
Pandu dan juga Felicia kini sudah berada di City Mall Indonesia untuk menonton bioskop.
"Sayang mau nonton apa?," tanya Felicia sembari melihat jadwal film yang tayang.
"Terserah kamu aja," jawab Pandu datar dan membuat Felicia sedikit kesal namun segera di tepis karena tidak mau merusak momen bahagia ini.
"Yaudah ini aja," jawab Felicia sedikit kesal.
Ketika didalam bioskop lagi-lagi Pandu hanya diam membisu. Felicia sudah melakukan berbagai kode agar Pandu meliriknya, namun sayang usahanya gagal dan Pandu tetap fokus menonton.
"Pandu kenapa sih aneh banget, tadi aja care banget kenapa sekarang dingin kayak es batu.. dasar aneh," batin Felicia kesal.
Hingga film selesai pun Pandu tetap diam dan tidak sadar, lalu Felicia mencubit pelan lengan Pandu hingga akhirnya dia langsung mengajak pulang Felicia.
"Sayang.. ini sudah selesai filmnya," ucap Felicia mencubit pelan lengan Pandu.
"Eh.. udah selesai? yaudah pulang yuk," ajak Pandu lalu berjalan keluar tanpa menghiraukan Felicia.
"Astaga dia ninggalin gue? fixs ini ada yang gak beres," gumam Felicia sambil mengejar Pandu.
"Kamu jalan lambat banget sih," cecar Pandu tanpa menoleh.
"Apa?? kamu mungkin yang jalannya terburu-buru sampai aku di tinggalin, film udah selesai aja sampai gak sadar gitu, ada apa sebenarnya?" tanya Felicia kesal.
"Gak.. gak ada apa-apa kok," bantah Pandu datar.
"Kalau gak ada apa-apa kenapa kamu aneh begini? tadi aja peduli sekarang dingin gitu.. kamu aneh," protes Felicia menghentakkan kaki.
"Maaf ya sayang, yaudah makan dulu yuk laper nih," ucap Pandu lalu menggandeng Felicia ke restoran.
Di restoran Seafood.
"Kamu pesan apa sayang?," tanya Pandu.
"Hmm apa ya? calamarie aja deh minumnya air mineral," jawab Felicia masih kesal.
"Yaudah kalau gitu, mbak ini pesannya Calamarie 1, air mineral 2, Kepiting saos padang dan nasi 1 porsi," ucap Pandu sambil menyerahkan buku menu.
30 menit berlalu mereka hanya diam dan berkutat dengan ponsel masing-masing.
"Dasar aneh tadi tiba-tiba care, minta maaf, dingin eh ini balik lagi, kenapa sih dia?" gumam Felicia kesal.
"Apa maksud omongan papahnya Felicia ya? apa jangan-jangan mereka mau menjodohkan Felicia? tapi kalau iya kenapa gak terus terang? ahh pusing," batin Pandu mengusap wajah kasar.
Dan akhirnya pesanan mereka datang lalu mereka makan dalam diam.
Setelah selesai makan mereka memutuskan untuk pulang dan Pandu lagi-lagi meninggalkan Felicia seorang diri.
"Astaga kayak gini lagi? gue fikir dia pulang bisa membuat moodku jadi baik tapi malah bertambah buruk," gerutu Felicia cemberut.
__ADS_1
"Ayo pulang," teriak Pandu menoleh ke belakang.
"Sabar dong jalanmu aja cepet gitu, gue capek," rengek Felicia.
"Gak usah kayak anak kecil gitu deh," cecar Pandu spontan dan langsung membuat Felicia terkejut.
"A..apa? yaudah kalau emang menurutmu gue berisik dan kayak anak kecil, ok fine hue balik duluan aja naik taxi, thanks for today baby," jawab Felicia penuh penekanan.
"Maaf sayang bukan gitu maksudnya," ucap Pandu gelisah karena sudah membuat Felicia marah.
"Lepasin atau gue teriak minta tolong disini," ancam Felicia lalu menepis kasar cekalan Pandu.
