PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 65-Romantic momen


__ADS_3

Kini mereka tiba di Villa.


"Bi tolong segera siapkan makan malam ya, jika bahan-bahan di kulkas habis bisa beli dulu di supermaket depan. Gak perlu beli banyak karena kita disini hanya sampai besok." Pinta Felicia pada bibi Iin-ARTnya.


"Baik nyonya." Jawab Iin mengangguk paham.


"Ini uangnya bi. Kembaliannya ambil aja." Ucap Felicia menyerahkan 10 lembar warna merah pada bi Iin.


"Terima kasih banyak nyonya." Jawab bi Iin penuh syukur lalu bergegas menuju supermaket.


Di kamar utama~


"Fyuhh akhirnya bisa istirahat." Gumam Bram merebahkan badannya di kasur empuk.


"Bersih-bersih badan dulu Bram baru rebahan." Ucap Felicia sambil menghapus make up.


"Pegel banget badanku." Rengek Bram meliuk-liukan badan di kasur.


"Iya tapi tetep aja mandi dulu, udah aku siapin air panas, sana mandi." Perintah Felicia dan akhirnya Bram menuruti.


"Iyadeh bumil." Jawab Bram berjalan menuju kamar mandi.


"Ngeselin banget jadi orang, habis perjalanan jauh ya bersihin badan dulu dong, gini kan kasurnya kotor dan harus ganti sprei lagi." Gumam Felicia memanggil ART yang lain menyuruh ganti spreinya.


Kini mereka sudah selesai mandi dan rebahan bareng. Felicia ingin memejamkan mata namun tak bisa terpejam karena kefikiran tentang papahnya Pandu yang dengan teganya akan mencelakainya. Tanpa sadar air mata Felicia menetes, Bram melihat itu langsung penasaran.


"Kenapa nangis Fel?." Tanya Bram penasaran.


"Gak ada kok." Bantah Felicia.


"Jangan bohong, mana ada gak ada apa-apa bisa nangis." Desak Bram tak puas dengan jawaban istrinya.


"Memang gak ada apa-apa Bram mungkin efek kecapekan." Bantah Felicia menyeka air matanya.

__ADS_1


"Felicia Agnesia Attirmidzi Wijaya, saya mohon jangan berbohong." Ucap Bram mengangkat dagu Felicia dan mereka saling berhadapan dengan jarak yang dekat.


"Gak.. gakpapa kok." Bantah Felicia memalingkan wajah namun ditahan oleh Bram.


"Tolong jujur." Ucap Bram penuh penekanan.


"Papah..papahnya Pandu kenapa bisa setega itu denganku?? Memang aku menyembunyikan pernikahan dan kehamilan dari mereka tetapi apa harus pakai cara seperti ini? huhu.. Aku gak nyangka aja Bram." Ucap Felicia menangis tersedu.


"Sudahlah jangan kamu menangisi orang seperti dia, bokapnya aja bengis seperti itu bagaimana nanti dengan anaknya. Serahin ini semua pada kepolisian, kamu jangan terlalu banyak fikiran ya aku gak mau anak kita nantinya kenapa-napa." Ucap Bram sedikit kesal karena istrinya memikirkan orang lain hingga menangis.


"Tapi ini mengejutkan bagiku Bram, padahal papahnya kan tau kalau aku masih kekasih anaknya. Bagaimana nanti kalau anaknya sampai tau?." Tanya Felicia tersedu.


"Sudah aku bilang kan jangan kamu fikirkan, ini sudah resikonya atas apa yang kita sembunyikan. Masalah kita ini bukan masalah kecil, kalau pun nanti semuanya terungkap aku dan papah siap pasang badan melindungimu. Ini bukan seratus persen kesalahan kita." Ucap Bram setengah berteriak.


"Lalu ada siapa lagi dibalik ini Bram? Apa kamu mengetahui sesuatu?." Tanya Felicia penuh harap.


"Aku pun belum punya cukup bukti untuk menuduh seseorang, jadi aku harap kamu fokus saja sama kandunganmu. Biar masalah ini aku yang handle." Ucap Bram tak mau mengakui.


"Bram please katakan padaku." Pinta Felicia mengenggam kedua tangan Bram.


"Tapi.." Jawab Felicia terpotong oleh jari Bram yang menempel pada bibir Felicia mengisyaratkan untuk diam.


