
Ehem.. deheman Wijaya membuyarkan pandangan keduanya.
"Jangan curi-curi pandang begitulah Bram, sebentar lagi kalian akan sah, jadi nanti bisa melihat kecantikan calon istrimu dengan puas tanpa diketahui oleh kami," goda Wijaya sambil menyenggol lengan Bram.
"Apaan sih pah? siapa juga yang curi-curi pandang?" bantah Bram.
"Enggak kok om tadi Bram ngeliatin jendela," jawab Felicia dengan senyuman padahal dalam hati ia bergidik ngeri membayangkan jadi istri Bram.
"Sudahlah orang yang sedang jatuh cinta mana mau mengakui, iya kan Pak Tanoe?" ejek Wijaya melirik Bram.
"Haha biarkan mereka jatuh cinta dengan sendirinya pak Wijaya, saya sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik," jawab Soetanoe netral dan Felicia lega mendengarnya.
"Papah.." jawab Bram geram.
"Sudah sudah kalau terus menerus di ejek nanti Bram marah," bela Wina.
"Udah mau jadi papah kok baperan," jawab Wijaya enteng.
"Sudah pah gak enak sama keluarganya Felicia," ucap Wina tak enak hati lalu Wijaya kembali diam.
Tak berselang lama datanglah dokter untuk memeriksa kondisi Felicia.
"Selamat sore semuanya.. wah ramai sekali ya," sapa dokter ramah lalu mendekati pasien.
"Sore dok," jawab mereka kompak.
"Felicia sudah siuman ya dan bagaimana kondisinya sekarang?" tanya dokter.
"Sudah lebih membaik dok," jawab Felicia lirih.
"Syukurlah.. perbanyak istirahat dulu ya jangan terlalu memaksakan untuk bergerak, jika besok pagi sudah lebih baik maka kamu boleh pulang," jawab dokter tersenyum.
"Terima kasih dokter," jawab Felicia sangat senang.
"Sama-sama.. lain kali lebih hati-hati lagi ya agar janin kamu tidak lemah," ucap dokter tanpa disadari membuat kondisi Felicia lemas dan syok.
"A.. apa? bayiku lemah?" tanya Felicia terkejut..
__ADS_1
Vina yang mengetahui kondisi anaknya melemah langsung memberi isyarat pada dokter dengan kedipan mata. Untungnya dokter langsung memahami akan kode tersebut.
"Iya kemarin waktu kamu koma kondisi janin kamu sempat lemah, tetapi setelah dilakukan perawatan yang intens jadinya tak perlu butuh waktu lama kondisi janinmu normal kembali, jadi gak usah cemas, tadi saya bilang begitu supaya kamu lebih hati-hati setelah pulang dari sini nantinya," ucap dokter berusaha tenang dan profesional.
"Syukurlah aku fikir bayiku kenapa-napa," jawab Felicia bernafas lega.
"Sudah teratasi sebelum kamu sadar, kalau begitu saya permisi dulu, cepat sembuh ya cantik," ucap dokter menyemangati Felicia sambil menepuk bahunya pelan.
Bram yang melihat pemandangan tersebut langsung memasang wajah garang dan segera mendekati Felicia.
Wijaya yang melihat tingkah anaknya hanya tersenyum kecil lalu mencolek istrinya dan mereka tertawa bersama.
"Santai napa Bram? tadi dokternya cuma menyemangati bukan mau ngambil calon istrimu," sindir Wijaya tersenyum senang.
"Apaan sih, papah daritadi rusuh," jawab Bram kesal lalu kembali ke tempat duduknya.
"Belum jadi suaminya sudah pasang badan duluan ketika calon istrinya di colek laki-laki lain padahal itu dokternya," bisik Wijaya sambil terkekeh.
"Siapa yang pasang badan? papah ini lebay, tauk ah males," jawab Bram kesal dan Wijaya terus menerus terkekeh.
"Ada apa dengan diri gue? kenapa rasanya gak terima ketika Felicia disentuh pria lain? gak.. gue gak mungkin secepat ini jatuh cinta padanya," batin Bram sambil geleng-geleng kepala.
"Eh.. enggak kok om tadi lihatnya agak blur aja," alibi Bram.
"Pusing karena merasakan gejolak di dada sang kekasih hati di colek dokter tampan ya?" bisik Wijaya kembali usil.
