
"Kenapa susah banget sih dapet kepercayaan dari Bram?? ya kalik gue pontang-panting cari duit sendiri, ogah banget... gue harus mencari cara," gumam Thalia mondar-mandir di kamar.
Merasa fikirannya sedang buntu, ia lebih memilih Bram dan terus menerus merengek padanya, karena ia yakin lama-lama Bram akan menurutinya.
Drrt.. drrt.. dering hp Bram.
"Kenapa lagi sih nelfon gue mulu? menganggu saja," gumam Bram lalu meletakkan hpnya kembali.
"Lagi-lagi panggilan gue di reject? ohh dia mau bermain-main denganku," gumam Thalia kesal lalu mengirim pesan.
Ting.. notifikasi hp Bram.
"Sekali lagi loe reject panggilan gue maka akan gue pastikan setelah ini gue dateng ke mansionmu membawa Naomi, dan yaa nantinya gue kenalin Naomi ke istrimu sebagai anak kandungmu," isi chat Thalia mengancam.
"JANGAN GILA!!!" balas Bram emosi."
"Haha makanya itu temui gue di apartemenku sekarang," jawab Thalia lalu Bram bergegas mendatangi apartemen Thalia.
"Sialan beraninya dia mengancam gue," gumam Bram melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
-Glory Apartemen-
Ting.. tong.. suara bel rumah Thalia.
"Hai baby.. akhirnya kau menjenguk anak kita, mari masuk," ajak Thalia dengan suara manja.
"Jangan besar kepala dulu, ini semua karena ancamanmu!!" gertak Bram tak suka lalu masuk ke apartemen.
"Berarti ancamanku berhasil dong baby," goda Thalia melingkarkan tangan di leher Bram.
"Singkirkan tanganmu itu," gertak Bram.
"Aww.. Jangan galak begitu dong, udah lama kita tidak penyatuan," goda Thalia.
"Jangan gila atau gue telfon polisi," ancam Bram dengan tegas.
"Wahh gue takut baby huhuhu... silahkan kalau mau melaporkan ke polisi, malah semakin seru nantinya, istrimu mengetahui jika kita sedang berduaan disini dan suami yang ia banggakan sudah mempunyai anak di belakangnya, bagaimana? masih mau melaporkan gue?" tanya Thalia tersenyum smirk.
"APA MAUMU HA!!!" teriak Bram mencengkram leher Thalia.
"Akui Naomi sebagai anakmu, just that," jawab Thalia ngos-ngosan karena sulit bernafas.
"IMPOSSIBLE!" tolak Bram lantang.
"Kalau begitu gue akan datangi mansionmu dan mengatakan semuanya pada istrimu yang sedang hamil besar," ucap Thalia menjebak.
"Berani loe pijakan kaki di mansion gue lagi maka akan gue pastikan hidupmu menderita," ancam Bram.
"Jika loe terus menerus ancam maka akan gue pastikan istri dan keluargamu mengetahui ini, jangan loe fikir gue akan kalah Bram Attirmidzi Wijaya," ucap Thalia dengan berani.
"Aaahhh sialan !!!! kenapa loe selalu usik hidup gue ha!!" teriak Bram memukulkan tangannya di tembok.
"Tidak ada yang mengusikmu karena Naomi itu anakmu jadi mau gak mau kita harus sering berjumpa dan membuka kembali komunikasi," ucap Thalia dengan tenang.
"Nyesel gue berurusan denganmu!!" ucap Bram geram.
"Gue malah merasa beruntung sayang, sebentar lagi Naomi pulang sekolah, sambutlah ia dengan penuh cinta," pinta Thalia tersenyum senang.
__ADS_1
"Jangan menyuruh gue untuk lakukan itu karena gue gak akan mau!! Gue bukan bokapnya kenapa gue yang menanggung!" tolak Bram dengan keras.
"Dia anakmu loh sayang, wajahnya pun sungguh cantik," ucap Thalia tersenyum.
"Bukan urusan gue!! awas gue mau pulang!" ucap Bram acuh dan akan bergegas pergi, tiba-tiba Naomi datang.
"Mamah.." sapa Naomi berlari ke arah Thalia dan memeluknya.
"Hai my sweety girl," sapa Thalia membalas pelukan anaknya.
"Who is he, mah?" tanya Naomi penasaran.
"Kamu ganti baju dulu ya sayang setelah itu mamah kenalin," ucap Thalia lembut.
"Ini kan om yang kemarin bertemu di supermarket kan mah? kenapa disini?" tanya Naomi penasaran.
"Makanya itu Naomi ganti baju dulu ya," perintah Thalia dengan lembut lalu Naomi menurut.
"Jangan harap gue akan menganggapnya sebagai darah daging gue, karena dia bukan anak gue, camkan itu!!" ucap Bram penuh penekanan.
"Slowly baby.. lambat laun nantinya loe akan menyayanginya," ucap Thalia dengan tenang.
"Cih.. percaya diri sekali," cibir Bram.
"Mamah.." sapa Naomi lalu duduk di sebelah Thalia.
"Yes Naomi sayang.." jawab Thalia lembut sambil membelai rambut Naomi.
"Tell me now mamah," desak Naomi.
"Oke.. jadi om yang kemarin bertemu di supermarket itu namanya om Bram, dia adalah pap.." ucap Thalia terpotong.
"Dia harus tau kebenarannya sayang," protes Thalia.
"Jangan harap aku akan menerimanya," tolak Bram tegas.
