PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 103-Mendatangi Thalia


__ADS_3

"Bram akhirnya loe jenguk gue," sapa Thalia terharu.


"Jangan berbangga diri dulu, kedatangan gue kesini mau menanyakan dimana rumah keluargamu?" ucap Bram to the point.


"Rumah keluargaku?? untuk apa Bram? loe mau apain keluarga gue??" tanya Thalia ketakutan.


"Hanya ingin tau rumahnya saja, tulis disini alamatnya sekarang!" perintah Bram dengan tegas sambil menyerahkan secarcik kertas dan bolpoint.


"Bu.. buat apa Bram?? jangan ganggu mereka, gue mohon.. Apa loe kurang puas menjebloskan gue disini?" pinta Thalia memohon.


"Keluargamu akan aman, udah tulis aja alamatnya sekarang, gue mau mengantarkan Naomi pada mereka," ucap Bram tak sabar.


"Naomi?? memang dia selama ini hidup dengan siapa Bram?" tanya Thalia berlinang air mata.


"Dia hidup denganku dan gue udah gak mau lagi menampungnya, makanya itu gue ingin mengantarkan pada keluarganya, mereka yang berhak mengurus anakmu," ucap Bram penuh penekanan.


"Biarkan Naomi denganmu Bram, gue gak yakin Naomi akan bahagia bersama keluargaku, kehadirannya tidak disambut baik oleh mereka makanya Naomi tidak pernah gue ajak kesana, gue takut dia tertekan batinnya," ucap Thalia sedih.


"Itu bukan urusan gue, cepat tulis alamatnya sekarang, apa loe mau anakmu gue taruh panti asuhan?" gertak Bram.


"Jangan Bram.. Biarkan dia tinggal denganmu sampai gue menyelesaikan masa hukumannya, gue mohon.. dia taunya loe itu papahnya," pinta Thalia.


"Cih... gue udah gak mau mengurus anakmu lagi, karena dia hubungan gue dengan keluarga kecil gue jadi renggang. anakmu itu pandai mencari perhatian dan juga ia tidak segan mengatakan dengan bahasa kasar pada anak-anakku, Emil sampai membencinya apalagi Eleora, kalau tidak ada Felicia entah bagaimana nasib anak perempuanku itu.. anakmu membahayakan anak-anakku makanya gue mau mengambil tindakan tegas dengan membawanya ke keluarganya, udah cukup selama ini gue berbaik hati menampung dia dan memperlakukannya dengan sangat baik, tidak ada pembeda antara dia dengan anak-anakku.. tapi apa yang gue terima?? anakmu hampir mencelakai anak-anakku, jangan harap gue akan tinggal diam," gertak Bram emosi.


"Tapi dia masih anak kecil Bram, mana mungkin dia bersikap seperti itu?? dia anak yang manis dan penurut kok," protes Thalia tak terima anaknya di jelekkan.


"Itu menurutmu sebagai orang tuanya, tapi kenyataannya berbanding terbalik, udah gue males berdebat dengamu hanya karena Naomi yang notabene tidak ada ikatan darah apapun denganku, cepat tulis alamat keluargamu sekarang atau gue bawa dia ke panti asuhan," gertak Bram tak sabar.


"Gue mohon jangan bawa dia ke rumah keluarga gue Bram.." pinta Thalia.


"Lantas kemana? gue gak sudi lagi menampung dia," tanya Bram kesal.


"Bawa dia ke rumah papahnya, ke rumah Dino.. dia yang seharusnya selama ini merawat Naomi," pinta Thalia.


"Baiklah mana alamatnya, akan gue anter kesana hari ini juga," ucap Bram ketus.


"Tapi janji Bram.. tolong jamin keselamatan Naomi ketika berada dengan papah kandungnya," pinta Thalia memohon.


"Lah emangnya gue polisi atau lembaga hukum yang bisa menjamin anak orang? ogah banget.. minta sama pak polisi sana jangan sama gue dong, loe kok banyak maunya sih," protes Bram kesal.

