
Keesokan harinya sesuai janjinya, ia menjemput istrinya dan pergi ke apartemen Thalia bersama.
"Are you ready sayang?" tanya Bram.
"Of course.. apapun itu hasilnya aku akan mempersiapkan diri," jawab Felicia ketus.
"Baiklah.." jawab Bram pasrah dan mereka melajukan mobil menuju apartemen Thalia.
~Glory Apartemen~
"Yuk turun.." ajak Bram membukakan pintu mobil.
"Gak.. aku tunggu disini saja, biar menjadi kejutan untuk Thalia," tolak Felicia.
"Kamu serius?" tanya Bram memastikan.
"Iya.. biar kamu nanti disana bisa bermesraan dulu tanpa terganggu olehku" sindir Felicia.
"Astaga.. jangan negatif thingking ah, yaudah aku ke apartemen Thalia dulu," ucap Bram lalu berjalan ke apartemen.
"Bagaimana aku bisa sanggup nantinya jika melihatmu disana terus menerus di goda Thalia, bisa-bisa gue cakar wajah sok cantiknya," gumam Felicia kesal.
Tak berselang lama Bram keluar dari apartemen bersama Thalia dan Naomi, wajah Thalia sungguh sumringah membuat Felicia muak melihatnya.
"Loh.. kok ada dia?" tanya Thalia terkejut.
"Why? Problem?" tanya Felicia sinis.
"Bram.. jelasin," perintah Thalia mendelik kesal.
"Apanya yang perlu di jelasin? dia istriku, hak dia dong ikut kemana pun gue pergi," jawab Bram cuek lalu masuk ke mobil.
"Gue duduk mana Bram?" protes Thalia.
"Di belakang lah, kan masih banyak kursi kosong," jawab Bram acuh.
"Sial!!" gumam Thalia menghentakkan kakinya dan duduk di belakang.
"Mamah.. tante itu kan yang kemarin marah-marah kan? apa mamah dan papah kenal sama tante itu? kenapa sampai tante itu duduk di depan?" tanya Naomi penasaran.
"Mamah juga gak kenal sayang," ucap Thalia kesal.
"Kok duduknya di sebelah papah?" tanya Naomi bingung.
__ADS_1
"Dia ingin merebut posisi mamah," bisik Thalia meracuni fikiran anaknya.
"Ehem.. saya mendengarnya loh, tidak ada niatan saya merebut Bram karena memang saya pemiliknya," sindir Felicia lalu Thalia hanya diam seribu bahasa karena sangat kesal.
#Di Rumah Sakit Sejahtera#
"Bram kenapa kesini?" tanya Thalia kaget.
"Nanti juga tau, diam saja dan ikuti kami," ucap Felicia tersenyum sinis.
"Jangan-jangan kalian mau melakukan tes DNA? iya?" tanya Thalia.
"Maybe.." jawab Felicia membuat Thalia terkejut.
"Bram kenapa diam saja? apa benar yang wanita itu katakan?? jawab Bram!!" rengek Thalia.
"Ya itu benar, hari ini gue mengajakmu dan Naomi keluar karena ingin melakukan tes DNA, gue capek terus menerus menuruti kemauanmu," ucap Bram jengah.
"Gak..,gak perlu melakukan itu, dia memang anak kandungmu Bram, sudah berapa kali gue katakan? yuk sayang kita pulang," ucap Thalia ketakutan.
"Kenapa seperti tikus got yang ketakutan seperti itu? kalau memang bener ya ikuti saja, toh bukan situ yang keluarin duit," sindir Felicia membuat Thalia melotot tajam.
"APA LOE BILANG?? TIKUS GOT?? KETAKUTAN?? CIH.. LOE SALAH SANGKA," ucap Thalia emosi.
"Makanya jangan membuat kami menjadi salah sangka, tinggal izinkan Naomi untuk tes DNA dan sama-sama tunggu hasilnya," ucap Felicia enteng.
"Dari awal sudah gue katakan jika gue tidak meyakininya, jadi jangan halangi langkahku untuk melakukan ini, penolakanmu semakin membuatku curiga," gertak Bram.
"Tapi sayang uangmu Bram," ucap Thalia.
"Haha.. biaya tes DNA tidak seberapa dengan kekayaan yang gue punya, jadi jangan terus menerus mencari alasan receh kayak gini lagi, ayok Naomi ikut aku," ucap Bram jengah lalu mereka masuk ke ruangan untuk tes DNA.
"Betul itu.. apa situ lupa seberapa kayanya suamiku, ingat loh dia suamiku sah secara agama dan negara, jangan pernah berniat memilikinya," ancam Felicia.
"Ada Naomi diantara kami, jadi Bram harus membagi apa yang dia punya untuk Naomi," bisik Thalia tersenyum licik.
"Haha situ fikir Bram akan dengan mudahnya menyerahkan harta secara cuma-cuma?? suamiku tidak bodoh, dia lebih tau mana yang PANTAS mendapatkan dan mana yang DI PANTAS-PANTASKAN," sindir Felicia.
"Apa maksudmu bicara seperti itu? daritadi ngajakin ribut mulu," ucap Thalia geram.
"Situ duluan yang mulai, makanya jangan bermain-main dengan kami, mau hidup enak ya kerja dong jangan mengambil hak orang lain," ucap Felicia sinis.
