
Tanpa terasa hari minggu telah tiba. Felicia dan Bram sudah janjian untuk fitting baju di butik.
Ting.. notifikasi hp Bram.
"Jangan lupa hari ini ada jadwal fitting baju, kita kesana jam berapa Bram?." Isi chat Felicia.
"Iya aku inget kok.. Nanti ya jam 09.00 WIB aku baru bangun tidur hehe." Jawab Bram.
"Wuu dasar malas.. Yaudah deh." Jawab Felicia lalu turun ke meja makan.
"Morning sayang." Sapa Vina.
"Morning too mamah dan papah. Sarapan apa nih?." Sapa Felicia lalu duduk di kursi.
"Sarapan sup ayam kampung dan khusus kamu minumnya jus alpukat." Ucap Vina lembut.
"Hmm keliahatannya enak nih." Ucap Felicia senang.
"Pastinya dong. Kelihatannya senang banget, ada apa nih?." Tanya Vina penasaran.
"Gak ada apa-apa kok mah. Memang itu kan menu favoritku jadi ya senanglah." Jawab Felicia lalu mengambil nasi dan sup.
"Iyadeh kalau gak mau sharing sama mamah.. Sekarang anak mamah udah dewasa." Ucap Vina pasrah lalu mereka sarapan dalam diam.
Setelah selesai sarapan Soetanoe bergegas ke kantor karena ada rapat penting.
"Papah berangkat dulu ya soalnya ada rapat penting nih. Doain supaya proyeknya goal ya dan Papah menang tender." Ucap Soetanoe mencium pucuk kepala kedua wanita yang ia sayangi secara bergantian.
"Aamiin.. Hati-hati pah." Ucap Vina salim dan mengantar sampai depan.
"Iya pah semoga lancar." Ucap Felicia ikut mengantarkan.
"Tumben banget ya mah ada rapat sepagi ini." Ucap Felicia.
"Iya sayang soalnya ini tamunya dari Ausie, jadi nanti sore tamunya sudah harus pulang. Mau gak mau ya rapatnya sepagi ini, tapi malah bagus kan fikirannya masih pada fresh." Ucap Vina lalu mereka berjalan menuju ruang tamu.
Brom..brom.. suara mobil sport Bram.
"Itu kayak suara mobilnya Bram, apa kalian ada janji?." Tanya Vina memastikan.
"Iya Mah.. hari ini mau fitting gaun pengantin, kemarin kan kekecilan." Jawab Felicia.
"Yaudah nanti hati-hati ya, mamah gak bisa ikut ke depan soalnya mau prepare arisan." Ucap Vina lalu menuju kamar dan Felicia menemui Bram.
"Hai Fel, udah siap?." Sapa Bram.
"Sudah dong. Yuk." Jawab Felicia semangat.
__ADS_1
"Mamahmu mana?." Tanya Bram.
"Katanya gak usah pamitan soalnya mamah mau prepare arisan." Jawab Felicia berjalan menuju mobil Bram.
"Dasar perempuan kalau urusan arisan dan shopping aja semangat banget." Gumam Bram yang didengar Felicia.
"Apa kamu bilang?." Tanya Felicia sedikit kesal.
"Gak.. Gak ada kok, yaudah yuk berangkat." Ucap Bram kikuk lalu mereka melajukan mobil menuju butik.
Di Pesona Butik Indonesia.
"Selamat pagi kak ada yang bisa kami bantu?." Sapa pegawai ramah.
"Pagi.. kamu mau fitting gaun pengantin." Ucap Felicia.
"Dengan nyonya Felicia dan tuan Bram??." Tanya pegawai memastikan.
"Benar.. Felicia Agnesia Soetanoe dan Bram Attirmidzi Wijaya." Ucap Bram dengan detail.
"Baiklah mari ikut saya ke sebelah sini." Ucap pegawai lalu menuntun ke ruang fitting.
"Ini gaun dan jasnya, bisa di coba. Mari kak saya bantu." Ucap pegawai membawakan gaun pengantin Felicia dan mereka masuk ke ruang ganti.
"Bagaimana? sudah pas kak?." Tanya pegawai setelah selesai memasangkan gaun.
"Sama-sama kak, mau di perlihatkan calon suaminya?." Tanya pegawai memastikan.
"Boleh?." Tanya Felicia ragu.
