
"Kenapa baru sekarang menyadarinya? Apa karena pertemuan kalian ini sangat asyik hingga kalian melupakan tugas kalian masing-masing????? Jika kamu gak becus mengurus anak biarkan aku yang merawatnya dan silahkan kalian bersama," Gertak Bram sambil menggepalkan tangan.
"Jangan begitu ini semua bukan salah gue, dia kesini secara tiba-tiba.. Gue udah lama banget lost contact dengannya, dia udah gue suruh pulang namun menolak makanya ketika loe telfon langsung gue suruh jemput dia, karena gue gak mau ada salah paham seperti ini," Ucap Pandu menahan rasa perih di pipinya.
"Haha alasan receh, orang selingkuh mana mau mengakuinya," Sindir Bram tersenyum sinis.
"Serius gue gak bohong Bram, terserah loe percaya atau tidak tapi itu kenyataannya," Ucap Pandu jengah.
"Apapun alasannya gue gak bisa menerima yang namanya penghianatan," Ucap Bram dengan tegas.
"Maaf ini semua salahku karena aku lah yang menghampirinya, dia gak tau apapun, aku menemuinya secara tiba-tiba" Ucap Felicia lirih.
"Yaiyalah kamu menemuinya kan kalian mau temu kangen, coba kalau gak di telfon? Mungkin kalian mau pindah tempat yang lebih privat," Sindir Bram.
"Jaga ucapanmu Bram, gue gak serendah itu.. Gue udah memperingatkan dia untuk menjauhi gue tapi istrimu masih getol disini, sekarang gue bilang jujur malah loe sangkal dan memfitnah gue seperti itu.. Tanyakan pada istrimu kenapa getol banget temui gue padahal dia sudah berstatus suami orang," Ucap Pandu tak terima.
"Bisa dijelaskan apa maksud omongan Pandu?," Tanya Bram pada Felicia.
"Hmm.. itu.. memang bener apa yang di katakan Pandu kalau aku yang menemui dia duluan, karena aku.." Ucap Felicia menggantung.
"Karena apa?," Tanya Bram penasaran.
"Karena aku ingin memulai hubungan lagi dengannya Bram, maaf karena sampai sekarang perasaanku masih sama terhadap Pandu, tak ada rasa sedikit pun padamu," Ucap Felicia dengan mata berkaca-kaca.
"Wow.. kalian memang perfect, oke kalau memang kalian ingin bersama, silahkan.. Yang terpenting jangan lagi mengabaikan Emil, atau nanti hak asuhnya aku ambil di pengadilan." Ancam Bram serius.
"Ma..maksudmu Bram? kita ce..cerai?" Tanya Felicia dengan syok dan bibir bergetar.
"Buat apa aku mempertahankan rumah tangga yang tidak sehat, selama ini aku sudah berusaha baik padamu, aku kira selama itu pula perasaanmu terhadapku sudah mulai tumbuh, namun sekarang aku merasa tertampar dengan keras lewat ucapanmu sendiri jika selama ini tidak ada setitik pun perasaanmu terhadapku, terima kasih sudah jujur kini aku plong mendengarnya, sampai berjumpa dan bertemu di meja hijau," Ucap Bram menahan sesak di dada dan berlalu pergi.
"Kamu gila ya Fel bisa-bisanya melepaskan Bram begitu saja, jangan harap aku akan menerimamu lagi," Gertak Pandu bergidik ngeri.
"Aku melakukan semua ini karena sayang padamu Pandu.. aku rela meninggalkan Bram hanya untukmu, jadi kita nantinya bisa hidup bertiga dengan bahagia," Pinta Felicia memegang tangan Pandu dan sorot mata memohon.
"Jangan harap, aku gak mau merusak rumah tangga orang, lagian sudah tidak ada lagi perasaan apapun terhadapmu jadi sekarang pergilah," Usir Pandu dengan tegas.
"Kamu mengusirku setelah melihat dengan langsung pengorbanan ku?," Ucap Felicia tak percaya.
__ADS_1
"Apa kalimatku kurang jelas? Kamu berkorban untuk orang yang salah, selesaikanlah masalah kalian baik-baik dan jangan libatkan aku di dalamnya," Gertak Pandu.
"Gak.. aku tetep maunya denganmu, asal kamu mau kembali padaku maka aku akan pulang menjemput anakku," Tolak Felicia.
"Yasudah.." Jawab Pandu pasrah.
"Kamu mau kembali padaku? benar kan kalau kamu memang masih ada perasaan terhadapku," Ucap Felicia dengan mata berbinar.
"Yasudah kalau gitu aku yang akan pergi dari kafe ini dan aku harap jangan bertindak bodoh sepeti itu lagi, nantinya kamu akan menyesal, selesaikan masalah kalian dan rawatlah anakmu dengan penuh cinta," Ucap Pandu berlalu pergi meninggalkan Felicia seorang diri.
"Kenapa semuanya pergi meninggalkan ku sendiri?," Gumam Felicia berlinang air mata.
