
Brian menarik tangan Bram secara paksa hingga diluar rawat inap.
"Lepas," gertak Bram menepis kasar cengkraman Brian.
"Oke oke," jawab Brian melepas cengkraman tangannya.
"Ada masalah apa sebenarnya antara loe dan gue ha?? kenapa loe memperburuk suasana di kamar inap, loe tau gak kalau dia baru siuman?" ucap Bram melotot tajam dan menunjuk muka Brian.
"Gue bukan memperkeruh suasana tetapi gue meminta penjelasan," ucap Brian penuh penekanan.
"Penjelasan tentang apa hmm?" tanya Bram geram.
"Tentang rahasia diantara kalian berdua," ucap Brian serius.
"Memang apa untungnya buatmu jika tau tentang kami?" tanya Bram.
"Setidaknya gue bisa memastikan jika loe tidak berkhianat pada kekasihmu dan juga Pandu," ucap Brian penuh penekanan.
"Terus semisalnya gue berkhianat, loe mau apa?" tantang Bram kesal.
"Gue pastiin loe akan menyesal," ancam Brian menunjuk wajah Bram.
"Dengan cara?" tanya Bram tersenyum kecut.
"Ya nanti lihat aja, gue disini mau memperingatkan jangan macam-macam sama Felicia atau nanti loe berhadapan langsung dengan Pandu," ancam Brian.
"Silahkan kalau mau dikasih tau sama Pandu, gue gak takut.. karena loe hanya praduga saja, bukti tidak ada," jawab Bram angkuh.
"Jika gue ada buktinya?" tanya Brian tersenyum licik.
"Impossible" jawab Bram terkekeh.
"Nih" lalu Brian memutarkan voice note percakapan Felicia dan Bram yang membahas gaun pengantin.
"Haha hanya itu? lemah," cibir Bram menutupi rasa gugup.
__ADS_1
"Setidaknya ini menjadi bukti jika kalian selingkuh," jawab Brian tak gentar.
"Silahkan saja laporkan, Pandu bukan anak kemarin sore yang langsung percaya gitu aja," tantang Bram dengan angkuh.
"Jangan sombong dulu Bram setidaknya baru gue yang mengetahui perselingkuhan kalian, jika sampai tau yang lainnya terutama pacarmu, apa loe gak kasihan sama dia?? loe sama aja mempermainkan perasaannya," hardik Brian tak terima.
"Kenapa jadi loe yang sewot sih, harusnya gue dong kan gue yang loe tuduh," jawab Bram enteng.
"Karena loe selalu aja mencari celah dari omongan gue, jadi loe selalu aja lolos," jawab Brian kesal.
"Makanya jika mau bertindak sama gue fikirin dulu seribu kali gue sekali dua langkah di depan," jawab Bram sombong.
"Sialan.. tinggal bilang aja ada hubungan apa antara loe dan Felicia apa susahnya sih," ucap Brian geram dan mengepalkan tangan.
"Gak ada apapun diantara kami, apa yang loe lihat belum tentu faktanya seperti itu, jadi fikirkan baik-baik jika mau melaporkannya pada Pandu," ucap Bram penuh penekanan.
"Kenapa kalian membahas gaun pengantin limited edition?" cecar Brian.
"Emang ada yang salah dengan pembahasan kami?" tanya Bram memancing emosi Brian.
"Dimana letak kesalahannya?" tanya Bram santai.
"Astaga masih saja nanya, kalian ini sudah memiliki pasangan masing-masing dan Felicia belum lama loh di tinggal Pandu untuk kuliah di Amerika tapi kenapa loe udah gebet dia? loe deketin Felicia tapi disatu sisi masih terikat sama pacarmu, gila ya loe.. mau jadi playboy?" sindir Brian dengan emosi.
"Haha.. playboy? gak juga tuh, siapa juga yang deketin Felicia, memang gue masih sama pacar gue kok dan akan begitu tanpa perlu ditambahin lagi porsi hati untuk wanita lain, jadi stop terus menerus mendesak gue berkata jujur karena memang diantar gue dan juga Felicia tidak ada hubungan apapun," jawab Bram dengan tegas.
"Gaun pengantin.. kalian membahas itu untuk apa?" tanya Brian masih penasaran.
"Itu bukan gaun pengantin tetapi gaun bridesmaid Felicia, silahkan tanya orangnya kalau perlu orang tua Felicia jika jawaban gue kurang memuaskan untukmu," jawab Bram penuh penekanan.
