
Kecurigaan Pandu semakin kuat.
Tin.. Suara klakson mobil yang sangat nyaring dan juga panjang membuat Felicia terkejut.
"Aaaaaa…" teriak Felicia histeris sambil menutup kedua telinganya.
"AWAS.." teriak Bram berlari kencang dan menarik tangan Felicia sangat kencang hingga keduanya terpental.
"Aww.. aduh sakitnya," rintih Felicia kesakitan dan memegang perutnya.
"Fel are you okay? Please jangan bikin gue panik," tanya Bram cemas.
"Perut.. Perut gue.. sa..sakit Bram," rintih Felicia sangat kesakitan dan wajahnya pucat.
"Astaga ada darah keluar, tahan ya kita ke rumah sakit sekarang," ucap Bram panik lalu membopong Felicia.
Ketika Bram membopong Felicia, orang yang tidak sengaja hampir menabrak pun keluar dari mobil. Dia adalah Brian.
"Astaga Bram, itu bukannya pacarnya Pandu?," tanya Brian kaget melihat Bram membopong Felicia.
"Iya dan sorry nih bro gue gak punya banyak waktu, dia harus segera dibawa ke rumah sakit," ucap Bram terburu-buru menuju mobil lalu Brian mengikuti mereka sampai rumah sakit.
"Tunggu.. gue ikut karena dia sampai kayak gini karena gue," ucap Brian dengan panik.
"Yaudah kalau mau ikut tapi pake mobil sendiri-sendiri, please gak usah banyak tanya dulu, ini urgent," perintah Bram lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Ada hubungan apa diantara mereka? mobil Bram terparkir di butik khusus kebaya dan gaun pengantin? ahh lebih baik gue ikutin aja sampe rumah sakit siapa tau disana gue bisa bertanya lebih leluasa," gumam Brian sambil menyetir mobil sportnya.
Di Makmur Sentosa Hospital.
Felicia langsung mendapatkan pertolongan pertama dan dibawa ke ruang UGD.
"Semoga kalian baik-baik saja, maafin gue yang secara gak sengaja bikin loe sedih, sejujurnya gue hanya niat mengejekmu saja gak taunya itu hal yang sensitif untukmu, kalian yang kuat ya dan semoga semuanya baik-baik saja," batin Bram mengacak-acak rambutnya kasar dengan mata memerah menahan tangis.
"Bram.." sapa Brian menepuk pelan bahu Bram dan ikut duduk.
"Eh.. udah sampai Bri?" ucap Bram berusaha baik-baik saja.
"Sorry karena keteledoran gue jadinya Felicia harus masuk UGD, gue kaget ketika tiba-tiba dia lari, untung aja loe sigap nolongin dia," ucap Brian cemas.
"Iya kebetulan aja bisa pas nolongnya, coba kalau telat, gimana nantinya kita jelasin ini sama Pandu," jawab Bram menutupi fakta yang ada.
"Loh bukannya kalian datang bareng ya? kalian habis dari butik kan?" tanya Brian kaget dan curiga.
"Enggak tuh, ngaco aja loe, orang gue barusan dateng kesana eh tiba-tiba Felicia keluar dari butik nangis terus lari tak tentu arah, karena gue penasaran gue coba ikuti lah malah dia hampir tertabrak, yaudah gue refleks nolongin untung timingnya pas," jawab Bram detail agar temannya tidak curiga.
__ADS_1
"Iyakah? gue fikir kalian ini dateng bareng ke butik trus berantem," ucap Brian dengan tatapan tajam.
"Gak lah.. ngapain kesana sama dia," elak Bram kesal.
"Ya siapa tau kalian diam-diam mau ada acara gitu.. engagment or married?" tanya Brian penuh selidik.
"Mana mungkin?? dia pacarnya Pandu," ucap Bram menyangkal.
Dan dokter pun keluar dari ruangan untuk memberitahu keadaan Felicia.
"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Bram panik.
"Anda ada hubungan apa dengan pasien?" tanya dokter.
"Mmm.. kami temannya dok, bilang saja ada apa dengannya nanti segera saya sampaikan pada keluarganya," desak Bram dengan perasaan campur aduk, mau mengaku calon suaminya Felicia tapi ada Brian disampingnya.
"Maaf kalau begitu saya menunggu pihak keluarganya saja karena kondisi pasien sangat riskan dan segera membutuhkan pertolongan lebih, jadi jika nanti keluarganya pasien sudah datang silahkan beritahu untuk segera ke ruangan saya, permisi," ucap dokter berlalu pergi.
"Tapi dok.. dokter.." teriak Bram tak terima dengan keputusan dokter yang tidak segera memberitahu.
Lalu Bram segera menelfon orang tua Felicia dan 15 menit kemudian orang tua Felicia sudah sampai di rumah sakit.
"Bram kenapa baru kabari kamu sekarang? harusnya ketika Felicia kecelakaan tadi segera beritahu kami dong kamu gimana sih," ucap Vina kesal.
"Maaf tante," jawab Bram lirih.
"Feeling dan analisa gue mesti gak pernah salah, memang benar dibelakang Pandu mereka ada something, harus segera gue kasih tau ke Pandu," batin Brian berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
"Om dan tante kalian sudah ditunggu dokter di ruangannya, segera, katanya hanya pihak keluarga yang boleh mengetahui kondisi Felicia," ucap Bram berusaha menutupi rasa geroginya karena ketahuan berbohong oleh Brian.
