PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 23- Bram memimpikan Calon Anaknya


__ADS_3

Sudah seminggu namun Felicia tak kunjung sadar dari koma. Semua keluarga sangat khawatir akan kondisi Felicia dan calon anaknya..


"Pah.. bagaimana kondisi cucu kita? apakah dia cukup nutrisi," ucap Vina khawatir sambil menatap Felicia yang sedang koma dengan wajah pucat.


"Jangan cemas yang berlebihan, jika dokter tidak ada ucapan apapun berarti semuanya aman," jawab Soetanoe.


"Tapi tetap aja mamah ini khawatir pah.. coba papah hubungi dokter kandungan," pinta Vina penuh harap.


"Ya sebentar," jawab Soetanoe lalu menelfon dokter via telfon kamar inap.


Beberapa menit kemudian dokter datang beserta assisten dan mahasiswa koas.


"Selamat siang ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter ramah.


"Ada dok, anak saya sudah seminggu ini koma, apa kandungannya baik-baik saja dok? saya sangat khawatir," ucap Vina khawatir.


"Sebentar saya periksa dulu," jawab dokter dengan profesional memeriksa Felicia beserta bayinya.


"Tolong bawa alat USG kemari," perintah dokter pada assistennya.


"Baik dok," jawab assisten dokter lalu mengambil alat.


Beberapa menit kemudian alat USG sudah siap untuk digunakan dan dokter memeriksa dengan cermat.

__ADS_1


"Ini calon cucunya, memang masih kecil karena usia kandungannya masih 6 minggu," ucap Dokter menunjukkan janin Felicia.


"Cucuku.. pah itu cucu kita," ucap Vina histeris.


"Iya mah tenang dulu biar dokter menjelaskan," ucap Soetanoe berusaha menenangkan istrinya.


"Jadi begini, kondisi janin yang ada di rahimnya sangat lemah karena kekurangan asupan serta nutrisi, janin hanya memperoleh pasokan makanan dari infus ibunya, jadi saya sarankan untuk dilakukan suntik nutrisi dan juga cairan supaya janin yang di kandung tetap sehat," ucap Dokter dengan tenang.


"Astaga cucuku.. benar kan feeling mamah kalau kondisi cucu kita tidak mungkin aman-aman saja, lakukan yang terbaik untuk cucu saya berapapun biayanya tidak masalah," ucap Vina tak mau dibantah.


"Bagaimana pak?" tanya dokter pada Soetanoe.


"Turutin kemauan istri saya, kami ingin mereka segera sembuh," jawab Soetanoe pasrah.


Setelah kepergian dokter, Wina tak henti-hentinya menangis mengingat calon cucu dan menantunya sedang berjuang melewati masa kritis.


"Kalian yang kuat ya sayang, ada Mamah disini yang akan menjaga dan melakukan apapun untuk kesembuhan kalian," ucap Wina menangis histeris.


"Mah sudah, papah yakin kalau Felicia anak yang kuat, jangan menangis terus nanti Felicia denger malah sedih dan gak bangun-bangun," jawab Wijaya khawatir pada istrinya yang sangat bersedih.


"Ajak mama keluar mencari udara segar pah biar kondisi Mamah sedikit tenang, biar Bram yang menjaga Felicia," usul Bram yang disetujui oleh Wijaya.


Setelah kepergian orang tuanya Bram dan Felicia kini Bram mendekati Felicia lalu menatap lekat calon istrinya dengan tatapan sedih. ia tidak menyangka jika akhirnya mereka harus menikah karena ada bayi di perut Felicia. Andai waktu itu lebih bisa mengontrol nafsunya pasti semua akan baik-baik saja, penyesalan memang selalu datang di akhir. Mau bagaimana pun gue sudah menghianati ikatan pertemanan dengan Pandu.

__ADS_1


"Pandu maafin gue karena ini semua bukan kemauan gue.. waktu itu kondisi gue setengah sadar ketika melakukan itu dengan Felicia, gue tau jika kalian saling mencintai namun apa boleh buat? takdir tidak merestui kalian bersama dan malah aku yang di takdirkan menikahi kekasihmu, jika suatu saat loe mengetahui ini gue harap kita bisa tetap berteman baik," gumam Bram sedih dan kemudian tertidur di sebelah Felicia.


Ketika Bram tertidur pulas tiba-tiba ia bermimpi seorang anak kecil yang memanggilnya dengan sebutan papah. Anak kecil yang sangat tampan dan menggemaskan lari ke arahnya meminta di gendong. Bram hanya diam saja ketika anak kecil itu merengek-rengek minta di gendong namun perlahan-lahan hati Bram luluh dan mau menggendong anak kecil itu lalu mereka bermain dan tertawa bersama.


"Papah.. papah nanti kalau aku sudah lahir tolong jangan sia-siakan aku dan terima kehadiranku ya, nanti suatu saat papah akan sangat sayang padaku," ucap anak kecil itu dengan polosnya.


"Bagaimana papah tega menyia-nyiakanmu sayang kalau kamu menggemaskan gini," ucap Bram mencubit pelan pipi anak kecil itu lalu menciumnya.


"Hore.. papah memang orang yang baik, i love you pah," jawab anak kecil tersebut dan turun dari pangkuan Bram lalu pergi.


"Mau kemana kamu?" teriak Bram tak mau kehilangan anak menggemaskan itu.


"Kembali ke perut mamah, nanti aku dan mamah akan segera kembali, sampai ketemu di hari aku dilahirkan pah.. i love you," jawab anak menggemaskan itu lalu menghilang entah kemana.


Tiba-tiba Pandu terbangun dengan nafas ngos-ngosan dan segera menyadari jika itu hanya mimpi belaka.


"Ternyata cuma mimpi semata.. tapi kenapa rasanya sangat nyata? rasanya aku memang menggendong dan mencium anak menggemaskan itu, apa dia itu anak aku yang di dalam kandungannya Felicia? apa tadi dia menyampaikan pesan padaku supaya aku bisa menerima kehadirannya? astaga kenapa ini sangat rumit sekali," gumam Bram dengan keringat bercucuran.


Lalu perlahan-lahan Bram mendekatkan tangannya ke perut Felicia dan mengelus perut Felicia yang masih rata.


Entah darimana perasaan itu ada tiba-tiba hatinya berdesir ketika tangannya bersentuhan dengan perut rata Felicia.


"Apa ini yang dinamakan ikatan batin orang tua terhadap anaknya?" gumam Bram tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2