
"Ahh kamu selalu saja over thingking, kalau aku sudah mengajakmu pulang ya berarti semuanya sudah kembali lagi seperti dulu," ucap Bram kesal.
"Se...serius Bram?" tanya Felicia dengan mata berbinar.
"Ya kurang lebih seperti itu," ucap Bram mengangguk.
"Terima kasih Bram.. akhirnya kita bersatu lagi, selama ini aku seperti kehilangan arah hidup," ucap Felicia sangat terharu dan reflek memeluk Bram.
"Semua tergantung darimu, jika kamu masih berharap dengan masa lalumu apalagi sampai mengejarnya ditambah kamu mengabaikan Emil, maka jangan harap ada kesempatan lagi, fokuslah sama yang ada di depan matamu sekarang, terimalah keadaan dan bersikaplah lebih dewasa.. ada Emil diantara kita," ucap Bram membalas pelukan Felicia.
"I..iya Bram, maafkan kesalahanku yang dulu, aku benar-benar menyesalinya.. hukuman kemarin sangat berat untukku," ucap Felicia menangis terisak.
"Jangan lagi mengabaikan Emil," ucap Bram melepas pelukan dan menatap istrinya lekat.
"Iya Bram.. janji," Jawab Felicia mengangguk cepat dan bertatapan.
"Aku senang mendengarnya.. akan aku pegang janjimu," ucap Bram tersenyum senang.
"Iya.. aku tidak akan lagi mengabaikan Emil, akan aku jaga dan rawat dia sepenuh hati dan tenagaku, urusan financial kan itu urusanmu, ya kan?" ucap Felicia bercanda dan tertawa riang.
"Iya memang urusan financial itu urusanku, tetapi aku juga turut bertanggung jawab terhadap tumbuh kembangnya, akan aku pastikan kamu dan Emil mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik," ucap Bram serius.
"Aku percaya itu, terima kasih selalu membahagiakan dan selalu ada untuk kami," ucap Felicia menatap Bram lekat.
"Itu tujuanku menikahimu.. setelah aku mengucapkan ijab qabul, aku berjanji pada diriku sendiri untuk membuat kalian bahagia, aman dan nyaman," ucap Bram membelai pipi Felicia lembut.
"Aku terharu Bram.. sebegitu besarnya pedulimu pada kami, tetapi aku dengan bodohnya malah mencoreng itu," ucap Felicia meneteskan air mata.
"Ini tidak sekedar peduli, tetapi juga rasa tanggung jawab dan rasa sayangku pada kalian, ketika kamu melahirkan Emil aku kan sudah bilang jika aku mencintaimu.. entah bagaimana denganmu, yang jelas aku sekarang mencintaimu Felicia Agnesia Attirmidzi Wijaya," ucap Bram memegang kedua tangan Felicia erat.
"Maafkan aku jika sampai sekarang belum bisa membalas perasaanmu, aku sedang berusaha melupakan masa laluku, maafkan aku lagi-lagi mengecewakanmu.. tetapi setidaknya aku berkata jujur," ucap Felicia hati-hati.
"Tidak apa, aku mengerti itu.. akan aku buat secepatnya kamu melupakan masa lalumu," ucap Bram sangat yakin.
"Thanks for attention Bram," Jawab Felicia terharu.
"Your welcome.. sekarang istirahatlah dengan nyenyak," ucap Bram lembut.
"Kamu gak istirahat?" tanya Felicia heran.
"Masih ada beberapa berkas yang harus segera di selesaikan, kamu istirahat saja dulu nanti aku menyusul.. aku tinggal dulu di ruang kerja, good night Fel.." ucap Bram mencium kening Felicia lalu berjalan menuju ruang kerjanya.
__ADS_1
"Gak.. aku gak boleh berdiam diri disaat Bram sedang fokus lembur, aku harus membuatkan sesuatu untuknya.. dia sampai lembur begini karena akhir-akhir ini fokusnya terbagi dengan Emil, kasihan Bram menghandle semuanya sendiri," gumam Felicia berjalan ke dapur membuatkan kopi.
"Semoga pemberian kecil ini bermanfaat untuk Bram, semoga dia menyukainya.. mau bagaimana pun sekarang dia suamiku, jadi aku harus melayaninya dengan baik," gumam Felicia membawa segelas kopi menuju ruang kerja Bram.
Tok.. tok.. tok.. ceklek, suara pintu terbuka.
"Bram.. masih banyak kerjaannya?" sapa Felicia sembari menaruh segelas kopi.
"Kok kamu nyusul kesini? kan saya suruh istirahat," tanya Bram terkejut.
"Maaf.. aku gak tega melihatmu lembur, jadi aku berinisiatif membuatkan kopi supaya kamu lebih rileks," ucap Felicia memegang bahu Bram.
"Thanks.. aku lembur karena kemarin-kemarin belum sempat memegang berkas dan tadi sekrestarisku bilang kalau besok deadline nya, jadi mau gak mau aku harus lembur," ucap Bram membalas pegangan bahu Felicia.