"Enggak," jawab Bram sedikit teriak dan refleks semua menoleh padanya.
"Kenapa Bram?" tanya Vina bingung.
"Apanya yang enggak?," tanya Wina mengernyitkan dahi.
"Ehh hmm itu.. gak.. gak ada apa-apa, tadi Papah jahil," jawab Bram salah tingkah karena di tatap semua orang yang ada di ruangan.
"Bram kenapa sih daritadi sikapnya aneh mulu? heran deh," batin Felicia geleng-geleng kepala pelan.
"Sialan keberadaan gue disini bikin kacau, ada apa sama gue? kenapa jadi sensitif dan baperan gini sih," batin Bram kesal lalu meminta papahnya pulang dan besok kesini lagi.
__ADS_1
Akhirnya Bram dan keluarganya pulang dan besok akan menjemput Felicia.
Keesokan harinya, pagi hari dokter sudah datang ke kamar Felicia untuk memeriksa. Kebetulan juga Bram beserta keluarganya datang dan mood Bram seketika langsung buruk ketika melihat wajah sok tampan dokternya Felicia.
"Ada apa dengan wajahmu pagi ini Bram? cemburu buta ya? kamu kurang pagi kesininya.. tuh calonmu udah di apeli duluan sama dokter tampan itu," bisik Wijaya semakin membuat hatinya panas.
"Pah ini masih pagi jangan bikin suasana memanas," ucap Bram keceplosan lalu menutup mulutnya.
"Wah bener kan feeling papah, mah pagi-pagi anak kita udah hareudang.. panas panas panas," ucap Wijaya sambil gerakan mengibaskan tangan.
"Pah udah jangan terus ejek Bram nanti dia makin cemburu," timpal Wina.
"Pah.. mah.. please jangan bikin gaduh," jawab Bram memohon.
Dokter yang menangani Felicia hanya tersenyum melihat tingkah keluarga pasiennya. Ia bersikap profesional antara pasien dan dokter tetapi kenapa suaminya cemburu.
"Apa iya suaminya cemburu sama aku? astaga.. memang ya punya bini cantik itu meresahkan, colek sedikit langsung pasang badan," batin dokter geli.
Lain halnya dengan Felicia, ia sangat heran dengan tingkah Bram akhir-akhir ini. Ia seperti tidak mengenali sosok Bram yang sesungguhnya.
"Ini perasaanku saja atau memang betul ya? kayaknya Bram gak seperti biasanya deh, kenapa tuh anak?" batin Felicia.
Lalu dokter kembali memeriksa Felicia dengan teliti sambil memegang denyut nadi, mata dan terakhir dada. Karena Bram sudah tidak kuat melihat adegan itu tanpa sadar Bram menepis tangan dokter ketika akan mengetahui detak jantung Felicia.
"Maaf ada apa ya pak?" tanya dokter penasaran.
Bram yang terkejut akan sikapnya yang tiba-tiba cemburu itu hanya bisa diam dan salah tingkah. Lalu mengizinkan dokter kembali melanjutkan pemeriksaan.
"Setelah saya periksa keseluruhan, kondisi Felicia semakin membaik dan hari ini di perbolehkan untuk pulang, mohon setelah ini diurus admistrasi dan berkasnya supaya lebih mempercepat proses pasien pulang," ucap Dokter dengan tenang.
"Terima kasih dok," jawab Vina dan Soetanto kompak dengan perasaan sangat bahagia.
"Sama-sama kalau begitu saya permisi dulu dan untuk suami Felicia, terima kasih sudah mengizinkan saya menyentuh istri anda untuk keperluan pemeriksaan," ucap dokter berlalu pergi dan menepuk bahu Bram pelan sambil tersenyum.
"Sialan apa maksudnya ngomong begitu di depan banyak orang? bikin malu gue aja.." batin Bram sangat kesal.
"Waiting tresno jalaran saka kulino, Ingat pepatah jawa itu." bisik Wijaya terkekeh.
__ADS_1
Lalu mereka bersiap-siap untuk pulang sambil menunggu berkas untuk kepulangan Felicia selesai. Setelah menunggu 30 menit dan berkas dinyatakan lengkap akhirnya mereka pulang ke mansion Felicia dengan penuh suka cita.