
Pemandangan yang sangat menyedihkan hati melihat anaknya terbaring lemah di kasur lusuh dengan udara pengap karena tidak ada ventilasi.. ruangan ini cocok untuk gudang bukan kamar Naomi.
Tak henti-hentinya Thalia meneteskan air mata karena hatinya sangat sakit melihat anaknya tersisihkan di keluarganya sendiri.
"Naomi.. anak mamah," sapa Thalia lembut.
"Iya nek Naomi bangun, maaf nek badan Naomi lagi kurang enak badan jadi Naomi bangun kesiangan, jangan hukum Naomi nek.. jangan nek.. jangan.. huhu.." ucap Naomi mengigau.
"Sayang bangun ini mamah nak.." ucap Thalia berurai air mata.
"Ma.. mamah? mamah udah pulang?" tanya Naomi tak percaya.
"Iya sayang ini mamah.. mamah mau membawa Naomi pulang dan hidup lebih baik, maafin mamah ya nak sudah membuat Naomi hidup menderita," ucap Thalia memeluk anaknya sangat erat dan menangis.
"Naomi senang bisa kumpul lagi sama mamah, Naomi sangat rindu sama mamah.. jangan pergi lama-lama lagi ya mah, tidak ada yang sayang sama Naomi selain mamah dan bibi Sumi," pinta Naomi tulus dan membuat hati Thalia serta bi Sumi tersentuh.
"Mamah janji gak akan meninggalkan Naomi lagi, janji.." ucap Thalia menyeka air mata dan membawa Naomi keluar.
Tak disangka orang tuanya sudah pulang terlebih dahulu dan menyaksikan Thalia membawa pulang Naomi.
"BAGUS.. BAWA ANAK SIALAN INI SEJAUH MUNGKIN DARI KAMI, KALAU BUKAN ANCAMAN BRAM KAMI TIDAK SUDI MENERIMA DIA DI SINI, KAMU DAN ANAKMU SAMA SAJA MEMBUAT SUSAH!!" cemooh Elly dengan lantang.
"CUKUP MAH!! SILAHKAN KALAU MAU MENGHINA THALIA, HINA SEPUAS KALIAN TAPI JANGAN LAGI KALIAN MENGHINA ANAKKU, DIA ANAK SEMATA WAYANGKU YANG TIDAK PERNAH KALIAN ANGGAP KEHADIRANNYA!! CUKUP PERLAKUAN BURUK KALIAN PADA ANAKKU KETIKA DI SINI!! INGAT KALIAN BISA HIDUP ENAK DAN BERGELIMANG HARTA KARENA SIAPA?? INGAT ITU.. JANGAN HARAP AKU AKAN TINGGAL DIAM DENGAN PERLAKUAN KALIAN PADA NAOMI!!!" ancam Thalia.
"KAMU BISA APA HA? UDAH MISKIN BELAGU LAGI, SANA PERGI NGAPAIN MASIH MENGINJAKKAN KAKI DI SINI, BUTUH DUIT UNTUK HIDUP? NIH.." hina Elly melemparkan sejumlah uang ke muka Thalia.
"TIDAK SUDI!!! JANGAN HARAP SETELAH INI AKU AKAN TINGGAL DIAM!! PERLAKUAN KALIAN INI AKAN SELALU AKU INGAT!!!" gertak Thalia lalu berjalan keluar.
"MISKIN MAH MISKIN AJA JANGAN SOK KAYA DEH PAKAI ACARA MENOLAK DUIT SEGALA, MASIH UNTUNG KAMI BERBAIK HATI," teriak Elly sangat angkuh.
"PEMBERIANMU TIDAK ADA SEBERAPA NYA DENGAN PEMBERIAN BRAM!! LIHAT BERAPA NOMINAL YANG DIA BERIKAN!!! JANGAN MACAM-MACAM DENGANKU!!" gertak Thalia berbalik arah lalu memperlihatkan cek.
"Apa?? ini gak mungkin," ucap Elly tak percaya.
"Apanya yang tidak mungkin di dunia ini? kalian saja bisa menguasai perusahaan serta uang Bram tanpa perlu susah payah kan? apalagi aku yang pernah menjadi orang tersayangnya, nominal segini mah gak ada artinya.. jika nanti uangnya masih kurang dengan mudahnya nanti aku bisa meminta lagi," ucap Thalia angkuh.