"Mustahil jika hanya gaun bridesmaid kalian bahas berdua, gue bukan anak kecil yang mudah di tipu," ucap Brian tak terima.
"Siapa juga yang menipumu? kalau loe merasanya begitu ya silahkan tapi menurut gue enggak ya, gue bicara apa adanya," jawab Bram tenang.
"Mau kamu membuat seribu alesan, yang namanya bangkai pasti akan tercium juga," sindir Brian tersenyum sinis.
__ADS_1
"Sayangnya gue belum jadi bangkai, gue masih manusia yang tidak perlu tercium privasi gue pada siapapun termasuk loe. Meskipun kita berteman tapi gue paling gak suka jika privasi gue di korek-korek," ucap Bram menahan emosi.
"Gue hanya minta kejujuranmu saja Bram biar semuanya enak," desak Brian.
"Dan gue daritadi sudah berkata jujur tapi loe sendiri yang gak terima, biar semuanya enak? itu hanya di bagianmu saja tidak untuk gue," jawab Bram tak mau mengaku.
"Biar tidak ada rahasia diantara pertemanan kita," pinta Brian.
"Gak ada rahasia apapun yang harus gue kasih tau, stop desak gue," jawab Bram mulai jengah.
"Loe gak kasihan sama Pandu? dia disana kefikiran Felicia terus," pinta Brian memohon.
"Lah kasihan untuk apa? kalau dia gak bisa jauh dari ceweknya ya jangan terima tawaran bokapnya kuliah di luar negeri dong, ribet banget jadi orang, dia yang khawatir kenapa loe yang sibuk sendiri, apa sekarang hidup loe itu mengurusi permasalahan orang lain?" sindir Bram dengan tersenyum sinis.
"Karena gue peduli sama Pandu, dia tidak pantas mendapatkan penghianatan," jawab Brian lirih.
"Siapa juga yang menghianati dia? Halo.. Jangan over thingking jadi orang karena itu gak baik, fokus saja sama hidupmu dan tata masa depanmu dengan baik, loe urusin hidup dan permasalahan Pandu untungnya apa? yang ada hanya capek dan kesal sendiri, bayaran pun enggak.. jadi mendingan loe fokus aja sama kehidupanmu sendiri," ucap Bram mempengaruhi Brian.
"Gue gak tega jika Pandu kalian khianati," jawab Brian sedih.
"Susah ngomong sama loe.. dikasih wejangan biar bisa berfikir dewasa malah membahas dan memikirkan yang gak penting, gimana hidupmu maju jika loe terus-terusan gini, emang loe bisa kenyang dengan menyelesaikan permasalahannya Pandu? Loe bisa tercukupi kehidupannya dengan ini? enggak kan? yang ada loe buang-buang waktu dan tenaga doang," ucap Bram menasehati.
"Tolong lah Bram bicaralah yang jujur," pinta Brian menatap lekat.
"Gak ada yang perlu gue bicarain atau pun gue kasih tau sama loe, ya memang kami gak ada hubungan apa-apa, gue harus bicara apa lagi Brian?? masalah gaun kan gue udah jelasin jika itu gaun bridesmaidnya Felicia karena saudaranya mau menikah, apa itu kurang jelas?." tanya Bram jengah.
"Tapi hati gue berkata lain," jawab Brian menatap Bram penuh selidik.
"Ya karena loe terlalu over thinking jadinya hanya meyakini apa yang loe rasa dan fikir saja, udahlah gue males bahas hal yang gak penting, kerjaan gue masih banyak, jika loe masih bahas ini lagi lebih baik gue cabut," ucap Bram berlalu pergi dengan perasaan kesal tanpa menoleh pada Brian.
"Bisa-bisanya Bram selalu lolos dari jebakan perkataanku, memang susah jika meminta dia mengakuinya tapi setidaknya dengan rekaman yang gue dapetin cukup menjadi bukti jika mereka berdua ada hubungan," gumam Brian menatap kepergian Bram dengan tersenyum sinis.
"Hampir aja kebongkar semuanya berarti dia bohong waktu ditanya kapan datangnya dan dijawab barusan.. Untung aja gue bisa menghindar dengan baik, coba kalau gue terlihat gugup ahh bisa kacau semuanya" gumam Bram berjalan keluar rumah sakit dan melajukan mobil sportnya menuju rumah kekasihnya.
"Hai baby I miss you so much, hangout yuk, habis ini on the way kesana," isi chat Bram pada pacarnya.
__ADS_1