masuk ke mobil.
"Om.. gimana kalau Felicia satu mobil dengan saya?" tanya Bram dengan hati-hati.
"Jika putriku mau ya silahkan saja," jawab Soetanoe ketus.
"Bagaimana sayang?" tanya Vina memastikan.
"Feli mau nah pah," jawab Felicia menganggukan kepala.
"Baiklah kalian hati-hati ya, inget Bram jangan terlalu ngebut," pesan Vina.
"Siap tante, yuk Fel," ajak Bram menggandeng tangan Felicia dan membukakan pintu mobil.
__ADS_1
"Thanks Bram," ucap Felicia lalu masuk dalam mobil.
Di perjalanan mereka bisa dengan leluasa membicarakan apa yang ada di fikirannya.
"Bram beneran kemarin kamu pergi sama pacarmu?" tanya Felicia mengawali obrolan.
"I..iya kenapa memangnya?" tanya Bram heran.
"Ya apa alasanmu bertemu pacarmu?" tanya Felicia mengintrogasi.
"Alasan?" tanya Bram terkejut.
"Iya alasan.. apa alasannya?" tanya Felicia penasaran.
"Pertanyaan macam apa ini Felicia?" Tanya Bram tak suka.
"Ya pertanyaan biasa, aku mau tau apa alasanmu bertemu dengannya?" tanya Felicia tak sabar.
"Tapi pertanyaanmu sangat aneh, bertemu kekasih kenapa harus pakai alasan? ya karena kami saling kangen, masak begitu aja pakai tanya," jawab Bram enteng.
"Ooh.." jawab Felicia singkat karena hatinya tiba-tiba sakit.
"Kamu kenapa?" tanya Bram panik.
"Gakpapa kok.. kamu fokus nyetir aja," ucap Felicia lirih.
"Nothing Bram tadi tiba-tiba dada gue sesak," kode Felicia.
"Ha? sekarang gimana? kalau masih sesak kita mampir di Apotek dulu beli obat," tanya Bram khawatir.
"Astaga dasar cowok gak ada pekanya sama sekali.. tapi gue masih bingung kenapa tiba-tiba rasanya sesak gini? gak mungkin kalau gue jatuh cinta sama dia," batin Felicia bergidik ngeri.
"Kenapa lagi?" tanya Bram heran dan membuyarkan lamunan Felicia.
"Apanya?" tanya Felicia kaget.
"Tadi ngapain gitu-gitu? ada yang gatal?" tanya Bram menirukan Felicia bergidik ngeri.
"Haha.. ulang lagi Bram," pinta Felicia.
"Yang mana? gini?" tanya Bram mempraktekan lagi.
"Iya haha kamu lucu banget waktu gitu.. bikin gemas, eeh.." ucap Felicia keceplosan lalu salah tingkah.
"Gue kan memang menggemaskan jadi gak usah heran gitu," goda Bram.
"Apaan sih kepedan deh," bantah Felicia memalingkan muka.
__ADS_1
"Pipi merah merona seperti kepiting rebus diberi saos padang," goda Bram melirik Felicia.
"Apaan sih Bram.. bisa gak kamu itu fokus nyetir aja," ucap Felicia salah tingkah.
"Ada yang marah.. oyy.. waktu ku goda," nyanyi Bram menyindir Felicia.
"Siapa juga yang marah, ish," jawab Felicia melotot tajam.
"Dia cemburu.. oy.. cemburu buta.. dia marah marah padaku," nyanyi Bram sambil terkekeh.
"Bram please deh jadi orang jangan terlalu percaya diri," ucap Felicia kesal.
"Percaya diri itu bagus loh. Coba kalau gue ini pendiem dan penakut mana bisa menaklukan bokapmu yang garang itu," jawab Bram keceplosan lalu menutup mulut nya.
"Bram.." geram Felicia melotot tajam pada Bram.
"Ampun.. ampun, bukan gitu maksud gue," pinta Bram memohon.
"Beraninya mengejek Papah gue, awas nanti kalau pulang gue aduin," ancam Felicia meledek.
"Yaudah kamu tak culik aja," jawab Bram tak kehabisan akal.
"Berani?" tantang Felicia.
"Beranilah, kenapa enggak?" jawab Bram sangat yakin.
"Ah mana mungkin," ejek Felicia.
"Mau bukti? awas ya kalau nanti merengek-rengek minta pulang," ancam Bram menerima tantangan Felicia lalu mereka membelokkan mobil ke arah puncak.
"Bram.. kamu ini bener-bener ya, pulang gak, ntar kita di cariin," pinta Felicia tak habis fikir dengan Bram.
"Haha makanya jangan nantangin dulu kalau gak siap dengan faktanya. Sekarang kita nikmati adrenaline yang sebenarnya.. Lets go," ucap Bram antusias dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Bram, please gue baru sembuh" pinta Felicia mengiba.
"Nanti disana juga istirahat kok santai saja," jawab Bram enteng.
"Astaga Bram.. pantas aja ya papah kamu selalu darah tinggi jika berhadapan denganmu," gerutu Felicia kesal dan hanya dijawab ketawa oleh Bram.
Perjalanan yang panjang membuat Felicia kelelahan dan tanpa sadar tertidur.
"Gue ingin menghabiskan waktu hanya bertiga saja, menunggu sampai kita menikah rasanya terlalu lama.. Aku ingin mengelus perutmu sampai puas," gumam Bram menatap Felicia yang tertidur pulas lalu Bram menyetel musik.
Disatu sisi ada Deo yang sekilas melihat mobil Bram menuju arah puncak, kebetulan Deo sedang ada proyek di sini.
"Itu mobil Bram bukan ya? tumben dia kesini, kayaknya tadi di mobil dia sama cewek. apa mereka mau liburan??" gumam Deo mengikuti mobil Bram dari belakang.
__ADS_1