
Sudah 3 hari Soetanoe menunggu kabar atas keputusan rencana pernikahan putrinya. Namun dari pihak Bram tidak ada kabar apapun hingga membuat Soetanoe naik pitam.
"Mau main-main lagi denganku pak Wijaya dan juga Bram? jangan harap ada ampun untuk kalian," gumam Soetanoe menahan amarah.
"Maaf tuan ada keluarga bapak Wijaya menunggu di ruang tamu," icap Bibi membungkuk sopan.
"Akhirnya dia datang juga, saya segera kesana, makasih Bi," jawab Soetanoe lalu pergi menemui keluarga Bram.
"Iya tuan," jawab Bibi lalu pergi melanjutkan pekerjaannya.
Di ruang tamu.
"Pak Tanoe apa kabar?" sapa Wijaya berdiri lalu berjabat tangan.
"Baik," jawab Soetanoe ketus.
"Syukurlah.. maaf kami baru bisa kesini karena ada beberapa hal yang harus segera di atasi," ucap pak Wijaya merasa kalau calon besannya sedang tidak bersahabat.
"Baiklah yang terpenting sesuai deadline anda kemari," jawab Soetanoe tersenyum sinis.
"Maafkan kami om.. salahkan saya karena keterlambatan kami kesini itu semua karena saya, ini keputusan yang sangat berat jadinya saya perlu memikirkan keputusannya dengan tenang dan kepala dingin," ucap Bram membela Papahnya.
"Lantas bagaimana hasilnya?" tanya Soetanoe tidak sabar.
"Jadi begini pak Tanoe..." ucap Wijaya terpotong oleh Bram.
"Biar Bram aja yang memberitahu keputusannya," ucap Bram penuh keyakinan.
"Baiklah.." jwwab Wijaya pasrah.
"Jadi begin.. setelah saya memikirkan ini dengan matang.. saya memutuskan untuk tetap melanjutkan pernikahan dengan Felicia, saya harus bertanggung jawab atas bayi yang di kandung oleh Felicia dan saya berharap lambat laun perasaan kalian akan sama-sama luluh, jadi saya mohon kepada kalian biarlah kami seperti ini dulu, jangan memaksa kami ini itu.. biarkan semuanya seperti air mengalir," ucap Bram dengan mantap.
"Syukurlah akhirnya putriku dan bayinya dapat pengakuan, semoga kalian lekas menyayangi satu sama lain, lalu untuk acara pernikahannya apakah tetap bulan depan sesuai pendaftaran di KUA?" tanya Soetanoe dengan hati lega.
__ADS_1
"Iya pak Tanoe.. kita tidak bisa menundanya lebih lama lagi karena kondisi janin Felicia akan semakin besar, berarti acara pernikahannya diadakan 2 minggu lagi," ucap Wijaya lega.
"Baiklah kalau begitu kami akan mempersiapkan acaranya dari sekarang," jawab Soetanoe.
"Pah.. bolehkah jika acara pernikahannya hanya akad saja dan diadakan di KUA?" pinta Felicia penuh harap.
"Loh memangnya kenapa? kamu putri semata wayang papah, bagaimana mungkin acara pernikahan yang penting ini hanya akad saja," protes Soetanoe tak percaya.
"Benar apa yang dikatakan Felicia, saya setuju om.," timpal Bram mengangguk setuju.
"Kalian ini kenapa? ini acara pernikahan sungguhan bukan simulasi.. kami ingin acaranya diadakan secara mewah," ucap Wijaya terheran-heran.
"Karena kami tidak saling mencintai dan pernikahan ini harus segera terlaksana karena untuk menutup aib keluarga dan juga ada anak didalam rahimku, kalau pernikahan dilaksanakan secara mewah rasanya percuma karena kebahagiaan yang tercipta nanti hanyalah kepalsuanx jadi saya meminta hanya akad saja dan di KUA, entah nantinya kami saling mencintai atau tidak itu nanti belakangan. Terpenting anak ini lahir ada ayahnya," ucap Felicia memohon.
"Papah tidak yakin jika hanya itu saja alasannya," jawab Soetanoe menatap penuh selidik.
"Papah..." ucap Felicia kesal.
"Jujur alasannya kenapa dan juga kamu Bram, jelaskan alasannya" ucap Soetanoe menatap mereka bergantian.
"Jujurlah Bram dan juga Felicia," ucap Wijaya meminta penjelasan.