"Jangan ada kata tapi, aku tidak mau dengar bantahan. Ingat, sekarang aku ini suamimu." Ucap Bram berbisik di telinga Felicia lalu mereka saling menatap semakin dekat dan dekat, akhirnya Bram mencium bibir Felicia dengan lembut.


Merasa tidak mendapat penolakan, Bram semakin berani menyerang Felicia. Ia raba pa-yu-da-ra Felicia dengan gerakan perlahan hingga Felicia men-des-ah kenikmatan. Tak cuma sampai situ saja kini Bram sudah membuka pakaiannya dan juga Felicia hingga keduanya kini saling te-lan-jang bulat.


"Kamu siap?." Tanya Bram dengan suara berat menahan gejolak bi-rahi nya. Felicia hanya mengangguk pasrah karena sudah terbuai permainan Bram.


Kini mereka sudah melakukan penyatuan sebagaimana semestinya hubungan suami istri. Hingga 2 jam pertempuran kini keduanya sudah mencapai puncak, Bram menumpahkannya di dalam dan terkulai lemas di atas Felicia hingga tanpa sadar mereka tertidur.


Tok..tok..tok.. "tuan nyonya makan malamnya sudah siap." Ucap bi Iin mengetuk pintu hingga berulang kali.


"Ya bi habis ini kita turun." Teriak Felicia dari dalam kamar dengan suara serak karena habis bangun tidur.

__ADS_1


"Bram bangun dong berat nih." Ucap Felicia menggoyang tubuh Bram.


"Hmm?? Ada apa?." Tanya Bram masih mengantuk.


"Ayo makan malam." Ajak Felicia terus menggoyangkan tubuh Bram agar segera bangkit.


"Iya.. jangan digoyang terus nanti ada yang bangun, kamu siap menampungnya?." Goda Bram tersenyum puas.


"A..apa sih ihh gak mau, makanya bangun dong.. badanmu berat tau gak, kamu gak kasihan sama anakmu?." Protes Felicia manyun.


"Astaga maaf maaf." Jawab Bram bergegas bangun dan mengusap perut buncit Felicia.


"Maafin papah ya boy." Ucap Bram mengelus lembut perut Felicia.


"Aku mau mandi." Protes Felicia beranjak dari kasur namun tiba-tiba di bopong oleh Bram dan mereka mandi bersama sekaligus mengulang permainan sekali lagi.


"Kamu ini bener-bener." Gerutu Felicia setelah keduanya selesai mandi dan berpakaian.


"Kenapa?." Tanya Bram terkekeh.


"Ngeselin." Gerutu Felicia.


"Tapi bikin nagih." Jawab Bram usil.


"Jangan mulai ya, kasihan bi Iin udah capek-capek buatin makan malam." Ancam Felicia melotot tajam dan ingin keluar kamar namun dicegah oleh Bram.


"Tungguin suamimu dong." Ucap Bram merangkul pinggang Felicia dengan erat lalu mencium leher Felicia sekilas hingga menimbulkan tanda kepemilikan.


"Astaga Bram." Ucap Felicia sangat kesal.


"Maaf.. itu menjadi bukti kalau kamu sudah jadi istriku, setelah ini aku harap jangan lagi menyebut nama Pandu ketika sedang bersamaku, aku tidak menyukainya." Ucap Bram menatap lekat mata istrinya hingga membuat Felicia salah tingkah.


Kini mereka sudah berada di meja makan dan menyantap makanannya dengan nikmat karena tidak ada gangguan siapapun.

__ADS_1


Bram berharap kejadian penyatuan tadi bisa membuat Felicia sedikit melupakan Pandu di hidupnya karena mau bagaimana pun kini mereka sudah suami istri. Tidak seharusnya Felicia masih memiliki hubungan dengan Pandu.


"Jika mengingatmu sampai menangis gara-gara keluarganya Pandu membuatku seketika murka, ingin sekali aku menemui keluarga kekasihmu itu dan membuat perhitungan. Apa dia tidak memikirkan seribu kali siapa yang ia buat musuh. Dasar keluarga bengis.. Mau tau faktanya ya temui orangnya bukan menerornya seperti itu, cara yang pengecut." Batin Bram geram dan mengepalkan tangan.


__ADS_2