
"Serius gue gak bohong.. Gue juga kaget sama pengakuan orang tua Felicia, mana mungkin sih orang tua lagi panik gitu bicaranya bohong?" ucap Brian memastikan.
"Iya sih terus posisimu sekarang ini dimana?" tanya Pandu cemas.
"Gue di mobil, setelah orang tuanya datang gue memilih pulang, gue gak mau terlalu ikut campur masalah mereka," jawab Brian tanpa beban.
"Harusnya loe masih disana dong siapa tau nantinya dapat informasi lagi," ucap Pandu kesal.
"Ahh ogah banget, fakta yang tadi saja udah cukup mengejutkan apalagi nanti gue tau semuanya, oh iya apa Felicia punya penyakit dalam?" tanya Brian penasaran.
"Penyakit dalam? gak tuh, setau gue Felicia sehat-sehat aja kok memangnya kenapa?" tanya Pandu heran.
"Hmm.. gimana ya ngomongnya gue bingung," jawab Brian membuat Pandu semakin penasaran.
"Jangan mulai deh, tinggal ngomong aja," ucap Pandu tak sabar.
"Maunya sih gitu tapi ini sepertinya sensitif banget, soalnya gue pun gak tau pasti," ucap Brian enggan bicara.
"Loe temen baik gue, apa loe tega membiarkan temenmu ini penasaran sepanjang hari?" ucap Pandu menahan kekesalan.
"Serius ini hanya praduga gue karena gue pun gak begitu dekat Felicia," ucap Brian serius.
"Yaudah loe bilang aja, cepetan," ucap Pandu tak sabar.
"Jangan sangkut pautkan gue di dalam masalah kalian nantinya," pinta Brian.
"Baiklah.." jawab Pandu pasrah.
"Jadi gini bro tadi Felicia dan Bram terpental, tiba-tiba keluar... keluar da..darah di paha Felicia, darahnya keluar sangat deras sampai Felicia merintih kesakitan dan wajahnya langsung pucat pasi makanya itu Bram langsung membopongnya ke mobil dan segera dibawa ke Rumah sakit. Gue yakin darah yang keluar dari area paha Felicia bukan darah akibat luka kecelakaan," ucap Brian gugup.
"A..apa? keluar darah dari area paha Felicia??" tanya Pandu terkejut.
"Yup.. serius," jawab Brian penuh keyakinan.
__ADS_1
"Astaga rahasia apalagi yang mereka sembunyikan.. terus loe gak nanya itu sebabnya apa?" tanya Pandu memijat keningnya pelan.
"Enggak soalnya cewekmu langsung masuk UGD, Bram sangat khawatir dan kemudian orang tuanya datang, gak ada celah untukku mengorek informasi," ucap Brian menyesal.
"Gue makin yakin jika terjadi sesuatu diantara mereka, menurutmu gimana Bri?" tanya Pandu meminta pendapat.
"Ya bisa jadi, wajar sih kalau gue di posisimu juga akan melakukan hal yang sama, apalagi dulunya Bram sempat memiliki rasa sama Felicia, jadi besar kemungkinan Bram menikungmu, tapi saran gue jangan terlalu gegabah menanyakan ini, coba tunggu beberapa hari apakah Bram atau Felicia ataupun pihak keluarganya nanti mengabarimu, jika tidak maka bisa menjadi alasan awalmu menaruh curiga pada mereka," saran Brian.
"Baik bro gue ikuti saranmu.. thanks Bro selalu memberi nasehat yang bermanfaat untukku, gue minta tolong jika ada informasi tentang mereka sekecil apapun segera beritahu gue Bri," pinta Pandu penuh harap.
"Pasti Ndu.. gak usah meminta sudah pasti akan gue kabari, sebenarnya tadi gue gak mau ngabari apapun karena gue fikir ini masalah bisa di handle antar keluarga, eh kok makin lama kecurigaan gue makin besar ditambah omongan orang tua Felicia menjadi alasan kuat untuk memberitahukannya padamu, gue gak mau hubungan kalian nantinya tidak sehat dan saling membohongi, jadi alangkah baiknya gue segera mengabarimu," ucap Brian sendu.
"Informasi yang loe beri sangat berguna untuk gue bro jadi jangan sungkan begitu, apa yang loe lakukan barusan memang bener, mumpung hubungan gue dan Felicia belum terlalu jauh," ucap Pandu menahan sesak di dada.
"Yap.. itu yang gue fikirin, yaudah kalau gitu gue matiin dulu ya soalnya ini gue lagi di jalan nih," ucap Brian lalu mematikan panggilan.
"Harus segera beritahu daddy," gumam Pandu lalu menghubungi Hartanto.
"Something happend dad.. about Felicia," Jawab Pandu sendu.
"Whats happend?" tanya Hartanto penasaran.
"Tadi Brian menelfon Pandu, dia memberitahu jika Felicia dan Bram memang kemungkinan besar ada hubungan khusus di belakangku dad," ucap Pandu sendu.
"Memang dia berkata apa saja?" tanya Hartanto penasaran.
