
Hari yang di tunggu oleh Bram telah tiba, hari dimana ia mengetahui apakah Naomi putri kandungnya atau bukan.
Ting tong.. suara bel mansion Bram.
"Iya mas ada yang bisa di bantu?" tanya bi Iin.
"Permisi bu saya kesini mau mengantarkan paket untuk bapak Bram Attirmidzi Wijaya, benar ini rumahnya?" tanya kurir memastikan.
"Benar mas.. paket darimana ya?" tanya bi Iin penasaran.
"Dari rumah sakit bu, silahkan tanda tangan disini sebagai serah terima," ucap kurir lalu menyerahkan paket dan kertas untuk di tanda tangani.
"Terima kasih mas," ucap bi Iin lalu kurir ojek online pergi.
"Siapa bi?" tanya Bram penasaran.
"Ini tuan, ada paket untuk anda katanya dari rumah sakit," ucap bi Iin lalu menyerahkan paketnya.
"Akhirnya datang juga, terima kasih bi," jawab Bram senang lalu bergegas ke kamar.
"Paket apa ya yang di pesan tuan Bram? kok tumben dari rumah sakit? ahh jangan terlalu ikut campur deh, bisa bekerja disini dengan gaji besar aku udah bersyukur, mending lanjutin pekerjaan yang belum kelar, itu lebih baik," gumam bi Iin lalu menyelesaikan pekerjaannya.
di kamar Bram sudah tidak sabar untuk melihat hasilnya, ia ingin melihatnya berdua dengan istrinya, namun Felicia sampai detik ini masih enggan tinggal bersama dengan Bram sebelum hasil tes DNA keluar.
"Telfon Felicia saja siapa tau dia mau kesini," gumam Bram lalu menelfon.
Drrt.. drrt.. dering hp Felicia.
"Halo?" sapa Felicia.
"Halo sayang.. hari ini sibuk gak?" tanya Bram.
"Memangnya ada apa?" tanya Felicia.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu, bisa gak kalau kamu kesini?" pinta Bram.
"Menunjukkan apa? kamu yang butuh ya harusnya kamu yang kemari," ucap Felicia ketus.
"Hasil tes DNA yang aku lakuin diam-diam waktu itu, hari ini hasilnya sudah keluar dan aku ingin membukanya sama kamu, biar kamu nantinya percaya jika Naomi bukan putri kandungku," ucap Bram antusias.
"Datanglah kemari dan biarkan keluargaku juga melihatnya, biar ada saksi yang melihat hasil tesnya," ucap Felicia ketus.
"Ok.. aku kesana sekarang," jawab Bram semangat lalu melajukan mobil menuju rumah orang tua Felicia.
Di mansion orang tua Felicia.
"Gimana hasilnya?" tanya Felicia to the,point.
"Belum aku buka sayang, masih segel," ucap Bram menunjukkan amplopnya.
__ADS_1
"Yaudah buka sekarang Bram, biar masalah kalian segera selesai.. jujur, kami sedih melihat cucuku kekurangan kasih sayang karena sifat ego kalian yang terlalu tinggi," ucap Vina tak sabar.
"Baik tante akan Bram buka sekarang," jawab Bram semangat dan membaca hasil tesnya.
"Gimana Bram?" tanya Soetanoe penasaran.
"Iya.. Gimana Bram? kenapa diam saja?" tanya Vina penasaran.
"Prediksimu salah ya?" tanya Felicia tersenyum getir.
"Tante.. om.. Felicia, maafkan Bram.." ucap Bram dengan sedih.
"Gak perlu di lanjutkan kami sudah mengetahui hasilnya dari raut wajahmu Bram, sekarang semua sudah jelas dan nanti hasil tes di rumah sakit kemarin pun pasti hasilnya sama.. selamat ya setelah ini Thalia masuk menjadi bagian hidupmu," ucap Felicia tersenyum kaku.
"Jadi Naomi-Naomi itu benar anakmu? iya?" ucap Soetanoe tak percaya dan memegang dadanya.
"Papah.. jaga emosinya," pinta Felicia sedih.
"Puas Bram?? sekarang kamu sudah puas membuat keluargaku sedih dan papah seperti ini?? ini yang kamu bilang mau menunjukkan sesuatu, kamu ingin menunjukkan bahwa Naomi benar darah dagingmu, aku benci denganmu Bram.. jangan lagi halangi aku untuk mempercepat proses cerai," gertak Felicia sangat kecewa.
"Tante juga sangat kecewa padamu, kurang apa Felicia selama ini?" ucap Vina sedih.
"Felicia istriku sayang, tante dan juga om, jangan langsung menilaiku seperti itu apalagi kamu sayang, aku belum selesai bicara loh, apa kalian tidak mau mendengar lanjutannya?" tanya Bram.
"Gak usah dan makasih, silahkan pergi dari sini," usir Felicia.
"Suamimu belum selesai bicara sayang.. hasilnya pun belum kamu lihat," protes Bram.
"Jangan dong ini bisa jadi bukti sayang," tolak Bram.
"Bukti jika Naomi putri kandungmu?" ucap Felicia tersenyum getir.
"Bukan.. itu salah besar," jawab Bram.
"Salah besar gimana?" tanya Felicia.
"Intinya asumsimu itu salah besar, hasil tes menunjukkan bahwa Naomi bukan anak biologisku," ucap Bram senang.
"Jangan prank," ucap Felicia tak percaya.
"Serius sayang, lihat sendiri," ucap Bram meyakinkan lalu menyerahkan hasil tes.
"Bram..." ucap Felicia meneteskan air mata.
"Iya sayang? benar kan apa kataku," ucap Bram menatap Felicia dalam.
"Jadi yang benar itu yang mana?" tanya Soetanoe bingung.