"Gak ada Pah," elak Bram.
"Jujur Bram Attirmidzi Wijaya," ucap Wijaya penuh penekanan.
"Ba..baik Pah. alasan kami meminta menikah hanya akad saja karena kami memikirkan perasaan kekasih masing-masing jika nantinya mereka tahu, kami belum siap kehilangan mereka, jadi kami sepakat untuk merahasiakan pernikahan ini pada semuanya, hanya keluarga saja yang tau," jawab Bram lalu menunduk.
"Kenapa tidak diselesaikan hubungan kalian? saya gak mau kalau kalian menikah tetapi masih ada ikatan dengan yang lama, pasti nantinya menjadi bumerang." ucap Soetanoe tegas.
"Tapi kami masih belum bisa menyelesaikan hubungan dengan kekasih masing-masing,", ucap Felicia lirih.
"KENAPAl?",tanya Soetanoe emosi.
__ADS_1
"Karena kami mencintai kekasih masing-masing, om." jawab Bram tanpa ragu.
"KALIAN INI GILA. MAU MENIKAH TAPI MASIH INGIN BERHUBUNGAN DENGAN KEKASIH MASING-MASING, LIHAT DIRIMU FEL SEBENTAR LAGI PERUTMU BUNCIT DAN BADANMU AKAN GEMUK, KALAU NANTI TIBA-TIBA PANDU DATANG DAN MENGETAHUI INI SEMUA APA DIA TIDAK KECEWA?LEBIH BAIK KALIAN PUTUS DENGAN KEKASIH MASING-MASING JIKA SUATU SAAT KALIAN KETAHUAN TIDAK AKAN MENJADI BEBAN,l ucap Soetanoe sangat emosi.
"Pah jangan emosi terus. sabar Pah.." ucap Vina mengingatkan.
"Mana bisa bersikap sabar jika kelakuan mereka seperti itu, bikin pusing kepala,"' Ucap Soetanoe memijat kening.
"Begini saja pak Tanoe, kita ikuti saja usul mereka, saya yakin mereka sudah memikirkan ke depannya bagaimana. Jadi saya harap masalah ini tidak perlu di perpanjang, membahas ini tidak akan selesai Pak. Kita fokus saja dengan persiapan pernikahan anak-anak kita," jawab Wijaya berusaha bijak.
"Itu sama saja secara tidak langsung kita mengajari anak kita untuk menjadi penghianat," ucap Soetanoe tak terima.
"Plis pah.. Feli selalu menuruti kemauan papah, kali ini mohon turuti permintaan Feli, urusan bagaimana nantinya biar kami yang handle," pinta Felicia menggengam tangan Soetanoe.
"Tapi permintaanmu itu mustahil di kabulkan Felicia.. ini sama saja menyakiti hati Pandu dan keluarganya, lebih baik kamu putusin Pandu dari sekarang agar tidak ada beban di kemudian hari,percayalah papah," nasehat Soetanoe.
"Tolong pah.." bujuk Felicia.
"Sudahlah pak biarkan mereka handle masalah mereka sendiri nantinya bagaimana, sekarang kita fokus saja menikahkan mereka dan memantau perkembangan bayi Felicia," ucap Wijaya tak mau memperkeruh suasana.
"Terserah kalian lah," jawab Soetanoe kesal lalu berjalan menuju kamar.
"Bagiamana ini jeng? apakah jadi menikahkan anak kita 2 minggu lagi?" tanya Weny bingung.
"Jadi jeng.. semua sudah di bicarakan dengan jelas, maafkan sikap suami saya yang sering emosional, pernikahan tetap di lanjutkan sesuai rencana dan baju pernikahan akan segera saya pesankan," ucap Vina dengan tak enak hati.
"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu jeng maaf jika kedatangan kami situasinya jadi kacau begini.. kalau butuh teman untuk fitting baju bisa kabari saya," ucap Wina lalu mereka berjalan keluar mansion Felicia dan pulang.
"Iya hati-hati di jalan," jawab Vina melambaikan tangan.
Drrtt..Drrtt.. Dering hp Felicia.
"Pandu?" gumam Felicia lalu mengangkat telfon.
__ADS_1
"Halo sayang aku sudah ada di depan gerbang mansionmu nih.. barusan aku lihat kok ada Bram dan juga keluarganya datang ke rumahmu?" tanya Pandu heran.
Deg..