
Roy-aspri Bram membungkuk hormat.
"Siang.. ada bapak kan di dalam?" tanya Felicia basa-basi.
"Mmm.. itu bu, bapak kebetulan sedang di luar," jawab Roy ragu-ragu.
"Pergi kemana? kenapa kamu yang disini?" tanya Felicia penasaran.
"Kurang tau bu soalnya tadi buru-buru, saya fikir ada something di mansion makanya saya gak berani tanya," ucap Roy hati-hati.
"Gak ada.. di rumah baik-baik saja, bisa tolong telfonkan suami saya tapi jangan bilang kalau saya kesini, saya mau tau dia pergi kemana," perintah Felicia.
"Tapi bu.." ucap Roy menggantung.
"Ada apa?? kenapa ketakutan begitu? ada rahasia apa yang kau sembunyikan, Roy?" tanya Felicia menatap tajam.
"Eng.. enggak ada bu, tidak ada.. saya telfon bapak dulu," ucap Roy gugup lalu menelfon bosnya.
"Halo pak.." ucap Roy lalu melihat ke arah Felicia yang menyuruh di loudspeaker.
"Halo.. ada apa Roy? saya ini lagi di jalan," ucap Bram dengan ketus.
"Ma.. maaf pak, saya mau tanya apakah anda sudah di perjalanan pulang?" tanya Roy gugup.
"Iya.. mungkin 10 menit lagi sampai, istri saya mau kesana jadi pastikan ia tidak mencurigai ini.. kalau nanti saya belum sampai tetapi istri saya sudah datang, bilang saja lagi ada pertemuan penting," ucap Bram memperingati.
"Ba..baik tuan," jawab Roy lalu Bram mematikan panggilan.
"Bagus.. jangan hanya bekerja untuk Bram saja, disini saya juga berwenang untuk memerintahmu.. mau kah kamu bekerja sama denganku, Roy?" tanya Felicia serius.
"Ma..maksudnya bagaimana bu?" tanya Roy tak mengerti.
"Saya curiga kepada Bram karena akhir-akhir ini ia bersikap aneh, tolong selidiki apa yang menganggu pikirannya dan beritahu padaku segera," perintah Felicia.
"Tapi bu.." jawab Roy terpotong.
"Saya tidak mau mendengar bantahan, tugasmu mudah Roy, tinggal selidiki saja dan beritahu segera, kan kemana pun Bram pergi selalu denganmu, jadi kemungkinan besar informasi yang di dapat semakin mudah," ucap Felicia serius.
"Baik bu akan saya usahakan," jawab Roy pasrah.
"Good.. setelah tugasmu selesai tak lupa akan saya kasih komisi, ini DP untukmu," ucap Felicia senang lalu menyerahkan sejumlah uang.
"Bu ini terlalu banyak untuk ukuran DP," ucap Roy tak enak hati.
"Tugasmu ini spesial Roy, ini menyangkut rumah tangga saya nantinya.. karena saya mencurigai satu wanita yang terus menggangu Bram," ucap Felicia menahan amarah.
"Baik bu.. akan saya usahakan hasilnya tidak mengecewakan anda," ucap Roy lalu menyembunyikan yang di saku celana.
Tak berselang lama Bram tiba di kantor dan terkejut dengan kedatangan istrinya.
"Aduh mati gue, kenapa dia yang datang duluan, Roy menjelaskannya bener gak ya?" batin Bram gelisah.
__ADS_1
"Akhirnya datang juga, kok tadi kita gak papasan di lift ya Bram? aku baru aja nyampe," ucap Felicia berbohong.
"I..iya kah?? wah kamu bawa apa sayang sepertinya enak sekali," ucap Bram mengalihkan obrolan.
"Ohh ini aku bawain makan siang untukmu, mumpung masih hangat nih," ucap Felicia menyerahkan kotak makan.
"Terima kasih istri ku yang cantik.. kebetulan sekali aku lapar," puji Bram.
"Mau aku suapin?" tanya Felicia.
"Tentu dong.." jawab Bram sumringah.
"Ehem.. maaf kalau saya menganggu waktunya, saya mau pamit keluar pak dan bu," ucap Roy dengan hati-hati.
"Astaga maaf Roy saya sampai lupa kalau masih ada kamu, yasudah sana kamu bisa istirahat juga," ucap Bram mengibaskan tangan.
"Gak makan bareng sekalian Roy?? saya bawain banyak loh?" tanya Felicia.
"Maaf bu gak usah, saya mau makan di luar saja kebetulan ada janji sama teman," alibi Roy lalu bergegas pergi.
"Mubazir dong Bram.." rengek Felicia.
"Nanti aku habiskan semua," jawab Bram sambil mengunyah.
"Ahh jangan aneh-aneh deh nanti kekenyangan," ucap Felicia tak suka.
"Kan kamu membawakannya penuh perjuangan sayang, masak iya aku sisain? ya harus di habisin dong," rayu Bram.
"Yaudah makan saja semua kalau perutmu muat," ucap Felicia pasrah.
"I know Bram.. ada sesuatu yang besar yang sedang kau sembunyikan dariku, tingkahmu seakan-akan menutupi rasa gelisahmu.. andai posisiku sedang tidak hamil besar, pastinya aku akan turun tangan menyelidiknya sendiri, semoga firasatku salah," batin Felicia menahan sesak di dada. ia takut jika Bram memiliki wanita lain.