"Pakai cara apa kamu bisa memperdaya dia?" tanya Elly penasaran.
__ADS_1
"Tidak menggunakan apapun.. ingat satu hal, kalian bisa memiliki perusahaan milik Bram secara cuma jadi bersiaplah jika nantinya akan kehilangan perusahaan secara mendadak," gertak Thalia sukses membuat nyali kedua orang tuanya ciut.
"Jangan sembarangan kalau ngomong!! kami tidak bodoh, perusahaan bisa beralih ke kami karena ada hitam di atas putih dan di buatkan pernyataan kepada pengacara jadi tidak semudah itu bisa mengambil alih perusahaan, jangan sok menggertak kami.. kamu tidak memiliki kekuasaan apapun jadi jangan berharap terlalu tinggi," ucap Elly angkuh menutupi rasa gugupnya.
"Lets see.. jika Bram berkehendak kalian bisa apa?" sindir Thalia tersenyum licik.
"DASAR ANAK TIDAK TAU DI UNTUNG!! BISANYA MEMBUAT ORANG TUA KESAL SAJA, SANA PERGI!! KEHADIRANMU DAN ANAK SIALAN ITU MEMPERBURUK SUASANA!!!" usir Elly dengan kasar.
"INGAT MAH PAH WAKTU DULU BERHASIL MENDAPATKAN SEMUA INI, BAGAIMANA KALIAN MEMUJI THALIA DENGAN SANGAT MANISNYA, KARENA THALIA MEMBUAT SATU KESALAHAN SEMUA KEBAIKAN YANG PERNAH AKU BERIKAN SEKETIKA SIRNA!! DARI SITU AKU MENYADARI JIKA HARTA SUDAH MEMBUTAKAN KALIAN!! AKU MENYESAL PERNAH MEMBAHAGIAKAN KALIAN!!" ucap Thalia penuh emosi.
"Itu balasan yang setimpal karena kami sudah merawat mu dari kecil, ingat kalau kami ini orang tuamu jadi memang harus dan sepantasnya kamu bahagiakan!!" ucap Elly arogan.
"Mah kita pergi aja dari sini, Naomi gak nyaman tinggal sama nenek dan kakek," ajak Naomi dengan berlinang air mata.
"SETIAP TETES AIR MATA NAOMI WAJIB KALIAN BAYAR DENGAN SANGAT MAHAL!!" gertak Thalia lalu pergi dari mansion.
Lalu Thalia dan Naomi pulang ke apartemen, Thalia berencana pindah secepat mungkin karena sudah sakit hati dengan orang tuanya.
"Mah kita mau pindah?" tanya Naomi.
"Iya sayang maafin mamah ya, kita pindah jauh dari sini dan cari suasana baru.. Naomi mau kan?" tanya Thalia lembut.
"Makasih kamu sudah menjadi anak yang sangat mengerti mamah.. makasih sayang, mamah sayang sama Naomi, mamah janji akan membahagiakan Naomi.. mamah janji akan membuat Naomi hidup enak, nyaman dan aman," ucap Thalia meneteskan air mata.
"Jangan menangis lagi mah.. kita bersiap-siap aja biar cepat pindah," ucap Naomi menyeka air mata Thalia.
"Baik sayang.." jawab Thalia lalu mereka fokus membereskan barang-barang.
Setelah di rasa cukup, Thalia menghubungi pihak ekspedisi untuk mengirimkan barang-barangnya ke rumah barunya. Thalia sudah di persiapkan rumah baru oleh Bram.
Sebelum pergi, Thalia mendatangi mansion Bram terlebih dahulu, bukannya ingkar janji melainkan ia ingin mengucapkan terima kasih.
"Cari siapa non?" tanya bibi Iin.
"Tuan Bram dan nyonya Felicia ada? saya ingin bertemu mereka sebentar bi," ucap Thalia penuh harap.
"Sudah ada janji?" tanya bibi Iin dan Thalia hanya menggelengkan kepala.
__ADS_1
Kebetulan Felicia sedang berjalan ke ruang tamu dan melihat bi Iin bicara sama seseorang yang menyebut namanya dan Bram lalu Felicia menghampiri.
"Biarkan saya yang meladeni, bibi selesaikan saja pekerjaan di belakang," perintah Felicia.
"Baik nyonya," jawab bibi Iin patuh.
"Hei Thalia.. selamat atas kebebasan mu," ucap Felicia mengulurkan tangan.
