
Setelah menempuh perjalanan hampir 6 jam kini mereka sudah tiba di mansion Felicia.
"Fyuhh akhirnya sampai juga." Gumam Bram mengendorkan seluruh tubuhnya.
"Capek ya? Mampir dulu yuk." Ajak Felicia.
"Langsung aja deh biar bisa tidur. Badanku pegal semua nih, nanti kalau aku mampir malah minta pijit loh." Goda Bram terkekeh.
"Emang aku tukang pijit apa? ogah banget.. Yaudah kalau gak mau mampir, thanks ya udah anterin." Ucap Felicia kesal lalu turun dari mobil dan Bram pun ikut masuk ke rumah Felicia.
"Loh ngapain? katanya mau langsungan??." Tanya Felicia heran.
"Memang.." Jawab Bram enteng.
"Lalu ngapain ikut masuk?." Tanya Felicia bingung.
"Pamitan sama orang tuamu lah ntar dikira aku culik kamu dan nantinya di cap menantu kurang ajar." Ucap Bram bergidik ngeri.
"Astaga.. kan belum jadi menantunya mana mungkin berfikiran seperti itu, nyatanya dari kemarin gak ada kan yang hubungi kita suruh pulang?." Jawab Felicia memutar bola matanya malas.
"Udah panggilin aja biar aku bisa cepat pulang, jangan bilang kamu nunda-nunda aku biar lebih lama disini ya?." Goda Bram.
"Bisa gak kalau ngomong jangan asal ucap.. ngeselin, bentar aku panggilin dulu." Ucap Felicia kesal lalu memanggil orang tuanya.
"Selamat sore om tante." Sapa Bram ramah lalu salim.
"Sore Bram." Jawab Vina ramah.
"Udah pulang rupanya? kirain mau bablas sampai hari minggu" Ucap Soetanoe ketus.
"Pah.. mereka baru datang bukannya di sambut malah kena omelan." Bisik Vina tak enak.
"Salahnya sendiri mereka pakai acara kabur, untung besok minggu kalian ada pernikahan. Coba kalau enggak? Udah Papah laporin ke polisi." Ucap Soetanoe ketus.
"Udah jangan dengerin omelan papahnya Felicia ya.. Kalian pasti capek kan? Yuk duduk dulu biar tante siapin makan malam." Ajak Vina dengan ramah.
"Terima kasih tante tapi Bram mau langsung pulang aja, badannya pegel semua. Pengen langsung istirahat." Tolak halus Bram dengan senyum kaku.
__ADS_1
"Sebentar aja Bram, itung-itung dinner sebelum jadi menantu." Desak Vina.
"Maaf tante enggak usah. Saya permisi dulu." Tolak Bram.
"Yaudah hati-hati di jalan ya Bram, sampaikan salam tante untuk orang tuamu." Ucap Vina pasrah dan sedikit kecewa.
"Iya tante.. Kalau gitu Bram permisi dulu. Mari om dan tante." Pamit Bram membungkuk hormat dan bergegas menuju mobil.
"Hati-hati Bram." Ucap Felicia.
"Pasti.. Balik dulu ya." Jawab Bram mengacungkan jempol lalu melajukan mobil sportnya.
"Udah jangan di pandang terus, besok minggu kan bertemu lagi. Apa kemarin quality time kalian kurang?." Goda Vina.
"Apaan sih mamah nih. Gak ada quality time." Bantah Felicia.
"Lalu apa dong? Masak honeymoon??." Tanya Vina bingung.
"Mamah.. Feli capek banget mau istirahat." Ucap Felicia kesal.
"Yaudah kamu istirahat sana, sebelum itu bersihin badan dulu ya, mandi-mandi dulu biar seger." Ucap Vina menasehati.
"Iya.. hati-hati jalannya sayang soalnya habis di pel sama bibi." Ucap Vina memperingati.
"Iya Mah makasih." Jawab Felicia lalu berjalan hati-hati.
Setelah memastikan putri semata wayangnya di kamar, Vina menemui Soetanoe yang kebetulan di ruang keluarga sedang main ponsel.
"Pah.." Sapa Vina.
"Hmm.." Jawab Soetanoe cuek.
"Papah." Sapa Vina lagi.
