PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 78- Bram bimbang


__ADS_3

"I miss you so much mamah, pulang bareng-bareng yuk, kenapa mamah sibuk terus sih?" tanya Emil cemberut.


"Maaf ya sayang.. mamah juga pengen sekali pulang bareng dan tinggal bersama-sama lagi, namun papahmu sepertinya masih sakit hati dengan mamah dan kemungkinan pernikahan kami pun terancam kandas," batin Felicia memeluk Emil erat dan menangis.


"Mamah kenapa nangis terus sih?" protes Emil melepas pelukannya.


"Ayo pulang, kamu jangan gitu lagi ya boy, itu bahaya.. nanti kalau ada mobil lewat gimana?" ucap Bram serius.


"Maaf papah habisnya Emil kangen sama mamah, kenapa mamah gak mau pulang bareng?" tanya Emil kebingungan.


"Emil sayang.. nanti kalau semua urusan mamah dan papah telah selesai pasti mamah pulang, Emil sama papah dulu ya, jadi anak yang baik dan nurut ya," pinta Felicia mengusap rambut Emil lembut.


"Tapi kenapa mamah gak pulang?" protes Emil tak suka dan cemberut.


"Emil denger kan kalau mamah masih ada urusan? jadi biarkan mamah menyelesaikan urusannya dulu ya, nanti pulang kok, ayo kita pulang boy," ajak Bram menggendong Emil.


"Baiklah.. bye mamah.." pamit Emil melambaikan tangan dengan wajah sedih.


"Bye sayang.. jadi anak yang baik ya," teriak Felicia juga melambaikan tangan.


"Memang ini hukuman yang pantas untukku, benar apa kata Bram.. kalau aku memang ibu yang baik pasti aku tidak akan tega menelantarkan Emil demi cinta masa lalu, aku memang ibu yang kejam.

__ADS_1


Bram.. sampai kapan kita seperti ini? aku sedih dan merasa kesepian gak ada kalian," batin Felicia melihat kepergian Bram dan juga Emil.


"Aku belum bisa memaafkanmu, aku tidak bisa menerimamu kembali jika masih ada cinta masa lalu bersemi di hatimu," batin Bram sambil menyetir dengan fokus.


"Papah.. aku rindu sama mamah" ucap Emil mengigau karena posisinya tertidur.


"Maafkan papah ya boy karena sudah memisahkan kalian, andai mamahmu tidak menelantarkanmu pasti papah bisa memakluminya dengan lapang dada jika mamahmu masih mencintai kekasih masa lalunya," gumam Bram sedih.


Sampai di mansion, Emil langsung dibawa oleh baby sitternya ke kamar dan kini Bram berada di kolam renang untuk menenangkan fikiran.


"Bram.. apa yang menganggu fikiranmu di siang hari gini?" tanya Wijaya duduk di kursi pinggir kolam renang.


"Gak ada.. kebetulan cuacanya panas jadi kalau dibuat renang pasti segar," ucap Bram berbohong sambil duduk bersebelahan dengan Wijaya.


"Terserah apa fikiran papah saja," Jawab Bram malas debat.


"Papah tau kalau kamu tidak sengaja bertemu dengan istrimu, sampai kapan kamu akan terus menggantungnya seperti ini? kasihan dia," tanya Wijaya serius.


"I dont know.. kesalahan dia sangat fatal pah, aku masih bisa menerima jika dia belum ada rasa apapun terhadapku, namun dia dengan sengaja menelantarkan putranya sendiri demi mengejar cinta masa lalunya, itu yang membuat Bram belum bisa memaafkan," ucap Bram kesal.


"Papah tau.. memang kesalahan istrimu sulit di maafkan, namun ingatlah diantara kalian sudah ada anak, dia membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya, hilangkan sedikit ego mu," ucap Wijaya menasehati.

__ADS_1


"Emil cukup mendapatkan kasih sayangku saja karena kasih sayangku utuh untuknya, tidak seperti mamahnya yang masih gila dengan cinta masa lalunya. Bram bisa mengurus Emil dengan sangat baik bahkan masa depannya pun terjamin, apapun yang Emil mau sanggup Bram turuti, jadi Bram fikir tidak perlu campur tangan Felicia di kehidupan Emil," ucap Bram angkuh.


"Tidak semudah itu ferguso.. kamu bisa dengan entengnya bicara seperti itu, tapi apa kamu tidak mengkhawatirkan psikis anakmu? dalam relung hatinya ia pasti merindukan mamahnya, menjadi orang tua tunggal tidaklah mudah," ucap Wijaya sedikit kesal dengan Bram.


