
Diam-diam Deo mengikuti Bram hingga akhirnya tiba di sebuah villa pribadi keluarga Bram.
"Bener dugaanku jika dia kesini liburan sama kekasihnya," gumam Deo sedikit kecewa karena pengintaiannya membuahkan rasa kecewa karena niat hati mau mampir jadi batal.
Deo ingin putar balik pulang ke rumah langsung terhenti ketika tau Bram turun dari mobil dan membopong Felicia menuju villa.
"Loh itu bukan Thalia.. apa mereka sudah putus lalu Bram punya cewek baru? tapi kok gue lihat beberapa hari yang lalu Thalia posting sedang jalan dengan Bram?? gila.. gila. Bram diam-diam menyabet dua cewek sekaligus.. gokil," gumam Deo tak percaya dengan temannya itu lalu menelfon Bram.
Drrt.. drrtt.. Dering hp Bram.
"Hai Deo, apa kabar? tumben telfon gue sore-sore gini," sapa Bram duduk di sebelah ranjang Felicia.
"Memang gak boleh nelfon sore? takut ganggu honeymoon loe ya haha ini masih sore bro sabar sedikit lagian cewek barumu lagi tidur," goda Deo sambil terkekeh.
"Ma..maksudnya?" tanya Bram kaget kenapa Deo bisa tau dia disini.
"Keluar sekarang gue di depan villa, tadi gue gak sengaja liat mobilmu lewat jadinya gue ikutin deh buat pastiin itu loe apa bukan dan ternyata bener. Sayangnya loe kesini bawa cewek, coba kalau sendirian udah gue samperin langsung," jawab Deo mengejutkan Bram.
"Aa..apa? sejak kapan loe ikutin gue?" tanya Bram syok.
"Ya tadi waktu loe masuk gapura komplek, loe tau kan di kiri jalan ada pembangunan villa baru? Nah itu proyek gue dan kebetulan gue lagi meninjau langsung," ucap Deo dengan bangga.
"Wah proyeknya makin top cer nih sampai di skala villa elite," goda Bram menyembunyikan rasa gugupnya.
"Ahh itu juga ada campur tangan loe kok yang waktu itu merekomendasikan gue sebagai perencana villa dan kini baru goal, gue yang harusnya berterima kasih," ucap Deo merendah.
"Itu memang sudah rezekimu. Ngomong-ngomong gue kebagian apa nih?" goda Bram.
"Santai aja bro apa sekarang kita ke club? Mumpung cewekmu lagi tidur," ajak Deo antusias.
"Jangan sekaranglah gue capek nih habis perjalanan jauh. Kalau besok gimana?" usul Bram.
"Ya udah loe istirahat dulu sana jangan lupa ntar malam tancap gas," goda Deo.
"Sialan.. Yaudah gue bersih-bersih dulu bro.. see you tomorrow," ucap Bram lalu mematikan panggilan.
__ADS_1
"Fyuh untungnya yang tau itu Deo jadinya gue dengan gampang bohongi dia.. Niatnya mau liburan ada aja hambatannya, kenapa sih selalu bertemu dengan orang-orang yang gue kenal," gerutu Bram lalu pergi ke kamar mandi membersihkan badan.
"Bener-bener gokil, cowok tampan dan tajir mah selalu beruntung hidupnya, mau cewek model gimana pun tinggal tunjuk, eh tapi Bram bukan tajir sih tapi kelewat tajirrr, harta keluarganya untuk 10 keturunan pun ga bakalan habis, enak bener jadi Bram. Crazy rich dari lahir," Batin Deo lalu melajukan mobilnya.
Setelah mandi Bram turun ke bawah menyiapkan makan malam untuk Felicia. Ia sampai searching makanan apa yang bagus untuk ibu hamil karena ia ingin makanan yang di suguhkan bagus untuk bayi dan juga ibunya.
"Hmm.. sepertinya masak sup daging enak nih.. Tapi mana ada stok makanan di kulkas, mau gak mau gue beli dulu deh eh tapi nanti kalau Felicia bangun terus nyariin gimana?? Hmm pesen via online aja deh," gumam Bram lalu memesan sup daging dari sebuah resto ternama.
Sembari menunggu makanan datang, Bram membuat teh panas untuk menghangatkan badan.
