PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 76-Pertemuan dua keluarga


__ADS_3

Sudah seminggu Bram tinggal di mansion orang tuanya, bukannya orang tua tidak mau anak dan cucunya menginap lama disini, namun tujuan Bram disini karena menghindari masalah.. Itu yang menjadi permasalahan orang tua Bram hingga akhirnya mereka inisiatif untuk mengundang keluarga besannya kesini.


"Pah.. coba deh hubungi keluarga Felicia, suruh dia datang kesini dan kita putusin bagaimana pernikahaan Bram dan Felicia ke depannya," Pinta Wina.


"Kita jangan terlalu ikut campur mah, mungkin putra kita ingin menenangkan fikirannya dulu," Tolak Wijaya.


"Ini demi kebaikan bersama pah, apa papah mau anak kita menggantung status istrinya lebih lama lagi? apa nanti kata besan kita pah, ayo hubungi," Desak Wina tak sabar.


"Kalau keluarga Felicia tidak tau masalahnya gimana?," Tanya Wijaya.


"Pasti tau lah mama yakin itu," Jawab Wina dengan mantap lalu Wijaya menghubungi Soetanoe.


Keluarga Felicia setuju untuk bertemu, kini orang tua Bram tinggal menunggu kedatangan besannya.


30 menit berlalu mereka sudah tiba di rumah orang tua Bram.


"Apa kabar jeng?," Sapa Wina ramah lalu cipika-cipiki.


"Kabar baik Jeng, anda bagaimana?," Tanya Vina basa-basi.


"Ya begitulah jeng.." Jawab Wina sedih.


"Jadi begini.. saya meminta kehadiran kalian kemari karena ingin berbicara secara kekeluargaan, ini tentang permasalahan kedua anak kita, jika di biarkan dan diamkan saja maka permasalahan ini akan semakin larut.. Jadi kita sebagai orang tua harus turun tangan," Ucap Wijaya dengan bijak.

__ADS_1


"Benar pak, lalu bagaimana keputusannya? Saya tidak mendengar secara utuh kenapa anak kita sampai bertengkar hebat seperti itu," Ucap Soetanoe kebingungan.


"Permasalahannya memang sangat menyakitkan putra kami pak, makanya itu ia sampai ingin menalak putri anda, saya yakin ia hanya mengucapkannya karena emosi saja," Ucap Wijaya mengawali.


"Apa? Cerai?? Sebenarnya ini ada apa Felicia ? Apa kesalahan yang kamu perbuat sampai suamimu ingin menalakmu?? jawab!," Gertak Soetanoe sangat terkejut.


"I..itu.. permasalahan itu hanya ucapan Bram ketika emosi pah," Jawab Felicia gugup.


"JANGAN BERBOHONG!! PAPAH SEORANG LAKI-LAKI JADI PAPAH TAU JIKA IA SAMPAI MENGUCAP TALAK BERARTI KESALAHANNYA SANGAT FATAL!!." Teriak Soetanoe murka.


"Udah om jangan terlalu paksa Felicia, mungkin dia sedang syok. Biarkan Bram yang menjelaskannya saja," Ucap Bram tak mau memperkeruh suasana.


"Silahkan jelaskan dengan detail," Pinta Soetanoe dan dijawab anggukan kepala oleh Bram.


"Ini di mulai ketika Bram menelfon Felicia di siang hari karena Felicia sedari pagi pergi tanpa pamit hingga Emil merengek kelaparan, ketika Bram menelfon berkali-kali tak kunjung di angkat hingga akhirnya Pandu lah yamg mengangkat telfon Felicia, awalnya Bram terkejut bukan main ketika tau mereka pergi bersama.. Namun setelah Bram tau alasannya, Bram langsung merasa jika rumah tangga kami selama ini tidak sehat makanya Bram mencoba mengurus proses cerai pernikahan di pengadilan." Ucap Bram menduduk malu.


"Saya rasa tidak bisa tante, saya juga berfikir tante mungkin sudah di ceritain sama Felicia cuma tante belum yakin aja," Ucap Bram dengan sorot mata tajam.


"Memang tante di ceritakan sama Felicia tapi gak sepenuhnya Bram, tante pun merasa ada yang di sembunyikan sama anak tante makanya ketika kamu sampai ingin menceraikan Felicia, jujur saja tante sangat sedih karena tante fikir rumah tangga kalian selama ini baik-baik saja dan harmonis," Ucap Vina dengan sedih.


"Saya mencoba agar semuanya terlihat baik-baik saja tante namun dari Felicianya tidak mensupport itu, ia lebih memilih mengejar cinta masa lalunya daripada menata hidup dengan keluarga kecilnya, Bram fikir lambat laun Felicia akan luluh dan bisa mencintai Bram, namun nyatanya salah besar, hingga detik ini perasaan Felicia hanya untuk Pandu.. Ia sampai mendatangi Pandu dan memohon untuk kembali, Felicia juga bilang sama Pandu jika kamu sedang proses cerai padahal waktu itu Bram belum ada niatan untuk bercerai dengannya, karena Pandu mengirim bukti rekaman suara antara Pandu dengan Felicia membuat Bram yakin jika pernikahan ini harus segera berakhir karena Felicia sendiri yang berharap jika kami berpisah, maka dari itu maafkan saya tante dan juga om karena sudah menyerah," Ucap Bram dengan mata memerah menahan tangis.