"Nyatanya sampai sekrang bisa kan Bram menjalankannya seorang diri? nyatanya Felicia hanya pasrah ketika Bram pisahkan dengan Emil, jika dia ibu yang baik harusnya berusaha lebih keras untuk mengambil alih Emil dan merawatnya, bukan malah diam dan pasrah. Dari situ Bram sudah yakin jika Felicia saja tidak sepenuhnya mencintai Emil, masih ada Pandu di hidupnya pah.. itu penghalangnya, dia masih cinta dan berharap sama Pandu, makanya sampai gila mengejar Pandu," ucap Bram emosi.


"Itu tandanya kamu cemburu dan sudah ada rasa sama istrimu," ucap Wijaya.


"Memang.. Bram tidak munafik kalau sekarang sudah mencintai Felicia dan Bram sudah mengatakannya di hari dimana Emil lahir ke dunia, Bram juga sudah mencoba berbicara dengannya untuk memulai lembaran baru dan memulai semuanya dari awal, tapi apa papah tau dia menjawab apa? dia gak mau pah.. ya karena itu, dia masih berharap penuh sama Pandu. Itu yang membuat Bram hingga detik ini sulit memaafkannya.. sakit rasanya, sakit.. apalagi harga diri Bram terasa di injak-injak ketika Felicia dengan mudahnya bilang pada Pandu jika ia tidak mencintaiku dan sedang proses cerai, padahal posisi waktu itu hubungan kami baik-baik saja pah.. Felicia sendiri yang menginginkan pernikahan ini berakhir, keinginannya jauh sebelum ia ketahuan berduaan dengan Pandu, apakah kesalahannya itu bisa Bram maafkan dengan mudahnya?" ucap Bram dengan mata memerah.


"I know.. sekarang papah jadi tau mengapa kamu sulit membuka kesempatan untuk istrimu, papah bisa merasakan betapa sakit hatimu, sekarang papah serahkan semuanya denganmu bagaimana kelanjutan pernikahan kalian ke depannya, tapi papah masih berharap jika pernikahan kalian bisa membaik lalu kalian sama-sama saling mencintai dan merawat Emil dengan kompak, papah gak tega melihat Emil seperti ini, ia tidak tahu apapun tetapi ia yang menjadi korban atas keegoisan kalian, papah harap padamu, kembali dengan Felicia dan beri kesempatan lagi, jika kamu masih membencinya setidaknya fokuslah pada Emil, dia masih terlalu kecil untuk menerima semua ini Bram.." ucap Wijaya memohon.


"Berikan Bram waktu untuk memikirkan ini semuanya pah.. Memang terkadang Bram kasihan sama Emil, dia masih kecil, masih lucu-lucunya tetapi dia harus menerima keadaan orang tuanya berpisah, memang Emil masih terlalu kecil menerima semua ini tapi biarkan Bram berfikir lagi bagaimana nasib pernikahan kami ke depannya, Bram mohon... ini bukan keputusan yang mudah," pinta Bram memohon.


"Baiklah.. papah tidak akan memaksamu untuk memutuskannya sekarang, semoga apapun hasilnya nanti itu yang terbaik untuk pernikahan kalian, kalau begitu papah pergi dulu, fikirkan baik-baik," ucap Wijaya menepuk pelan bahu Bram dan berlalu pergi.


"Fikirkan baik-baik semoga ini keputusan yang terbaik untuk pernikahan kalian," batin Bram kembali mengingat perkataan Wijaya.


"Keputusan yang sangat membingungkan.. jika pernikahan ini berakhir maka Emil yang akan menjadi korban dan pastinya ia kehilangan separuh kasih sayang orang tuanya.. namun jika aku memaafkannya, apakah mungkin Felicia berubah? cinta masa lalunya saja sudah menggilakannya apalagi jika aku memaafkannya? bisa-bisa dia percaya diri dan mengira jika aku tak bisa hidup tanpannya.. ahhh pusing...


Feliciaaaaaa kenapa selalu saja kau menyusahkan hidupku? ketika perasaanku sudah terbuka untukmu kenapa kau membuat kesalahan fatal?" gumam Bram emosi lalu melempar gelas ke sembarang arah.

__ADS_1


"Pyar..." suara gelas pecah dan berserakan di lantai.


__ADS_2