
Pagi harinya Bram berangkat sangat buru-buru karena ia mendapat chat dari Thalia bahwa Naomi ingin diantarkan sekolah olehnya, merasa ada kesempatan emas untuk mencari bukti akhirnya Bram menyetujui dan berbohong dengan Felicia.
"Morning papah.." sapa Emil.
"Morning too boy, maafin papah ya hari ini gak bisa antar sekolah, ada rapat penting yang harus papah hadiri," ucap Bram sambil membelai rambut Emil.
"Yah.. padahal udah lama loh papah gak antar ke sekolah, kenapa sekarang sibuk terus sih pah??" protes Emil cemberut.
"Maaf ya boy.. kalau begitu papah berangkat dulu, i love you.." ucap Bram mencium kening Emil dan bergegas pergi.
"Bram.. tunggu.." teriak Felicia mengejar Bram hingga sampai teras rumah.
"Ada apa sayang? jangan lari-lari nanti kandunganmu kenapa-napa," ucap Bram penuh perhatian.
"Habisnya kamu buru-buru banget sih, sebenarnya ada apa Bram?" tanya Felicia penasaran.
"Ada apa gimana sayang? nothing.. everything is okay," sanggah Bram memegang kedua pundak Felicia.
"Aku gak yakin itu.. firasatku berkata ada yang kamu sembunyikan," ucap Felicia serius.
"Gak ada sayang.. mungkin kamu lagi sensi karena hormon kehamilan, aku berangkat dulu ya, i love you.." ucap Bram mencium bibir Felicia sekilas lalu bergegas pergi, ia gak mau terus menerus di cecar pertanyaan.
"Semakin hari kamu makin terlihat menyembunyikan sesuatu Bram, semoga apa yang kau sembunyikan itu tidak berpengaruh pada pernikahan kita," batin Felicia menyeka air mata dan kembali ke meja makan.
Di perjalanan Bram dilanda perasaan gelisah karena sudah membohongi anak dan istrinya hanya demi Naomi, andai Felicia mengetahui ini pasti marah besar.
"Roy cepat dong nyetirnya, kita mau terlambat nih," protes Bram gelisah.
"Ini terlalu pagi pak jadi jalanan macet," ucap Roy fokus mengemudi.
"Ya cari jalan pintas kek," protes Bram.
"Maaf pak tidak ada, anda bersabarlah," ucap Roy dengan tenang dan akhirnya Bram memilih diam. tiba-tiba ada chat masuk dari Thalia yang mengatakan bahwa Naomi sudah tidak sabar bertemu dengannya. Bram yang membaca pesan tersebut merasa kesal karena setiap hari terjebak oleh akal-akalan Thalia.
"Gue gak bisa begini terus, makin lama Thalia makin ngelunjak.. ia terus menerus menjadikan Naomi sebagai alat," gumam Bram sangat kesal.
"Kita sudah sampai pak," ucap Roy membuyarkan fikiran Bram dan tanpa menjawab, Bram langsung turun dari mobil dan masuk ke apartemen.
__ADS_1
Roy merasa asing dengan apartemen ini hingga akhirnya ia melaporkan pada Felicia.
Ting.. notifikasi hp Felicia.
"Bu.. sekarang bapak berada di Glory apartemen, saya sangat asing dengan tempat ini, apakah ibu tau siapa yang menghuni di apartemen ini?" isi chat Roy membuat Felicia syok, ia tau jika Bram berbohong kalau ada rapat sepagi ini, namun ia tak menyangka jika suaminya pergi ke sebuah apartemen yang ia pun tidak tau siapa yang ditemui oleh Bram.
"Saya tidak tau, tolong pantau terus kalau perlu nanti kirimkan foto/video, siapa tau saya mengenali orang itu," perintah Felicia denga perasaan sesak.
"Baik bu," jawab Roy lalu mengamati situasi dan tak berselang lama Bram turun bersama anak kecil dan seorang wanita.
"Waduh.. apa harus aku kirimkan pada ibu? nanti mereka malah bertengkar hebat, tapi kalau gak di kasih tau kasihan ibu.. udah foto aja terus kirim, entah nantinya mereka berantem atau tidak yang terpenting aku melakukan hal benar" gumam Roy lalu memotret mereka.
Ting.. suara notifikasi hp Felicia.
"APA-APAAN INI HA!!! KARENA MEREKA SAMPAI BRAM TEGA MEMBOHONGIKU DAN JUGA EMIL, APA SPESIALNYA THALIA SAMPAI IA HARUS BERBOHONG SEPERTI INI!!!!" geram Felicia menggepalkan kedua tangan.
"Terus pantau mereka, jangan sampai lengah.. dia perempuan yang saya curigai, namanya Thalia," jawab Felicia dengan gemuruh di dada, ia ingin segera melabrak Bram dan Thalia namun mengingat ada Emil disini jadinya ia menunggu momen yang pas.
