PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 24-Sadarlah Felicia


__ADS_3

Sebulan sudah Felicia terbaring lemah di rumah sakit, ia dinyatakan koma dan sampai saat ini tidak ada peningkatan yang signifikan.


Vina dan Soetanoe sangat hancur hatinya melihat nasib anaknya yang sangat malang. Mereka mengkhawatirkan Felicia juga bayi yang di kandungnya.


"Bangunlah sayang apa kamu gak ingin melihat anakmu kelak?" pinta Vina meneteskan air mata.


"Cepatlah sadar sayang, papah sangat sedih melihat kondisimu yang seperti ini, sampai kapan kamu akan terus menyiksa kami dengan keadaanmu yang tak kunjung pulih?" tanya Soetanoe dengan raut wajah sedih.


"Pah bagaimana ini? sudah sebulan Felicia tak kunjung siuman, bagaimana dengan kondisi cucu kita Pah?" ucap Vina sedih dan meneteskan air mata.


Tak berselang lama datanglah keluarga Bram.


"Jeng bagaimana kondisi putrinya? maafin kami baru sempat kemari soalnya lagi sibuk mengurus berkas pernikahan Bram dan Felicia," ucap Wina penasaran.


"Ya begini jeng tidak ada kemajuan, kami khawatir ada apa-apa sama bayinya," jawab Vina berurai air mata.


"Sstt.. jangan bersedih terus Jeng, kesehatan putrimu dan bayinya selalu di pantau oleh dokter, setiap seminggu sekali ada suntikan cairan dan nutrisi untuk cucu kita," ucap Wina mencoba menenangkan.


"Tapi tetap aja khawatir jeng karena tidak ada pasokan makanan yang masuk, suntikan kan hanya sebagai dopping," jawab Vina terisak.


"Nanti kita panggil dokter kandungan dan kita dengar hasil analisanya," ucap Wina sambil mengusap bahu Vina pelan.


Di kursi sofa tamu ada perbincangan ringan antara Wijaya dan Soetanoe.


"Bagaimana kabar perusahaan Pak Tanoe?" tanya Wiaya basa-basi.

__ADS_1


"Perusahaan semakin berkembang pak Wijaya, tetapi buat apa pencapaian ini aku raih kalau putri semata wayangku masih terbaring lemah seperti itu," ucap Soetanoe dengan raut wajah sedih.


"Ini cobaan pak Tanoe, saya yakin kalau kami bisa melewati ini semua, sembari menunggu kesembuhan Felicia saya dan istri saya sedang mengurus berkas pernikahan," ucap Wijaya mengalihkan pembicaraan agar Soetanoe tidak sedih.


"Terima kasih atas partisipasi yang luar biasa ini pak Wijaya, saya gak tau lagi harus membalasnya dengan cara yang bagaimana," ucap Soetanoe tak enak hati.


"Sudahlah Pak Tanoe gak usah sungkan begitu, kita ini akan menjadi besan dan nantinya anak dari putri anda adalah calon cucuku juga," ucap Wijaya santai.


"Terima kasih pak Wijaya, belum apa-apa kami sudah merepotkan anda dan keluarga," ucap Soetanoe sungkan.


"Sudah pak kalau bilang seperti itu lagi saya nanti tersinggung loh, fokus saja sama kesembuhan putri anda biar saya yang mengurus semuanya, rencana pernikahan anak kita di adakan 2 bulan lagi, gimana pak Tanoe?" tanya Wijaya meminta pendapat.


"Saya menurut saja bagaimana baiknya mengingat kondisi Felicia yang masih terbaring seperti itu saya benar-benar gak bisa fokus," ucap Soetanoe pasrah.


"Baiklah jika itu keputusannya, 2 bulan lagi akan dilangsungkan pernikahan, saya harap sebelum itu putri anda sudah siuman, syukur-syukur hari ini sudah sadar," ucap Wijaya optimis.


Di satu sisi Bram merasa sedih karena orang tuanya yang terus menerus memikirkan Felicia dan calon anaknya. Ia tak tega melihat kedua orang tuanya larut dalam kesedihan.


"Felicia bangunlah.. gue tau loe cewek yang manja tapi gue mohon segera sadarlah demi orang tua kita yang sangat sedih atas kondisimu sekarang yang tak kunjung siuman.. sadarlah demi anak kita yang sedang kau kandung, dia butuh nutrisi yang cukup darimu, gue janji setelah loe siuman gue akan bertanggung jawab dan segera menikahimu,.gue gak tega ngeliat mama dan papa sedih setiap hari, gue mohon sadarlah," batin Bram penuh harap sambil menatap Felicia yang terbaring lemah.


Wijaya yang melihat anaknya menatap Felicia dengan sedih mengira sudah ada benih-benih cinta diantara keduanya. Hal yang membuat Wijaya sangat senang dan yakin akan kesembuhan Felicia.


"Bram kemarilah," ucap Wijaya.


"Iya pah," jawab Bram mendekati papahnya dengan penasaran.

__ADS_1


"Papah boleh meminta sesuatu darimu?" tanya Wijaya serius.


"Apa itu Pah?" tanya Bram penasaran.


"Jadikanlah Felicia satu-satunya wanita di hati dan hidupmu, perlakukanlah dia sebagaimana orang tuanya memperlakukan, lakukan lah yang terbaik untuk Felicia dan anakmu kelak, jangan sia-siakan mereka dan jagalah mereka sampai maut memisahkan," ucap Wijaya penuh harap.


"Papah ngomong apa sih, gak pas kalau bahas ini di situasi yang sedang sedih begini," bantah Bram.


"Papah mohon jangan buat papah dan mamahmu kecewa untuk yang kedua kalinya," pinta Wijaya penuh harap.


"Pah..." jawab Bram menolak.


"Please.. apa perlu mamahmu saja yang bilang?" tanya Wijaya memohon.


"huftt.. baiklah akan Bram usahakan," jawab Bram pasrah.


"Thank you boy," jawab Wijaya senang lalu menepuk bahu Bram pelan dan Bram hanya tersenyum tipis.


"Papah tau kalau kamu ada rasa sama Felicia meskipun itu masih sedikit tapi papah sangat yakin kalau kehadiran anak kalian nantinya akan membuat perasaanmu dan juga Felicia menyatu, papah yakin itu," batin Wijaya tersenyum senang.


"Papah menghancurkan moodku aja, bisa-bisanya bahas kayak gini di depan Felicia yang sedang koma," batin Bram kesal.


Tanpa disadari oleh mereka tiba-tiba jari-jari tangan Felicia bergerak meskipun itu hanya sebentar.


Apakah nantinya permintaan Wijaya terkabul? akankah nantinya kedua sejoli yang tidak saling mencinta itu bisa bersama dan saling menyayangi?

__ADS_1


Simak terus setiap episodenya dan jangan lupa vote dan like~


__ADS_2