PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 56-Felicia di teror?


__ADS_3

"Sialan.. Enak banget dia bisa hangout sama temennya sedangkan gue disini disuruh nunggu gitu?? Ah membosankan. Rumah segede gini bisa-bisanya gak ada orang.. Ntar kalau ada maling gimana coba?" gerutu Felicia kesal lalu berjalan menuju meja makan dan menyantap makanan yang sudah di pesankan oleh Bram.


Drrt..drrt.. Dering hp Felicia.


"Pandu? Akhirnya dia ngabari juga, lumayan lah sebagai pelepas rasa boring" gumam Felicia senang lalu mengangkat telpon.


"Hai sayang?" sapa Felicia.


"Hai juga sayang.. How are you?," tanya Pandu.


"Im very well baby. And you?" tanya Felicia penasaran.


"Me too.. Maaf ya baru bisa kabari sekarang soalnya kemarin-kemarin sibuk banget kuliah, bagaimana keadaanmu apakah sudah pulih?" tanya Pandu penuh perhatian.


"Sudah sayang.. Sekarang bisa kembali aktivitas seperti biasa," jawab Felicia.


"Kejadian kecelakaan kemarin mengapa di tutupi?? Apa karena Bram yang menyelamatkannya? Rasanya ingin sekali meminta dia untuk jujur.. ah tapi dia malah gak nyaman sama aku," batin Pandu sedikit kecewa karena Felicia tidak memberitahu keadaannya yang habis kecelakaan.


"Maafin aku ya sayang bukannya aku menutupi kejadian kemarin darimu, tapi aku gak mau nantinya kamu curiga terhadapku dan juga Bram, apalagi temanmu itu sudah menaruh curiga.. Aku gak bisa bayangin gimana nantinya kalau kamu tau semua ini," batin Felicia meneteskan air mata.


Tiba-tiba jendela kamar Felicia ada yang menggendor dengan sangat keras hingga membuatnya terkejut.


"Astaga.. Siapa disana?" teriak Felicia ketakutan.


"Sayang ada apa?? Kenapa sayang??" tanya Pandu panik.


"Hiks..hiks.. tolong sayang.. help me.. ada yang.. ada yang.. aaaa," ucap Felicia terpotong lalu teriak histeris.


"Sayang kamu kenapa?? halo?? halo? bisa denger aku gak? Sayang.." ucap Pandu panik dan terus menerus memanggil Felicia via telpon namun tak kunjung ada jawaban.


Tok..tok..tok..tok..Suara ketukan jendela kembali terdengar sangat keras.


"SIAPA KAMU? JANGAN MACAM-MACAM YAA.. GUE LAPORIN KE POLISI," ancam Felicia sangat ketakutan dengan keringat bercucuran.


"Hahaha.." suara tawa peneror Felicia membuatnya semakin ketakutan.

__ADS_1


"BERANI MAJU GUE TELFON POLISI SEKARANG JUGA. INI BUKAN RUMAH GUE, KALAU LOE MAU NGAPA-NGAPAIN GUE.. GUE PASTIIN LOE DALAM MASALAH BESAR," gertak Felicia ditengah ketakutannya dan ingin menelfon polisi namun peneror memgacungkan pistol ke arahnya dibalik jendela.


"HEI..JANGAN MACEM-MACEM YA SAMA GUE.. LOE ADA DENDAM APA SAMA GUE?HA?? JUJUR AJA.. SIAPA YANG NYURUH LOE? BILANG!!!" teriak Felicia dengan berjalan mundur dan seluruh badannya bergetar, lalu ia mencoba fokus dengan menghela nafas berulang kali..


Sambil memantau peneror yang berdiri mematung dibalik jendela, tangan Felicia menelfon Bram.


"Ah sialan.. Telfon dari Pandu belum mati lagi, maaf sayang kali ini urgent dan yang bisa handle hanya Bram," gumam Felicia mematikan telfon lalu menghubungi Bram.


Drtt..drrt.. Dering hp Bram.


"Ayo dong Bram angkat.. gue takut nih" gumam Felicia cemas.


3x dering baru Bram mengangkatnya.


"Halo kenapa sih nelfon terus? Gue udah bilang jangan nunggu gue pulang, bisa gak..." ucap Bram terpotong oleh Felicia.


"BRAM INI BUKAN WAKTUNYA BERDEBAT, GUE MINTA TOLONG SEGERA PULANG.. GUE BENERAN TAKUT. ADA ORANG YANG TEROR GUE, DIA LAGI MENODONGKAN PISTOL KE ARAH GUE.. PLEASE PULANG BRAM," teriak Felicia sangat ketakutan dan menangis histeris.


"Jangan bercanda.. kode akses keluar masuk hanya gue yang tau," ucap Bram tak percaya.


Ting.. suara notifikasi hp Bram.