"Tadi Brian gak sengaja hampir menabrak Felicia tetapi untungnya segera di tolong oleh Bram dan sekarang Felicia dibawa Bram ke rumah sakit, awalnya Brian gak curiga karena dia mengira jika sikapnya hanya sebatas teman yang membantu. Namun kecurigaan Brian satu persatu semakin menguat dad, dari kehadiran Bram dan Felicia dari arah butik lalu Bram yang langsung membopong Felicia dengan eskpresi kekhawatiran yang luar biasa terus ketika di UGD Bram menghubungi kedua orang tua Felicia, semua itu dirasa aneh menurut Brian karena menurutnya Bram tidak kenal dekat dengan Felicia dan orang tuanya tetapi kenapa tiba-tiba bisa sedekat itu. Bram awalnya menyangkal jika ia dari arah butik bersama Felicia namun ketika orang tua Felicia datang, mereka langsung memarahi Bram yang tidak bisa menjaga Felicia dengan baik karena Felicia pergi dengannya dan orang tua Felicia hampir keceplosan menyebut Bram itu calon entah itu calon apa," ucap Pandu meneteskan air mata.
"Oh my god, selepas keberangkatanmu ke bandara papah sempat curiga dengannya karena Felicia serasa menyembunyikan sesuatu dan buru-buru pergi, papah inistiatif mengikutinya namun sayang kehilangan jejak. Memang Felicia ada omongan mau ke butik katanya untuk menyelesaikan gaun bridesmaidnya, apa kamu tau boy Felicia datang ke bandara dengan siapa?" tanya Hartanto membuat penasaran.
"Kan Felicia bilangnya ke bandara sendirian, iya kan?" jawab Pandu bingung.
"Iya memang dia bilang seperti itu dan memang dia menemuimu seorang diri. Setelah itu dijalan Mommy tidak sengaja memergoki Felicia satu mobil dengan Bram, sudah dipastikan jika ia menemuimu ada Bram, bukan sendirian," ucap Hartanto.
__ADS_1
"B..Bram?? tapi kenapa Pandu gak tau? berarti Felicia membohongi Pandu," ucap Pandu terkejut dan air mata kembali menetes.
"Iya boy.. memang mereka arahnya mau ke butik namun sayang kami kehilangan jejak, maafkan mommy dan daddy, andai bisa mengikutinya sampai sana pasti akan jelas apa yang mereka sembunyikan di belakang kita, daddy dan mommy sebenarnya mau mendatangi butik tersebut namun tak jadi karena di wilayah itu ada 5 butik yang melayani gaun dan jas mewah. Masak daddy dan mommy masuk satu persatu kan gak mungkin," ucap Hartanto sedih.
"Gakpapa dad gak perlu minta maaf karena ini semua bukan sepenuhnya salah daddy, maafkan Pandu yang menambah tugas daddy untuk memantau apa yang sedang di sembunyikan oleh Felicia dan Bram," ,ucap Pandu terisak.
"Are you cry boy? Oh My God.." tanya Hartanto tak percaya.
"Sakit dad rasanya.." jawab Pandu tak bisa lagi membendung kesedihannya.
"I know.. dont cry, daddy gak bisa melihat putra kesayangan daddy menjatuhkan air mata seperti ini apalagi hanya untuk perempuan, air matamu terlalu berharga boy, usaplah," Ucap Hartanto tak tega.
"Can't dad.. I love her so much," ucap Pandu semakin terisak.
"Daddy akan usahakan yang terbaik untukmu boy, semoga kenyataannya nanti tidak lebih membuatmu sakit, sekarang daddy mohon janganlah nangis, cmon boy," bujuk Hartanto.
"O..oke dad, apa daddy ada rencana?" tanya Pandu terisak.
"Maybe yes tapi masih daddy telaah lagi apakah rencana ini aman atau tidak, kamu fokus saja kuliah yang bener, urusan Felicia, Bram dan keluarganya biar daddy yang handle, urusan mengorek informasi daddy jagonya, percayakan semua sama daddy," ucap Hartanto mencoba menenangkan putranya.
"Ada satu lagi dad yang membuat Pandu sesedih ini, sampai gak kuasa mengatakannya," ucap Pandu tersedu hingga membuat Hartanto penasaran.
"Apakah itu?" tanyanya penasaran.
"Brian bilang kalau.. kalau Felicia dibawa ke rumah sakit sama Bram karena.. karena ada darah yang keluar dari area pahanya hingga membuat Felicia merintih kesakitan dan pucat pasi, Brian tidak mau menduga yang bukan-bukan karena posisinya dia masih kekasih Pandu, jadi Brian menduga jika Felicia memiliki penyakit dalam," ucap Pandu terisak.
"A..apa?? ok ok daddy paham maksudmu, sesegera mungkin daddy akan bertindak, ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi, sepulang dari kantor akan daddy diskusikan dengan mommy, thanks your information boy.. Ingat pesan daddy, kamu disana belajarlah yang rajin dan jadi orang sukses," ucap Hartanto terkejut sekaligus berusaha menenangkan putra semata wayangnya.
"I know dad, thanks... Kalau gitu Pandu akhiri dulu panggilannya, good Evening dad, have a nice day and keep healthy." ucap Pandu dengan tulus.
"Thanks my son, I hope you too," jawab Hartanto menahan sesak di dada lalu mematikan panggilan.
"Keluarga Soetanoe sedang bermain api denganku hingga membuat putra semata wayangku hampir goyah kuliahnya hanya karena menangisi Felicia, jika mereka berani macam-macam apalagi mempermainkan putraku, jangan harap saya akan menolong perusahaannya." gumam Hartanto geram sambil menggepalkan tangan.
__ADS_1