"Please jangan ngambek sayang sory tadi aku kefikiran sesuatu," ucap Pandu memohon.
"Kalau ada apa-apa itu NGOMONG.. jangan malah di lampiasin ke aku. gue gak tau apapun tapi kena getahnya, aku udah badmood," jawab Felicia lalu meninggalkan Pandu.
"Maafin gue," gumam Pandu sembari melihat kepergian Felicia.
Felicia sudah berada di depan Mall lalu menoleh ke belakang, berharap Pandu mengejarnya namun nyatanya itu hanya fikirannya saja. Pandu memang berubah.
Lalu akhirnya Felicia naik taxi.
"Gue kecewa, kenapa harus gue yang kena getahnya.. kalau gak mau ketemu atau pun ngajak jalan ya jangan kesini, gue gak minta, loe dateng kesini secara tiba-tiba dan perubahan sikapmu pun juga tiba-tiba," batin Felicia meneteskan air mata di dalam taxi.
Di satu sisi Pandu berjalan gontai dan segera masuk ke mobil. Ia merasa bersalah karena sudah melampiaskan kekesalannya pada sang kekasih. Harusnya ia menanyakan langsung pada Papahnya Felicia bukan malah memarahi anaknya.
"Maafin gue Fel.. ini semua karena ucapan Papahmu yang tiba-tiba bilang kalau nantinya hamil di luar nikah lah, berjodoh sama temen deket lah, Ahhhh," gumam Pandu dari dalam mobil sambil memukul stir.
Drrt.. drrt.. Dering hp Felicia.
"Mau sampai seribu kali pun kamu telfon gak akan aku angkat, sikapmu tadi terlalu menyakitkan untukku, baru kali ini kamu gertak aku di depan umum, sedih campur malu Ndu.. kamu menyadarinya gak?" guman Felicia menatap jendela mobil.
"Kenapa gak diangkat sih? dia dimana sekarang? udah sampai rumah atau dimana? aduhh kenapa bikin khawatir sih,harusnya gue lebih sabar dan jangan menunjukkan sikap kayak tadi, gue bisa jamin pasti dia marah besar," gumam Pandu mengusap wajahnya kasar sambil menengok kanan kiri siapa tau ada sang kekasih.
Setelah cukup lama mencari keberadaan Felicia namun tidak membuahkan hasil apapun.
"Baby where are you now?," gumam Pandu sambil memijat pelipis dan cemas.
Felicia sudah tiba di Mansion dan langsung masuk ke kamar.
Felicia terus menerus menangis sebagai pelampiasan ungkapan dihatinya lalu menyetel musik.
-Terlanjur Mencinta-
Aku tlah tahu kita memang tak mungkin...
Tapi mengapa kita selalu bertemu..
Aku tlah tahu hati ini harus menghindar..
__ADS_1
Namun kenyataan ku tak bisa
Maafkan aku terlanjur mencinta
Senyuman itu
Hanyalah menunda luka
Yang tak pernah ku duga
Dan bila akhirnya kau harus dengannya
Mengapa kau dekati aku
Kau membuat semuanya indah
Seolah takkan terpisah
Aku tlah tahu kita memang tak mungkin
Tapi mengapa kita selalu bertemu
Aku tlah tahu hati ini harus menghindar
Namun kenyataan ku tak bisa
Maafkan aku terlanjur mencinta
Bila memang hatimu untuk aku
Salahkah ku berharap
Berharap kau memilih diriku cinta
Tapi mengapa kita selalu bertemu
Aku tlah tahu hati ini harus menghindar
Namun kenyataan ku tak bisa
Maafkan aku terlanjur mencinta
Aku tlah tahu kita memang tak mungkin
Tapi mengapa kita selalu bertemu dan bertemu
Aku tlah tahu hati ini harus menghindar
Namun kenyataan ku tak bisa
__ADS_1
Maafkan aku terlanjur mencinta
Ternyata hati tak sanggup melupa