"PUAS?? LOE FIKIR GUE BERCANDA SOAL BEGINIAN. KALAU LOE GAK PULANG SEKARANG, JANGAN HARAP BISA BERJUMPA ANAKMU.. KARENA GUE GAK BISA JAMIN SETELAH INI MASIH HIDUP ATAU TIDAK. BYE BRAM.." isi chat Felicia membuat Bram syok.


"Bagaimana bisa ada yang membobol kode aksesnya?? Gue harus cepetan pulang sekaligus cek lewat cctv di hp," gumam Bram sangat syok lalu bergegas pergi.


"Hai bro kita belum selesai nih," teriak Deo namun tak di tanggapi oleh Bram.


Di dalam mobil Bram terus saja memantau cctv untuk melihat apa saja yang terjadi di villanya.


"Gue harus telfon polisi," gumam Bram lalu menelfon polisi.


"Hallo selamat malam dengan polsek Kayu Manis, ada yang bisa kami bantu?" tanya polisi.


"Selamat malam, ada pak. Tolong datang ke villa gold nomor 1, ada calon istri saya didalam yang tiba-tiba di teror seseorang tak di kenal sambil menodongkan pistol. Tolong segera kesana pak, saya ini juga perjalanan menuju kesana," pinta Bram sangat panik dan khawatir.

__ADS_1


"Baik pak terima kasih laporannya dan akan segera kami tindak lanjuti," ucap polisi lalu menutup panggilan dan bergerak kesana.


"Tenang Felicia, gue harap loe bisa tenang.. Meskipun loe cewek manja tapi please di situasi begini bersikaplah tenang. Jika gue telat datang setidaknya ada polisi yang mengatasi," gumam Bram terus fokus menyetir dengan kecepatan sedang.


"Bram.. please datanglah, gue sangat ketakutan. Beberapa jam yang lalu loe bilang dengan angkuhnya jika semuanya akan aman dan kode akses keluar masuk hanya loe yang bisa membukanya, tapi kenapa sekarang ada seseorang yang gak gue kenal meneror gue seperti ini?? Ini yang dinamakan aman?? Apa ini jangan-jangan ulahmu untuk membunuh aku dan juga calon bayiku. Jika iya maka kamu tak perlu bersusah payah lakuin ini Bram," lirih Felicia duduk di bawah meja rias sambil memeluk lutut dengan badan bergetar hebat.


"Hahaha.." suara tawa peneror membuat Felicia makin takut.


"Dor.. dor.." suara tembakan sangat keras.


"Aaaaa... help me please," teriak Felicia histeris sambil menangis histeris.


"Huhuhu... tolong," lirih Felicia dengan kondisi sangat lemah.


Bugh..bugh..bugh.. suara pukulan yang cukup keras.


"Aww.. ampun ampun" ucap seseorang yang suaranya sangat asing bagi Felicia.


"BERANINYA MENGUSIK PRIVASI GUE.. CARI MATI LOE.. HAH!!!! RASAKAN.." gertak Bram dengan penuh emosi dan kembali memukuli peneror dengan membabi buta.


Lalu pihak kepolisian datang dan menangkap peneror itu.


"Cukup Pak cukup.. Jangan main hakim sendiri," ucap polisi melerai.


"BAGAIMANA SAYA BISA DIAM SAJA JIKA ADA CALON SAYA DIDALAM SANA SANGAT KETAKUTAN. TAK ADA ANGIN TAK ADA HUJAN TIBA-TIBA DIA DATANG MENEROR CALON SAYA DAN MENODONGKAN PISTOL. BUKA TOPENGMU SEKARANG GUE MAU LIHAT TAMPANGMU!!!" gertak Bram penuh emosi dengan mengepalkan kedua tangan.


"Biar kami yang menanaganinya Pak dan serahkan pada kami" ucap polisi memborgol tangan peneror.


"SEBELUM ANDA BAWA, BIARKAN SAYA MELIHAT WAJAHNYA DAN MENGETAHUI SIAPA DALANG DIBALIK KEJADIAN INI," teriak Bram lalu membuka paksa topengnya dan sang peneror hanya tersenyum seringai.


"SIAPA LOE DAN SIAPA BOSMU," teriak Bram kembali memukuli wajahnya lalu di relai lagi oleh polisi dan akhirnya peneror dibawa ke kantor polisi untuk di tindak lanjuti lebih lanjut.


"Sudah Pak jangan terus main hakim sendiri, silahkan nanti tanyakan di kantor. Biar kejadian ini kami tindak lanjuti," ucap polisi lalu membawa peneror ke kantor dengan mengendarai mobil polisi.


"SIAL!!! SIAPA YANG TAU GUE ADA DISINI," gumam Bram sangat emosi lalu masuk ke villa.

__ADS_1


__ADS_2