
Tepat 45 hari Felicia terbaring lemah di rumah sakit dengan kondisi koma. Setiap seminggu sekali spesialis dokter kandungan pun menyuntikkan cairan nutrisi sebagai pasokan makanan bayi yang di kandungnya.
"Felicia kenapa kamu tak kunjung siuman sayang? kami disini sangat mengkhawatirkanmu.. mamah mohon segera sadar dan kita bisa kembali hidup normal," ucap Vina berurai air mata.
"Papah juga merasa kehilangan semangat hidup setelah Felicia dinyatakan koma oleh dokter apalagi kondisi janin yang di kandungnya sangat lemah," ucap Soetanoe dengan sedih.
"Kita harus berusaha bagaimana lagi? apa perlu putri kita bawa ke luar negeri supaya mendapatkan perawatan terbaik?" tanya Vina cemas.
"Sebaiknya kita konsultasi dulu sama dokter yang menangani putri kita, jika mereka merekomendasikan maka Papah akan segera mengurusnya," jawab Soetanto bergegas pergi memanggil dokter.
Beberapa menit kemudian dokter yang menangani Felicia serta bayinya datang.
"Selamat siang bapak dan ibu.. ada yang bisa dibantu?" tanya dokter dengan sangat ramah.
"Begini dok.. tadi saya selesai berdiskusi dengan istri saya untuk membawa putri saya menjalani perawatan di luar negeri, menurut dokter apakah itu di butuhkan agar anak saya segera siuman dan pulih?" tanya Soetanoe penasaran.
"Menurut hasil lab dan juga pemeriksaan yang saya lakukan, putri anda hanya mengalami koma sementara dan luka yang di akibatkan kecelakaan tempo dulu tidaklah parah, jadi saya tidak merekomendasikan untuk di rujuk ke rumah sakit luar negeri," ucap dokter hati-hati.
"Tapi hampir 2 bulan anak saya tidak ada tanda apapun yang menuju siuman apalagi kondisi cucu saya lemah dan pihak rumah sakit tidak ada tindakan lebih, yang benar saja pihak rumah sakit tidak merekomendasikannya," ucap Vina tak terima dengan keputusan dokter.
"Mah tenang dulu semuanya bisa dibicarakan baik-baik," ucap Soetanoe menenangkan istrinya.
"Ini gak bisa dibiarkan pah.. mau 2 bulan anak kita hanya terbaring lemah dan pihak rumah sakit setiap hari cuma memeriksa dan memeriksa saja, mamah gak bisa menerima ini, saya bisa menuntut pihak rumah sakit atas dasar tindakan mal praktek," ucap Vina penuh penekanan.
"Saya memahami kondisi anda yang sangat khawatir akan kondisi putri anda, tetapi saya tidak bisa menerima jika pihak rumah sakit yang di salahkan atas kondisi yang menimpa putri anda, banyak pasien yang dinyatakan koma dan siuman dalam 6 bulan kemudian ada juga yang sampai setahun tapi mereka tidak pernah menuntut apapun, saya harap jangan terlalu gegabah dalam menghadapi situasi, memang semua orang tua akan merasa kalut fikirannya jika anaknya terbaring lemah di rumah sakit tetapi saya sarankan jangan langsung menggunakan emosi, silahkan jika anda ingin melaporkan pada polisi karena memang kami tidak merasa melakukan mal praktek," ucap Dokter dengan bijak namun menohok.
"Maafkan atas perkataan istri saya, dia sebenarnya sangat mengkhawatirkan putri kita satu-satunya apalagi kondisinya tengah mengandung," ucap Soetanoe.
"Baik.. saya bisa memaklumi itu tetapi jika menyangkut reputasi rumah sakit saya selaku dokter disini merasa keberatan dan siap pasang badan membela rumah sakit karena memang ini semua bukan kesalahan kami," ucap dokter tegas.
"Iya dok maafkan kami, lalu bagaimana baiknya agar putri kami bisa segera siuman?" tanya Soetanoe.
"Lebih banyak berkomunikasi dengan pasien dan selalu hadirkan orang-orang yang dikenal pasien, meskipun pasien koma namun indera pendengarannya masih berfungsi sebagaimana mestinya," ucap dokter menjelaskan.
__ADS_1
"Baik dok terima kasih," jawab Soetanoe.
"Sama-sama kalau begitu saya permisi dulu," ucap dokter berlalu pergi.
