PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 95- Bram kecelakaan


__ADS_3

"Kamu ini gimana sih Fel? suamimu sudah susah payah membuktikan bahwa dia bukan ayah kandungnya masih saja kamu meragukannya, maumu itu apa?" tanya Vina kesal.


"Aku masih belum siap hidup bersama lagi dengannya, bayang-bayangnya ketika di ranjang sama Thalia membuatku sakit," ucap Felicia bimbang.


"Kalian ini sudah berumah tangga, jika suami menjemputmu harusnya kamu nurut, toh suamimu tidak terbukti bersalah.. jangan sampai kamu menyesal nantinya, mamah capek terus menerus menasehatimu tapi kamunya tak kunjung bersikap dewasa," ucap Vina kesal.


"Ada anak diantara kalian, fikirkan itu.. suamimu orang yang baik dan bertanggung jawab jangan kamu sia-siakan," ucap Soetanoe lembut.


"Tapi luka itu sungguh sakit pah," protes Felicia menangis terisak.


"Suamimu terbukti diberi obat perangsang dan juga obat tidur, jadi mau diapakan oleh Thalia ya suamimu hanya diam saja, andai posisinya sadar, mana mau suamimu di sentuh olehnya?" ucap Soetanoe berfikir logis.


"Biarkan Feli menenangkan diri sejenak," pinta Felicia dan orang tuanya hanya bisa pasrah lalu memilih ke kamar.


Di perjalanan Bram sungguh sedih, ia berfikir hasil tes itu bisa membuat Felicia kembali lagi padanya, namun kenyataannya dia pulang ke rumah sendirian.


"Apa yang membuatnya masih meragukanku? apa karena kejadian di apartemen Thalia itu?? ahh sial..,ada saja masalah yang menimpaku, kapan aku bisa hidup tenang," gumam Bram memukul stir mobil.


Disaat Bram sedang di perjalanan hpnya berdering, ia sangat malas melihat siapa yang menelfonnya, ia sudah muak terus di akal-akali Thalia.


Panggilan pun di reject Bram dan akhirnya seperti biasa, Thalia mengancam Bram via chat.


"Jangan mengabaikanku Bram, apa kamu mau kalau aku dan Naomi datang ke mansionmu?" isi chat Thalia.


"T e r s e r a h," jawab Bram jengah.


Thalia yang melihat jawaban Bram sangat terkejut, baru kali ini Bram mengabaikannya.. lalu Thalia memiliki cara lain agar Bram mau menemuinya.


"Thalia membutuhkanmu, katanya besok ada pertemuan orang tua tetapi yang datang harus ayahnya.. dia capek terus menerus di ejek oleh teman-temannya jika ia tidak punya ayah, kasihan Naomi.. luangkan lah waktumu besok untuk Naomi, sebentar saja.." pinta Thalia via chat.


"Jangan harap!" tolak Bram tegas dan lagi-lagi membuat Thalia terkejut.


"Ohh.. mau bermain denganku? ok tunggu saja," ancam Thalia.


Bram yang kesal dengan Thalia menancapkan gas dengan kecepatan tinggi sampai ia tidak sadar jika di depannya ada mobil yang ingin berbelok, kecelakaan pun tak dapat dihindari, mobil mewah Bram terguling beberapa kali hingga akhirnya menabrak pembatas jalan. Warga yang melihat pun berbondong-bondong mengerubungi dan menolong korban yang masih bisa di selamatkan, ada juga warga yang menelfon kepolisian.


Berita kecelakaan pun disiarkan oleh televisi dan menjadi trending topik karena korbannya adalah pengusaha sukses yang berpengaruh di negeri ini dan orang yang tertabrak oleh Bram orang tuanya meninggal dunia di tempat.


Felicia yang kebetulan melihat berita langsung syok mengetahui suaminya kecelakaan, ia tak percaya sampai akhirnya datang ke TKP untuk memastikan.