"Jangan begitu dong, mau enaknya tapi gak mau susahnya.." protes Thalia kesal.
"Hmm setelah gue fikir memang lebih baik gue ikuti saja permainan Thalia, siapa tau nanti ada celah untuk berduaan dengan Naomi dan nantinya bisa diam-diam gue lakuin tes DNA," gumam Bram tersenyum smirk.
"Ngapain dia senyum-senyum begitu? apa rencana yang ia lakukan?" gumam Thalia penasaran.
"Ehem.. gimana Bram?" tanya Thalia membuyarkan lamunan Bram.
"Terserah.. asalkan loe jangan usik keluarga kecil gue apalagi sampai loe katakan ini pada Felicia," ucap Bram pasrah.
"Ok baby.. i know u can do it," Jawab Thalia senang.
"Mah? why you call her baby?" protes Naomi penasaran.
"Because he is your dad, baby," ucap Thalia tersenyum senang.
"What? are you kidding mam?" tanya Naomi terkejut.
"No.. om Bram memang papahmu, dia adalah papah kandungmu sayang, kamu masih punya papah," ucap Thalia terharu dan meneteskan air mata.
"Mama.. boleh Naomi memeluk papah?" pinta Naomi penuh harap.
__ADS_1
"Of course baby," jawab Thalia senang.
"Pa.. pa.. papah?" sapa Naomi gugup dan mendekat ke arah Bram, namun Bram tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya dan memilih diam seribu bahasa.
"Bram.. peluk dong, apa loe gak denger anak kita meminta itu," bisik Thalia kesal.
"Berisik.. dasar banyak maunya," Jawab Bram tak suka dan memilih menuruti permainan Thalia. Bram lalu memeluk Naomi dengan lembut karena mau bagaimana pun Naomi tidak bersalah apapun dalam masalah ini, ia tidak seharusnya ikut membenci Naomi.
"Kamu memang cantik dan pintar, namun sayang kami memiliki ibu yang sungguh licik, semoga sifat buruk dari mamahmu tidak menurun padamu," batin Bram menatap Naomi lekat.
"Papah.." sapa Naomi.
"Yes?" jawab Bram terkejut.
"Thanks papah," jawab Naomi senang.
"For what?" tanya Bram bingung.
"Thanks for answer," jawab Naomi tersenyum manis.
"Ohh.. your welcome," jawab Bram canggung.
"Nice to meet you papah," ucap Naomi dengan polosnya.
"Nice to meet you too Naomi," Jawab Bram dengan tersenyum kaku.
"Setidaknya Bram luluh dengan Naomi, semoga ini langkah yang baik untuk gue menikmati kekayaannya.. Naomi memang anak membawa keberuntungan untukku, setidaknya hadirnya dia bisa dijadikan alat penghasil cuan," gumam Thalia tersenyum puas.
"Sialah kenapa dia terus mantau? padahal gue harap dia membiarkan Naomi hanya berduaan saja denganku, dengan itu gue bisa mengambil rambutnya untuk dijadikan bukti tes DNA," batin Bram kesal lalu mencari akal agar Thalia pergi meninggalkannya.
"Papah.. hari ini Naomi dapat nilai bagus loh dan apa papah tau kalau Naomi sering dapat peringkat," ucap Naomi semangat.
"Oh ya?? berarti Naomi gadis yang cerdas dong, boleh gak tunjukkan nilaimu itu?" tanya Bram merasa mendapat kesempatan emas.
"Boleh dong pah.. bentar Naomi ambilkan dulu ya," ucap Naomi dengan semangat.
"No.. biar mamah aja yang ambil, Naomi tetap disini," protes Bram dan seketika membuat Thalia terkejut.
"Gue?? ambil buku pelajaran Naomi?" tanya Thalia terkejut.
"Iyalah.. apa perlu gue masuk ke kamarnya?" tanya Bram kesal.
"Kan ada baby sitter disini, minta tolong aja sama dia, bentar gue panggilin," ucap Thalia lalu memanggil baby sitter dan menyuruh mengambilkan tas sekolah Naomi.
"Sialan!! susah banget sih buat dia menjauh sebentar dari sini, menyusahkan rencana gue saja!!" batin Bram kesal.
"Jangan harap gue akan membiarkanmu hanya berduaan dengan Naomi, gue takut nantinya loe bertanya hal-hal yang aneh padanya.. anak kecil seumur Naomi kan setiap ditanya selalu jujur, sekali saja Naomi jujur bisa bubar rencana gue jadi orang kaya raya," batin Thalia menatap mereka dengan senyum.
"Oh iya gue lupa, siang ini ada meeting jadi gue harus pergi dulu," alibi Bram.
"Bisakah itu di tunda?" pinta Thalia.
"Mana bisa.. ini klien besar, tendernya pun sangat menggiurkan, gue cabut dulu," ucap Bram bergegas pergi namun di cekal oleh Naomi.
"Papah.. besok kesini lagi kan?" tanya Naomi penuh harap dan Thalia tersenyum senang mendengar perkataan anaknya.
"Good girl," batin Thalia puas.
__ADS_1
"Akan di usahakan, aku pergi dulu ya," pamit Bram membelai rambut Naomi lalu bergegas pergi.
Di satu sisi Felicia hari ini mengantarkan makan siang untuk suaminya, ia terkejut mengetahui suaminya tidak berada di kantor apalagi assisten pribadinya tidak mengetahui kemana perginya Bram.