30 menit berlalu kini makanannya sudah datang dan sudah siap untuk disantap. Kebetulan juga Felicia sudah bangun dan ikut duduk di meja makan.
"Kamu yang masak semua ini?" tanya Felicia tak percaya.
"Maunya begitu tapi sayangnya ini pesen via online. Stok di kulkas kosong, gue mau belanja takutnya ntar loe keburu bangun terus cariin gue," ucap Bram membuat Felicia kesal.
"Ngapain juga nyariin kayak anak kecil aja," jawab Felicia kesal.
"Ya siapa tau? Ini kan villa gue, gak mungkin dong loe tau seluk beluk serta rutenya," ucap Bram.
"Ya boleh juga tuh usulmu, good idea. Ntar gue suruh Deo buat merealisasikannya," Ucap Bram mengacungkan jempol.
"Astaga.. Bram bisa gak jangan bikin emosi sedetik aja?" pinta Felicia.
"Sejak kapan aku ini membuatmu selalu emosi?" tanya Bram heran.
"Setiap kita bertemu," jawab Felicia ketus.
"Iya kah?? kok aku gak merasa?" tanya Bram bingung.
"Karena loe manusia langka Bram," Jawab Felicia kesal.
"Ha?? apa maksudmu ngatain gue kayak gitu, wahh ngajak ribut nih," Ucap Bram tak terima.
"Memang loe itu manusia langka, bisa-bisanya jadi cowok gak peka, gimana perasaan cewekmu selama ini, bisa mati rasa dia," sindir Felicia.
__ADS_1
"Heiii kalau ngomong jangan asal ya, Thalia sangat mencintaiku, jadi jangan menuduhnya yang bukan-bukan," Ucap Bram kesal.
"Cinta padamu atau duitnya doang?" sindir Felicia dengan tersenyum kecut.
"Jangan asal tuduh deh, ketemu orangnya aja belum bisa-bisanya loe sok paling tau tentangnya, gue gak pernah mengurusi privasimu dan gue harap loe pun demikian, faham? mau dia sayang atau tidak biarkan jadi urusan gue nantinya, kita cukup menjalani semuanya dengan baik agar anak kita punya orang tua utuh," gertak Bram tak senang.
"Yayaya gitu doang sensi, ish.." jawab Felicia kesal.
"Gue gak suka privasi gue di usik," jawab Bram serius.
"Yaudah maaf, ganti topik deh, loe serius gak belanja buat kebutuhan kita besok?" tanya Felicia tak mau memperpanjang masalah.
"Enggak karena besok udah balik," Jawab Bram dengan cuek.
"Oh.. mending sekarang aja kita balik ngapain minggu besok?" tanya Felicia.
"Gak.. balik besok ya besok, lagian kalau gue nanti belanja buat stok di kulkas takutnya munazir dan keduanya nanti kalau loe bangun ntar nyariin gue," ucap Bram dengan enteng.
"Hmm ya juga sih ah tapi tetep aja gue gak akan nyariin. Kalau loe gak ada ya udah gue balik aja ke rumah," jawab Felicia tak mau kalah.
"Pulang naik apa?" tanya Bram.
" Ojek online lah gitu kok repot," jawab Fekicia tak kehabisan akal.
"Haha coba aja kalau bisa emang loe tau ini alamatnya dimana?" ejek Bram dan sukses membuat Felicia diam seribu bahasa.
"Tuh kan malah diem. Makanya jangan sok-sokan bisa handle sendiri. Udah yuk makan nanti keburu dingin," ajak Bram lalu mereka makan dalam diam dan menikmati momen berduaan.
"Momen seperti ini yang gue inginkan, momen dimana gak ada orang lain yang ikut campur dalam masalah kita. Gue memang belum mencintaimu tapi setidaknya gue merasa nyaman di dekat kalian," batin Bram menatap Felicia sekilas lalu kembali makan.
"Kenapa gue nyaman banget di situasi seperti ini," batin Felicia sambil melirik Bram yang fokus makan.
Keduanya sama-sama sudah mulai nyaman namun belum ada rasa cinta.. Akankah nantinya perasaan mereka berlabuh??
Simak terus setiap episodenya ya biar author makin semangat menulis novelnya.. jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komen, vote.
__ADS_1