PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 57-Felicia di teror (2)


__ADS_3

Lalu Bram masuk ke dalam villa dan mencari keberadaan Felicia.


"Fel.. Felicia ini gue Bram. Loe dimana?" teriak Bram menatap seluruh penjuru ruang namun hanya keheningan yang di dapat.


Drrt.. drrt.. dering hp Felicia.


Lalu Bram mendengarkan secara cermat dimana asal suara hp Felicia dan akhirnya tertuju di kamar.


"Dia dikamar?? Tadi peneror juga tujuan utamanya disini. Darimana dia bisa tau letak Felicia?? Mencurigakan," gumam Bram lalu masuk ke dalam kamar dan mendapati Felicia menangis dibawah meja rias dengan posisi duduk memeluk lutut.


"Fel.." sapa Bram lembut dan Felicia mendongakkan kepalanya lalu memeluk Bram sangat erat.


"Bram... huhuhu.. loe kemana aja?? gue takut," tanya Felicia lirih.


"Maaf jika gue datang terlambat. Gue menyesal ninggalin loe sendirian disini," ucap Bram memeluk erat Felicia lalu mengusap punggung.


"Gue takut Bram.. takutttt sekali," rengek Felicia dengan suara terisak.


"I know.. sory Fel," jawab Bram membenamkan wajahnya di pundak Felicia.


Ketika Felicia sudah mulai tenang, Bram menyuruh Felicia duduk di sisi ranjang.


"Duduklah dulu disini gue mau buatin cokelat panas," ucap Bram menuntun Felicia duduk dan akan berlalu pergi.


"Dont leave me, Bram," pinta Felicia dengan air mata menetes.


"Just a minute, gue hanya buatin cokelat panas," ucap Bram lembut lalu berjalan menuju dapur namun Felicia memeluknya dari belakang.


"Bram gue takut, jangan tinggalin gue sendiri," rengek Felicia memeluk Bram erat.


"Baiklah," jawab Bram pasrah lalu mereka duduk bersama di sisi ranjang.


"Gue takut.. takut sekali," rengek Felicia menutup mata.


"Sudah ada gue disini, jadi jangan takut lagi ya. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Bram penuh perhatian.


"Gue juga bingung Bram.. ketika masuk kamar tiba-tiba ada yang gedor-gedor jendela kenceng banget. Dan tak hanya itu saja ketika gue teriak mau telfon polisi dia malah menodongkan pistol. Sempat ada suara tembakan 2x entah itu ia arahkan kemana, gue jadi tambah takut Bram.. Apa salah gue sampai ada yang teror gue gini?" tanya Felicia menangis terisak.

__ADS_1


"Tenang Fel sekarang udah ada gue disini dan peneror itu udah di ringkus polisi, kita tinggal menunggu info selanjutnya," ucap Bram menenangkan.


"Be..benarkah Bram?? Sungguh?" tanya Felicia memastikan.


"Benar Fel.. Sekarang kamu gak perlu khawatir lagi ya," ucap Bram dengan lembut dan Felicia hanya mengangguk patuh.


"Sebenarnya siapa dalang di balik semua ini?? Anehnya kenapa dia tau posisi gue dan Felicia sedang di puncak, padahal kode akses udah gue buat seaman mungkin.. Pasti ini bukan orang sembarangan. Semoga pak polisi cepat mengetahui motifnya," gumam Bram dengan wajah bingung.


"Kenapa Bram?" tanya Felicia heran.


"Kamu ngerasa aneh gak?? Posisi kita disini gak ada yang mengetahuinya tapi kenapa tiba-tiba ada yang meneror," ucap Bram meminta pendapat.


"Iya bener feelingmu. Gue pun juga merasakan yang sama Bram, apalagi dia dengan mudahnya mengetahui posisiku di kamar, apa jangan-jangan ini ulahmu ya?" tanya Felicia menuduh.


"Loe nuduh gue?" tanya Bram tak percaya.


"Iyalah.. Loe tadi dengan angkuhnya bilang kalau semua akan aman-aman saja dan kode akses loe yang pegang, tapi apa? Baru bilang gitu langsung ada yang teror gue dan todongin pistol. Darimana dia tau posisi gue kalau bukan loe yang kasih tau, ha?" Cecar Felicia geram.


