
Tak terasa usia kandungan Felicia kini sudah memasuki 8 bulan 2 minggu, Felicia rutin kontrol kandungannya ditemani oleh Bram. Seperti hari ini, mereka sudah selesai kontrol lalu memutuskan untuk ke mall belanja perlengkapan bayi.
Di Grand Mall Indonesia.
"Bram bajunya lucu-lucu banget, aku jadi bingung mau pilih yang mana." Ucap Felicia gemas dengan baju bayi.
"Pilih yang paling terbaik dengan kualitas kain yang terbaik pula, kalau perlu yang limited edition." Ucap Bram angkuh.
"Idih belagu banget sih, ini semua juga branded kali Bram." Ucap Felicia sedikit dongkol dengan jawaban Bram.
"Kalau ada yang lebih branded kita beli." Jawab Bram tetep sombong.
"Kamu kenapa sih hari ini banyak gaya banget, pusing aku lihatnya." Protes Felicia kesal.
"Ya harus banyak gaya dong kan besok aku jadi role model anakku." Jawab Bram percaya diri.
"Astaga.. Jangan sampai anakku kayak kamu." Gumam Felicia mengelus perutnya yang buncit.
"Apa kamu bilang? Dia juga anakku jadi ya harus ada bagian dariku di dirinya dong." Protes Bram tetapi di cuekin oleh Felicia dengan berlalu pergi memilih-milih perlengkapan bayi.
"Ada lagi kak? Ini kak ada stroller keluaran terbaru dari kami." Ucap pegawai baby shop dengan ramah.
"Ihh gemes banget, yaudah aku mau kak, bungkus." Jawab Felicia tanpa pikir panjang.
"Bath up babynya udah punya kak? Tempat tidurnya juga?." Tanya pegawai promosi.
"Oh iya lupa kak, dimana?." Tanya Felicia menepuk pelan jidatnya, lalu Felicia dan pegawai menuju ke tempat mandi bayi dan juga tempat tidur.
"Wahh astaga kenapa pada bagus dan gemesin sih, mbak aku mau, bungkus." Ucap Felicia girang.
"Baik kak." Jawab pegawai senang karena customernya sangat royal.
"Nanti bawanya gimana Fel?." Bisik Bram heran dengan istrinya.
"Mbak ini bisa di antarkan ya?." Tanya Felicia pada pegawai.
"Bisa kak tinggal nanti tulis aja alamat lengkapnya, biar kami yang kirim." Jawab pegawai.
"Tuh dengerin Bram, ini loh mbak suamiku ngiranya kita bawa sendiri." Ucap Felicia mengejek Bram.
"Totalnya Rp 85.545.000,- kak." Ucap pegawai dengan santai.
"Mana Bram credit card nya?." Tanya Felicia menodongkan tangan dan Bram menghela nafas panjang lalu menyerahkan kartu kredit miliknya.
"Wihh black card, pantes aja gue tawarin ini itu tinggal bilang bungkus, pasti crazy rich nih." Batin pegawai dengan kagum.
"Sudah ya kak dan ini struknya, kalau masih ada kebutuhan untuk bayi yang lain bisa datang kemari ya kak. Terima kasih kak." Sapa pegawai membungkuk hormat.
Setelah puas berbelanja kini mereka menuju resto untuk makan siang yang tertunda.
Tanpa mereka sadari disana ada Pandu yang sedang mengadakan meeting dengan klien daddynya, Pandu kini menjadi direktur utama sementara menggantikan daddynya di penjara. Jadi semua urusan kantor di handle oleh Pandu.
__ADS_1
"Felicia? Bram? Mereka ada disini?." Batin Pandu terkejut.
"Pak Pandu, anda baik-baik saja?." Tanya kliennya bingung.
"Ah gak papa pak maaf tadi sedikit ada miss komunikasi, mari kita lanjutkan." Ucap Pandu kaget.
Usai meeting, Pandu bergegas menghampiri Felicia dan Bram.
"Hai bro, whats up?." Sapa Pandu menepuk pelan bahu Bram hingga membuat keduanya terkejut.
"Pa..pandu? Kapan loe datang?." Tanya Bram terkejut bukan main.
"Pa..pandu?." Sapa Felicia lirih karena sangat terkejut.
"Iya ini gue, Pandu Hartanto. Kenapa kalian kaget begitu sih? Tell me." Tanya Pandu tenang dengan menahan amarah di dada.
"Ya gue kaget lah loe dateng kayak jailangkung. Kabar-kabar dong kalau pulang." Ucap Bram mencoba akrab.
"For what? Supaya kalian bisa sembunyi-sembunyi?." Sindir Pandu menatap keduanya.
"Apanya yang sembunyi? Gak ada tuh." Bantah Bram.
"Mau sampai kapan kalian terus sembunyi?." Tanya Pandu mulai emosi.
"Tidak ada yang disembunyikan antara aku dan Felicia, jangan membuat kegaduhan di tempat umum." Gertak Bram.
"Hai baby.. Seriously kalian tidak ada hubungan khsusus?." Tanya Pandu menatap tajam Felicia.
"Hu..hubungan apa yang kamu maksud?." Tanya Felicia gugup.
"Mari kita selesaikan di apartemen gue, bagaimana?." Tanya Pandu dan mereka mengangguk setuju.
Jarak mall ke apartemen Pandu tidak begitu jauh, hanya membutuhkan waktu 8 menit saja.
-Di apartemen Pandu-
"Disini gue rasa udah aman. So jelaskan sejujurnya ada apa diantara kalian." Ucap Pandu serius.
"Loe butuh pengakuan apa?." Tantang Bram.
"Loe udah nikung gue dari belakang dan sekarang dengan sombongnya loe masih bisa sok polos." Ucap Pandu penuh penekanan sambil mengangkat sebelah baju Bram ke atas.
