PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 21-Kecelakaan


__ADS_3

Keesokan harinya mereka sudah berkumpul di KUA untuk melangsungkan pernikahan.


"Dimana calon pengantinnya Pak?" tanya penghulu sudah jengah menunggu.


"Sebentar pak.. pihak perempuan sedang dijalan," ucap Wijaya gelisah dan berulang lalu menelfon Soetanoe.


Drrt.. Drrt.. Dering hp Soetanoe.


"Halo? bisa tidak anda jangan terus menelfon saya? kami sedang dalam perjalanan dan kebetulan jalannya macet," ucap Soetanoe kesal.


"Maaf pak soalnya ini sudah ditunggu sama penghulu," jawab Wijaya tak enak hati.


"Baiklah saya akan mempercepat kecepatan.. sebentar," ucap Soetanoe lalu menyuruh sopirnya lebih cepat.


"Baik.. saya tunggu," jawab Wijaya lalu memutus sambungan telfon.


Setelah melewati kemacetan yang panjang akhirnya mereka hampir tiba di KUA. Soetanoe sudah tak sabar dan menyuruh sopirnya lebih cepat lagi hingga mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi.


Tiba-tiba ada motor yang melawan arus hingga akhrinya sang sopir rem mendadak dan banting stir ke kiri.


Kecelakaan pun terjadi, mobil yang di tumpangi Felicia dan keluarga menabrak trotoar dan beberapa mobil.


Lalu warga sekitar menyelamatkan penumpang yang berada di mobil dan membawanya ke rumah sakit.


Disaat perawat sedang membawa Felicia menuju UGD, ia berpesan kepada petugas tersebut untuk memberitahu kabar ini pada calon suaminya, Bram.


Drrt.. drrt.. Dering hp Bram dengan nomor asing.


"Halo? siapa?" tanya Bram ketus.


"Selamat siang.. apa benar ini dengan calon suaminya Felicia Agnesia Soetanto?" tanya petugas dengan ramah.


"I.. Iya.. dimana dia?" tanya Bram kikuk ketika petugas mengatakan jika ia calon suami Felicia.


"Kami dari Rumah Sakit Makmur Sentosa ingin memberitahu bahwa Felicia Agnesia Soetanto beserta keluarganya berada di ruang UGD karena mengalami kecelakaan yang cukup parah," ucap petugas dengan lugas.

__ADS_1


"APA?? baik saya akan segera kesana,terima kasih," ucap Bram terkejut lalu mematikan hp.


"Kenapa kamu teriak begitu? ada apa?" tanya Wijaya panik.


"Felicia dan keluarganya kecelakaan, sekarang mereka ada di ruang UGD Rumah Sakit Makmur Sentosa," jawab Bram panik.


"Astaga cobaan apa lagi ini, ayo kita kesana sekarang," ajak Wijaya bergegas pergi dengan tergesa-gesa.


Di Rumah Sakit mereka saling diam dengan fikiran masing-masing. Hari yang seharusnya hari bahagia kini menjadi bencana.


"Pah berarti pernikahan ini batal kan?" tanya Bram hati-hati.


"Tidak akan, pernikahan ini hanya ditunda karena keluarga Pak Tanoe sedang tertimpa musibah, jadi jangan pernah berfikir dengan kejadian ini kamu bisa bebas lepas tanggung jawab," ucap Wijaya serius.


"Sudah jangan berdebat, ini di rumah sakit dan calon menantu serta besan kita sedang berada dalam fase kritis, bukannya mendoakan supaya cepat sembuh malah kalian membahas pernikahan, nanti setelah kondisi mereka pulih baru kita bicarakan lagi," ucap Wina.


"Iya mah apalagi ada calon cucu kita juga dalam bahaya, oh Tuhan sembuhkan mereka," ucap Wijaya penuh harap.


"Aku malah berharap anak yang di kandung Felicia keguguran jadi kita gak perlu menikah," gumam Bram yang di dengar oleh Wijaya.


Plak.. plak.. "sekali lagi kamu keluarkan sumpah serapahmu seketika itu juga papah cabut semua fasilitas dan silahkan keluar dari mansion biar jadi gelandangan," gertak Wijaya tak kuasa menahan emosi.


"Anak kamu ini bisa-bisanya kondisi seperti ini menyumpahi calon anaknya keguguran, dimana rasa empatinya?" tanya Wijaya dengan heran.