"Boleh kak kalau mau saya bantu jalan soalnya ekor gaun menjuntai panjang." Ucap pegawai lalu mereka keluar dari ruang ganti dan Bram menatap Felicia tak berkedip.
"Gimana Bram?." Tanya Felicia memutar badannya.
"Perfect." Gumam Bram dengan polosnya dan terpukau.
"Haha sudah aku bilang kan kalau gaunnya bakalan cantik. Kamu sih ngeyel, makanya kemarin aku gak kasih tunjuk." Ucap Felicia sangat senang.
"Gaun dan orangnya sama-sama cantik." Puji Bram terkesima.
"Iyakah?." Tanya Felicia tersipu malu dan Bram hanya mengangguk.
"Jas anda bisa sekalian dipakai biar bisa dipastikan kalau muat." Ucap pegawai menyerahkan jas dan Bram memakaikannya.
"Kamu juga tampan Bram." Puji Felicia mengacungkan jempol.
"Pastinya." Jawab Bram angkuh dan membusungkan dada.
__ADS_1
"Mulai narsis." Cibir Felicia kesal.
"Kalian berdiri bersebelahan, saya akan memotret kalian." Ucap pegawai mengambil kamera di sakunya.
"Ehh gak usah mbak, buat apa?." Tanya Felicia heran.
"Buat kenangan kalau kalian pernah berkunjung kesini dan sebagai bukti jika gaunnya sudah sold out. Lagian kalian ini pasangan serasi kak, yang satu cantik dan satu tampan." Ucap pegawai memuji.
"Tapi saya minta tolong fotonya jangan di sebar luaskan ya kak." Pinta Felicia nemohon.
"Kalau boleh saya tau alasannya apa kak?." Tanya pegawai heran.
"Kami tidak mau privasi kami terlalu terkespos media dan nantinya akan mengganggu ketenangan hidup kamu nantinya." Jawab Bram dengan logis.
"Baiklah kalau begitu, saya menghargai privasi anda. Foto ini hanya menjadi bukti saja jika gaunnya sold out dan jadi dokumen pribadi toko." Ucap pegawai mengerti dan mereka foto dengan canggung.
"Meskipun kalian terlihat canggung namun keren. Bisa gak kalian lebih rileks lagi biar hasilnya lebih bagus?." Pinta pegawai.
"Baiklah kami akan coba." Jawab Felicia pasrah lalu keduanya sama-sama tarik nafas buang nafas dan ketika sedikit tenang baru berpose layaknya sepasang kekasih.
"Nah begini bagus kak." Puji pegawai memperlihatkan hasil fotonya.
"Iya Bram bagus banget, boleh minta filenya?." Pinta Felicia.
"Boleh kak nanti kami kirimkan via email." Jawab pegawai ramah.
"Bram kamu gak mau lihat?." Tanya Felicia heran.
"Aku percaya aja sama kamu lagian nanti bisa lihat bareng di email kan?." Ucap Bram sedikit acuh hingga membuat Felicia sedikit kecewa.
"Baiklah.. Makasih ya mbak, saya sangat puas dengan pelayanannya. Kalau begitu kami permisi dulu." Pamit Felicia tersenyum kaku untuk menutupi kesedihannya.
"Baik kak terima kasih banyak sudah menggunakan jasa kami di hari bahagia kalian." Ucap pegawai membungkuk hormat lalu membukakan pintu.
Di mobil Bram dan Felicia saling diam, hingga Felicia sangat kesal dengan perubahan Bram yang tiba-tiba.
"Ada apa sih Bram?? Kenapa daritadi diem aja?." Tanya Felicia kesal.
"Hanya ada sedikit problem, sebentar lagi mau aku selesaikan. Kita langsung pulang atau mampir kemana dulu?." Tanya Bram fokus menyetir.
"Pulang ajalah, badmood." Jawab Felicia kesal dan menatap luar jendela.
"Baiklah.. Maaf ya kalau hari ini hanya bentar." Ucap Bram tak enak hati.
"Hmm.." Jawab Felicia.
"Astaga bumil emang kadang ngeselin ya, andai dia tau kalau kepolisian udah mengusut kasus teror kemaren di villa dan udah mengantongi dalangnya. Apa iya Felicia akan bersikap seperti ini? Sebenarnya aku mau ajak dia ke Villa tapi takutnya dia masih ada trauma." Batin Bram fokus nyetir.
__ADS_1