"Gue gak pernah nikung Felicia dari siapapun. Ingat itu." Bantah Bram.
"Haha mana bisa kalian tidak ada hubungan tapi jalan bareng, tempo hari kalian juga dari villa kan?." Cecar Pandu mulai emosi.
"Memang apanya yang salah dengan jalan bareng? Gue di villa? Gak usah ngaco deh." Bantah Bram.
"Jangan membantah jangan membuat alasan dan jangan menghindar. Gue hanya butuh kalian itu JUJUR." Ucap Pandu penuh penekanan.
"KEJUJURAN APA YANG LOE INGIN DENGER?." Tanya Bram emosi.
__ADS_1
"EVERYHTING.. KARENA LOE JUGA BOKAP GUE MASUK SEL, SEGITU LICIKNYA KALIAN!!." Teriak Pandu.
"WOII BOKAP LOE MASUK PENJARA KARENA ULAH DIA SENDIRI YANG GEGABAH, LOE GAK TANYA ALASAN DIA MASUK SEL ITU APA?." Teriak Bram menujuk-nunjuk Pandu.
"DIA SAMPAI SEPERTI ITU KARENA KALIAN TERUS MENERUS LOLOS DARI PANTAUANNYA. MAKANYA GUE INGIN KALIAN JUJUR.. BILANGLAH ADA APA SEBENARNYA." Gertak Pandu hampir memukul Bram namun dicegah Felicia.
"Semua bisa di selesaikan dengan baik dan kepala dingin, jangan pakai emosi." Ucap Felicia melerai namun Pandu terkejut dengan perubahan bentuk perut Felicia yang membuncit.
"Fel.. Jangan bilang kalau loe.." Ucap Pandu menggantung sambil menutup mulut tak percaya.
"Sorry.." Jawab Felicia lirih dan berlinang air mata.
"BANGSAT !! LOE APAIN CEWEK GUE BRAM SAMPAI DIA HAMIL!! BERANINYA LOE SENTUH DIA. MAU CARI MATI SAMA GUE HA!! INI YANG NAMANYA KALIAN TIDAK ADA HUBUNGAN KHUSUS, MANA ADA GAK ADA HUBUNGAN TAPI SAMPAI HAMIL!! AN-JI-NG LOE BRAM!!." Umpat Pandu sangat emosi dan memukul Bram membabi buta.
"STOP.. PLEASE STOP.." Teriak Felicia histeris.
"GUE SELALU DIEM KETIKA DULU LOE KETUS SAMA GUE, TAPI KENAPA LOE TIKUNG GUE SAMPAI DIA HAMIL?? LOE TAU BETAPA SAYANGNYA GUE SAMA FELICIA!!! Aarrghhh.. Bang-sat!!." Umpat Pandu terus memukul Bram.
"Pandu stop it, stop.. Please, gimana loe mau tau semuanya kalau loe gak kasih kita ruang buat jelasin." Pinta Felicia menangis tersedu dan berhasil membuat Pandu menghentikan pukulannya.
"Aww… Sialan sakit tau gak!! Mau mukul bilang dulu dong gue kan bisa pasang kuda-kuda!! Anj-ing loe!!." Umpat Bram menyeka darah di sudut bibirnya.
"JELASKAN SEMUANYA!." Teriak Pandu dengan tatapan membunuh.
"Udah siap?." Tanya Bram pada Felicia dengan lembut.
"MASIH BISANYA LOE RAYU DIA DI DEPAN MATA GUE, MAU GUE SALAM OLAHRAGA LAGI!!." Teriak Pandu hendak memukul Bram namun di cekal oleh Felicia.
"Please jangan pakai kekerasan lagi." Pinta Felicia memohon.
"CIH.. SEKARANG LOE TERANG-TERANGAN BELA DIA? SINGKIRIN TANGAN KOTORMU DARI GUE." Tanya Pandu tersenyum sinis dan menghempaskan tangan Felicia kasar.
"BERANI LOE KASARIN DIA SIAP-SIAP GUE HAJAR!." Gertak Bram.
"LEBIH BAIK KITA SALING ADU SKILL!!." Tantang Pandu tersenyum smirk.
"Tolong jangan lagi begini.. Please gue takut.. Huhuhu.." Tangis Felicia menutup kedua telinganya dengan mata terpejam.
"Jangan sok jadi korban deh, jijik gue lihatnya. Dasar playing victim." Cibir Pandu menatap Felicia.
"Gue akan jelasin semuanya." Ucap Bram dengan tenang.
"Good." Jawab Pandu tak sabar.
"Gue memang ada hubungan spesial dengan Felicia dan hubungan kami lebih jauh dari yang loe kira. Kami bukan lagi sepasang kekasih melainkan sudah sepasang suami istri.. Kurang lebih 3 bulan yang lalu kami melangsungkan pernikahan secara tertutup." Ucap Bram sambil meringis kesakitan.
"A..APA?? GUE GAK SALAH DENGER KAN? KALIAN MENIKAH? KOK BISA?? FEL, BERARTI SELAMA INI LOE SELINGKUHIN BRAM?." Cecar Pandu syok.
"Bram mengetahuinya." Jawab Felicia lirih dan menunduk.
"Apa?? ASTAGA KALIAN COCOK DIJADIKAN AKTRIS FTV. AKTING KALIAN SUNGGUH LUAR BIASA." Sindir Pandu bertepuk tangan dengan senyum sinis.
__ADS_1
"Itu kenyataan yang sebenarnya, jadi setelah ini gue harap jangan lagi loe tuduh kamu yang bukan-bukan." Ucap Bram membela diri.
"Mana bisa begitu…" Ucap Pandu terpotong.