PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 100-Sudah Lega Namun Bimbang


__ADS_3

"Permisi.. dengan saudara Thalia Asmara? kami dari pihak kepolisian ingin membawa anda ke kantor polisi untuk dimintai keterangan," ucap pak polisi lalu memborgol Thalia dan membawanya masuk mobil.


"Gak.. INI GAK BOLEH TERJADI, BRAM KASIHANI GUE.. GIMANA KEHIDUPAN NAOMI SETELAH INI, MIKIR DONG BRAM.. LOE MINTA GUE PERGI JAUH DARI HIDUPMU GUE AKAN MENYANGGUPINYA ASALKAN JANGAN PISAHKAN GUE DENGAN NAOMI," rengek Thalia tak terima dan akhirnya Thalia kalah tenaga dengan kedua polisi, Thalia pasrah dibawa ke kantor polisi.


"Semoga setelah ini Thalia bisa menjadi pribadi yang lebih baik ya Bram, dia bisa merenungkan kesalahannya," iba Felicia.


"Ya semoga saja.. yang terpenting urusan Naomi sudah clear," ucap Bram cuek dan mereka bergegas menuju mobil.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=///\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di perjalanan Felicia hanya diam saja, Bram yang melihatnya pun jadi bingung, apalagi yang ada di fikiran istrinya sampai dia bengong seperti itu.


"Sayang... whats wrong?" tanya Bram heran dan menatap istirnya penuh tanya.


"Hmm gimana ya jelasinnya, aku bingung" jawab Felicia menghela nafas.


"Memang apa yang mengusik fikiranmu?" tanya Bram penasaran.


"Naomi.. aku memikirkan bagaimana nasib Naomi setelah ini, apakah tindakan kita menjebloskan Thalia ke penjara itu terlalu kejam?" tanya Felicia.


"Tidak.. bagiku itu tindakan yang benar, seharusnya dari dulu dia masuk bui, salah siapa dia beraninya mengusik privasiku, jelas-jelas dulu ketika putus sudah aku peringatkan jangan lagi ganggu privasiku dan aku menyuruhnya pergi sejauh mungkin," ucap Bram kesal.


"Itu dulu Bram, apa kamu lupa jika sekarang ada Naomi di hidupnya? apa kamu tadi gak dengar kalau Naomi hanya hidup dengan Thalia saja, tidak ada orang lain Bram.. kalau mamahnya masuk penjara bagaimana kehidupan Naomi nantinya?" tanya Felicia.


"Sudahlah ngapain kamu fikirkan sih, aku aja gak peduli.. dia aja dengan teganya memperalat aku segitunya, sekarang dia mendapat ganjaran kenapa kamu yang tidak tega?? udahlah biarkan Thalia menjalankan hukuman sebagaimana mestinya," ucap Bram acuh.


"Kita adopsi Naomi, ayo kita ke apartemennya sekarang dan bawa dia ke rumah," ucap Felicia.


"APA?? JANGAN GILA SAYANG!! GAK.. AKU GAK SETUJU, UDAH CUKUP MASALAH KEMARIN MENGANGGU HIDUPKU DAN MENGURAS WAKTU BERSAMA KELUARGA KECILKU, CUKUP SAYANG!! JANGAN DITAMBAH LAGI DENGAN MENGHADIRKAN NAOMI DI KEHIDUPAN KITA, KELUARGA THALIA PASTI MAU MENJAGA DAN MERAWATNYA.. KAMU GAK USAH REPOT-REPOT," protes Bram emosi.


"Kasihan dia Bram, aku gak tega melihat Thalia memohon seperti itu.. yang ada di fikirannya bagaimana hidup Naomi nantinya, ayo kita jemput dia," bujuk Felicia.


"Tolong sayang jangan keluarkan sisi malaikatmu pada Thalia, dia tidak akan menghargai itu," protes Bram.


"Aku tidak peduli bagaimana pendapat Thalia nantinya karena yang terpenting bagiku adalah nasib Naomi," ucap Felicia.


"Masih ada keluarganya yang sanggup merawatnya, stop memikirkan Naomi," protes Bram.


"Tolong buka sedikit sisi empatimu Bram" ucap Felicia memohon.


"No.. Sudahlah jangan terus menerus membahas Thalia dan anaknya, pusing aku.. tolonglah sayang aku ingin tenang menikmati hidup bersama kalian, jangan merusaknya," pinta Bram.


