
Hidup bersama kakek dan neneknya tidak membuat Naomi merasa aman dan nyaman, ia seperti hidup di neraka karena Naomi terus menerus mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan.
"Heh.. bangun, dasar pemalas!!" gertak Elly-mamah Thalia dengan kasar.
"Iya nek.." jawab Naomi lemas lalu bangun.
"Enak sekali jam segini masih molor.. bangun dan kerjakan tugas yang sudah menunggumu," gertak Elly kesal.
"Tapi nek ini hari minggu apalagi badan Naomi lagi kurang sehat," rengek Naomi lirih.
"Alasan aja bisanya, jangan kau pikir bisa hidup enak disini.. bangun gak atau saya guyur pakai air," gertak Elly serius.
"Kalau nenek tidak suka Naomi tinggal disini lebih baik biarkan Naomi pulang ke apartemen atau tidak ke rumah papah Bram, Naomi lebih nyaman di sana nek," pinta Naomi.
"Enak aja.. apa jadinya kalau Bram mengetahui ini, bisa mampus saya dan suami saya di tangan si Bram.. jangan harap bisa keluar dari sini dengan mudah, masih mending saya mau menampung mu di sini, jadi turuti perintah saya," gertak Elly emosi.
"I.. iya nek," jawab Naomi patuh lalu bangun dan langsung mengerjakan pekerjaan rumah.
"Bagus.. jangan mau enaknya doang," jawab Elly puas lalu keluar dari kamar Naomi.
"Aww kepalaku pusing sekali," rintih Naomi berjalan tertatih dan memegang kepalanya.
Bi Sumi-Art yang bekerja di sana merasa kasihan dengan Naomi, ia tidak tega anak sekecil itu harus menyelesaikan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya. Ingin sekali ia menolong Naomi namun Bi Sumi takut akan ancaman majikannya.
"Naomi.." sapa Bi Sumi lembut.
"Iya bi," jawab Naomi dengan wajah pucat.
"Kamu sakit? wajah kamu pucat sekali," ucap bi Sumi penuh perhatian.
"Kepala Naomi sedikit pusing aja tapi Naomi kuat kok," ucap Naomi berbohong.
"Jangan bohong sama bibi, kamu istirahat saja sana nanti kondisimu malah semakin parah," perintah bi Sumi iba.
"Gak bi nanti nenek marah," tolak Naomi.
"Percaya sama bibi sebentar lagi nenekmu mau pergi ke luar kota, jadi kamu bisa istirahat dengan cukup. ini tugas bibi bukan tugasmu jadi istirahat ya," ucap bi Sumi lembut.
"Nanti saja bi setelah nenek berangkat, Naomi takut kena amukan nya lagi," ucap Naomi.
__ADS_1
"Baiklah tapi jangan paksakan dirimu," ucap bi Sumi mengalah dan mereka kembali melanjutkan aktivitas.
Apa yang dikatakan bi Sumi benar bahwa Elly dan suaminya akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Kesempatan emas bagi Naomi untuk mendapatkan istirahat yang cukup.
"Heh Naomi.. sini," ucap Elly ketus.
"Iya nek," jawab Naomi menghampiri.
"Bawa koper saya ke mobil sekarang, oh iya hari ini sampai 2 hari ke depan saya dan suami saya mau ke luar kota, jadi jangan harap kamu bisa enak-enakan di sini ya, pekerjaanmu sudah saya tulis di kulkas jadi jangan malas.. ingat kamu di sini hanya numpang," ucap Elly ketus dan berlalu pergi.
Naomi yang mendengar hanya bisa diam dan menahan rasa sakit di hatinya.. ia masih terlalu kecil untuk mendapatkan penolakan semua ini, ia tidak tau apa penyebab nenek dan kakek membencinya.
Setelah Elly dan suaminya pergi kini Naomi bisa bernafas lega, setidaknya ia bisa beristirahat dengan cukup apalagi ini weekend. Dulu ketika ia tinggal dengan mamahnya setiap weekend mamahnya menyempatkan waktu menghabiskan hari bersamanya, entah itu pergi ke taman atau sekedar bercanda gurau di apartemen.
Mengingat hal itu membuat Naomi sedih dan sangat merindukan sosok mamahnya..
"Bibi.. Naomi masuk ke kamar dulu ya, makasih atas perhatian bibi pada Naomi, bibi orang yang sangat baik sekali," ucap Naomi tulus.
"Sama-sama Naomi cantik.. sana istirahat yang cukup biar segera sembuh, urusan rumah biar bibi dan yang lainnya yang handle," ucap bi Sumi lembut.
"Sekali lagi terima kasih bi," ucap Naomi lalu berjalan ke kamar.
"Mamah.. hiks.. hiks.. Naomi kangen mah, mamah kapan pulang? Naomi gak suka di sini mah.. mereka jahat sama Naomi hiks.. hiks.. Naomi sudah menjadi anak yang baik dan penurut seperti pinta mamah tetapi kenapa nenek dan kakek selalu saja memarahi Naomi, mereka membenci Naomi mah.. hiks.. hiks.. dimana salah Naomi? apa Naomi nakal ya mah?" gumam Naomi sambil memandang foto mereka berdua dengan berlinang air mata.
