PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 46-Kondisi Felicia dan bayinya


__ADS_3

Di rumah sakit...


Kedua orang tua Felicia langsung menuju ruang dokter untuk segera mengetahui kondisi putri dan calon cucunya.


-Di ruang dokter.-


"Selamat siang Bapak dan Ibu, silahkan duduk," sapa Dokter dengan senyum ramah.


"Terima kasih dok, apa betul anda menunggu kami untuk memberitahu kondisi Felicia-putri semata wayang kami?" ucap Soetanoe sudah tak sabar.


"Akhirnya anda datang juga jika telat maka saya tidak bisa menjamin bagaimana nasib putri dan juga anak yang di kandungnya, jadi begini, akibat benturan yang dialami putri anda sangat keras sehingga menyebabkan pendarahan hebat hingga putri anda kekurangan darah, kami meminta keputusan anda untuk melakukan transfusi darah dan juga melakukan operasi kecil, apakah anda bersedia? jika iya segera isi berkas ini lalu tanda tangan, semakin anda cepat memprosesnya maka kesembuhan putri dan calon cucu anda akan semakin cepat," ucap dokter dengan tenang lalu menyerahkan berkas.


"Mengapa harus diadakan operasi kecil dok?" tanya Vina terkejut.


"Karena ada robekan kecil di sekitar perut putri anda, jika dibiarkan akan menjadi infeksi dan berbahaya untuk keselamatan keduanya, bagaimana Pak dan Bu?" tanya dokter memastikan.


"Apakah operasi itu nantinya aman untuk cucu saya? tidak ada langkah lain dok?" tanya Vina mengiba.


"Tidak ada bu, kalau nanti pakai salep lukanya lama sembuh takutnya nanti malah semakin infeksi. Untuk janin putri anda, tenang saja nantinya tidak akan membahayakan karena yang dilakukan adalah operasi area perut luar.. Lukanya pun tidak terlalu dalam, kalau tidak segera dijahit nanti takutnya meluas," ucap dokter.


"Baiklah jika itu jalan terbaik untuk keduanya, saya siap bersedia dok, kalau nanti kantong darahnya kurang, saya siap mendonorkan," ucap Soetanoe dengan mantap lalu mengisi formulir dan tanda tangan.


"Baiklah kalau begitu kami akan segera melakukan tindakan, kami mohon doanya agar semuanya berjalan lancar dan semuanya selamat," ucap dokter.


"Aamiin.. pasti dok pasti," jawab Soetanoe mantap lalu mereka keluar ruangan bebarengan hingga menuju UGD dan Felicia langsung dibawa ke kamar operasi.


"Kenapa Felicia dibawa om tante?" tanya Bram penasaran.


"Felicia harus melakukan operasi kecil karena ada robekan di perutnya dan harus dilakukan transfusi darah," jawab Soetanoe menatap Bram tak suka.


"Astaga.." ucap Bram tak percaya.


"Setelah ini kamu mau mencelakai anakku apalagi Bram? apa kamu sengaja membuat Felicia keguguran? jika iya kamu tidak perlu repot-repot melakukannya, akhiri rencana pernikahan ini dan biarkan kami yang mengurus Felicia beserta bayinya, kami sangat amat mampu mengurus mereka tanpa bantuan apapun darimu ataupun keluargamu," ucap Soetanoe ketus.


"Maaf om memang ini semua salahku yang tidak bisa menjaga omongan ketika di depan Felicia hingga membuatnya marah lalu berlari keluar tanpa melihat kanan kiri," ucap Bram menunduk dengan perasaan menyesal.

__ADS_1


"Kenapa bisa seperti ini Bram? Kamu tau sendiri kan Felicia barusan sembuh dari koma dan sedang masa pemulihan," ucap Vina dengan raut wajah sedih.


"Ketika kami fitting baju Felicia mengejek saya tante dan saya menanggapinya dengan gurauan, entah ini mood Felicia karena hamil atau memang tersinggung dengan ucapan saya, tiba-tiba Felicia marah dan berlari keluar butik tanpa melihat kanan kiri, tiba-tiba ada mobil melintas dengan kecepatan sedang, saya refleks meneriaki Felicia hingga membuatnya terkejut.. tak sampai situ tante, saya berlari menangkapnya dan akhirnya kami terpental di pinggir jalan cukup keras lalu Felicia merintih kesakitan dan keluarlah darah di area pahanya," jawab Bram dengan detail.