"FELICIA... KAMU SUDAH MEMBUAT KAMI MALU, TINGKAHMU SANGAT LAH MEMALUKAN FELICIA!!! KAMU ITU WANITA BERSUAMI KENAPA BISA-BISANYA MEMOHON DAN MENGEMIS CINTA PRIA LAIN? APA SELAMA INI YANG DI LAKUKAN SUAMIMU ITU KURANG,HA?!!! PANTAS SAJA BRAM SAMPAI INGIN MENALAKMU KARENA KAMU SUDAH SANGAT KETERLALUAN!! HARUSNYA KAMU ITU FOKUS SAMA KELUARGA KECILMU, FOKUS!!! BUKAN MALAH MENGUMBAR RAYUAN SAMA LAKI-LAKI LAIN, KAMU SUDAH MENCORENG HARGA DIRI SUAMIMU SENDIRI. JIKA BRAM MEMANG INGIN MENCERAIKAN FELICIA MAKA OM SIAP MENERIMANYA KARENA ITU MEMANG SEHARUSNYA DI LAKUKAN!! OM MENYETUJUINYA, UDAH BERUMAH TANGGA HARUSNYA MENGURUS KELUARGA DENGAN BAIK BUKAN MALAH MEMIKIRKAN ORANG LAIN APALAGI SAMPAI MENGABAIKAN ANAKMU SENDIRI!," Teriak Soetanoe dengan lantang karena emosi dengan kelakuan anaknya.

__ADS_1


"Papah.. Felicia menyesal pah," Rengek Felicia berlinang air mata.


"Menyesalmu tidak ada gunanya lagi karena ini menyangkut perasaan dan harga diri suami! Ayo pulang dengan kami sekarang!," Gertak Soetanoe mencengkeram lengan Felicia kencang.


"Awww sakit pah, tolong jangan begini.. biarkan kami menyelesaikannya sendiri," Pinta Felicia memohon.


"Orang tua Bram yang menyuruh kita kemari, itu berarti permasalahan kalian sudah tidak bisa di toleransi lagi. Tau begini papah sudah menghukummu dari awal, papah sempat salah paham dengan suamimu akibat alibimu itu," Ucap Soetanoe dengan kesal.


"Begini saja pak Tanoe, sebelum permasalahan ini sampai ke meja hijau lebih baik kita beri ruang untuk anak kita menyendiri sementara waktu, siapa tau setelah mereka menenangkan fikiran nantinya keputusan bisa berubah dan mereka rujuk, ingat Felicia dan juga Bram, diantara kalian sudah ada Emil yang membutuhkan kasih sayang kalian," Ucap Wijaya dengan bijak mencari jalan keluar.


"Bagaimana kalian setuju atau tidak?," Tanya Soetanoe menatap keduanya bergantian dan Felicia hanya mengangguk patuh namun tidak dengan Bram.


"Kenapa kamu diam saja Bram? Kamu tida setuju?," Tanya Wijaya heran.


"Saya menolak Pah, bagi Bram kesalahannya sudah fatal apalagi ia sampai menelantarkan Emil demi bertemu dengan masa lalunya, itu hal yang susah Bram ampuni, dulu Bram sudah meminta dia untuk memulai hidup baru dan bersama-sama membuka lembaran baru namun Felicia menolaknya, Bram fikir karena dia belum siap dengan cinta yang baru namun ternyata perasaannya masih terjaga untuk masa lalu," Ucap Bram sendu.


"Lalu kamu maunya bagaimana Bram?," Tanya Wijaya dengan hati-hati.


"Biarkan Bram hidup bersama dengan Emil seperti ini, Bram tidak mau nantinya Emil tertekan batinnya karena permasalahan kami," Pinta Bram memohon.


"Papah kurang setuju jika kalian berpisah karena kalian baru memulai pernikahan, permasalahan yang datang itu lumrah terjadi dan papah harap kalian bisa menyelesaikannya dengan dewasa, jadi keputusan papah adalah kalian berpisah dulu untuk sementara sampai keadaannya tenang, baru kita putuskan lagi," Ucap Wijaya dengan bijaksana.


"Ba..baik om, Feli setuju.. Terima kasih banyak om," Jawab Felicia terharu dan menyeka air matanya.

__ADS_1


"Ayo pulang !! kamu bisanya hanya membuat malu keluarga saja!," Gertak Soetanoe lalu menggandeng Felicia untuk keluar secara kasar.


"Kami permisi dulu Pak Wijaya dan jeng Wina.. Maafkan tingkah kami yang kurang sopan, semoga setelah masing-masing bisa menenangkan diri nantinya keputusan yang diambil baik untuk semuanya," Pinta Wina penuh harap dan keluarga Bram hanya mengaminkan saja.


__ADS_2