PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 22- Orang tua Felicia siuman


__ADS_3

Setelah 6 jam di ruangan operasi kini Soetanoe dan Vina sudah dipindahkan di ruang VVIP.


"Operasi untuk pak Tanoe dan juga ibu Vina berjalan dengan lancar, tinggal menunggu beberapa jam lagi mereka akan siuman," ucap Dokter menjelaskan.


"Syukurlah Dok.. ini mereka lagi istirahat?" tanya Wijaya dengan polosnya.


"Haha bukan pak mereka sedang di dalam efek obat bius, tadi operasi yang di lakukan sangat riskan jadinya kami membius total," jawab Dokter terkekeh.


"Ohh.. maaf dok saya tidak tahu, terima kasih banyak, untuk Felicia bagaimana?" tanya Wijaya penasaran.


"Untuk pasien atas nama Felicia memang sangat membutuhkan perawatan dan pengawasan khusus, jadi kami juga meminta doa kalian semua supaya kondisi Felicia lekas sembuh dan mampu melewati masa koma. tindakan medis jika tidak di imbangi dengan doa maka sia-sia," jawab dokter bijak.


"Baik dok kalau begitu terima kasih," ucap Wijaya menjabat tangan dokter.


"Sama-sama pak ini sudah menjadi tugas saya kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter dan berlalu pergi.


"Sekarang kita fokus pada kesembuhan Felicia, mamah merasa berdosa seumur hidup jika nanti ada apa-apa dengannya dan bayinya," ucap Wina khawatir.


"Jangan bilang begitu mah semuanya pasti akan baik-baik saja.. lebih baik sekarang kita fokus berdoa dan mengusahakan tindakan medis yang terbaik," ucap Wijaya menenangkan.


"Iya pah semoga semuanya segera membaik dan seperti sedia kala," jawab Wina sedikit tenang.


"Bram.." panggil Wijaya.


"Iya pah?" jawab Bram bingung.


"Kamu jaga Felicia dan pastikan dia semakin membaik setiap harinya, papah dan mamah yang akan menjaga orang tua Felicia," ucap Wijaya ketus.


"Kenapa harus aku?" gumam Bram tak terima.


"Masih mau membantah?" ucap Wijaya menatap tajam.


"Eng.. enggak pah yaudah Bram ke kamar sebelah dulu," jawab Bram pasrah dan berjalan ke kamar inap Felicia.


Ceklek.. suara pintu terbuka.


Bram duduk di sofa tamu dan memainkan ponselnya. Gak ada niatan dia untuk memulai komunikasi dengan Felicia apalagi dengan kondisinya yang sedang koma.


Tak berselang lama Hp Felicia berbunyi, awalnya Bram cuek namun suara dering ponsel Felicia menganggu aktivitasnya main game hingga akhirnya ia melihat siapa yang menelfon dan ia langsung terkejut ketika yang menelfon calon istrinya adalah Pandu.

__ADS_1


"Pandu? aduh gimana ini? gak mungkin aku memberitahu dia akan kondisi Felicia yang sedang koma, kalau pun dia tahu pasti dia langsung terbang kesini dan rahasia Felicia akan terbongkar, lebih baik aku kasih ke mamah," gumam Bram lalu berlari ke kamar sebelah.


"Ada apa kamu sampai lari begitu?" tanya Wijaya curiga.


"Pandu pah.. mah," jawab Bram dengan nafas ngos-ngosan.


"Kenapa dengan Pandu?" ucap Wijaya tak suka bertele-tele.


"Pandu menelfon Felicia dan Bram bingung harus gimana" jawab Bram kikuk.


"Astaga papah kira ada sesuatu dengan Felicia, yaudah angkat aja telfonnya dan beritahu jika temannya itu sedang koma di rumah sakit, gitu aja repot," ucap Wijaya enteng.


Ketika telfon Pandu akan diangkat tiba-tiba Pak Tanoe dan Vina siuman.


"Syukurlah anda sudah siuman, jangan banyak bergerak dulu karena luka kalian belum sembuh total," ucap Wijaya bernafas lega.


"Dimana putri dan istriku pak Wijaya?" tanya Soetanoe dengan suara lemah.


"Mereka aman dan selamat pak Tanoe, istri dan anak bapak bersebelahan kamar dengan anda," ucap Wijaya tenang.


