
Setelah Thalia mengunjungi mansion Bram namun tak ada hasil, kini ia beralih ke rumah sakit untuk merencanakan sesuatu.
"Gue harus cari info dulu siapa dokter yang menangani tes DNA Naomi dan Bram," gumam Thalia lalu mencari-cari info, awalnya ia merasa kesulitan namun akhirnya ia berhasil.
"Dokter Kim? hmm nama yang keren, gue harus segera menemuinya," gumam Thalia lalu menemui dokter.
Di ruang dokter.
"Selamat siang.. ada yang bisa saya bantu?" sapa dokter Kim ramah.
"Siang dok..,hmm itu..,saya mau menanyakan apakah benar jika anda yang menangani tes DNA Naomi dan juga Bram?" tanya Tahlia to the point.
"Maaf... Ada keperluan apa anda menanyakan ini?" tanya dokter heran.
"Saya adalah ibu kandung Naomi jadi saya ingin mengetahui hasilnya terlebih dahulu," ucap Thalia tak sabar.
"Maaf bu tapi hasilnya belum keluar," ucap dokter.
"Setidaknya kasih saya gambaran dok hasilnya bagaimana," desak Thalia.
"Maaf saya tidak bisa.." tolak dokter.
"Kenapa dok?? saya berhak tau hasilnya karena saya ibu kandungnya," protes Thalia.
"Karena ini melanggar prosedur, hasilnya pun belum keluar," tolak dokter.
"Lalu kapan keluarnya?" tanya Thalia.
"Lusa.." jawab dokter mantap.
"Oke.. lusa saya akan kemari lebih awal dari Bram, tapi saya mohon kerja sama dokter, bolehkah?" pinta Thalia.
"Apa itu?" tanya dokter penasaran.
"Bisakah anda membuat hasil tes menjadi positif? jadi saya mau hasil tesnya itu mengatakan bahwa Naomi benar anak biologis Bram," ucap Thalia mendekat ke arah dokternya.
"Maaf itu tidak bisa karena terlalu beresiko," tolak dokter.
"Asal kita bisa menjaga rahasia ini semua akan aman, dok.. apa anda tidak mau membantu saya?? nanti akan saya beri imbalan yang pantas," ucap Thalia mengoda dan duduk di pangkuan dokter.
"Maaf bu anda bertindak tidak sopan, harap duduk di kursi pasien, mohon jangan diluar batas," tolak dokter risih.
"Ssst..,saya tau anda menyukainya namun berhubung ini jamnya anda bertugas jadinya anda takut ketahuan pegawai lainnya kan? mau saya kunci pintunya dok?" tanya Thalia menggoda dan meraba dada dokter.
"Bu.." ucap dokter Kim menahan hasrat.
"Yes dok?? udah minta di tuntaskan ya?" bisik Thalia di telinga dokter dengan suara manja.
__ADS_1
"Ini di rumah sakit, mohon jaga batasan," ucap dokter menjauhkan diri dari Thalia.
"Baiklah kita akan melakukannya dimana? apartemen saya atau dimana? call me soon," goda Thalia lalu mencatatkan nomernya di kertas.
"Bu.. ini tindakan melanggar hukum, jika ketahuan saya bisa kehilangan profesi saya," ucap dokter menimang tawaran.
"Tidak akan jika kita saling tutup mulut dok, ini sebagai tanda DPnya," ucap Thalia lalu mencium bibir dokter Kim sekilas.
"Astaga cewek ini agresif banget, mana gue udah lama gak main cewek lagi, ahh sial.. gue hor-ny," batin dokter Kim menahan hasrat.
"Halo dokter?? bagaimana? masih kurang ya apa kurang lama?" goda Thalia dan dokter Kim menggeleng cepat.
"Sebaiknya anda keluar.. Ini terlalu bahaya," perintah dokter.
"Ok.. tapi jangan lupa, segera hubungi saya," bisik Thalia lalu menghisap leher dokter sekilas hingga menimbulkan suara ******* sekilas.
"Tuh kan udah gak tahan, setuju aja dok dan akan saya beri hadiahnya setelah anda menyelesaikan ini," ucap Thalia.
"Silahkan keluar.. pembahasan ini terlalu,vugar," protes dokter Kim dan Thalia akhirnya menyetujui.
Thalia harap-harap cemas apakah nantinya dokter Kim menerima tawarannya atau malah menolak.
"Jangan sampai dia tolak tawaran gue, bisa malu banget gue udah merendahkan harga diri sama dokter tua, namanya aja bagus.. Gue fikir masih umur seger-segernya ehh malah mendekati tua, gakpapa deh yang penting coba aja dulu," gumam Thalia lalu pulang ke apartemen.
"Gue yakin pasti anaknya percampuran cairan kental beberapa pria, tergantung siapa gen yang terkuat, memang sih dia cantik dan aduhai namun sayang sekali dia sepertinya wanita penggoda.. ahh gue aja langsung terngiang-ngiang sentuhannya, sial.." gumam dokter Kim mengacak rambutnya.
"Sial.. kemana dokter tua itu? kenapa tak kunjung hubungi gue??" gumam Thalia kesal lalu tiba-tiba hpnya berdering.
"Halo? ini siapa?" tanya Thalia.
"Saya dokter Kim," jawab dokter Kim.
"Ohh dokter?? bagaimana dok hasilnya? saya udah nunggu daritadi loh.. saya kira dokter melupakannya," rengek Thalia.