Tanpa sadar bi Sumi yang lewat tidak sengaja mendengar keluh kesah Naomi.. hatinya terasa sakit ketika mendengar anak sekecil Naomi harus menerima ujian seberat ini.
"Naomi sayang yang sabar ya.. bibi yakin suatu saat Naomi akan jadi anak hebat, bibi gak tega melihat Naomi berbicara seperti itu, Naomi anak yang pinter kok apalagi Naomi anaknya sangat penurut.. jangan lagi bicara seperti itu ya, nenek dan kakek bukan membenci Naomi melainkan mereka sedang ada masalah jadinya bersikap begitu pada Naomi, jangan berfikir buruk pada nenek dan kakek ya.. Naomi bukan anak nakal," ucap bi Sumi masuk ke kamar Naomi dan langsung memeluknya.
"Bibi.. hiks.. hiks.. kalau tidak ada bibi entah bagaimana Naomi di sini, Naomi mau pulang ke rumah papah Bram.. hiks.. hiks.. Naomi capek di sini.. nenek dan kakek selalu saja marah sama Naomi sedangkan sama cucu yang lainnya tidak, salah Naomi apa bi? tolong katakan pada Naomi biar Naomi segera meminta maaf dan di sayang nenek dan kakek, hiks.. hiks.." ucap Naomi berlinang air mata.
"Naomi tidak salah apapun kok, hmm bagaimana kalau sekarang telpon papah Bram? Naomi hafal gak nomernya?" ucap bi Sumi mengalihkan obrolan.
"Boleh bi?" tanya Naomi antusias.
"Boleh dong hari ini sampai 2 hari ke depan nenek dan kakek gak ada di sini, jadi Naomi bebas mau ngapain aja, yuk telpon papah," ajak bi Sumi lalu mereka ke ruang tengah.
Drrt.. drrt.. dering HP Bram.
"Nomor siapa lagi ini hah.. banyak sekali nomor tidak di kenal, eh tapi ini kok nomor rumah ya? apa jangan-jangan Felicia?" gumam Bram penasaran lalu mengangkat telpon.
__ADS_1
"Halo?" sapa Bram.
"Papah.. ini Naomi.. hiks.. hiks," ucap Naomi menangis sesengukan.
"Loh Naomi? kamu kenapa menangis?" tanya Bram terkejut.
"Boleh gak pah kalau Naomi tinggal lagi sama papah? Naomi gak nyaman di sini.. nenek dan kakek membenci Naomi.. hiks.. hiks.." ucap Naomi terisak.
"Mereka dimana? saya mau bicara," tanya Bram menahan emosi.
"Nenek dan kakek lagi pergi ke luar kota makanya itu Naomi berani menelfon papah, boleh ya pah?" pinta Naomi penuh harap.
"Hmm nanti akan saya kabari lagi ya, hari ini ada jadwal meeting dan sebentar lagi mau mulai, setelah selesai nanti saya hubungi lagi, maaf ya Naomi," ucap Bram berbohong.
"Bener ya pah? Naomi tunggu kabarnya," rengek Naomi lalu Bram langsung memutus panggilan.
"Astaga kenapa datang lagi masalah yang baru? kapan saya bisa hidup damai seperti dulu??? Naomi lagi Naomi lagi.." gumam Bram kesal lalu menghubungi istrinya untuk meminta pendapat.
"Halo Bram?" sapa Felicia.
"Halo sayang maaf ganggu waktunya, aku mau meminta pendapatmu biar tidak ada kesalahan lagi," ucap Bram to the point.
"Apa itu?" tanya Felicia penasaran.
"Mengenai Naomi.." ucap Bram ragu.
"Dia kenapa lagi? buat ulah?" tanya Felicia sinis.
"Lebih tepatnya dia meminta untuk kembali tinggal dengan kita, dia bilang jika hidup bersama nenek dan kakeknya kurang nyaman, ia selalu di marahi mereka," ucap Bram ragu.
"Sudah beberapa kali aku bilang kalau Naomi itu suka sekali drama, ingat mas bagaimana dia memperlakukan anak-anak kita," ucap Felicia kesal.
"I know.. tapi saya rasa memang Naomi berkata jujur, takutnya nanti dia tertekan di sana," ucap Bram hati-hati.
"Cabut aja hukuman Thalia dan biarkan mereka hidup berdua lagi, jangan lagi mengajak Naomi ke rumah kita atau kami akan pergi dari sini, perlakuan dia terhadap anak-anak tidak bisa di toleransi Bram, anak sekecil dia udah bisa bullying seperti itu," ucap Felicia tak suka.
"Yasudah kalau begitu.. nanti biar aku bicarakan padanya, ya udah sayang nanti lagi ya telfonnya soalnya ini mau meeting," ucap Bram lalu mematikan panggilan.
"Awas aja Bram kalau nekat membawa Naomi kemari, jangan harap aku akan menerimanya.. sudah cukup Thalia hampir merusak rumah tanggaku, jangan sampai anaknya pun demikian.. karena buah tidak jatuh dari pohonnya, mau benci apapun seorang nenek dan kakek tidak akan mungkin berbuat kelewatan batas," gumam Felicia menahan gemuruh di dada.
__ADS_1