"Baiklah.." jawab Felicia pasrah dan mereka saling diam.


Malam hari di mansion Bram dan Felicia.


Bram terus menerus mendapat telefon dari nomor yang tidak dikenal, ia paling malas mengangkat nomor asing.. beberapa kali di abaikan nomor tersebut masih saja menelfon.


"Angkatlah Bram siapa tau penting," ucap Felicia menasehati.


"Kamu ajalah, males," ucap Bram lalu Felicia mengangkat telfon Bram.


"Halo?" sapa Felicia.


"Halo tante ini Naomi.. huhuhu.. mamah dimana ya tante? Naomi takut dirumah sendirian, papah Bram dimana tante?" rengek Naomi menangis terisak.


"Naomi?? kamu masih di apartemen?" tanya Felicia terkejut.

__ADS_1


"Masih tante huhuhu.. tolong sampaikan pada papah kalau Naomi takut disini, jemput Naomi tante huhuhu mamah gak pernah pergi selama ini," rengek Naomi.


"Keluargamu yang lainnya dimana? coba di hubungi dan minta tolong menjemputmu," usul Felicia.


"Naomi tidak tau tante, mamah tidak pernah mengajak Naomi ke rumah oma," ucap Naomi dengan polosnya.


"Astaga baiklah sebentar lagi papah Bram akan menjemputmu, tunggu ya.. kunci pintunya dan hanya buka ketika papah Bram sudah sampai, Naomi mengerti?" pinta Felicia khawatir.


"Iya tante Naomi mengerti, Naomi akan tunggu papah.. makasih tante," ucap Naomi lalu menutup telfonnya dan Felicia menatap Bram.


"Jangan bilang kalau aku di suruh jemput Naomi, aku gak mau," tolak Bram.


"Kasihan dia ketakutan di apartemen sendirian, dia sampai menangis Bram," bujuk Felicia.


"Gak.. minta tolong aja sama keluarganya, kenapa harus kita?" tolak Bram.


"Karena yang dikenal Naomi hanya kamu" jawab Felicia sedih.


"Mustahil.. apa Thalia tidak pernah memperkenalkan pada keluarganya?" cibir Bram tak percaya.


"Naomi bilang seperti itu, mana ada anak kecil berbohong.. jemputlah Bram kalau kamu tidak mau biar aku yang kesana menjemputnya," ucap Felicia tegas.


"Kalau dia terbukti berbohong jangan lagi memaksaku untuk menemuinya," gertak Bram.


"Semoga tidak Bram, jemputlah," bujuk Felicia dan akhirnya Bram menuruti istrinya menjemput Naomi meskipun rasanya malas.


"Naomi bukan saudara atau anak kandung gue tapi kenapa harus gue yang menanggungnya? sial.. gak ibu dan anak sama saja menyusahkan," batin Bram kesal dan melajukan mobilnya menuju apartemen Thalia.


Di apartemen Thalia.


"Papah.." sapa Naomi senang dan berlari ke pelukan Bram.


"Naomi disini hanya tinggal sama mamah dan Naomi tidak tau siapa keluarga mamah," ucap Naomi sedih.


"Baiklah.. kamu sudah makan?" tanya Bram memastikan.


"Belum pah," jawab Naomi lirih.


"Apa disini tidak ada makanan?" tanya Bram kaget.


"Mamah selalu beli online pah jadi di kulkas adanya cemilan dan susu," jawab Naomi dengan polosnya.


"Yaudah makan dulu yuk, setelah itu ikut aku ke rumah bertemu tante Felicia," ajak Bram dan Naomi sangat senang.


Setelah selesai makan, kini Bram mengajak Naomi ke mansionnya, sebenarnya ia malas membawa Naomi namun mengingat ini permintaan istrinya maka mau tak mau harus di turuti.


"Semoga kehadiran Naomi disini tidak menjadi jarak hubunganku dengan Felicia, begitu pun perhatianku pada kedua anakku," batin Bram lalu mengajak Naomi masuk.


"Akhirnya kalian sampai juga, tante sampai khawatir kenapa datangnya lama sekali," ucap Felicia bernafas lega.


"Tadi mampir makan dulu, dia belum makan sama sekali. Mamahnya selalu memesan makanan, jadi kalau gak ada Thalia ya gak makan," jawab Bram ketus.