"Tidak dong.. kebetulan tugas hari ini padat jadinya baru bisa rehat sekarang," ucap dokter gemas.
"Lalu gimana hasilnya?" tanya Thalia.
"Sabar dulu dong.. bagaimana tawaran tadi, apakah masih berlanjut?" tanya dokter Kim memastikan.
"Tentunya dong.. makanya saya menunggu daritadi dokter Kim," ucap Thalia dengan sok lembut.
"Baiklah.. saya menerima tawaran itu, kapan saya akan mendapatkannya?" tanya dokter Kim tak sabar.
"Aduh.. Dokter kok gak sabar sih, ya nanti dong setelah saya tau hasilnya jika dokter sudah menukar hasil tes," ucap Thalia.
"Baiklah.. 2 hari lagi datanglah ke rumah sakit, nantinya kamu bisa melihat hasilnya," ucap dokter tak sabar.
__ADS_1
"Oke dokter Kim.. see you," ucap Thalia sok lembut dan dokter Kim terlena oleh rayuan Thalia.
"See you.. saya tunggu cantik," jawab dokter dengan sumringah lalu mematikan telfon.
"Gue sebenarnya ogah sama aki-aki tapi mau gimana lagi, ini demi kelangsungan hidup gue dan Naomi.. Gue udah capek kerja jual diri terus, kalau nikah sama Bram kan enak, bisa minta duit berapapun yang gue mau.. pokoknya jangan sampai gue kalah sama Felicia, enak banget dia hidup mujur terus dari lahir," gumam Thalia.
2 hari kemudian Thalia mendatangi dokter Kim dan membaca hasil tes, ia sudah menduga jika Naomi memang bukan anak Bram.
"Untung banget gue udah antisipasi, coba kalau gue pasrah aja? haduh.. auto hidup miskin," batin Thalia bergidik ngeri.
"Jadi bagaimana? puas dengan hasilnya? bisa dong saya meminta hadiahnya," ucap dokter Kim menatap Thalia seperti kelaparan.
"Bi..bisa dong dokter Kim, ini kan sudah kesepakatan kita," jawab Thalia terbata.
"Ok..,saya sudah booking kamar di hotel Panorama, nanti langsung saja masuk ke kamar nomor 343 dan tunggu kedatangan saya cantik," ucap dokter Kim mencolek dagu Thalia.
"I..iya dok, kalau begitu saya pulang dulu, see you.." ucap Thalia merasa risih lalu bergegas keluar.
"Aww sebentar lagi gue bisa merasakan kemolekan tubuhmu, udah gak sabar.. kasihan juniorku nganggur 2 tahun," gumam dokter Kim tersenyum senang.
Malam yang dinantikan tiba, Naomi sudah lebih dulu datang dan mempersiapkan penampilannya. Beberapa jam kemudian kemudian dokter Kim datang.
"Hai cantik.. udah gak sabar aja," sapa dokter menatap Thalia liar.
"Kenapa datangnya lama dok?" tanya Thalia.
"Tadi ada pasien yang harus diambil tindakan, maaf ya sayang menunggu lama.. udah siap?" tanya dokter Kim dan Thalia mengangguk dan tersenyum manis.
Dokter Kim lalu mencium bibir Thalia secara brutal, ia sudah tak sabar ingin menuntaskan hasrat yang terpendam.
Thalia yang mendapat serangan secara membabi buta sampai ngos-ngosan karena tidak bisa mengatur nafasnya.
"Uhuk..uhuk.." suara batuk Thalia karena kehabisan nafas.
"Maaf ya cantik habisnya kamu menggoda banget," ucap dokter lalu melanjutkan serangan.
Hingga 2 jam mereka bertempur secara ganas, Thalia tak henti-hentinya menahan rasa sakit dan perih karena tidak bisa menyeimbangi permainan dokter Kim.
"Gila.. aki-aki tapi tenaganya oke juga, nyesel gue waktu itu goda dia.. semoga pengorbanan ini bisa merubah hidup gue ke depannya," batin Thalia menahan kesakitan.
Hingga 3 jam kemudian permainan usai, dokter Kim terkulai lemas diatas tubuh Thalia dengan nafas terengah. Thalia pun akhirnya bisa bernafas lega karena ia sudah selesai berurusan dengan aki-aki maniak ini.. Namun pemikirannya salah, 30 menit setelah pelepasan kini dokter Kim bersiap menyerang Thalia lagi hingga mereka melakukan sebanyak 4 ronde.
Thalia sampai kehabisan nafas dan hampir pingsan, ia merasa sial mendapat teman ranjang seliar ini, gak bayaran pula. Untungnya dokter Kim berbaik hati dan merasa puas dengan permainan Thalia, lalu dokter Kim memberikan uang.tunai sebesar 10 juta rupiah sebagai ungkapan terima kasih.
"Thanks cantik, kamu sungguh luar biasa," puji dokter Kim merasa sangat puas.
"Sama-sama dok dan makasih untuk tipsnya," jawab Thalia lirih.
__ADS_1
"Sial.. sial.. bisa-bisanya gue di kerjain habis-habisan sama aki-aki ini!! kalau bukan demi kelangsungan untuk hidup enak dan mewah, ogah banget gue melakukan ini.. sialan!! ingin gue cakar-cakar tubuhnya!!! kesel..." batin Thalia geram dan menatap benci dokter Kim yang tertidur lelap.