
Sudah 3 bulan Bram dan juga Felicia hidup masing-masing. Saking memikirkan masalah ini Felicia sampai jatuh sakit, ia sangat merindukan Emil-putra semata wayangnya- itu, hingga saat ini Bram masih menutup akses untuk bertemu dengan Emil.
Ting.. suara notifikasi hp Bram.
"Bram mau sampai kapan kita seperti ini terus? apa kamu gak memikirkan psikis Emil? Aku mohon Bram, bolehkan aku bertemu anak kandungku, aku sangat merindukannya Bram," isi chat Felicia.
"Cih.. setelah kejadian seperti ini baru merasa rindu dan mohon-mohon, kemarin kemana aja? apa Pandu udah bosan denganmu sehingga kini kamu baru sadar dan merengek untuk kembali?" jawab Bram sinis.
"Bu..bukan seperti itu Bram, tolong pertemukan aku dengan Emil, aku sungguh menyesal," pinta Felicia namun Bram hanya membacanya saja. Ia masih kesal dengan tingkah Felicia yang menurutnya keterlaluan, demi mantan pacaranya dia sampai menelantarkan anaknya sendiri. Hal yang membuat Bram masih enggan menerimanya kembali, di satu sisi ia juga kesal karena usahanya membuat Felicia jatuh cinta padanya sia-sia saja.
"Bram andai kau tau betapa beratnya menahan rindu dengan Emil pasti kamu tidak akan tega membiarkan aku memendamnya seorang diri, andai kau memberikan waktu 5 menit saja pasti akan aku manfaatin momen itu," gumam Felicia terisak karena rasa bersalah dan juga rindu yang teramat dalam pada anaknya.
"Semoga dengan kejadian ini bisa membuka fikiranmu bahwa tindakanmu tempo hari itu sangatlah kelewatan, aku masih bisa memaklumi perasaanmu hingga saat ini untuk Pandu, namun jangan menyuruh aku untuk memaklumi perbuatanmu lalai terhadap Emil, dia anak kandungmu, anak yang kau kandung selama 9 bulan dan kau lahirkan dengan perjuangan hidup dab mati, tetapi kenapa hanya karena obsesimu terhadap Pandu membuatmu lupa akan anakmu, dia anakmu bukan orang lain yang kebetulan kau urus.. Sakit hatiku disaat kamu dengan entengnya mengabaikan Emil dan memilih cinta di masa lalumu," Batin Bram mengusap wajahnya kasar.
Tiba-tiba Emil datang ke kamar papahnya.
"Papah..." sapa Emil berlari ke arah Bram.
"Hai Emil sayang, jagoan papah, hug me," pinta Bram melebarkan kedua tangannya dan mereka berpelukan.
"Done papah.. pah, Emil mau tanya boleh?" tanya Emil dengan wajah menggemaskan.
"Boleh dong, apa itu?" jawab Bram tersenyum senang.
"Mamah kemana sih pah? apa mamah pergi jauh sekali ya kok gak pulang-pulang? Emil kangen sama mamah, samperin mamah yuk pah," pinta Emil dengan polosnya.
"Mamah? mmm.. iya, mamah lagi perjalanan jauh jadi kita gak bisa samperin, maaf ya Emil sayang," Jawab Bram membelai rambut Emil lembut.
"Yah.. tapi Emil kangen papah, call mamah, please," rengek Emil cemberut.
"Mamah sedang sibuk sayang, besok saja ya?" alibi Bram.
"No.. Emil maunya sekarang ya sekarang, papah jangan gitu dong apa papah gak kangen sama mamah?" protes Emil.
"Tapi memang mamah belum bisa di ganggu sayang, besok saja ya? Emil kan anak pinter dan penurut," ucap Bram memberi pengertian.
"Please pah.." rengek Emil dengan mata berkaca-kaca.
"Hmm gimana kalau kita jalan-jalan? Emil mau kemana nih? ke mall atau ke taman atau kemana?" tanya Bram mengelabuhi.
__ADS_1
"Tapi papah ikut kan?" tanya Emil.
"Pastinya dong, ayo mau kemana nih?" tanya Bram antusias.
"Hmm.. kita ke mall aja deh, Emil mau beli mainan yang banyaaaakk sekali, boleh kan pah?" tanya Emil semangat.
"Tentu dong.. beli yang Emil suka, ayo berangkat," ucap Bram lalu membopong Emil menuju mobil.
"Yee.. ye.. ye.. papah the best, love you papah," ucap Emil mencium kedua pipi Bram.
"I love you too jagoannya papah," Jawab Bram mencium pipi Emil dengan gemas.
#Grand Mall Indonesia#
Di satu sisi tanpa sengaja Felicia juga berada di mall, ia ingin membelikan Emil mainan dan membawanya ke mansion keluarga Bram.
