
Sudah seminggu Naomi tinggal bersama Bram dan keluarga kecilnya, selama itu pula tak henti-hentinya Naomi menyita perhatian Bram, banyak hal yang membuat Bram harus memperhatikan Naomi secara ekstra.
"Bram.. bisa gak kamu ini penuh perhatian sama Emil dan Eleora, dia anak kandungmu loh," protes Felicia jengah karena sudah sangat sabar menghadapi Naomi yang manja dan menuntut selalu di perhatikan.
"Maafkan aku sayang, mau bagaimana lagi?? dia punya seribu cara untuk membuatku perhatian padanya," ucap Bram menyesal.
"Kamu bertindak tegas dong Bram, lama-lama sifatnya kayak mamahnya," ucap Felicia tak suka.
"Nanti akan aku usahakan, makanya itu aku menolak dia tinggal disini itu ya begini, aku takut hadirnya dia bisa menjadi jarak antara aku dengan kalian," ucap Bram penuh penyesalan.
"Awal-awal dia datang kesini aku bisa menerima sikapnya yang manja dan ingin menjadi pusat perhatian, karena aku fikir dia selama ini kekurangan kasih sayang orang tuanya, namun semakin kesini tingkahnya makin menjadi Bram.. Apa kamu gak tau di belakangmu bagaimana sikapnya pada anak-anak kita?" tanya Felicia menahan emosi.
"Memang apa sayang?" tanya Bram penasaran.
"Dia pernah bilang sama Emil bahwa kamu adalah papah kandungnya dan Emil itu anak yang tidak di harapkan kehadirannya karena Emil menjadi penghalang Naomi bertemu denganmu, anak sekecil dia bisa bicara seperti itu Bram.. Apa itu tidak luar biasa?" ucap Felicia berlinang air mata.
"Ha?? iyakah Naomi sampai berkata seperti itu, kenapa kamu dan Emil hanya diam saja?" tanya Bram kaget.
"Aku dan Emil diam saja?? KAMU MAS YANG TERLALU TERPUSAT PADA NAOMI, EMIL INGIN SEKALI BILANG INI PADAMU NAMUN LAGI-LAGI PERHATIANMU BERHASIL TERUSIK AKAN HADIRNYA," ucap Felicia emosi dan berlinang air mata.
"Astaga maaf sayang.. Maafkan aku, nanti sepulang sekolah aku ingin berbicara empat mata dengan Emil, semoga dia memahami dan memaafkanku.. Maafkan aku, sungguh aku gak tau kalau Naomi di belakangku bersikap buruk seperti itu," ucap Bram sangat menyesal.
"Tidak hanya pada Emil saja.. dengan Eleora pun demikian, dia ingin memukul Eleora dengan trolly mainan Eleora sambil berkata bahwa Eleora anak sialan, anak yang bisanya membuat susah, untung aku memergoki dan mengambil benda itu, coba kalau enggak? apa jadinya Eleora," ucap Felicia terisak.
"Kenapa kamu juga gak bilang denganku jika Naomi bersikap seperti itu?" tanya Bram terkejut.
"24 Jam waktumu hanya untuk Naomi, sampai berangkat dan menjemput sekolah anakmu saja kamu abai Bram.. apa jangan-jangan hasil di rumah sakit waktu itu benar bahwa Naomi anak kamu?" tuduh Felicia menatap tajam.
"Gak sayang.. kamu tau sendiri kan kalau hasil yang aku perlihatkan padamu dan kedua orang tuamu itu masih bersegel?" ucap Bram membela diri.
"Siapa tau kamu membayar dokter untuk memanipulasi data," sindir Felicia.
"Astaga aku tidak segila itu sayang, percayalah yang hasilnya di manipulasi itu hasil yang di rumah sakit bersama Naomi dan Thalia, percayalah.. aku mohon.." pinta Bram memohon.
__ADS_1
"Kalau Naomi bukan anakmu kenapa kamu sampai begitu peduli padanya?" tanya Felicia curiga.
"Karena dia berhasil meyakinkanku bahwa setiap alibinya itu benar dan dia berhasil mencuri perhatianku di saat-saat yang tepat, dia pintar cari timing," ucap Bram menatap Felicia lekat.
"Aku yang tidak yakin denganmu Bram, aku merasa kalau Naomi anakmu dengan Thalia.. perhatian yang kamu berikan itu sama kayak perhatian yang kamu berikan dulu pada anak-anak," ucap Felicia jujur.
"Tidak sayang.. aku mohon jangan berkata seperti itu, dia bukan anak kandungku, sungguh.. kalau aku yang terbukti berbohong harusnya aku yang masuk sel, bukan Thalia dan dokter Kim.. nyatanya dokter Kim hanya pasrah ketika di tangkap, tolong percayalah.. aku janji akan lebih perhatian pada anak-anak," ucap Bram mengiba.