"Asal kamu tau Bram kalau wanita sedang hamil memang moodnya berubah-ubah, jadi ketika Felicia sedang happy sebisa mungkin pertahankan mood itu, salah ucap saja bisa membalikkan mood dia," nasehat Vina dengan lembut.


"Iya tante maaf, Bram gak tau dan sungguh menyesalinya," jawab Bram penuh penyesalan.


"Bisamu hanya membuat masalah masalah dan masalah," jawab Soetanoe geram.


"Papah udah ah kita fokus sama kesembuhan Felicia dulu," bisik Vina dengan mendelik kesal.


"Tapi orang macam dia harus dikasih pelajaran mah.. papah yakin dia dirumah terlalu dimanja," sindir Soetanoe.


"Gak usah dengerin omongannya, gimana hasil fitting bajunya?" tanya Vina mengalihkan obrolan.


"Hasilnya memuaskan tante, pilhan tante bagus semua sampai saya dan Felicia bingung hingga akhirnya memilih gaun dan jas keluaran terbaru yang kebetulan itu limited edition.. sayangnya minggu besok harus fitting lagi karena kekecilan di tubuh Felicia," ucap Bram tersenyum kaku.


"Pasti dibagian perutnya ya?" tanya Vina sedih.


"Yasudah.. semoga minggu besok bisa fitting lagi. Ingat loh rencana pernikahannya tinggal 8 hari lagi," ucap Vina mengingatkan.


"Iya tante," jawab Bram patuh.


2 Jam kemudian Felicia sudah dibawa ke rawat inap dan siuman.


"Syukurlah sayang kamu baik-baik saja,semua segera teratasi," ucap Vina lega.


"Mamah.. papah.." ucap Felicia lirih.


"Iya sayang kami sampai panik ketika tau kamu masuk rumah sakit lagi, mamah cemas kalau kamu dan bayimu kenapa-napa," ucap Vina mengusap rambut Felicia lembut.


"Everything okay kan mah? babyku gak kenapa-napa kan mah?" tanya Felicia panik.


"Everything is gonna be okay sayang, semua sudah kamu lewati dengan hebat," puji Vina.

__ADS_1


"Kamu memang anak papah yang kuat.." puji Soetanoe.


"Thank you pah mah," jawab Felicia bernafas lega dan senang.


"Kamu lapar sayang? mamah suapin ya biar kamu lekas sembuh dan bayimu sehat terus," ucap Vina lembut.


"Ada Bram kan mah? Feli mau disuapin Bram," rengek Felicia hingga membuat mereka terkejut.


"A.. ada kok itu Bram," jawab Vina terkejut dan Bram berjalan mendekat.


"Iya Fel ada apa?" tanya Bram lembut.


"Minta tolong suapin aku ya Bram, mau kan?" pinta Felicia.


"Bo.. boleh.. ma.. mau kok bentar aku ambilin makanannya," jawab Bram gugup lalu menyuapi Felicia dengan kaku.


"Jangan kaku gitu Bram, tante sama Om keluar dulu beli makan yuk pah," ajak Vina memberi ruang keduanya untuk bersama.


"Tapi.." jawab Soetanoe dipotong oleh Vina.


"Tapi udah laper banget kan dan gak enak ninggalin Bram? gakpapa biarkan mereka berduaan papah, kayak gak pernah muda aja," kode Vina penuh penekanan lalu Soetanoe mengalah dan membiarkan mereka berduaan.


"Maaf ya Bram udah nyusahin," ucap Felicia sedih.


"Engg.. gak kok namanya aja musibah, semua kan gak ada yang tau kalau endingnya gini," sangkal Bram lalu menyuapi Felicia.


"Tetap saja kalau gue lebih hati-hati mungkin gak akan seperti ini" ucap Felicia menyesal.


"Sudahlah yang lalu biarlah berlalu, kamu fokus sama kesembuhanmu dulu dan tetap makan biar anak kita tidak kekurangan nutrisi," jawab Bram menyuapi Felicia lagi lalu mengusap perut Felicia yang sudah sedikit membuncit.


"I..Iya Bram ada anak kita," jawab Felicia tersipu malu dan merasa nyaman ketika Bram mengelus perutnya lembut.


"Kenapa rasanya nyaman sekali dan hatiku rasanya tenang banget.. seperti gak mau pisah sama Bram," batin Felicia tersenyum malu-malu.


"Hal yang gue inginkan dari kemaren bisa mengusap perut Felicia dengan tenang.." batin Bram dengan perasaan nyaman.

__ADS_1


__ADS_2