"Terima kasih Felicia.. sebenarnya kedatanganku dan Naomi kemari ingin membicarakan sesuatu padamu dan Bram, apakah boleh?" tanya Thalia penuh harap.
"Dimana sikap arogan mu Thalia?" sindir Felicia melirik tak suka.
"Itu tidak perlu di bahas Felicia, waktuku tidak banyak.. sebentar lagi aku dan Naomi ada jadwal penerbangan, jadi please biarkan aku membicarakan ini padamu dan Bram," pinta Thalia serius.
"Baiklah silahkan duduk dulu aku panggilkan Bram," ucap Felicia mengalah.
"Ada apa ini?? lu lupa dengan perjanjian kita kemarin?? punya nyali datang kesini," cibir Bram kesal.
"Maaf Bram bukannya gue ingkar, tapi kedatangan gue kemari ingin mengucapkan banyak terima kasih kepadamu dan istrimu, berkat kemurahan hati kalian kini gue bisa bertemu Naomi dengan cepat, berkat kemurahan hatimu juga Bram yang sudah dengan lapang dada membebaskan gue," ucap Thalia tulus dan membuat Bram serta Felicia terkejut.
"Ada apa gerangan lu bicara seperti ini? katakan apa mau mu?" tanya Bram ketus.
"Bram gue boleh minta tolong? bisakah perusahaan yang di pegang orang tuaku di atas namakan Naomi? jujur Bram gue sangat sakit hati dengan mereka yang memperlakukan Naomi sangat buruk, gue melihat dengan mata kepala gue sendiri Bram bagaimana Naomi di sisihkan.. Naomi tidur di gudang yang dulunya kamar untuk pembantu, belum lagi setiap hari Naomi harus membersihkan rumah seorang diri, bisa di bayangkan bagaimana menderitanya Naomi ketika tinggal di sana, belum lagi caci dan maki kedua orang tuaku, gue menyesal sudah membahagiakan mereka Bram maka dari itu gue minta pertolonganmu kali ini saja, tolong ambil alih perusahaan dan atas namakan Naomi, setelah itu gue janji akan pergi jauh dari hidupmu.. hanya Naomi yang berhak mendapatkan ini," pinta Thalia.
"ENAK SAJA MEMBERIKAN PERUSAHAAN SECARA CUMA-CUMA, SUAMIKU MEMBANGUNNYA PENUH PERJUANGAN EH DENGAN SEENAKNYA LU MAU MENGAMBIL ALIH, JANGAN HARAP!!" tolak Felicia mentah-mentah.
"Please ini demi keberlangsungan kami ke depannya, jujur sakit hati atas penolakan kedua orang tua gue sangat menyakitkan sekali Felicia, Bram.. makanya gue mau membuat perhitungan sama mereka, biar mereka berdiri dengan kemampuan sendiri," pinta Thalia memohon.
"Lu bisa jamin gak akan menganggu kehidupan gue lagi beserta istri dan anak-anak gue?" tanya Bram memastikan.
"Bisa Bram.. sangat bisa, please gue hanya meminta itu saja dan gue janji akan pindah dari kota ini, gue udah mengirim semua barang-barang ke rumah baru gue kok, gak percaya tengok aja apartemen gue.. tinggal nanti gue meminta pihak apartemen untuk menjual apartemen gue," ucap Thalia jujur.
"Ok akan gue turuti asalkan lu bisa menepati janjimu, tapi kali ini tidak semudah itu, akan gue panggilkan pengacara keluarga gue untuk membuat surat pernyataan, jadi sampai lu berani melanggarnya, jeruji besi menantimu," gertak Bram lalu Thalia menyanggupinya.
Setelah kedatangan pengacara keluarga Bram kini mereka telah menanda tangani surat pernyataan dengan di bubuhi materai.
Thalia mendapatkan keinginannya untuk menghancurkan kedua orang tuanya, Bram beserta keluarganya merasa lega karena Thalia tidak akan menganggu mereka lagi.
__ADS_1
Kini Thalia dan Naomi pindah ke sebuah kota Y dengan rumah mewah namun asri, di sana Thalia membuka usaha hotel dan resort serta perusahaan yang di berikan Bram semakin berkembang pesat.
Naomi pun tumbuh menjadi anak yang pintar, cantik, mandiri dan mudah bersosialisasi.