
Merasa pusing masalah yang datang di rumah tangganya tak kunjung usai, Bram memilih pergi ke club untuk menenangkan fikiran sejenak.
-Luxury Executive Club and Bar-
Jedug..jedug.. suara disco di dalam bar yang keras hingga memekakan telinga.
Bram duduk sendirian di depan meja bar dan terus menerus memesan wine, ia merasa capek akan masalah yang menimpanya.. ingin rasanya ia hidup tenang seperti dulu ketika belum menikah.
"Meskipun Thalia akhirnya ketahuan mengkhianati ku tapi setidaknya ketika bersamanya aku tidak pernah tertimpa masalah serumit ini, haaaahh.." gumam Bram mengacak-acak rambutnya dan kembali pesan minuman.
Entah suatu keberuntungan atau musibah, Thalia melihat Bram datang ke bar seorang diri dengan kondisi yang menyedihkan, ia hampir tidak mengenali seseorang yang pernah bertahta di hatinya itu..
"Bram..." sapa Thalia menepuk pelan bahu Bram.
"Loe... ngapain nunjukkin muka di hadapan gue? cari mati?" gertak Bram penuh amarah.
"Ma..maaf, aku cuma memastikan itu kamu atau bukan soalnya kondisimu tak seperti biasanya, kau terlihat menyedihkan Bram," ucap Felicia ketakutan.
"Haha.. lantas apa urusannya denganmu wahai cewek matre?" tanya Bram sinis.
"A..aku khawatir dengan kondisimu saat ini, apa yang membuatmu hingga seperti ini Bram?" tanya Thalia simpati.
"Cih.. jangan sok peduli, urus tuh hidupmu, jangan ikut campur urusan orang lain, apa sekarang stok cowok kayamu habis sehingga loe dateng ke gue lagi?" sindir Bram tersenyum sinis.
"Bu.. bukan begitu Bram, aku serius prihatin dengan kondisimu, boleh aku temani?" tanya Thalia hati-hati.
"Ntar loe maling lagi duit gue, sana pergi," usir Bram mengibaskan tangan dan badannya sempoyongan.
"Loe udah lemah gitu masih aja ketus omongannya, kuat jalan gak?" tanya Thalia memastikan.
"Sekali lagi gue tegaskan, ini bukan urusanmu.. pergi, sebelum gue bertindak lebih jauh padamu juga keluargamu," ancam Bram serius.
"Astaga.. oke..oke" jawab Thalia mengalah namun masih memantau Bram dari jauh.
"Cewek menjijikan macam dia beraninya menunjukkan muka ke gue," gumam Bram kembali minum entah sudah ke berapa kalinya.
Setelah dirasa cukup, Bram membayar dan pergi dari bar, ia sebenarnya tidak kuat jalan namun ia sadar jika dirinya datang hanya seorang diri, maka dari itu ia berusaha sekuat tenaga jalan.
"SIALAN... Kepala gue pusing banget, mana buat jalan kepala rasanya muter-muter," umpat Bram berjalan sempoyongan dan memegang kepalanya.
__ADS_1
"Bener kan dugaan gue kalau dia bakal gak kuat jalan, sok-sokan nolak niat baik gue lagi, dasar," gerutu Thalia lalu menghampiri Bram dan menuntunnya.
"Ngapain loe?" Tanya Bram melepas pelukan Thalia.
"Membantumu Bram, gitu aja tanya," Jawab Thalia terus memapah Bram.
"Gue gak minta, jangan sok baik," ucap Bram ketus dan menatap tajam Thalia.
"Gak usah sok kuat, gue liat daritadi loe sempoyongan dan pegang kepala, gue niat nolongin loe jadi gak usah sungkan gitu, ayo gue anter ke mobilmu," ucap Thalia terus memapah Bram sampai mobil.
"Loh Bram, kok gak ada supirmu? jangan bilang loe dateng kesini sendirian?" tanya Thalia terkejut.
"Memangnya kenapa? salah?"tanya Bram.
"Eng..enggak sih tapi kan kondisimu kayak gini, yakin bisa nyetir sendiri?" tanya Thalia memastikan.
"Gak tau juga.." jawab Bram bingung.
"Yaudah ayo gue anterin ke mansionmu, mana kuncinya?" tanya Thalia.
"Jangan ke mansion, anterin gue ke apartemen aja," ucap Bram lalu menyerahkan kunci mobil dan akhirnya mereka menuju apartemen.
Hingga akhirnya mereka berdua sampai di apartemen dan Thalia kembali memapah Bram hingga masuk ke kamar.
"Fyuhh.. loe berat juga ya Bram," gumam Thalia kewalahan dan ikut berbaring di sisi Bram.