__ADS_1


"Gak.. ini gak mungkin.. gak.." teriak Felicia histeris melihat mobil Bram rusak parah dan kondisi Bram sangat memprihatinkan.


"Maaf apakah anda kenal dengan salah satu korban?" tanya polisi memastikan.


"Kenal pak, sangat kenal, dia adalah suami saya.. Bram Attirmidzi Wijaya," ucap Felicia terisak dan membuat semua orang yang disana terkejut.


"Betulkah anda istrinya? setahu kami tuan Bram belum menikah," ucap polisi meragukan.


"Terserah bapak dan kalian semua disini percaya atau tidak, yang terpenting tolong segera selamatkan suami saya beserta korban yang lainnya, pastikan suami saya selamat," ucap Felicia tegas.


"Baik.." jawab polisi lalu mengevakuasi korban dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat.


Di Rumah Sakit Permata Indah.


Di ruang UGD Felicia sendirian dengan ditemani suara mesin pemeriksa denyut nadi otomatis. Felicia tak henti-hentinya menangis karena sangat menyesali perbuatannya yang masih meragukan suaminya, andai dia ikut pulang pastinya keadaan baik-baik saja.


"Maafkan aku Bram.. aku terlalu lemah dan meragukan kepercayaanmu, aku sangat menyesalinya.. tolonglah segera sadar dan kita akan memulai semuanya dari awal, aku gak mau kehilanganmu Bram," batin Felicia menangis terisak.


"Keluarga pasien tuan Bram Attirmidzi Wijaya?" tanya suster memastikan.


"Iya sus, saya.. bagaimana keadaanya?" tanya Felicia menyeka air mata.


"Anda ada hubungan apa dengan tuan Bram Attirmidzi Wijaya?" tanya suster.


"Maaf.. Saya rasa anda berbohong, tuan Bram Attirmidzi Wijaya belum menikah, saya menunggu pihak keluarga datang kemari dan akan diberitahukan hasilnya," ucap suster meragukan.


"APAKAH KURANG MEYAKINKAN PENGAKUANKU INI? JIKA SUAMIKU SADAR TANYAKAN LANGSUNG PADANYA BIAR ANDA PUAS!!! ANDA INI,PETUGAS RUMAH SAKIT BUKAN ADMIN GOSIP, BUAT APA SAYA BERBOHONG UNTUK HAL INI, BERITAHU PADA SAYA BAGAIMANA KONDISI SUAMI SAYA?" teriak Felicia emosi.


"Mohon tenang ini di rumah sakit bukan panggung konser, kenyamanan pasien itu hal yang utama," ucap suster sinis.


"TETAPI PERKATAAN ANDA TIDAK MEMBUAT SAYA NYAMAN!!! JIKA ANDA MASIH BERSIKUKUH TIDAK MEMBERITAHU MAKA SAYA AKAN MEMINDAHKAN SUAMI SAYA DI RUMAH SAKIT LAIN DAN LANGSUNG DI TANGANI DOKTER KELUARGA WIJAYA!" ancam Felicia.


"Tidak bisa sembarangan membawa pasien kritis tanpa persetujuan rumah sakit," ucap suster sinis.


"Anda mau cari ribut dengan saya? ayo dimana? asalkan beritahu dulu bagaimana kondisi suami saya," tantang Felicia.


"Baiklah nanti tolong sampaikan pada keluarganya jika kondisi pasien sangat kritis dan presentase hidup hanya 10% apalagi saat ini pasien membutuhkan kantong darah yang cukup banyak, stok di rumah sakit tidak mencukupi jadi kami membutuhkannya segera," ucap suster.


"KONDISI MENGKHAWATIRKAN SEPERTI INI BISA-BISANYA ANDA MERAGUKAN REPUTASI SAYA SEBAGAI ISTRI BRAM, JIKA KONDISI SUAMI SAYA TIDAK KUNJUNG DIBERITAHU JANGAN SALAHKAN SAYA MENUNTUT ANDA!!" ancam Felicia lalu menelfon dokter keluarga Wijaya untuk mencarikan stok darah.