"Ya gimana mah?." Tanya Soetanoe tanpa menoleh.
"Hp terus ya, diajakin bicara malah cuekin mamah. ok.." Protes Vina kesal.
__ADS_1
"Ada apa Vina istriku sayang?." Tanya Soetanoe merayu dan meletakkan hpnya di ponsel.
"Putri kita sebentar lagi mau menikah Pah." Ucap Vina sendu.
"Iya mah.. Lalu?." Tanya Soetanoe penasaran.
"Mamah gak bisa bayangin gimana nanti kita berpisah sama Felicia.. Dia putri kita satu-satunya Pah." Ucap Vina meneteskan air mata.
"Mah.. Jangan menangis begitu, memang ada fasenya nanti anak kita akan meninggalkan kita dan memilih pasangan hidupnya, ya meskipun pilihan Felicia menikah dengan Bram karena terpaksa tapi kita sebagi orang tua berdoa yang terbaik untuk mereka biar rumah tangganya bahagia, sehat dan selalu diberkahi." Ucap Soetanoe membelai rambut istrinya.
"Kenapa kalau sama mamah bicaranya seperti itu sedangkan kalau ada Bram aja ketus banget. Papah aneh." Gerutu Vina kesal.
"Papah masih kecewa sama Bram, belum bisa menerima dia sepenuhnya mah.. Dia mempersunting putri kita karena kondisinya sedang hamil, coba kalau enggak? mana mungkin mereka menikah." Ucap Soetanoe kesal.
"Kalau putri kita gak hamil ya pastinya masih senang-senang sama Pandu dan fokus kuliah." Ucap Vina sedikit kecewa.
"Ya itu kan mau kita, tapi kenyataannya?? Makanya itu Papah masih belum bisa sepenuhnya menerima Bram menjadi bagian keluarga kita. Karena semua ini diluar kendali Papah." Ucap Soetanoe sedih.
"Makanya itu Pah nanti kalau cucu kita lahir pastikan dia dapat pengawasan 24 jam kalau perlu pakai bodyguard dan baby sitter, jangan sampai kejadian orang tuanya nanti menimpa cucu kita. Cukup putri kita saja yang mencoreng nama besar kita, jangan sampai cucu kita juga." Pinta Vina terlalu berlebihan.
"Mah anak zaman sekarang mana nyaman diawasi 24 jam? Pasti mereka nantinya minder dan dijauhi teman-temannya karena merasa gak nyaman main sama cucu kita. Nantinya kita didik menurut zamannya saja mah, yang terpenting pertajam ilmu agamanya. Hal yang Papah sesali adalah Papah terlalu memanjakan Felicia dengan urusan duniawi sampai lupa akan agamanya, sekarang sudah terlambat maka dari itu Papah akan mencoba pada cucu kita." Ucap Soetanoe menghayal.
"I..Iya Pah, mamah pun juga menyesalinya apalagi sekarang kandungan Felicia makin besar. Pasti orang-orang atau temannya yang berjumpa bisa langsung mengira jika putri kita hamil." Ucap Vina sedih.
"Udahlah mah ngurusi omongan orang gak akan ada habisnya, palingan mereka hanya berani bicara di belakang kita. Yang penting fokus pernikahan Felicia dan kondisi cucu kita senantiasa sehat." Ucap Soetanoe tak mau ambil pusing.
"Iya Pah bener." Ucap Vina mengangguk setuju.
"Felicia dimana?." Tanya Soetanoe penasaran.
"Ada di kamar katanya dia capek, yaudah Mamah suruh istirahat." Ucap Vina menyeka air matanya.
"Yaudah biarkan dia istirahat, habis perjalanan jauh pastinya capek apalagi Felicia berbadan dua." Ucap Soetanoe lalu menyeruput kopi.
"Habis ini mau mamah panggil buat makan malam." Ucap Vina.
"Kalau dia capek biarin aja mah, kasihan." Cegah Soetanoe.
__ADS_1
"Tapi Felicia butuh asupan pah, kasihan cucu kita dong nanti makan apa di dalam?." Protes Vina.
"Yaudah terserah mamah aja kalau nanti Felicia gak mau jangan dipaksa. Kita makan berdua aja." Ucap Soetanoe mengalah dan Vina hanya mengangguk patuh.