"Papah, bener kan Emil boleh beli sepuasnya?" tanya Emil dengan mata berbinar.
"Tentu dong, pilih yang Emil suka," Jawab Bram menggandeng Emil dan mereka membeli beberapa mainan.
Tanpa sengaja mereka menabrak Felicia yang juga memilih mainan.
"Felicia?" ucap Bram terkejut.
"Mamah? mamah udah pulang? hore..." ucap Emil teriak senang.
"Bram.. Emil.. Emil anak mamah, i miss you so much," ucap Felicia meneteskan air mata.
"I miss you too mamah, kenapa lama sekali pulangnya? Emil sedih mamah gak ada di sisi Emil," protes Emil.
"Mamah ada urusan sayang, maafin mamah ya," jawab Felicia menyeka air matanya.
"Ada urusan apa sampai samperin kami kesini? balasanku di chat apa kurang jelas?" Tanya Bram ketus.
"Aku gak nyamperin Bram, kebetulan kita tidak sengaja bertemu, mungkin ini cara Tuhan mempertemukan kita dan jawaban doa dariku karena sangat ingin bertemu dengan Emil, please biarkan aku berjumpa dengan darah dagingku," pinta Felicia mengiba.
"Menyesal aku membawa Emil kemari," ucap Bram ketus.
"Tolong Bram.." rengek Felicia memohon.
__ADS_1
"Emil sayang, mau kan jalan-jalan sama mamah? Emil mau beli apa? tell me," ucap Felicia pada Emil dengan manis.
"Mau mah.. Emil mau mamah, hore jalan-jalan kali ini lengkap ada mamah juga papah, Emil bahagia sekali," ucap Emil semangat dan matanya berbinar.
"Bolehkah aku menggendong Emil?" tanya Felicia penuh harap dan tanpa jawaban Bram pun Emil langsung berada di dekapan Felicia.
"Ikatan batin antara ibu dan anak memang sudah di pisahkan," Batin Bram menatap mereka serius.
"Bolehkan Bram? aku ini ibunya loh," pinta Felicia memaksa.
"Jika memang kau seorang ibu pastinya kau tidak akan sampai hati MENELANTARKAN anakmu demi cinta masa lalumu, coba kalau dia menerimamu pasti kamu melupakan kami, andai Emil udah dewasa maka aku akan berbicara sejujurnya bagaimana buruknya kau menjadi seorang ibu," ucap Bram dengan tatapan sinis.
"Aku minta maaf untuk itu, memang tempo hari aku sangat merindukan Pandu dan berharap bisa kembali namun kenyataan yang aku dapat sangat pahit, aku di tolak mentah-mentah oleh Pandu dan hari itu juga kamu memisahkan ku dengan putra semata wayangku, hari ku serasa hancur dan hilang sudah harapanku untuk menata hidup, maka dari itu aku memohon padamu, maafkan kesalahanku waktu itu dan biarkan aku juga turut merawat Emil," pinta Felicia berlinang air mata.
"Why you cry, ma?" tanya Emil bingung.
"Nothing baby, tadi mata mama kemasukan debu jadi perih terus keluar air mata deh," ucap Felicia berbohong dan berusaha tersenyum.
"Bukan karena di marahi papah kan?" tanya Emil menatap Felicia lekat.
"No.. papah sangat baik dan sayang sama kita, jadi mana mungkin papah marah sama mamah, ya kan pah?" tanya Felicia mencoba menghibur.
"Iya boy.. silahkan kamu pilih mainanmu sesukamu setelah itu kita pulang," ucap Bram datar.
Lalu Emil memilih banyak sekali mainan hingga membuat Bram geleng-geleng kepala, Felicia sangat bersyukur karena bisa merasakan momen berkumpul dengan keluarga kecilnya meskipun hanya sebentar.
Setelah selesai puas memilih mainan kini Bram dan Emil sudah berada di dalam mobil, Emil yang tidak tau menahu pertengkaran orang tuanya merasa bingung kenapa mamahnya tidak ikut satu mobil dengannya.
"Pah.." sapa Emil menarik bahu Bram.
"Iya Emil, ada apa sayang?" tanya Bram menoleh ke arah anaknya.
"Kok mamah gak ikut sama kita sih? memang mamah mau kemana lagi?" tanya Emil dengan polosnya.
"Hmm itu.. mamah masih ada urusan yang lain, nanti kalau udah selesai pasti pulang," jawab Bram berbohong.
"Tapi Emil belum say goodbye ke mamah, Emil turun dulu ah," ucap Emil tiba-tiba turun dari mobil dan menghampiri Felicia.
"Emil... bahaya nak," teriak Felicia berlari ke arah Emil dan mendekapnya.
__ADS_1
"Emil...." teriak Bram berlari menghampiri.