
Ketika meeting Bram terus menerus terngiang perkataan istrinya.. apa yang di katakan Felicia ada benarnya juga lebih baik membebaskan Thalia lalu menyuruhnya pergi sejauh mungkin bersama anaknya daripada ia harus repot mengurus Naomi di tambah nanti membuat Felicia marah.
Di Polsek..
"Bram akhirnya lu kesini," sapa Thalia senang.
"Jangan berbangga dulu kedatangan gue kesini karena Naomi, jujur saja gue dan juga istri gue gak sanggup mengurus anakmu itu, jadi beberapa bulan yang lalu gue membawanya ke rumah orang tuamu dan apa yang terjadi? tadi Naomi menelpon gue dan mengatakan jika ia di sana tidak nyaman dan mendapat perlakuan buruk," ucap Bram.
"Bram sudah gue katakan berulang kali jangan bawa Naomi dengan mereka, sampai kapan pun Naomi tidak di anggap olehnya, ini alasanku mengapa waktu itu melarang membawa Naomi ke sana, sekarang dimana anakku?" tanya Thalia sedih.
"Masih di rumah orang tuamu, Felicia tidak mengizinkan Naomi kembali tinggal bersama kami, jadi tujuan gue datang kesini untuk membebaskan mu tapi dengan satu syarat," ucap Bram serius.
"Serius Bram? akhirnya gue bebas juga.. apapun syaratnya gue penuhi asalkan gue bisa bertemu lagi dengan Naomi," ucap Thalia terharu.
"Syaratnya mudah sekali, pergilah sejauh mungkin dari kehidupan gue dan keluarga kecil gue, jangan menampakkan diri lagi atau nantinya kalian akan menyesal, jujurlah pada Naomi siapa ayah kandungnya karena gue gak mau terus menerus membohongi dia.." ucap Bram serius.
"Gue akan menyanggupi Bram tapi mohon berikan gue waktu untuk mengumpulkan uang agar bisa pergi jauh, karena gue gak munafik Bram.. pergi jauh juga butuh biaya, biarkan gue bekerja dulu sambil mengumpulkan uang," ucap Thalia jujur.
"Gue mau segera, nih ada cek untukmu dan pakailah dengan baik, hitung-hitung ini modal untuk kalian memulai hidup baru, jadilah manusia yang lebih baik dan didiklah Naomi menjadi anak yang baik, dia masih kecil jadi lebih mudah mengarahkan.." ucap Bram menyerahkan cek 1 miliar.
"Terima kasih Bram.. akan gue gunain sebaik-baiknya, terima kasih Bram," ucap Thalia terharu dan menerima cek.
"Kalau begitu gue pergi dulu, masalah sudah gue anggap selesai. ingat perjanjian kita, gue ingin menata hidup dengan keluarga kecil gue.. jangan lagi menganggu apapun itu alasannya," ucap Bram lalu bergegas pergi.
"Akhirnya gue bisa bebas juga dan dapat duit segini banyaknya haha.. Bram.. Bram bucin banget sih sama istrimu itu, masa bodoh dengan perjanjian toh gak ada bukti juga, yang penting sebenar lagi gue bebas dan bisa bertemu Naomi.. sabar sayang sebentar lagi mamah pulang, jangan lagi kita bersilaturahmi pada nenek dan kakek, cukup sampai di sini penderitaan mu," gumam Thalia tersenyum lega.
Setelah bertemu Thalia kini Bram sudah pulang ke mansion, tempat di mana ia melepas penat setelah seharian beraktivitas apalagi masalah rumah tangga yang tak kunjung usai.
"Tumben pulang telat Bram?" tanya Felicia.
"Iya soalnya tadi bertemu Thalia sebentar," ucap Bram sambil melepaskan dasi.
__ADS_1
"APA!!! NGAPAIN KETEMU PEREMPUAN ULAR ITU HA!!" teriak Felicia tak suka.
"Aku membebaskannya sayang jadi harus bertemu dengannya sekalian mengurus beberapa berkas di kepolisian," ucap Bram dengan tenang.
"KENAPA KAMU BERBAIK HATI SEKALI KEPADANYA? APA YANG MENDASARI ITU, BRAM ??" tanya Felicia emosi.
"Apalagi kalau bukan Naomi, sudah deh jangan teriak gitu.. semua bisa di selesaikan dengan baik, aku melakukan ini juga demi keutuhan rumah tangga kita sayang, percayalah," ucap Bram memberi pengertian.
"Naomi lagi Naomi lagi.. kenapa sih anak kecil itu membikin hidup kita sulit, apa yang dia inginkan?" tanya Felicia penasaran.