"Semoga ucapanmu itu benar dan bukan dusta Bram," jawab Felicia ketus lalu bergegas pergi.
"Sayang.. kamu mau kemana?" teriak Bram namun hanya di cuekin oleh Felicia.
Sesuai janjinya pada sang istri, Bram menjemput Emil dan ingin membicarakan masalah ini sekaligus menyelesaikannya.
Metropolitan International School, tempat dimana Emil menuntut ilmu, tidak mudah masuk di sekolah ini dan juga harus merogoh kocek yang sangat dalam karena fasilitasnya yang sangat bagus.
Berhubung Bram adalah anak konglomerat, maka pengeluaran untuk anaknya sekolah tidak begitu di permasalahkannya karena yang penting bagi Bram anak-anaknya mendapat apapun yang terbaik dari yang terbaik.
Drrt.. drrtt.. dering ponsel Emil.
"Papah? ada apa menelfonku?" gumam Emil merasa heran.
"Halo boy.. kamu kok belum keluar sih?" Tanya Bram to the point.
"Keluar kemana pah?" tanya Emil bingung.
"Keluar sekolahan dong boy, papah udah nunggu di gerbang daritadi nih," protes Bram.
"Papah jemput aku? kok tumben banget? biasanya jemput tuan putri Naomi," sindir Emil yang secara tidak langsung menampar Bram.
"Papah rindu padamu, ayok pulang sebelum itu kita jalan-jalan dulu," ajak Bram.
"Tunggu sebentar lagi pah, Emil lagi di perpustakaan," jawab Emil yang hatinya merasa senang.
__ADS_1
"Jadi papah harus menunggu berapa lama lagi dong?" rengek Bram.
"Just for a minute papah, wait.." jawab Emil lalu mematikan panggilan.
Setelah itu Emil datang menemui Bram dan mereka mampir ke sebuah cafe untuk membahas masalah Naomi.
-Di Delicious Caffe-
Mereka memesan beberapa makanan dan minuman, sembari menunggu pesanannya datang, Bram memulai obrolan.
"Boy.. ada yang mau papah tanyakan," ucap Bram serius.
"Apa itu Pah?" tanya Emil penasaran.
"Tentang Naomi.." jawab Bram mengatur nafas dan Bram melihat ekspresi tidak suka Emil.
"Dengarkan perkataan papah dulu ya boy setelah itu jawablah sesuai kata hatimu," ucap Bram dengan lembut dan Emil hanya mengangguk patuh.
"Apa benar kalau kamu di kasari oleh Naomi di belakang papah? kata-kata yang keluar dari mulutnya itu sangat tidak pantas bahkan kelewatan," tanya Bram.
"Iya Pah.. kalau boleh jujur aku benci dengannya, boleh gak pah kalau dia di kembalikan sama orang tuanya?? Emil gak nyaman semenjak hadirnya dia apalagi berhasil menyita perhatian papah dari Emil dan dek Eleora," jawab Emil jujur dan menahan air mata.
"Papah minta maaf ya boy, papah tidak ada maksud begitu.. maafkan papah, jujur papah sangat menyesal. Waktu itu papah sudah menolak dengan keras untuk merawat Naomi namun mamah kamu bersikukuh ingin merawatnya dengan alibi kasihan, akhirnya papah menuruti keinginan mamah kamu.. ini yang papah khawatirkan, papah takut kalau hadirnya membuat jarak antara papah dengan anak-anak papah," ucap Bram penuh penyesalan.
"I know pah, mamah orang yang lembut dan baik hati makanya tidak tega melihat Naomi hidup sendiri, namun Naomi seperti tidak ada rasa berterima kasih dan sopan santunnya pada kami pah, apa papah gak tau bagaimana sikap Naomi pada mamah? Naomi sering menyuruh mamah ini itu bahkan pekerjaan rumahnya pun mamah yang buatin, tidak hanya itu saja terkadang Naomi berkata yang tidak pantas pada mamah.. jadi Emil mohon pulangkan Naomi secepatnya pah kalau tidak biarkan Emil, mamah dan dek Eleora pulang ke mansion oma," ucap Emil mengeluarkan uneg-unegnya.
"Astaga.. itu benar boy?? papah gak nyangka kalau Naomi seperti itu di belakang papah, beri papah waktu ya soalnya papah harus mencari keberadaan keluarganya dulu," bujuk Bram.
"Apa keluarganya sangat susah di temuin pah?" tanya Emil penasaran.
"Bukan susah sayang melainkan papah tidak tau siapa keluarga Naomi selain mamahnya, apalagi Naomi pernah bilang jika dia tidak tau siapa saudaranya," ucap Bram dengan bijaksana.
"Mencurigakan pah, Emil merasa kalau Naomi ingin hidup seterusnya dengan kita," ucap Emil serius dan menatap papahnya tajam.
__ADS_1