"Kalau gak ikhlas jangan sok nolongin gue, udah sana pulang.. gue gak mau ada kesalahpahaman nantinya," usir Bram.
"Gue masih capek mapah loe sampai sini eh sekarang loe usir gue? kejam," protes Thalia cemberut.
"Loe yang kejam, loe udah merusak kepercayaan dan perasaan yang dulu hanya milikmu, loe dengan gampangnya menduakanku dengan cowok kere itu, jadi jangan mengatakan kalau gue ini kejam jika loe sendiri lebih dari itu," gertak Bram.
"Maaf atas kejadian itu, gue khilaf Bram.. waktu itu gue kesepian gak ada kabar darimu selama berbulan-bulan dan hubungan kita waktu itu gak jelas antara masih lanjut atau udahan karena loe menghilang lalu gue tak sengaja bertemu Dino.. dengan segala rayuan mautnya akhirnya gue kepincut dengannya, gue baru tau kalau dia selama ini hanya memanfaatkan uangku saja, ketika kita putus dia baru membuka semua topengnya dan aku dibuat trauma olehnya, dia secara membabi buta memukulku hingga pingsan, hiks..hiks.." ucap Thalia berurai air mata.
"Serius?? kok gak loe laporin ke polisi? pasti kan ada bekas pukulannya tuh kenapa gak loe visum aja, aneh banget loe malah curhat ke gue," ucap Bram tak peduli.
"Karena ada sebab lain yang membuat gue harus menerima semua ini, gue di ancam.. hiks..hiks.." ucap Tahlia terisak.
"Ya asal loe bilang pada polisi nanti cowok kere itu kan di proses," ucap Bram tak merasa simpati.
__ADS_1
"Gue takut Bram... hiks.. hiks.. gue gak mau lagi dianiaya dia, kemarin gue juga pontang-panting cari duit seratus juta untuknya," ucap Thalia terisak.
"Kenapa loe mau? bodoh.." umpat Bram.
"Karena gue takut ancaman dia, kemarin aja dia hampir membunuh gue, hiks...." ucap Thalia menangis terisak dan seluruh badannya bergetar.
Bram tak tega melihat Thalia sedih seperti itu, ia yakin jika ucapannya adalah benar.
"Sudah jangan di fikirkan lagi cowok kere macam dia, loe berhak bahagia menentukan hidupmu sendiri," ucap Bram memeluk Thalia.
"Ma..makasih Bram, aku lega rasanya sudah menyampaikan uneg-uneg yang selama ini terpendam, terima kasih sudah mendengarkan keluh kesah gue," ucap Thalia membalas pelukan Bram erat.
"No problem.. tenangkan dirimu," jawab Bram mengusap punggung Thalia lembut.
"Gue.. gue menyesal telah menduakanmu Bram, hiks..hiks.. kalau boleh jujur perasaan ini masih ada untukmu," ucap Thalia melepas pelukannya dan menatap Bram intens.
"Maaf tapi sampai kapan pun kita gak bisa kembali seperti dulu lagi," tolak Bram memalingkan muka.
"Bram.. look at me, i know you love me, dont lie," ucap Thalia mengarahkan muka Bram berhadapan dengannya.
"No.. perasaan gue kepadamu telah usai di bar waktu itu," jawab Bram menatap Thalia lekat.
"Jangan berbohong, tidak mungkin secepat itu kau melupakan semua ini, aku tau seberapa cintanya loe padaku," ucap Thalia membelai wajah Bram dan menatapnya lekat.
"Itu persepsimu tapi faktanya tidak, jangan lagi berharap apapun padaku," ucap Bram menepis kasar belaian Thalia.
"Bram.. aku mencintaimu, sangaaat mencintaimu," bisik Thalia hingga membuat milik Bram menegang.
"Bullshit," ucap Bram menatap Thalia.
"Gue serius Bram, apa perlu bukti?" tantang Thalia menggoda.
"Dengan cara?" tanya Bram penasaran.
"Mari kita bersenang-senang baby.." ucap Thalia menggoda dan melucuti seluruh pakaian Bram.
Bram yang sudah lama tidak tersentuh pun hanya bisa pasrah karena hasratnya sudah menggebu, ia melupakan sejenak statusnya sebagai suami orang.
Akhirnya Thalia dan Bram melakukan hubungan terlarang dengan sangat panas dan bergairah, Thalia merasa puas karena sudah membuat Bram jatuh ke pelukannya lagi.
__ADS_1
"Akhirnya... you be mine baby, jangan sok acuh jika akhirnya patuh," batin Thalia dengan perasaan bahagia karena puas akan permainan panasnya dengan Bram.