"Seperti yang aku bilang di telfon, dia ingin tinggal di sini dan kamu langsung menolaknya kan? terus kamu usul kalau Thalia di bebaskan saja biar Naomi tinggal bersamanya, yasudah aku turuti permintaanmu itu eh kamu sendiri yang lupa, gimana sih sayang?" ucap Bram memberitahu.
"Jelas aku menolaknya, menolak dengan keras.. dia bukan siapa-siapa kita kenapa kita yang harus repot mengurusnya sedangkan di sana dia masih ada keluarga," tolak Felicia.
"Itu kan perkataan ku waktu itu sayang kenapa sekarang kamu copy paste? waktu itu aku kan sudah menolaknya kan makanya turuti perkataan suami, jangan jadi malaikat untuk orang yang tidak tau terima kasih," ucap Bram menasehati.
"Dulu aku kasihan padanya, anak sekecil itu harus hidup terpisah dengan ibu kandungnya, jiwa perempuanku langsung tersentuh Bram.. eh gak taunya malah dia berbuat tidak menyenangkan pada Emil dan Eleora, untung aku segera mengetahuinya," ucap Felicia.
"Serius Bram? dia tidak mengingkarinya kan?" tanya Felicia memastikan.
"Dia menyanggupinya sayang dan aku sudah mengancam jika dia berani ingkar," ucap Bram dengan serius.
"Akhirnya masalah kita satu persatu selesai juga, rasanya capek sekali ketika menghadapi masalah yang tak kunjung usai," ucap Felicia bernafas lega.
"Kita harus bersatu melawan semua masalah yang datang supaya musuh tidak mudah menggoyahkan kita, jangan salah paham lagi ya," bujuk Bram dengan lembut.
"Tidak akan salah paham jika kamu segera memberitahu ini, begini yang aku maksud Bram setidaknya kamu beneran menganggap aku ini istrimu," sindir Felicia.
"Kamu memang istriku dari dulu dan kamu adalah ibu dari anak-anak ku, jangan lagi berbicara seperti itu," ucap Bram tak suka.
"Dari kemarin-kemarin setiap ada masalah tidak pernah tuh melibatkan aku," sindir Felicia.
__ADS_1
"Maafkan kesalahan yang dulu karena posisinya kamu sedang mengandung, jangan lagi membahas masalah yang sudah lalu," perintah Bram.
"Iya.. semoga dengan Thalia bebas bisa berdampak baik untuk kehidupan kita ke depannya, aku berharap ini masalah yang terakhir," pinta Felicia.
"Aku tidak mau mengumbar janji manis dengan mengatakan jika ini masalah yang terakhir namun aku akan usahakan jika ini masalah tidak akan datang lagi," ucap Bram.
Lalu Bram dan Felicia beristirahat dengan nyenyak karena masalah sudah selesai.
Keesokan harinya sesuai janji Bram jika ia akan bebas dari penjara, kini Thalia bisa menghirup udara bebas dengan tenang dan memulai hidup baru.
Hal yang pertama di tuju ialah kediaman orang tuanya, ia tidak sabar bertemu Naomi dan segera membawanya pergi.
Di mansion orang tua Thalia.
Ting.. tong.. suara bel rumah orang tua Thalia.
"Non Thalia?? masuk non," sapa bi Sumi terkejut lalu membukakan pintu.
"Iya ini saya Thalia, dimana anakku?" tanya Thalia tak sabar.
"Ada di kamarnya non.. masuk saja," ucap bi Sumi menunjukkan kamar Naomi.
Sebelum masuk ke kamar, Thalia terkejut dengan pemandangan kamar Naomi.. yang ia tau jika ruangan yang di tempati anaknya adalah kamar pembantu, berarti yang di katakan Bram itu benar jika Naomi mendapat perlakuan buruk di sini.
"Bi serius anakku tidur di sini? bibi tau kan ini kamar untuk siapa?" tanya Thalia tak percaya.
"Benar non ini kamar Naomi, maafkan bibi yang tidak bisa berbuat banyak.. nyonya besar yang menyuruh Naomi tidur di sini," ucap bi Sumi sedih.
"Ini tidak bisa di biarin.. kenapa Naomi tidak cerita padaku bi?" tanya Thalia kesal.
"Semua akses komunikasi di tutup nyonya dan tuan besar, non.. kemarin Naomi bisa menghubungi papah Bram karena posisinya tuan dan nyonya sedang di luar kota, silahkan masuk non," ucap bibi sedih.
__ADS_1
"Segitu bencinya mereka pada Naomi, awas saja!!" ancam Thalia penuh dendam lalu masuk ke kamar Naomi.