"Astaga.. Tuduhanmu receh sekali Fel, loe fikir gue main-main dengan ini? Gue aja gak tau dan kaget kenapa bisa ada penyusup masuk dengan mudahnya. Kalau itu ulah gue ngapain penyusup itu gue hajar habis-habisan terus gue bawa ke polisi, mikir dong," ucap Bram kesal.


"Ya siapa tau loe akting," jawab Felicia tersenyum sinis.


"Lalu siapa pelakunya?? Makanya jangan sok-sokan menjamin jika semuanya akan aman kalau akhirnya kayak gini, gue ini lagi hamil malah dapet teror sedemikian menakutkannya, kalau tadi ada apa-apa sama kandungan gue gimana?? ha?" gertak Felicia sangat emosi.


"Tapi semua ini diluar kendali gue.. Jadi jangan seratus persen salahin gue dong. Nyatanya kandunganmu baik-baik saja kan?" tanya Bram kesal.


"IYA UNTUNGNYA BEGITU COBA KALAU ADA APA-A..." ucap Felicia terpotong dan merintih kesakitan.


"Fel.. loe kenapa?" tanya Bram panik.


"Aw.. perut gue sakit Bram. Sa..sakit ba..nget," rintih Felicia kesakitan sambil memegang perutnya.


"Aduh.. loe sih pakai acara bahas kandungan segala, tuh anakmu berontak kan. Makanya jangan apa-apa salahin gue dong," ucap Bram kesal.


"GUE LAGI KESAKITAN BRAM JADI STOP BERADU ARGUMEN," bentak Felicia melotot tajam.


"Fyuh.. sorry.. mana yang sakit," ucap Bram mengalah dan Felicia menunjuk perutnya.

__ADS_1


"Sa..sakit huhuhu," rengek Felicia.


"Jangan merengek terus dong gue jadi bingung nih," ucap Bram kebingungan.


"Makanya ambil tindakan dong," ucap Felicia ketus lalu Bram mengusap perut Felicia dengan lembut.


"Tarik nafas.. buang nafas.. coba begitu terus tiga kali dan lakukan perlahan ya," perintah Bram dengan lembut lalu mereka melakukannya bersama sambil perut Felicia di usap-usap oleh Bram dengan lembut. Ajaibnya sakit yang dirasa langsung hilang.


"Anak Papah sayang, jagoan papah jangan nakal ya di perut mamah. Kasihan mamah kesakitan, jadi anak yang baik dan nurut ya boy," ucap Bram dengan lembut sambil terus mengusap perut Felicia.


"Bram.." sapa Felicia lirih.


"Ya Fel?" jawab Bram heran.


"Thanks," Ucap Felicia tersenyum manis.


"For what?" tanya Bram bingung.


"Usapanmu di perut membuat hilang rasa sakitnya. Thanks papahnya anakku," jawab Felicia bahagia.


"I..iya Fel. Syukurlah kalau udah sembuh," ucap Bram dengan perasaan senang dan juga salah tingkah.


"The power of ucapan seorang papah pada anaknya," ucap Felicia tersipu malu dan Bram pun hanya senyum sambil perasaannya dag dig dug.


"Kenapa perasaan gue seperti ini? Apakah gue punya penyakit jantung? Oh tidak.. gue masih terlalu muda untuk penyakit itu dan jangan sampai deh soalnya gue mau punya baby," batin Bram memegang dadanya yang berdebar.


"Kamu kenapa? dadamu sakit?" tanya Felicia cemas.


"Eh.. gak kok gak papa. enggak kenapa napa," jawab Bram kikuk.


"Aneh banget.." gerutu Felicia kesal.


"Perasaan gue berdebar Fel.. Gue takut kalau kena jantung, gue ini masih muda dan juga tampan rupawan," ucap Bram sambil memegang dadanya.


"Haha mana ada serangan jantung, itu serangan jatuh cinta," ucap Felicia mengedipkan mata sambil tertawa lepas.


Bram yang melihat tawa lepas Felicia merasa senang dan nyaman.

__ADS_1


"Kapan lagi bisa menikmati momen seperti ini tanpa gangguan siapapun. Senyum lepasnya sangat mempesona," puji Bram dalam hati sambil menatap lekat Felicia.


__ADS_2