"Menghadapi pasien yang orang tuanya crazy rich memang butuh kesabaran esktra, uang yang dimiliki tidak bisa membeli kehidupan seseorang apalagi kehendak Tuhan, untung hanya 1 pasien yang seperti itu coba kalau ada 10 bisa crazy saya," gumam dokter sambil berlalu pergi.
Tak berselang lama Bram datang membawa buah-buahan.
"Selamat siang om dan tante," sapa Bram lalu meletakkan buah tangan di meja.
"Siang, sini duduk dulu," jawab Vina .
"Terima kasih," jawab Bram lalu duduk di sofa tamu.
"Terima kasih ya sudah setiap hari datang kesini menemani Felicia," ucap Soetanoe.
"Sama-sama om, bagaimana Felicia? apakah ada perkembangan?" tanya Bram penasaran.
"Belum ada tanda ia akan siuman, tadi istri saya sampai bersitegang dengan dokternya karena Felicia yang tak kunjung sadar," ucap Soetanoe sedih.
"Boleh.. silahkan," jawab Soetanoe memberikan ruang untuk Bram mendekati putrinya.
Lalu Bram mendekati Felicia yang masih terbaring lemah, ia genggam tangan Felicia dengan lembut lalu tangan yang satunya mengusap perut Felicia yang rata.
"Cepatlah siuman Fel karena sebentar lagi kita akan menikah, semua surat sudah selesai tinggal menunggu kesembuhanmu saja, segeralah sadar demi anak kita," ucap Bram lirih dengan tatapan sedih.
Dan tiba-tiba tangan Felicia bergerak perlahan. Sontak kemajuan tersebut mengundang kebahagiaan yang ada di ruangan.
"Om tangan Feli gerak," ucap Bram senang dan memperlihatkan pada kedua orang tua Felicia.
"Iya beneran.. mah Felicia siuman, kita harus segera panggil dokter," ucap Soetanto antusias lalu bergegas menelfon dokter via kamar inap.
"Pah ini mukjizat," jawab Vina takjub akan ikatan batin mereka.
__ADS_1
"P..Papah.. M..Mamah.. B..Bram," ucap Felicia lirih.
"Iya sayang syukurlah kamu sudah siuman, jangan banyak bicara dan gerak dulu karena sebentar lagi dokter akan kesini," ucap Vina sangat senang.
"Iya sayang kami selalu disini memanimu begitu pun Bram, dia senantiasa berkunjung setiap hari," ucap Soetanto antusias.
Tak berselang lama dokter datang dan memeriksa kondisi Felicia.
"Bagaimana dok?" tanya Soetanto tak sabar.
"Ini suatu mukjizat yang nyata, anak anda sudah melewati masa koma, tinggal menjalani perawatan yang rutin nantinya anak anda bisa sehat seperti sedia kala, pesan saya jangan terlalu banyak gerak dan bicara dalam beberapa hari ke depan karena kondisinya masih belum pulih sepenuhnya," ucap dokter dengan lega.
"Baik dok terima kasih banyak," jawab Soetanto sumringah.
"Baik, saya permisi," jawab dokter lalu bergegas pergi.
Lalu Bram menghubungi kedua orang tuanya untuk memberitahu jika Felicia sudah siuman.
Drrt.. drrt.. drrt.. dering hp Wina.
"Halo Bram?" Sapa Wina.
"Mah ada kabar baik untuk kalian," ucap Bram senang.
"Apa itu? jangan bikincpenasaran deh," jawab Wina penasaran.
"Felicia sudah siuman dan sekarang tinggal menjalani perawatan supaya kondisinya pulih," ucap Bram senang.
"Serius Bram? kamu gak bercanda kan?" tanya Wina terkejut.
"Serius, barusan dokter kesini memeriksa kondisi Felicia, kalau gak percaya silahkan ajak Papah sekalian kesini," ucap Bram kesal.
"Nanti kami akan kesana," jawab Wina sangat antusias lalu mematikan sambungan telfon.
__ADS_1
"Kabar Felicia siuman membuat mamah dan papah sangat bahagia, mau gak mau sesuai janjiku tadi, jika Felicia siuman maka gue harus segera menikahinya, semua gue lakuin demi kebahagiaan papah dan mamah," batin Bram sambil menatap kedua orang tua Felicia yang sangat bahagia anaknya sudah siuman.