"Yaudah yuk tante tunjukkin kamarmu," ajak Felicia tak mau memperpanjang masalah.


"Tante.. serius ini kamar Naomi? kamarnya sungguh bagus dan besar sekali, Naomi suka tante," ucap Naomi takjub.


"Iya sayang ini kamarmu, semoga betah ya disini.." ucap Felicia lembut.

__ADS_1


"Iya tante.. Naomi akan jadi anak baik," ucap Naomi membentuk huruf V.


"Tante percaya itu, yaudah sekarang kamu istirahat ya.. besok kita bicara lagi, oke?" bujuk Felicia dan Naomi mengangguk patuh.


"Tante.." ucap Naomi terpotong.


"Iya Naomi, ada apa?" tanya Felicia.


"Terima kasih sudah mengizinkan Naomi tinggal disini, Naomi harap mamah segera pulang," ucap Naomi tulus.


"Sama-sama sayang.. kamu aman disini, istirahat ya," ucap Felicia lalu bergegas keluar kamar.


Bram sudah menunggu istrinya masuk ke kamar, ia tak sabar membahas masalah ini.


"Kok belum tidur Bram?" tanya Felicia.


"Kita perlu membahas Naomi, mau sampai kapan dia disini?" tanya Bram tak suka.


"Kamu keberatan Bram?" tanya Naomi menduga.


"Tentu saja.. dia bukan siapa-siapa kita, udah cukup mamahnya memperalat aku dan sekarang aku gak mau di repotkan dengan anaknya," protes Bram kesal.


"Ingat Bram.. Naomi masuk penjara karena kita jadi jangan libatkan Naomi dalam masalah ini, dia tidak tau apapun," bujuk Felicia.


"Tapi aku tidak setuju dia disini, besok aku akan mencari info keluarganya dan mau gak mau keluarganya harus menjaga Naomi," ucap Bram tegas.


"Apa yang membuatmu tidak menyukainya?" tanya Felicia.


"Bukan tidak menyukainya namun lebih tepatnya tidak mau lagi berhubungan dengan Thalia maupun anaknya," jawab Bram dengan serius.


"Biarkan dia disini dulu sampai dia sedikit tenang," pinta Felicia.


"Gak..,dia harus dengan keluarganya," tolak Bram.


"Bram kasihan dia," protes Felicia.


"Orang tuanya saja tidak kasihan mengapa harus kita yang repot?" tanya Bram kesal.


"Mungkin Thalia mempunyai alasan khsusus kenapa Naomi tidak di perkenalkan keluarganya," ucap Felicia.


"Apapun alasannya aku tidak peduli, jangan halangi langkahku," gertak Bram dan Felicia hanya mengangguk patuh.


Tiba-tiba ponsel Bram berdering, ia terkejut siapa yang menelfonnya. Ingin ia angkat tapi dia tak mau istrinya tau dan kembali menumbuhkan perasaan pada masa lalunya.


Setelah 3x berdering kini berganti via chat.


"Gue tahu loe tidak mau mengangkat telfon gue karena ada Felicia di sebelahmu, tapi tolong bacalah pesanku.. Besok aku akan bertemu dengan Nita, apakah rencanamu tempo lalu masih berlaku? setelah gue fikir-fikir tidak ada salahnya gue membantumu meskipun sedikit.." isi chat Pandu.


"SUDAH TIDAK DI BUTUHKAN, FELICIA SUDAH MENCINTAI KU DAN SEKARANG KAMI SUDAH BAHAGIA DENGAN KEHADIRAN KEDUA ANAK KAMI YANG SANGAT MENGGEMASKAN, JADI TERIMA KASIH TAWARANNYA.." jawab Bram seketika emosi.


"Mengingat nama Pandu kembali teringat bagaimana Felicia mengabaikan Emil, kalau mengingat rasanya masih gak terima.. ingin rasanya gue menonjok muka sok kecakepannya kalau perlu menyiram dengan air keras," batin Bram mengepalkan tangan.


"Siapa Bram yang menelfon? kenapa raut wajahmu seketika berubah?" tanya Felicia penasaran.


"Mau tau?" tanya Bram ketus dan Felicia mengangguk dengan rasa penasaran.


"Pandu.. dia yang menghubungiku, laki-laki di masa lalumu kembali datang," ucap Bram ketus.

__ADS_1


"Pa.. Pandu??" tanya Felicia syok.


__ADS_2