"Makasih ya Bram udah mau anterin Naomi sekolah, dia happy banget," ucap Thalia dengan manja.
"Bisa gak kalau yang mengantar hanya aku dan assistenku? aku jamin dia akan aman dan sampai ke sekolah," tanya Bram dengan serius.
"Tapi waktuku sudah mepet, hari ini aku sangat padat jadi tidak ada waktu mengantarmu kembali kesini," alibi Bram.
"Yaudah aku ikut ke kantormu aja," ucap Thalia membuat Bram kesal.
"Aku gak suka ada yang mengangguku ketika bekerja, jika kamu tidak rela anakmu diantar ke sekolah maka pergilah sendiri, jangan lagi menyuruhku.. aku sangat sibuk hari ini, kalau mau ya sini Naomi berangkat denganku kalau gak boleh ya terserah," gertak Bram serius.
"Sayang mau dianterin sama papah?? tapi mamah gak bisa ikut karena papah mau langsung kerja, gimana?" tanya Thalia pada anaknya.
"Mau mah.. Naomi mau diantar papah, ayok pah.." jawab Naomi semangat.
"Yaudah ayok Naomi masuk nanti terlambat," ajak Bram tersenyum senang dan akhirnya Naomi sudah di mobil.
"Say goodbye pada mamah," pinta Bram dan Naomi melambikan tangan setelah itu mobil melaju meninggalkan apartemen.
"Sialan!! untuk kali ini aku biarkan kau dengan Naomi sendirian, jangan harap esok akan begitu !! untung timingnya berangkat sekolah, coba kalau tidak? aku yakin Bram akan mencari bukti, haha Bram.. Bram.. jadi bos kok bodoh," gumam Thalia tersenyum licik lalu masuk ke apartemen.
__ADS_1
"Akhirnya bisa berduaan dengan Naomi, kalau gue lihat-lihat dia gak ada miripnya denganku, aku yakin jika dia bukan anak kandungku.. Thalia hanya memperalatnya saja, setelah ini jangan harap loe bisa memanfaatkanku lagi Thalia, bukti akan terungkap," batin Bram tersenyum senang dan berhasil mendapatkan beberapa helai rambut Naomi.
Setelah tiba di sekolahan Naomi, Bram langsung menyuruh Roy ke rumah sakit.
"Kita ke rumah sakit ada perlu apa pak? apakah ada keluarga/kolega bapak yang sakit?" tanya Roy penasaran.
"Gak ada.. saya mau kesana karena ada urusan penting, kamu cukup diam dan menuruti perintahku saja," ucap Bram ketus.
"Ba.. baik pak," jawab Roy lalu melajukan mobil menuju rumah sakit.
Setelah tiba di rumah sakit, Bram bergegas menemui dokter keluarganya dan menyampaikan apa yang dimaksud, setelah selesai ia pun keluar dari rumah sakit dan naas ia bertemu Felicia.
"Bram? ngapain kesini? siapa yang sakit?" tanya Felicia terkejut.
"Aduh.. ketangkap basah deh.. aduh jelaskan apa ya??" batin Bram gelisah.
"Hei? kenapa melamun?" tanya Felicia heran.
"Maaf sayang maaf.. oh iya kamu kesini ngapain? mau periksa kandungan?" tanya Bram mengalihkan obrolan.
"Iya.. tadi pagi mau bilang itu malah kamu sudah keburu pergi, yaudah periksa sendiri aja eh gak taunya malah ketemu disini.. jadi ini yang namanya meeting?" sindir Felicia.
"Bukan sayang.. meetingnya di cancel kok, yaudah yuk aku temenin periksa," ajak Bram lalu menggandeng tangan Felicia.
"Jawab pertanyaanku tadi Bram, ada apa kamu sampai kesini?" tanya Felicia.
"Oh.. i..itu.. ada salah satu kolega yang dirawat disini, makanya itu meetingnya tadi di cancel," alibi Bram.
"Are you sure?" tanya Felicia penasaran.
"Yes.. im sure baby," Jawab Bram mantap.
"Oke.. aku anggap kamu kali ini bicara jujur," Jawab Felicia membuat Bram terkejut.
"Maksudnya apa sayang?" tanya Bram.
"Ya aku harap perkataanmu itu benar dan semoga selalu begitu, jika kamu sampai tega berbohong, entah apa yang kamu dapat nantinya," gertak Felicia lalu namanya sudah di panggil oleh petugas. mau gak mau masalahnya di tunda dulu dan di ganti dengan perkembangan anaknya di kandungan.
__ADS_1
Bram merasa lega setidaknya ia bisa menghindar tanpa susah payah..
"Kucing-kucingan dengan istri dan anak memang membuat lelah, semoga semua segera terungkap," batin Bram penuh harap.