
Setelah menempuh perjalanan 30 menit, kini mereka sudah tiba di mansion Felicia. Tanpa sepengetahuan mereka para pekerja sudah mempersiapkan kejutan kecil untuk anak majikannya.
Ting tong.. Suara bel mansion Felicia berbunyi.
Cekrek... Suara pintu terbuka.
"Alhamdulillah non Felicia sudah pulang," sapa Bibi tersenyum senang sembari membawakan barang-barang Felicia.
"Selamat datang kembali non Felicia Agnesia Soetanto," ucap para pekerja dengan kompak.
"Wah terima kasih.. aku sampai kaget," ucap Felicia terharu sambil melihat dekorasi surprise untuknya.
"Sama-sama non, kami sangat senang dan antusias ketika diberitahu bahwa non Felicia sudah boleh pulang, kami semua awalnya tidak percaya kalau non Felicia terbaring lemah di rumah sakit hingga koma, tak henti-hentinya kami berdoa demi kesembuhan non Felicia, hanya itu yang bisa kami lakukan dan kejutan kecil yang tidak seberapa ini sebagai wujud rasa syukur kami atas kesembuhan dan kepulangan anda," ucap Bibi dengan tulus sambil menyeka air matanya.
"Bi.. terima kasih banyak, doa dari kalian sangatlah berarti untukku, sekali lagi terima kasih," jawab Felicia terharu dan meneteskan air mata.
"Iya non, hanya ini yang bisa kami lakukan," ucap Sopir Pribadi Felicia terharu.
"Terima kasih banyak, terima kasih atas perhatian dan rasa sayang kalian, kejutan ini sangat berarti untukku dan memotivasi aku untuk lebih semangat menjalami hidup, sekali lagi terima kasih, aku sayang kalian semua.." ucap Felicia berurai air mata.
"Iya non sama-sama," jawab Pak Sopir dan lainnya ikut sedih.
"Ehem.. saya selaku orang tua dari Felicia mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian dan rasa kasih sayang kalian serta berterima kasih atas doa tulus yang kalian panjatkan untuk putriku," ucap Soetanoe terharu.
"Sama-sama pak, hanya hal yang tidak seberapa ini yang bisa kami lakukan," ucap pak sopir sungkan.
"Sebagai ungkapan terima kasih dari kami, kalian ingin apa?" tanya Soetanoe pada pegawainya.
"Naik gaji Pak," jawab Pak Sopir bergurau sambil tersipu malu.
"Boleh boleh.. untuk bulan ini dan besok gaji kalian naik 2x lipat, bagaimana?" tanya Soetanoe memastikan.
"Alhamdulillah.. Se.. serius Pak?" tanya bibi tak percaya.
__ADS_1
"Pak saya cuma bercanda kok," jawab Pak sopir tak enak hati.
"Wah kalau begitu saya juga bercanda," goda Soetanoe.
"Ehh.. jangan Pak," jawab Pak sopir keceplosan lalu menutup mulutnya.
"Tadi katanya bercanda ya berarti saya memberikan bonus juga bercanda dong, jadi gimana nih mau gak?" tanya Soetanoe memastikan.
"Mau "ak," jawab mereka serempak lalu tertawa.
"Urusan bonus aja cepet, ok bonusan kalian untuk bulan ini dan besok ya," jawab Soetanoe menggelengkan kepala.
"Hehe maafkan kami pak, namanya rezeki tidak bisa ditolak," jawab Pak sopir kikuk.
"Iya santai saja, saya juga ikhlas memberikan pada kalian," ucap Soetanoe dengan santai.
"Yaudah semuanya sudah jelas ya dan saya pribadi juga menyampaikan rasa terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam atas kepedulian dan rasa kasih sayang pada Felicia semoga kebaikan kembali kepada kalian ya.. oh iya bi jangan lupa jamu tamu kita," ucap Vina tersenyum senang dan memberitahu bibi.
"Astaga maaf nyonya kami sampai lupa, sebentar saya buatkan minum dulu, permisi," ucap Bibi menepuk jidat lalu bergegas pergi disusul yang lainnya.
"Iya gak papa,kami memaklumi kok.. para pegawaimu kompak ya jeng jadi gak ada ketegangan ketika bekerja," puji Wina.
"Iya jeng itu memang prinsip keluarga kami, mereka juga bagian dari keluarga kami karena kalau tidak ada mereka entah bagaimana kita menjalani rumah tangga, pastinya kerepotan," ucap Vina merendah.
"Iya jeng betul itu," jawab Wina setuju.
Lalu Wina dan Vina membawa Felicia ke kamarnya, mengingat kondisinya yang belum sepenuhnya pulih.
"Sayang kamu bed rest dulu ya jangan banyak gerak, makan yang cukup dan minum obat secara teratur supaya cepat pulih," ucap Wina penuh perhatian.
"Iya tante terima kasih," jawab Felicia lirih lalu tiduran.
"Istirahatlah sayang nanti ada apa-apa beritahu mamah," ucap Vina membelai rambut putrinya lembut lalu mengecup kening putrinya.
__ADS_1
"Iya mah," jawab Felicia lirih lalu melihat mamah dan tante Wina pergi.
Di ruang keluarga Soetanoe, Wijaya dan Bram sedang membicarakan bab pernikahan.
"Jadi bagaimana pak kelanjutan pernikahan anak kita?" tanya Wijaya mengawali obrolan.
"Sebenarnya saya menginginkan secepatnya namun melihat kondisi putri saya yang masih lemah rasanya tidak tega kalau harus memaksanya," ucap Soetanoe bimbang.
"Memang pak ini di situasi yang sangat sulit tetapi pihak kami sudah mendaftarkan pernikahan untuk putra putri kita 2 minggu lagi," jawab Wijaya sungkan.
"Kita tunggu seminggu ke depan semoga Felicia lekas membaik, kalau pun nanti belum sembuh juga maka dengan terpaksa pernikahan dilakukan di kamar anak saya," ucap Sotenoe sedih.
"Baik Pak saya mengerti itu," jawab Wijaya lega.
"Bagaimana denganmu apakah sudah siap menikah dengan putriku?" tanya Soetanoe sinis.
"Sa.. saya usahakan siap Om," jawab Bram terbata-bata.
"Bagaimana ini Pak Wijaya? putra anda saja ragu menikahi putriku," ucap Soetanoe geram.
"Bram.. katakan dengan jelas," gertak Wijaya dengan tatapan tajam.
"Sa.. saya siap menikah dengan Felicia," jawab Bram ragu.
"Renungkanlah keputusanmu dan akan saya tunggu 5 hari," ucap Soetanoe dengan tegas.
"Terima kasih om," jawab Bram lega.
"Dasar memalukan," ucap Wijaya menahan emosi.
"Sudahlah pak Wijaya biarkan mereka menenangkan fikiran dulu, saya sedikit penat akhir-akhir ini," ucap Soetanoe tak mau memperpanjang masalah.
"Baiklah kalau begitu kami pamit pulang dulu, permisi," jawab Wijaya menahan malu dan mereka berlalu pergi.
__ADS_1
"Akhir-akhir ini masalah yang menimpa keluarga kecilku sangatlah berat dan sulit, Felicia tiba-tiba hamil terus koma hampir 3 bulan, sampai sekarang Bram belum siap menikahi putriku, astaga cobaan ini sungguh membuatku frustasi," batin Soetanoe sambil memijat keningnya perlahan.