"Naomi anak kandungnya jadi dia juga berhak mendapatkan," ucap Thalia angkuh.
__ADS_1
"Haha anak yang kau paksa untuk mengakui, kasihan sekali hidupmu.." ejek Felicia.
"Dia memang anak kandungnya, untuk apa berbohong.. loe mana tau yang sebenarnya, seberapa panasnya adegan panas kami," ucap Thalia memprovokasi.
"Wahh.. apakah panas sekali? jika iya maka pantas dong kalau suamiku lebih memilih bercinta denganku, karena dia melakukannya penuh cinta dan uhh sangat bergairah, dia juga bercita-cita ingin memiliki anak yang banyak dariku, dia juga berkata jika aku lah wanita yang dicintainya," ucap Felicia tak mau kalah.
"Haha kalau dia hanya mencintaimu mengapa waktu itu dia tergoda olehku?? kami melakukannya secara sadar loh dan terjadi di apartemenku," ucap Thalia memprovokasi.
"Apa?? Jadi memang benar dari dulu mereka masih berhubungan, Bram dengan teganya lagi-lagi membohongiku, hancur reputasiku di depan Thalia.. aku istrinya tetapi aku yang kalah," batin Felicia menahan tangis.
"Kenapa? terkejut? marah? mau nangis? kasihan sekali.. istri sah tapi tidak pandai memuaskan suaminya hingga suaminya berulang kali datang kemari, ya gue dengan senang hati dong menerimanya, asal loe tau.. kami masih saling mencintai satu sama lain, nyatanya hadirlah Naomi," ucap Thalia tersenyum smirk.
"CUKUP!!! DASAR WANITA TAK PUNYA HARGA DIRI!!" teriak Felicia menatap tajam.
"Gue menurunkan harga diri dengan orang yang memang sayang denganku, gak masalah dong? apalagi dia kaya raya kan? jadi semakin semangat aku melayaninya, ups" ucap Thalia menutup mulutnya.
"DASAR WANITA MENJIJIKAN, BRAM MUNGKIN SEDANG KHILAF SAMPAI BERBUAT ITU PADAMU!!" ucap Felicia.
"Khilaf kok berulang kali, itu namanya nagih kalik.. ehh.." ucap Thalia menutup mulutnya lagi dan tersenyum smirk.
"Dibayar berapa setiap bermain dengannya?" tanya Felicia penasaran.
"Hmm.. semauku, dia selalu menyerahkan hpnya dan memintaku untuk mengetik sendiri berapa nominalnya, Bram royal banget kan? gimana gue gak makin sayang," ucap Thalia dengan entengnya.
"Wah.. jackpot dong dapat tamu seperti Bram, asal loe tau ya, jika nanti hasil tes tidak menunjukkan bahwa Bram ayah biologisnya, siap-siap saja hidupmu dan anakmu di ujung tanduk, ingat lawanmu itu Bram Wijaya, dia bukan keluarga kaleng-kaleng, jadi stop kehaluanmu dan bersiaplah pada kenyataan nanti," gertak Felicia dengan tersenyum senang.
"Itu tidak akan terjadi.. tidak akan.." ucap Thalia tidak terima.
"Wah kenapa loe yakin sekali? Bram aja meragukan jika Naomi itu anaknya, kenapa loe yang kekeh banget?" ucap Felicia tersenyum kecut.
"Karena dia kurang lama meghabiskan waktu dengan Naomi, jadi mereka belum ada chemystri dan penghalangya ialah kalian," ucap Thalia kesal.
"Kenapa jadi menyalahkan orang lain? kami menghalangi kalian? bukannya kebalik ya, anda siapa dan sedang berhadapan dengan siapa, aneh.." ucap Felicia tersenyum kecut.
"Sebentar lagi aku adalah nyonya Bram Attirmidzi Wijaya jadi bersiaplah loe hidup susah," gertak Thalia angkuh.
"Kenapa sombong sekali?? gak kebalik? kalau pun nantinya gue cerai dari Bram pun hidup gue tetap terjamin tuh, gue adalah anak semata wayang dari pemilik Soetanoe Grup, pasti loe tau kan? jadi jangan mimpi mengharapkan gue hidup susah," ucap Felicia tersenyum senang.
"Soe..SOETANOE GRUP?? LOE PUTRI SEMATA WAYANGNYA YANG BANYAK MEMBUAT BANYAK ORANG PENASARAN? GUE BERHADAPAN LANGSUNG DENGAN PUTRINYA?" tanya Felicia berteriak tak menyangka.
"Kenapa terkejut? yes.. gue ini putri tunggal Soetanoe jadi jangan cari gara-gara lagi denganku," ancam Felicia.
"Pantas saja dia biasa saja mengetahui Bram berkhianat, gue fikir dia bakal kebaran jenggot dan merengek pada Bram untuk meninggalkanku, nyatanya oh ternyata.. dia adalah putri tunggal yang gue impikan kehidupannya," batin Thalia menatap Felicia tak berkedip.
__ADS_1
"Are you okay?" tanya Felicia bingung.
"MESKIPUN LOE PUTRI TUNGGAL SOETANOE PUN GUE GAK AKAN GENTAR!! NAOMI MEMANG ANAKNYA DAN SAMPAI KAPAN PUN BEGITU!" gertak Thalia emosi.