"Astaga Bram.. ada apa denganmu? kami tidak pernah mengajarkan kamu untuk berakhlak buruk seperti itu, kalau kamu tidak menerima anaknya ya jangan membuat dong, mau enaknya gak mau susahnya.. sekali lagi kami denger kamu membuat ulah, awas!" ancam Wina menahan amarah.


"Sialan! kenapa sih pada bela Felicia? Gue kan memang gak mau tanggung jawab, kenapa dia gak meminta pertanggung jawaban Pandu aja, mereka kan bucin parah," batin Bram kesal.


Setelah 35 Menit menunggu akhirnya dokter keluar dari ruangan.


"Keluarga bapak Soetanoe?" tanya dokter.


"Iya dok saya besannya, bagaimana kondisi keluarga pak Tanoe?" tanya Wijaya khawatir.


"Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun kondisi bapak Soetanoe dan ibu Vina sangat kritis dan harus di operasi karena ada penyumbatan di jantung dan otaknya," ucap Dokter serius.

__ADS_1


"Astaga.. lalu kondisi menantu saya? Felicia? bagaimana dok?" tanya Wijaya panik.


"Untuk Felicia mengalami koma akibat benturan yang cukup keras dan kondisi bayinya juga lemah jadi butuh penangan khusus," jawab Dokter serius.


"Astaga calon cucuku.. tolong dok lakukan yang terbaik untuk mereka dan berapapun biayanya saya siap menanggung, saya mohon sembuhkan mereka terutama Felicia karena dia sedang mengandung cucu kami," ucap Wijaya dengan sedih.


"Saya akan berusaha yang terbaik untuk keluarga anda, kalau begitu silahkan ikut di ruangan saya untuk menyelesaikan berkas-berkasnya," ucap dokter lalu di ikuti Wijaya berjalan ke ruang dokter.


"Puas kamu Bram.. Ini adalah hasil dari sumpah serapahmu tadi, kamu sekarang sudah menjadi orang tua jadi tolong jika berbicara lebih di filter, mamah kecewa sama kamu," ucap Wina sedih dan meneteskan air mata.


"Maaf mah tadi Bram bilang begitu karena belum siap menjadi ayah, sekali lagi Bram minta maaf," ucap Bram menyesal melihat mamahnya menangis.


"Mamah kecewa sama kamu.. tidak pernah sekali pun kamu berfikir dewasa," ucap Wina kecewa.


"Maaf mah," ucap Bram lirih dan menundukan kepala.


"Semoga kamu pergi saja dari rahim Felicia, kami disini belum siap akan kehadiranmu.. kamu datang di waktu yang tidak tepat dan di rahim wanita yang tidak aku cintai," batin Bram dengan mengusap wajahnya kasar.


Setelah Wijaya selesai menyelesaikan berkas-berkas yang perlu di tanda tangani kini ia kembali ke UGD.


"Gimana Pah?" tanya Wina cemas.


"Semua sudah beres.. sebentar lagi pak Tanoe dan istrinya akan di operasi, untuk Felicia sudah disiapkan tempat di ruangan VVIP, nanti setelah Pak Tanoe dan istrinya selesai operasi juga langsung di tempatkan di ruang rawat inap VVIP," ucap Wijaya dengan lembut.


"Syukurlah pah mamah jadi lega mendengarnya, semoga setelah ini mereka segera sembuh," jawab Wina penuh harap.


Beberapa menit kemudian Felicia di pindahkan ke ruang rawat inap dengan di ikuti Wijaya beserta keluarganya.


Setelah tiba di ruangan, Wina tak henti-hentinya menangis karena menyesali kejadian ini.


"Mah sudah mah jangan menangis terus biarkan Felicia istirahat," tegur Wijaya.


"Mamah menyesal pah kenapa kita tidak berangkat bareng-bareng? pasti sekarang Felicia sudah menjadi menantu kita dan nantinya kita bisa mengontrol kesehatan calon cucu kita, mamah menyesalkan itu pah.." ucap Wina sangat sedih dan menyeka air mata.


"Semua sudah kehendak Tuhan, kita tidak bisa melawannya, ini ujian untuk kita dan pasti bisa melewati ini, doakan terus untuk kesembuhan Felicia dan bayinya," ucap Wijaya menenangkan istrinya.

__ADS_1


"I.. iya pah huhuhu.." jawab Wina menangis terisam.


Di satu sisi Bram merasa tak tega dan menyesal karena sudah membuat kedua orang tuanya sedih.


__ADS_2