"Fyuh.. setidaknya untuk hari ini aman lah, maafin gue ya Fel kalau mulai sekarang banyak berbohong padamu, ini demi keutuhan rumah tangga kita.. meskipun gue menuruti kemauan Thalia tapi setidaknya gue juga mencari celah agar segera mendapat bukti, perasaan ini terhadapmu tidak akan berubah, aku tetap mencintaimu.." batin Bram menatap istrinya dalam.
"Kenapa Bram?" tanya Felicia heran.
"Apanya yang kenapa?" tanya Bram.
"Kenapa ngeliatin aku sampai segitunya,apa ada yang salah?" tanya Felicia gelisah.
"Nothing.." jawab Bram tetap menatap Felicia.
"Lalu?" tanya Felicia bingung.
"Semakin lama aura kehamilanmu makin mempesona sayang, gak kerasa anak kita sudah mau dua dan kita semakin menua," ucap Bram dengan tulus.
"Ahh kamu ini merayu terus, seperti sedang menyembunyikan sesuatu," sindir Felicia hingga membuat Bram tersedak.
"Uhuk.. uhuk.. tolong ambilkan minum," pinta Bram sambil memegang tenggorokannya.
"Makanya kalau makan hati-hati dong, gak ada yang minta juga.." ucap Felicia menyodorkan segelas air putih.
__ADS_1
"Terima kasih sayang," jawab Bram lalu meminum air putih hingga habis.
"Tersedak apa memang haus bandel?" sindir Felicia meletakkan kembali gelas di meja.
"Keduanya sayang hehe," jawab Bram sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Yaudah lanjutin makannya, sebentar lagi aku mau pulang jemput Emil," perintah Felicia lalu Bram makan dengan cepat.
"Ya tapi jangan gitu juga," protes Felicia.
"Tadi bilangnya mau jemput Emil, ya makanku harus cepat dong biar gak telat," ucap Bram sambil mengunyah.
"Makannya di habisin dulu ah jangan makan sambil bicara, jorok," protes Felicia dan kini Bram sudah menghabiskan makan siangnya.
"Yuk jemput Emil," ajak Bram semangat.
"Loh kamu ikut?" tanya Felicia heran.
"Iya dong mumpung hari ini sedikit longgar, nanti setelah jemput Emil kita jalan-jalan," ucap Bram antusias.
"Tumben.. lagi banyak duit ya?" ejek Felicia.
"Heiii sejak kapan ya ada sejarahnya suamimu ini kekurangan duit?" tanya Bram kesal.
"Ya mana tau pernah," jawab Felicia terkekeh.
"Kamu selalu menghina kekayaanku sayang, apa kamu lupa jika perusahaanku tidak hanya di Indonesia melainkan di beberapa negara di dunia juga, apa itu belum cukup membuatmu jika suamimu ini kaya raya??" tanya Bram angkuh.
"Idih sombongnya.." ejek Felicia.
"Kamu sih pakai acara meremehkan segala, apa kurang kartu kredit yang limited edition itu?? itu kartu kredit tanpa batas jumlahnya loh," ucap Bram sombong.
"I know Bram.. aku dulu juga punya, dikasih papah waktu sweet seventeen," ucap Felicia tak mau kalah.
"Kok gak pernah di pakai?" tanya Bram heran.
"For what?? sekarang aku ini istrimu, kewajibanmu dong untuk memenuhi kebutuhanku dan juga anak-anak, masak tiap aku mau beli apa-apa pakai kartu kredit pemberian papah.. trus uangmu buat apa?" tantang Felicia.
"Ya memang semua kebutuhanmu itu tanggung jawabku begitu pun anak-anak, masak iya setelah menikah gak pernah sekalipun kamu pakai? mending kembalikan aja," ucap Bram heran.
"Ya gak pernah, ini untuk invetasi darurat," ucap Felicia mengejutkan Bram.
"Maksudnya?? semua kesehatan kalian udah aku cover di asuransi," ucap Bram.
"Bukan itu.. Ya namanya musibah siapa yang tau, di luar sana pasti banyak yang menggodamu, jadi aku hanya antisipasi saja jika kamu tergoda setidaknya aku gak berharap penuh padamu, masih ada papah yang siap menerima aku dan juga anak-anak dengan tangan terbuka apalagi kartu kreditnya bisa aku gunain untuk kebutuhan hidup sehari-hari," sindir Felicia.
"Kamu ngomong apa sih sayang kenapa ngelantur gitu, aku gak suka ya kamu bahas di luar topik.. Aku tau omonganmu barusan itu menyindir," ucap Bram ketus.
"Tidak ada yang menyindir, jika kamu merasa berarti memang kamu sedang begitu," ucapan Felicia menjebak.
"Gak.." tolak Bram tegas lalu melihat handpone karena berulang kali ada yang memanggilnya.
__ADS_1
"Siapa yang menelfon? kenapa wajahnya langsung berubah begitu? apa jangan-jangan Thalia?" batin Felicia terus melihat gerak-gerik Bram.
"Kenapa sih di terus menerus menyuruhku.. baru aja kesana udah di suruh kesana lagi, kalau bukan karena aku belum mendapat buktinya.. ogah banget bertemu lagi dengan cewek licik macam dia," batin Bram meremas handphonenya dengan kuat.