"Syukurlah.. terima kasih sudah membantu kami," jawab Soetanoe lirih.


"Syukurlah jeng sudah siuman," ucap Wina bernafas lega.


"Kenapa saya hanya sendiri disini? dimana yang lainnya?" tanya Vina dengan suara lemah dan hendak bangun.


"Jangan banyak gerak dulu Jeng karena lukanya belum kering, jeng tenang saja, suami dan putrimu sudah di tangani sama dokter dan mereka ada di kamar bersebelahan denganmu," ucap Wina menenangkan.


"Apakah kandungan Felicia selamat?" tanya Vina lirih.


"Tidak hanya calon cucu kita tetapi semuanya selamat jeng, tinggal menunggu Felicia dalam proses pemulihan," jawab Wina sangat antusias.


"Syukurlah.. terima kasih calon besan," jawab Vina lega.


"Sama-sama jeng sebentar lagi kita akan menjadi keluarga, jadi sudah seharusnya saling membantu," ucap Wina bahagia.


"Saya boleh minta tolong jeng?" tanya Vina penuh harap.


"Boleh dong jeng.. apa?" tanya Wina.

__ADS_1


"Saya mau ketemu suami dan putriku sebentar saja," ucap Vina penuh harap.


"Maaf jeng tapi anda baru saja siuman, nanti lukanya yang masih basah malah semakin lebar dan infeksi," ucap Wina menasehati.


"Tapi aku belum tenang kalau belum melihat langsung," jawab Vina dengan suara parau.


"Begini saja saya video call suami dan anak saya, kebetulan mereka yang menjaga mereka," usul Wina dan dijawab anggukan kepala oleh Vina.


Drrt.. Drrt.. Dering hp Wijaya.


"Halo kenapa video call mah?" tanya Wijaya penasaran.


"Ini lho pah, jeng Vina udah siuman dan dia mau ketemu suami serta anaknya, berhubung luka habis operasi belum kering jadi mamah gak kasih izin terus inisiatif buat video call papah sama Bram" ucap Weny dengan tenang.


"Iya bener usulmu.. pak Tanoe kebetulan juga sudah siuman mah, nih," ucap Wijaya memberikan hp ke pak Tanoe.


"Ini jeng suaminya," ucap Wina meminjamkan hpnya.


"Pah.. syukurlah papah sudah sadar, mamah jadi lega bisa melihat secara langsung meskipun via video call," ucap Wina penuh haru.


"Iya mah.. papah juga bersyukur bisa melihat mamah lagi, ini semua juga berkat pak Wijaya yang sudah menolong kita tanpa pamrih," ucap Soetanoe meneteskan air mata.


"Iya pah kita hutang budi sama keluarga pak Wijaya, mamah mau ketemu Felicia," pinta Wina penuh harap.


"Sabar dulu besok kita jenguk putri kita, sekarang kita fokus perbanyak istirahat supaya lukanya cukup kering," ucap Soetanoe membujuk.


"Tapi mamah gak tenang," jawab Wina cemas.


"Kita percayakan ssemua pada dokter.. kata pak Wijaya kondisi putri kita dan anaknya baik-baik saja, ada Bram yang menjaga anak kita, biarkan mereka semakin dekat," ucap Soetanoe menenangkan.


"Yaudah pah," jawab Wina pasrah.


"Yaudah mamah istirahat dulu yang cukup supaya besok cepat pulih, papah mau ngobrol sama pak Wijaya," ucap Soetanoe dan dijawab anggukan kepala oleh Wina lalu panggilan terputus.


"Terima kasih jeng setidaknya saya sedikit lega sudah tahu langsung kondisi suamiku," ucap Wina tersenyum lega.


"Sama-sama jeng, saya mengerti dan faham betul bagaimana rasanya ketika anak dan suami sama-sama dirawat, kalau tidak tahu langsung rasanya memang kurang," Ucap Vina memberi pengertian.


"Iya jeng.. terima kasih juga sudah menolong saya dan menjaga saya ketika masuk ruang UGD sampai di ruang rawat inap, kami berhutang budi sama keluarga kalian," ucap Wina tak enak hati.

__ADS_1


"Sstt.. jeng ngomong apa sih? kita ini mau besanan, jadi ya gak ada namanya hutang budi, udah sekarang banyak istirahat biar besok bisa jenguk Felicia dan calon cucu," ucap Vina tulus.


__ADS_2