__ADS_1


"Astaga.. sepertinya memang dia istri tuan Bram, haduh bisa bahaya nih gue.. kebanyakan nonton gosip sih jadinya termakan berita deh, siapa tau memang tuan Bram sudah menikah namun diselenggarakan secara private, semoga wanita ini tidak menuntut atau pun bilang pada tuan Bram," batin suster cemas.


"Pergi dari sini biar dokter keluarga Wijaya yang menangani Bram, saya tidak membutuhkan petugas seperti anda yang kebanyakan termakan berita receh, kalau kerja ya kerja.. mau percaya apa enggak kalau di situasi urgent harus segera di beritahu keluarga terdekatnya, kalau kondisi suami saya semakin memburuk maka orang pertama yang saya cari adalah kau, Putri Kurnia," gertak Felicia sambil melihat name tag susternya.


"Maaf.. maafkan saya, kalau begitu saya permisi dulu, ada tugas lain yang menunggu," alibi suster tersebut lalu bergegas pergi dengan perasaan ketakutan.


"Semoga reputasiku di rumah sakit ini nantinya masih aman," batin suster dengan perasaan was-was.


"Suster kok nyinyir.. jika kondisi Bram sudah pulih jangan harap akan gue kasih ampun, hari ini masih beruntung entah esok," gumam Felicia penuh dendam.


Lalu keluarga Bram datang dan melihat wajah menantunya tidak bersahabat,


"Kenapa sayang?" tanya Wina penasaran.


"Itu tante ada suster ngeselin banget, masak gak percaya kalau Felicia ini istrinya Bram dan tadi di TKP pihak kepolisian pun meragukan perkataan Felicia jika Felicia istri Bram.. kan kesel tante," ucap Felicia kesal dan cemberut.


"Sudah sayang itu bisa dibahas nanti, fokus dulu sama kesembuhan suamimu," ucap Wina menenangkan.


"Iya tante tapi ngeselin banget, apa untungnya coba kalau dia tau Bram sudah punya istri? harusnya dia profesional kerja dong tante," protes Felicia.


"Nanti biar kami urus, kamu hanya fokus sama kesembuhan Bram, ok.." ucap Wina.


"Iya tante," Jawab Felicia patuh.


Wijaya yang datang terakhir pun segera menanyakan konidis putranya.


"Gimana kondisi Bram?" tanya Wijaya tak sabar dan panik.


"Kritis pah.." jawab Wina sedih.


"Kok bisa? lalu dokter bilang apa?" tanya Wijaya terkejut.


"Bukan dokter yang mengatakan namun suster, dia bilang kalau Bram harus segera mendapat kantong darah dalam cukup banyak dan presentase kesadaran Bram hanya 10%," jawab Felicia sedih.


"Astaga.. memang kecelakaannya apa parah kok kondisi Bram sampai mengenaskan begitu," ucap Wijaya.


"Mobilnya sampai ringsek dan hancur parah om, sudah Felicia hubungi pihak bengkel untuk di perbaiki," ucap Felicia.


"Mobil bukan masalah, bisa beli lagi.. yang penting keselamatan Bram itu yang utama, kenapa kamu baru memberitahu sekarang? udah dapat kantong darahnya?" tanya Wijaya.

__ADS_1


"Karena susternya meragukan Felicia istrinya Bram, berulang kali susternya ingin memberitahu kondisi Bram hanya dengan pihak keluarganya saja karena setahu dia Bram belum menikah, mungkin susternya terlalu banyak nonton berita.. jika Felicia tidak mengertak mana mungkin diberitahu kondisinya om dan untuk stok darah sudah Felicia suruh dokter keluarga untuk mencarikannya secepat mungkin," ucap Felicia.


"Beraninya dia meragukan menantuku, setelah Bram sembuh akan om urus.. kamu masih ingat namanya kan?" tanya Wijaya tak terima dan Felicia mengangguk cepat.


__ADS_2