"Kan kamu calon.." ucap Vina terpotong oleh kode mata dari Bram. Untung Vina segera menyadari jika masih ada Brian diantara mereka. Tanpa membuang waktu kedua orang tua Felicia memilih pergi ke ruang dokter.
"Fyuh.. untung tante Vina gak membeberkan semua, kebohongan gue terkuak satu aja rasanya udah pening buat mengelabuhi," batin Bram mengelus dadanya.
"Berhubung kedua orang tuanya sudah datang gue balik dulu, semua ini kan bukan pure kesalahan gue.. Dia sampe pucat gitu karena loe tarik kncang dan terpental," ucap Brian membela diri.
"Memang bukan salahmu, gue habis ini juga mau balik," jawab Bram mengalah karena ia tak mau berurusan dengan Brian karena instingnya sangat cocok seperti detektif.
"Gue duluan bro.. next time kita hangout bareng," ucap Brian lalu bergegas pergi dari rumah sakit.
"Ok bro.. take care," jawab Bram menepuk pelan bahu Brian dan tersenyum kaku.
Bram memilih menunggu Felicia meskipun dari luar ruang UGD setidaknya bisa mengurangi rasa bersalahnya karena hampir mencelakai Felicia dan calon anaknya.
Sementara itu Brian segera menghubungi Pandu untuk memberitahu apa yang barusan terjadi.
__ADS_1
Drrt.. Drrt.. Dering hp Pandu.
"Hai bro.. how are you? long time no see," sapa Pandu ramah.
"I'm very well.. kalau loe udah balik kesini langsung kabari gue makanya jadi kan gue bisa langsung ajak hangout," jawab Brian basa-basi.
"Kemaren gue sempet balik 3 hari setelah itu terbang lagi kesini," ucap Pandu dengan lirih.
"Ada apa loe pulang singkat banget?" tanya Brian penasaran.
"Karena Felicia.. mommy dapat kabar jika Felicia habis koma hampir 3 bulan dan selama itu pula dia gak ada kabar sama sekali, gue sempet berfikir yang bukan-bukan tentangnya, setelah tau kenyataannya gue menyesal dan langsung pulang ke Indonesia untuk cek langsung keadaannya," ucap Pandu dengan sendu.
"Memang apa yang loe fikir?" tanya Brian penasaran.
"Gue fikir kalau dia ada hubungan sama yang lain atau gak udah bosen sama gue," jawab Pandu sedih.
"Siapa tau salah satu dugaanmu itu benar bro," ucap Brian membuat Pandu penasaran.
"Apa maksudmu?" tanya Pandu bingung.
"Ya loe kan sempet berfikir jika Felicia mungkin ada hubungan sama seseorang.. ya siapa tau itu bener dan siapa tau juga seseorang itu temen deket kita sendiri," ucap Brian mengajak teka-teki.
"Gue tau loe ada info.. please jangan buat gue main teka-teki," ucap Pandu kesal.
"Haha.. gue pengen tau dulu apa isi pikiranmu saat ini," jawab Brian terkekeh.
"Gue sangat mencintai Felicia," jawab Pandu terasa menggelikan bagi Brian.
"SH-IT !!" umpat Brian kesal.
"Haha makanya jangan main teka-teki, tell me what's u know," ucap Pandu memohon.
"Oke tapi gue harap jangan terlalu gegabah, ini hanya praduga saja," ucap Brian dengan serius.
"Ok i will try," jawab Pandu antusias.
"Sebenarnya tadi gue gak sengaja hampir menabrak Felicia tetapi untungnya ada Bram yang sigap menariknya hingga mereka berdua terpental," ucap Brian mengawali.
"APA?? KENAPA BISA LOE HAMPIR NABRAK DIA?" tanya Pandu kaget.
"Slow bro.. dengerin gue dulu sampai selesai ya dan gue yakin loe akan lebih terkejut," jawab Brian menenangkan temannya itu.
"Ok ok cepet jelasin," ucap Pandu.
"Setelah itu gue turun dari mobil dan posisinya Bram lagi bopong Felicia untuk dibawa ke rumah sakit karena Felicia sangat kesakitan di bagian perutnya, gue ikuti mereka sampai rumah sakit dan disana gue perhatiin Bram sangat khawatir dengan kondisi Felicia. Gue awalnya mengira wujud peduli Bram pada pacar temannya tapi lama-lama ia memperlihatkan gelagat aneh, gue tanya apa dia habis dari butik bareng Felicia dan dia menyangkalnya, oke gue terima alibi dia.. Lalu ketika orang tua Felicia dateng, mereka langsung memarahi Bram karena tak kunjung mengabari. Lebih mengejutkannya lagi orang tua Felicia dengan gamblang bilang kalau mereka pergi berdua ke butik, setelah itu eskpresi Bram langsung panik karena ketahuan bohong dengan gue, setelah itu orang tua Felicia juga hampir keceplosan menyebut Bram sebagai calon, entah calon apa karena Bram langsung memberi kode pada orang tua Felicia untuk diam," ucap Brian detail dan jelas.
__ADS_1
"Astaga.. apa yang loe bilang barusan itu bener? gue sempet curiga sama mereka berdua tetapi selalu saja mereka bisa menyangkalnya," jawab Pandu tak bisa lagi menyembunyikan rasa curiganya.