"Gue gak nyangka kalau Felicia dengan gamblangnya ngomong jika dia selama ini tidak mencintai ku, dia sudah membuatku kehilangan muka di hadapan Pandu, aku yakin dia sedang besar kepala, bisa-bisanya ya Felicia tega sama anaknya sendiri, kesalahanmu kali ini sulit di maafkan dan memang perpisahan itu mungkin jalan terbaiknya karena aku tidak mau hidup serumah dengan orang yang tidak mencintaiku," Gumam Bram sambil menyetir dengan fikiran yang kalut, lalu Bram berinisiatif menelfon susternya Emil.
"Halo tuan?," Sapa suster dengan sopan.
"Sus tolong siapkan pakaiannya Emil untuk beberapa hari ke depan ya, saya ingin mengajaknya ke rumah omanya, 10 menit lagi saya sampai," Ucap Bram.
"Ba..baik tuan," Jawab suster patuh lalu Bram mematikan panggilan dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
-Di rumah orang tua Bram.-,
"Evening oma, how are you?," Sapa Emil dengan tersenyum manis.
"Evening.. im fine, thank you boy.. aduh cucu oma makin gemesin.. ih pengen oma makan itu pipi tembemmu," Jawab Wina dengan mencubit pelan pipi Emil.
"No.. its not squeezy omah," Rengek Emil.
"Haha i know baby," Ucap Wina lalu menggendong Emil.
"Hmm.. Sus tolong bawa Emil ke kamarnya dulu ya soalnya saya mau bicara sama mamah saya," Pinta Bram.
"Baik tuan, yuk den Emil kita ke kamar bersih-bersih badan," Ajak suster lalu mereka ke kamar.
"Mah.. bolehkan Bram dan Emil tinggal disini beberapa hari?," Tanya Bram penuh harap.
"Of course Bram dengan senang hati, mamah jadi senang bisa main sama Emil yang makin hari makin gemesin," Ucap Wina antusias.
__ADS_1
"Thanks mam," Jawab Bram bernafas lega.
"By the way, where Felicia? Kenapa kalian disini hanya berdua saja?," Tanya Wina curiga.
"Felicia lagi sibuk dengan dunianya," Jawab Bram malas.
"Apa maksudnya Bram?," Tanya Wina bingung.
"Ya sibuk dengan dunianya sampai lupa merawat anaknya sendiri," Ucap Bram malas.
"Wait.. Wait.. mamah tau kedatanganmu kesini pasti karena lagi berantem sama Felicia, tapi bolehkah mamah tau apa penyebabnya?," Tanya Wina penuh harap.
"Ahh lagi malas membahasnya mah nanti Bram emosi lagi, intinya kemungkinan besar rumah tangga kami tida bisa di selamatkan," Ucap Bram memijat keningnya.
"Apa?? Kenapa bisa seperti itu? Jangan bercanda deh Bram, mamah gak suka," Tegur Wina menatap tajam.
"Serius mamah.. next time aja lah aku ceritanya yang penting Emil aman disini," Ucap Bram malas menjelaskan.
"Memang di rumah kalian ada penyusup lagi kok sampai Emil terancam keamanannya?," Tanya Wina kaget.
"Felicia yang mengancam kesehatan Emil," Ucap Bram kesal.
"Kenapa bisa begitu?? Apa dia terkena baby blues?," Tanya Wina penasaran.
"Bukan baby blues mah tapi puber kedua," Jawab Bram ketus lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Mau kemana? kamu bikin mamah pusing dengan teka tekimu," Protes Wina.
"Mau ke kamar Emil mah, mau main sama dia," Jawab Bram lalu menuju kamar Emil.
Di sana Bram terus menerus memandangi putra semata wayangnya yang tengah tertidur lelap, ia beruntung di tengah permasalahan rumah tangganya yang berada di ujung tanduk, Emil tidak rewel.. ia beruntung memiliki anak seperti Emil yang selalu mengerti orang tuanya.
"Maafin papah ya boy kalau kita tinggal disini dulu, papah gak mau karena obsesi mamahmu sama mantannya membuatmu terabaikan, maafin papah kalau nantinya kamu harus merasakan kekurangan kasih sayang orang tua utuh, papah minta maaf karena akhirnya menyerah meluluhkan hati mamahmu.. Papah kira sekarang mamahmu sudah mulai mencintai papah, namun kenyataannya rasa sakit.. sangat sakit yang papah rasakan, mamahmu dengan tega mempermalukan papah di depan mantannya dan mamahmu dengan percaya dirinya berkata jika ia hanya mencintai mantannya, bagaimana papah gak sakit boy? semoga suatu saat kamu bertemu dengan seseorang yang juga sayang terhadapmu, jangan seperti papah yang hanya cinta sendirian," Gumam Bram mengelus rambut Emil dan tanpa sadar meneteskan air mata.
Wina yang tidak sengaja mendengar keluh kesah Bram merasa sedih karena anaknya menyimpan semua ini sendirian, disatu sisi Wina kesal dengan Felicia yang tidak bersyukur memiliki suami seperti Bram.
"Felicia.. lagi lagi kamu membuatku kesal, beraninya kamu mencampakkan anakku begitu saja, kau fikir siapa dirimu hah?!!!," Batin Wina dengan gemuruh di dadanya.
__ADS_1