__ADS_1


"Gue takut Naomi akan di siksa, makanya itu gue meminta perlindunganmu," pinta Thalia meneteskan air mata.


"Gue bukan Tuhan yang bisa melindungi setiap manusia dan menjamin keselamatannya, udah kasihkan saja sama keluargamu daripada loe pesimis dengan ayah kandungnya, cepetan tulis alamatnya sekarang !!!" gertak Bram lalu mau gak mau Thalia menulis alamat rumah kedua orang tuanya.


"Gini kek daritadi pakai drama segala, masih mending gue mau merawatnya, kalau bukan paksaan istri gue mana mau gue bawa Naomi ke mansion, berterima kasihlah padanya yang sudah berbaik hati memikirkan Naomi dan dengan sabar mengurusnya," ucap Bram lalu bergegas pergi dan Thalia hanya diam dengan dendam yang semakin besar.


"Sial!!! lagi-lagi Felicia!! jangan harap gue akan berterima kasih padanya!!! gue bisa disini karena Bram dan juga istrinya yang sok malaikat itu, keputusan dia untuk merawat Naomi ya itu bener dong itung-itung menebus rasa bersalahnya karena sudah menjebloskan gue di penjara, enak aja gue diminta berterima kasih, cihh gak sudi.." batin Thalia penuh dendam.


Di Mansion Bram dan Felicia.


"Gimana Bram? udah dapet alamatnya?" tanya Felicia penasaran.


"Udah sayang nih, yuk kesana sekarang.. aku gak mau ada perusak lagi di keluarga kecilku," ajak Bram dan mereka pergi ke rumah orang tua Thalia bersama Naomi.


Menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya mereka sampai juga di rumah kedua orang tua Thalia. Rumah mewah yang sangat mentereng di kompleksnya.


"Ini rumahnya Bram?" tanya Felicia penasaran.


"Sepertinya.. soalnya di alamat menunjukkan ini sih, coba kesana dulu," ucap Bram turun dari mobil untuk memastikan rumahnya benar atau tidak.


"Naomi.. kamu tau rumah ini?" tanya Felicia penuh harap.


"Hanya main saja kesini kebetulan papah Bram kenal dengan oma dan opamu," ucap Felicia berbohong.


"Oh.. tapi kata mamah Naomi gak boleh kesini tante, mereka membenci Naomi, katanya Naomi anak yang tidak di harapkan," ucap Naomi berlinang air mata.


"Astaga apa iya mereka sampai ngomong seperti itu? pantas saja di mansion Naomi selalu berkata kasar ternyata dari perkataan keluargany sendiri," batin Felicia terkejut.


Kemudian Bram kembali masuk ke mobil dan petugas keamanan membukakan gerbang untuk mereka.


"Ini benar rumah orang tua Thalia, semoga saja setelah ini masalah kita selesai ya sayang dan keluarga kita harmonis lagi," ucap Bram yang di jawab anggukan kepala oleh Felicia.


Tiba di mansion orang tua Thalia, kedua orang tuanya menyambut dengan dingin karena melihat Naomi bersama mereka.


"Bram.. iya kan kami Bram? mantannya Thalia, anakku?" tanya mamah Thalia.


"Iya tante saya Bram, apa kabar?" jawab Bram basa-basi.


"Kok kamu tau tempat tinggal kami?" tanya papah Thalia penasaran.

__ADS_1


"Thalia yang memberitahukannya," jawab Bram dengan enteng.


"Ini siapa? kenapa kamu datang tidak bersama Thalia? dan ini.. kenapa kamu ajak dia kemari Bram?" tanya mamah Thalia melirik tak suka pada Naomi.


"Dia kan cucu kalian jadi wajar dong kalau saya membawanya kemari, dan itu salah satu alasan saya kenapa datang kesini," ucap Bram membuat kedua orang tuanya penasaran.


"Maksudnya bagaimana Bram?" tanya mamah Thalia bingung.


"Langsung saja ya, kedatangan saya dan istri saya kesini membawa Naomi adalah untuk menitipkannya pada kalian sementara waktu sampai Thalia selesai menjalani masa hukuman," ucap Bram to the point.