"Yang dikatakan Bram benar, Naomi bukan anak biologisnya.. ini hasil tes DNA tanpa sepengetahuan Thalia dan Naomi, jadi beberapa waktu lalu Bram berhasil mengambil beberapa helai rambut Naomi dan langsung melakukan tes DNA, hasilnya baru keluar hari ini dan menunjukkan bahwa Bram bukan ayah biologis Naomi," ucap Felicia terharu.
__ADS_1
"Astaga bisa-bisanya ya kamu hampir membuat saya jantungan, untung belum kambuh," ucap Soetanoe lega.
"Yang ini beneran kan Bram?" tanya Vina memastikan.
"Seratus persen akurat tante, karena ini dilakukan tanpa sepengetahuan yang bersangkutan.. entah nanti hasil tes DNA yang kedua apa yang terpenting hasil yang ini sudah membuktikan jika aku bukan ayah kandungnya, aku sudah curiga dari awal ketika dia terus menerus menelfonku dan mengatakan bahwa Naomi adalah anaknya.. kalau pun memang benar anak kandungku harusnya dari dulu Thalia mencariku dan meminta pertanggung jawabanku, toh rumah dan perusahaanku masih tetap disitu dan juga nomor ponselku pun belum pernah ganti, selama ini memang aku salah karena sedikit mengabaikan Emil dan Felicia, tapi setidaknya pengorbananku membuahkan hasil.. Naomi bukan anak kandungku, itu sudah cukup membuatku terbebas dari akal-akalan Thalia," ucap Bram sangat senang.
"Memang selama ini kamu mengabaikan putri dan juga cucuku, Bram?" tanya Soetanoe menatap tajam.
"Sempat pah dan selama ini ternyata aku salah sangka, dia melakukan ini karena ingin membawa bukti bahwa Naomi bukan anak kandungnya, aku menyesal sudah menuntut Bram terlalu banyak di kala kondisinya sedang tidak baik-baik saja, maafkan aku Bram," ucap Felicia menyesal.
"Harusnya kamu dari awal jujur dengan Felicia karena kalian sudah suami-istri, apapun yang terjadi harus saling bahu-membahu," ucap Vina menasehati.
"Iya tante maafin Bram, waktu itu Felicia lagi hamil besar jadinya Bram gak tega membuatnya mengetahui masalah ini, Bram takut terjadi sesuatu sama kandungannya dan kekhawatiran Bram terbukti, Felicia datang ke apartemen Thalia dan terjadi pertengkaran hebat, setelah itu kandungan Felicia bermasalah dan harus dilahirkan segera, itu yang membuat Bram sungguh menyesalinya," ucap Bram penuh penyesalan.
"Gimana gak marah pas tau suaminya telanjang di tempat tidur sama wanita lain, aku juga punya hati Bram," protes Felicia tak terima.
"Tetapi semua sudah terjawab kan? hasil laporan kepolisian dan dokter sama kan?" tanya Bram.
"Ya sama tapi waktu itu terlanjur terbawa emosi," Jawab Felicia memalingkan muka.
"Dan juga terlalu gengsi untuk mengiyakan, jadinya kamu lebih memilih pergi dari rumah dan tinggal disini, ingat loh sayang rumah itu di beliin papah untuk hadiah pernikahan kita, jadi itu rumah kita bersama.. jangan lagi ada yang keluar dari rumah jika ada masalah," ucap Bram menatap Felicia.
"Benar apa kata suamimu, mau sehebat apapun masalah yang kalian hadapi jangan lagi keluar rumah, itu tidak baik dan takutnya menjadi contoh anakmu nanti," ucap Soetanoe setuju.
"Iya maaf.." jawab Felicia lirih.
"Sekarang mau kan tinggal bersama lagi? ini sesuai janjimu waktu itu, tepati dong.." rengek Bram.
"Aku lebih nyaman disini," jawab Felicia lirih dan Bram terkejut mendengarnya.
"Selama ini apakah aku memperlakukanmu dengan buruk? sampai kamu berkata seperti itu??" Tanya Bram terkejut.
"Bukan begitu maksudku, disini aku merasa seperti Felicia yang dulu, Felicia yang belum menikah dan masih disayang mamah dan papah," jawab Felicia.
"Kamu menyesal dengan Felicia yang sekarang? Felicia yang harus menikah muda dan memiliki 2 anak?" tanya Bram.
"Tidak juga.." jawab Felicia lirih.
"Lalu?" tanya Bram bingung.
"Ya aku nyaman aja disini," jawab Felicia.
"Yasudah kalau begitu, aku tidak akan memaksamu.. mungkin aku harus intropeksi diri, barangkali ada sifatku yang buruk terhadapmu.. kalau begitu aku pamit dulu, titip salam untuk Emil kalau aku sangat rindu padanya," Jawab Bram lalu bergegas pulang.
"Kamu ini gimana sih Fel? suamimu sudah susah payah membuktikan bahwa dia bukan ayah kandungnya masih saja kamu meragukannya, maumu itu apa?" tanya Vina kesal.
"Aku masih belum siap hidup bersama lagi dengannya, bayang-bayangnya ketika di ranjang sama Thalia membuatku sakit," ucap Felicia bimbang.
"Kalian ini sudah berumah tangga, jika suami menjemputmu harusnya kamu nurut, toh suamimu tidak terbukti bersalah.. jangan sampai kamu menyesal nantinya, mamah capek terus menerus menasehatimu tapi kamunya tak kunjung bersikap dewasa," ucap Vina kesal.
__ADS_1
"Ada anak diantara kalian, fikirkan itu.. suamimu orang yang baik dan bertanggung jawab jangan kamu sia-siakan," ucap Soetanoe lembut.