
Felicia melahirkan.
Di mansion pribadi mereka.
"Awww.. Haduh kenapa perutku sakit sekali, aduhh…" Rintih Felicia memegang perutnya.
"Loh Fel kamu kenapa?." Tanya Bram panik.
"Sakit Bram.. Perutku aduhh sakit ba..nget.. Tolong aku Bram." Rengek Felicia kesakitan.
"Apa jangan-jangan kamu mau melahirkan?? Tapi ini belum tanggalnya." Tanya Bram cemas.
"Gak tau.. Tolong aku, ini sakit banget kayak ada yang mau keluar. To…long." Pinta Felicia dengan wajah pucat dan keringat bercucuran.
"Tahan Fel.. Please tahan ya kita ke rumah sakit sekarang." Ucap Bram lalu membopong Felicia tergesa-gesa.
Di rumah sakit Cinta Bunda.
Bram tak henti-hentinya memberi semangat pada Felicia agar ia kuat.
Sembari menunggu dokter datang, Bram menghubungi keluarganya dan juga Felicia.
"Sabar Fel.. Kamu yang kuat ya, aku akan selalu disini menemani." Ucap Bram mencoba menenangkan Felicia dan mengelus perutnya.
"Sakit Bram.. Awww… Perutku sakit sekali… Haduh.." Rintih Felicia.
"Ini kemana dokternya? Kenapa datang lama sekali ha?? Istri saya kesakitan gini, kalau kalian gak bisa bertindak cepat saya akan membawa istri saya ke rumah sakit lain." Gertak Bram melotot tajam ke perawat yang berada di ruangan.
"Maaf pak, dokternya sedang menangani pasien yang melahirkan. Bapak tenang dulu ya jangan panik nanti istri anda ikutan panik." Ucap perawat dengan sabar.
"TENANG? JANGAN PANIK? ANDA BERCANDA SUS? ISTRI SAYA KESAKITAN SEPERTI ITU LOH, LIHAT WAJAHNYA SAMPAI PUCAT GITU!." Teriak Bram emosi.
"Kami paham pak tapi mohon bersabar, pembukaan istri anda baru 4 jadi dokter menangani pasien yang sudah pembukaan lengkap." Ucap perawat.
"Memang pembukaan sampai berapa sus? Tolong di percepat dong." Desak Bram tak sabar.
"Pembukaan sampai 10 pak jadi kemungkinan bebrapa jam lagi melahirkannya." Ucap perawat.
"Apa?? Itu terlalu lama untuk istri saya, bagaimana dia nantinya bisa kuat sus.. Panggil dokternya kesini sekarang, kalau dia gak mau cari dokter yang sangat bagus yang ada di rumah sakit ini. Saya akan bayar 3x lipat asalkan istri saya segera di tangani." Ucap Bram tak tahan lagi.
"Maafkan kami Pak tapi dokter yang bertugas di rumah sakit ini hanya dokter Kusuma saja. Mohon bersabar ya pak sebentar lagi dokternya akan kesini." Ucap perawat menenangkan.
__ADS_1
"Kalau dalam waktu 20 menit dokternya tak kunjung kemari, saya akan pindahkan istri saya ke rumah sakit lain, jangan main-main dengan saya." Ancam Bram serius.
"Ba..baik pak, harap tunggu." Jawab perawat takut.
Keluarga Bram dan Felicia sudah tiba di rumah sakit dan masuk ke ruangan untuk cek langsung kondisi Felicia.
"Sayang are you okay?? Kamu yang kuat ya sayang." Tanya Vina panik.
"Kamu banyak-banyak tarik dan buang nafas ya Fel biar nanti gak kehabisan nafas waktu melahirkan, atur nafasnya yuk.. Mamah arahkan." Ucap Weny dengan lembut.
"Sa..sakit mah.. Feli gak kuat.. Aduh.. Sa..kit banget." Rintih Felicia.
"Masih pembukaan berapa Bram?." Tanya Vina cemas.
"Kata suster baru pembukaan 4 tante dan dokter yang menangani Felicia sedang mengurus pasien lain yang juga lahiran." Ucap Bram dengan mata memerah karena menahan tangis.
"Tidak papa Bram memang pembukaan 4 itu belum bisa diambil tindakan kecuali kamu mau Felicia melahirkan dengan operasi." Ucap Weny dengan lembut.
"Tapi Bram gak tega lihat dia kesakitan seperti itu mah, tadi Bram udah menyuruh susternya agar mencarikan dokter lain untuk menangani Felicia tapi katanya dokter yang bertugas hanya itu aja. Bram sampai kesal mah.. Bisa-bisanya Felicia kesakitan seperti itu malah dokternya pindah ke pasien lain, mereka kira aku miskin apa? Padahal aku sampai bilang akan membayar 3x lipat tapi mereka tetap kekeh menangani pasien lain yang pembukaannya udah lengkap." Ucap Bram dengan mengacak-acak rambut.