"Sebentar.. sebentar.. Thalia menyelesaikan masa hukuman? berarti dia berada di sel??" tanya mamahnya syok.


"Ya anda benar, Thalia berada di penjara karena dia dengan beraninya memalsukan hasil tes DNA agar Naomi menjadi anak biologis saya, tidak hanya itu saja dia juga memperlat dan menjadikan Naomi umpan agar saya terus menerus mendatangi apartemennya, untung saja segera ketahuan istri saya ketika anak anda dengan liciknya mencampurkan obat perangsang juga obat tidur, andai tidak ketahuan? bisa lebih leluasa lagi anak anda memperalat saya," ucap Bram menahan emosi.


"Tapi kami keberatan jika Naomi disini," tolak mamah Thalia membuat Bram dan Felicia terkejut.


"Keberatan? apa alasannya?" tanya Felicia tak habis pikir.


"Ya kami tidak mengakui dia sebagai cucu, dia hadir karena kebodohan Thalia jadi jangan merepotkan kami untuk merawatnya," ucap mamah Thalia sinis.


"Dia cucu anda, darah daging anda sendiri.. bisa ya dengan teganya anda berbicara seperti itu, dimana hati kalian?? memang dia hadir karena kesalahan orang tuanya namun dia lahir dalam kondisi suci dan bersih, dia tidak tau apapun dan tidak bisa memilih lahir dari rahim siapa," ucap Felicia penuh penekanan.


"Tetap saja kami tidak bisa menerimanya, anda jangan ikut campur dalam masalah ini," gertak papah Thalia memancing emosi Bram.


"BERANI SEKALI ANDA MENUNJUK-NUNJUK ISTRI SAYA DENGAN TANGAN KOTOR KALIAN !!!! KALIAN SADAR BERHADAPAN DENGAN SIAPA? KALIAN MAU HIDUP MELARAT LAGI? INGAT!!! KALIAN BISA MEMILIKI FASILITAS MEWAH DAN PERUSAHAAN ITU BERKAT SIAPA, JIKA ANDA TIDAK MAU MERAWAT CUCU ANDA SENDIRI MAKA AKAN SAYA CABUT SEMUA FASILITAS YANG DULU SAYA BERIKAN!!!" ancam Bram emosi.


"Bu.. bukan begitu maksud kami Bram, saya hanya tidak suka ada orang lain yang ikut campur," ucap papah Thalia ketakutan.


"DIA ISTRI SAYA BUKAN ORANG LAIN!!!! BERANI SEKALI ANDA BILANG SEPERTI ITU DI HADAPANKU SECARA LANGSUNG!!" teriak Bram hingga suaranya menggema seluruh ruangan. kedua orang tua Thalia sangat ketakutan pada Bram karena mereka tidak mau lagi hidup miskin.


"Baiklah.. baik kami akan merawat Naomi sampai mamahnya selesai masa tahanan asalkan kamu bisa menjamin tidak akan mencabut semua ini Bram," pinta papah Thalia memohon.


"Itu sangat mudah bagiku, asalkan jaga dan rawat dia dengan penuh perhatian dan kasih sayang, buat dia nyaman berada di lingkup keluarganya, jika saya mendengar Naomi disini tertekan.. detik itu juga aset-aset anda akan saya tarik, camkan itu.." ancam Bram serius dan kedua orang tuanya menelan slavina berulang kali dan mengangguk patuh.


"Naomi.. sekarang kamu tinggal disini sampai mamah kamu pulang, saya tidak bisa terus menerus membawamu dalam kehidupanku.." ucap Bram menatap Naomi dalam.


"A..aku gak mau disini.." protes Naomi meneteskan air mata.


"Mereka akan menyayangimu, percayalah.." ucap Felicia menenangkan.

__ADS_1


"Yasudah kalau begitu kami permisi, ingat permintaan saya tadi," ucap Bram ketus dan berlalu pergi dengan Felicia.


__ADS_2