"Maaf ya aku gak bisa bantu apa-apa.. maaf juga kamu sampai lembur gini karena terlalu fokus merawat Emil ketika sakit, aku merasa kalau aku penyebab semua ini, andai aku tidak mengabaikannya pasti kehidupan kita sampai sekarang masih baik-baik saja," ucap Felicia sedih.
"Sstt.. semua sudah berlalu dan aku sudah memaafkannya, terpenting kita sekarang fokus untuk hidup ke depannya," ucap Bram menatap lekat Felicia.
"I.. iya tapi tetap saja aku merasa bersalah.." ucap Felicia meneteskan air mata.
"Jangan berkata seperti itu lagi," perintah Bram berdiri dan memeluk Felicia.
"Itu faktanya Bram," ucap Felicia terisak.
"Tapi..." ucap Felicia terpotong oleh Bram.
"Gak ada kata tapi, aku tidak mau mendengar kamu terus menerus menyalahkan dirimu sendiri, aku gak suka.. aku sudah memaafkanmu dan menerimamu lagi, apa itu kurang cukup?" Tanya Bram mengangkat dahu Felicia.
"Ti..tidak.. itu sudah lebih dari cukup," jawab Felicia gugup.
"Bagus.. jangan lagi menyalahkan dirimu sendiri seperti tadi, mengerti?" Tanya Bram dan Felicia hanya mengangguk.
"Good girl, sekarang kamu kembali ke kamar dan beristirahatlah," perintah Bram.
"Aku gak mau," tolak Felicia lirih.
"Why?" Tanya Bram bingung.
"Apa kamu capek? aku pijitin ya sembari kamu fokus kerjanya," ucap Felicia mengalihkan obrolan dan memijat pundak Bram dengan lembut.
"Istriku pandai memijat, sebelah sini juga ya," tunjuk Bram di lengannya.
__ADS_1
"Ish.. malah keenakan jadinya," gumam Felicia lalu memijat lengan Bram.
"Memanjakan suami pahalanya besar loh" goda Bram sambil fokus kerja.
"Ngomong ya lihat orangnya kek,, emang dia ngomong sama siapa coba?" gumam Felicia sambil memijit lengan Bram agak keras.
"Aaww.. kenapa sekarang jadi sakit sayang?" protes Bram membalikan badan berhadapan dengan Felicia.
"Iyakah? maaf gak sengaja," ucap Felicia berbohong.
"Aku tahu kamu sengaja melakukan itu karena aku gak menoleh padamu ketika berbicara kan? sini duduk," ucap Bram menyuruh Felicia duduk di pangkuannya.
"Mau nga..ngapain?" tanya Felicia gugup.
"Duduk saja, sini," perintah Bram lalu Felicia duduk di pangkuannya.
"Hadap aku," perintah Bram dan Felicia menurut.
"Su...sudah," ucap Felicia gugup.
"Sekarang kamu mau bicara apa akan aku dengarkan sambil menatapmu secara intens," ucap Bram tersenyum senang sambil memeluk pinggang Felicia.
"Hmm..gak..gak ada yang mau di omongin," ucap Felicia gugup.
"Tadi ngambek karena aku gak menatapmu, sekarang jarak kita sedekat ini kenapa kamu gugup sekali? serius gak ada yang mau di omongin?" Tanya Bram.
"I..iya gak ada Bram," jawab Felicia mengangguk.
"Baiklah maka akan aku buat kamu berbicara dengan sangat merdu," ucap Bram tersenyum nakal.
"Ma...maksudnya?" tanya Felicia bingung.
"Begini maksudnya baby..." ucap Bram menggantung dan langsung mencium bibir Felicia dengan lembut sembari membuka piyama Felicia.
Felicia yang mendapat serangan dadakan seperti itu terkejut dan tak ada celah untuk menghindar, badannya di bekap oleh tubuh kekar suaminya.. ia akhirnya terbuai oleh sentuhan Bram.
"Mmm.. Bram..." suara de-sah-an Felicia.
"Mari kita melakukannya disini," ucap Bram dengan suara berat lalu melucuti pakaiannya juga Felicia. Tanpa menunggu waktu lama Bram sudah menembus mahkota Felicia dan keduanya terbuai dengan nikmat.
Permainan yang berlangsung selama 1 jam akhirnya tuntas dengan sangat nikmat, Felicia terkulai lemas di sofa panjang dan Bram kembali melanjutkan pekerjaannya dengan semangat, 20 menit kemudian Bram sudah menyelesaikan pekerjaannya dan membopong sang istri ke kamar.
__ADS_1
Merasa belum puas, akhirnya mereka melakukannya lagi hingga 2 ronde, Felicia dan juga Bram akhirnya terkulai lemas di ranjang nan empuk dengan saling berpelukan.
Malam yang indah bagi Bram karena penyatuan kali ini dilakukan secara sukarela tanpa paksaan, ia yakin jika Felicia akan segera mencintainya..