"Itu hal lumrah dilakukan suami pada istrinya, benar kan jeng? Karena anak kita belum pernah mengalami kejadian ini jadinya udah panik duluan." Ucap Weny menatap Vina yang sedang menenangkan Felicia.
"Iya jeng dulu papahnya Felicia juga begitu, sama persis dengan Bram. Maklum lah jeng ini kan anak pertama dan cucu pertama buat kita," Ucap Vina dengan tenang.
"Selamat siang, wah ramai sekali. Biar saya periksa ibu Felicia dulu ya." Ucap dokter tersenyum ramah lalu memeriksa Felicia.
"Haduh.. Sakit sekali dok.." Rintih Felicia kesakitan.
"Masih pembukaan 8 ya bu, mohon jangan mengejan takutnya nanti menambah robekan di ********, coba mulai atur nafas ya bu." Ucap dokter dengan kalem.
"Dok bisakah segera ambil tindakan? Saya gak kuat melihatnya, mau sampai kapan dia menahan sakit seperti itu?." Desak Bram.
"Bisa pak tapi apa anda tidak menyayangkan? Istri anda bisa melahirkan normal jadi kita tunggu beberapa jam lagi ya pak, melahirkan memang seperti ini pak, awalnya memang sangat sakit tapi ketika bayinya udah lahir nanti rasa sakit akan hilang dengan melihat wajah anak anda. Jadi jangan panik ya, saya memaklumi kalau anda begitu khawatir." Ucap dokter tenang.
"Tapi saya gak mau terjadi apapun antara istri dan anak saya, awas saja kalau sampai ada apa-apa sama mereka, saya akan menuntut anda." Ancam Bram menunjuk dokter.
"Saya faham pak, tolong jangan panik nanti istri anda juga ikut panik." Ucap dokter tak mau ikut emosi.
2 Jam kemudian pembukaan Felicia sudah lengkap dan siap untuk melahirkan.
"Baik bu pembukaan anda sudah lengkap, sekarang saya akan bantu anda melahirkan." Ucap dokter memberi aba-aba.
__ADS_1
"Yang kuat ya sayang, kamu dan anak kita akan selamat." Bujuk Bram mengusap rambut Felicia lembut.
Dan proses melahirkan anak pertama Felicia dan Bram berjalan dengan lancar, meskipun di penuhi drama.
Felicia berhasil melahirkan anak pertama yang berjenis kelamin laki-laki dengan selamat, wajah anak mereka sangatlah tampan.
"Sayang lihat nih anak kita tampan sekali persis seperti papahnya." Ucap Bram sambil menggendong bayinya.
"Bisa gak jangan percaya diri gitu." Ucap Felicia sewot lalu membaringkan bayinya di sebelahnya.
"Memang begitu kan? Lalu dia bisa tampan dari siapa kalau bukan bibit dari papahnya ini." Ucap Bram menautkan kedua alis sambil tersenyum manis.
"Narsis terus." Gerutu Felicia.
"Terima kasih ya kamu sudah sangat berjuang untuk melahirkan anak kita, kamu wanita yang hebat Fel.. Aku sampai kagum padamu." Puji Bram mengusap pipi Felicia lembut.
"I..ini kan sudah menjadi kewajiban seorang ibu, semua ibu juga akan berkorban hidup dab mati untuk anaknya." Ucap Felicia salah tingkah.
"Setidaknya kamu salah satu dari ibu hebat itu, terima kasih juga karena selama ini sudah menjaga dan merawat anak kita dengan baik." Puji Bram mencium kening Felicia.
"I..itu juga sudah kewajiban kan? Lagian ada kalian yang juga membantuku." Jawab Felicia kikuk.
"Kita kasih nama siapa?." Tanya Bram penasaran.
"Aku belum memikirkannya Bram, kalau kamu?." Tanya Felicia bingung.
"Hmm udah ada satu nama sih, gimana kalau kita kasih nama Emil Kafi Attirmidzi." Usul Bram.
"Boleh juga tuh Bram, nama yang bagus." Jawab Felicia setuju.
"Baiklah nanti nama panggilannya Emil, hai baby Emil.. Papah disini." Sapa Bram mengusap pipi bayinya lembut.
"Biarkan tidur Bram." Ucap Felicia tak suka anaknya diganggu.
"Aku gemas Fel pengen aku cium." Ucap Bram terus menganggu bayinya dan akhirnya Felicia mencubit lengan Bram.
"Aww sakit Fel." Rengek Bram.
"Makanya jangan di ganggu dong, kamu gak ngrasain gimana sakitnya melahirkan, ini loh jahitanku masih nyeri banget dan perih." Protes Felicia menahan kesakitan.
"Aku sayang padamu Fel." Ucap Bram dengan jujur dan berhasil membuat Felicia terkejut serta salah tingkah dengan ucapan suaminya.
__ADS_1
"Jangan bercanda ah." Ucap Felicia menutupi rasa gugupnya.