
"Mana bisa begitu? Enak sekali kalian menyuruh gue untuk ngalah setelah penghianatan yang kalian lakukan." Ucap Pandu tak terima.
"Lantas apa maumu? Mau balas dendam? For what? Nasi sudah menjadi bubur." Ucap Bram sinis.
"GUE MASIH GAK TERIMA SAMA PENGHIANATAN KALIAN!!! BISA-BISANYA YA SEORANG FELICIA SERENDAH ITU!." Cibir Pandu emosi.
"Apa maksudmu ngomong begitu?." Tanya Felicia tersinggung.
"Rendah dan murahan.. Ya itu julukan yang pantas di sematkan utnukmu." Sindir Pandu.
"Apa yang mendasarimu berkata seperti itu? Karena diam-diam kami menikah? Iya??." Tanya Felicia geram.
"Iya.. Betul sekali. Gue yakin loe disuruh sama orang tua loe buat deketin Bram dan menguras hartanya, ya kan? Mana mungkin dalam waktu singkat loe bisa dengan mudahnya berpaling kalau tidak ada udang di balik batu." Ucap Pandu dengan sorot mata tajam.
"GUE GAK TERIMA KALAU ISTRI GUE LOE TUDUH SEPERTI ITU. KALAU GAK TAU PERMASALAHANNYA DIAMLAH!! TERIMA SAJA NASIBMU GAK BISA BERSANDING DENGAN FELICIA." Bela Bram dengan emosi.
"Wow.. Pahlawan kesiangan yang berjuluk suami." Ucap Pandu tersenyum kecut.
"Tolong jangan memperkeruh keadaan, gue akan jelasin semuanya. Setelah itu terserah loe mau ngatain gue apa." Ucap Felicia menyeka air mata.
"Silahkan nyonya besar Bram Wijaya." Sindir Pandu dengan perasaan sangat terluka.
"Kejadian dimulai di acara kelulusan, loe kan tau waktu itu gue mabuk dan akhirnya loe ajak kesini, ke apartemen loe ini. Saksi bisu dimana awal kehancuran hidup gue dimulai.. Setelah gue berbaring di tempat tidurmu, beberapa waktu kemudian loe datang lagi membawa obat yang katanya sebagai pereda mabuk." Ucap Felicia terpotong Pandu.
"Memang itu obat pereda mabuk, loe mau nuduh kalau gue ngasih obat macem-macem, gitu?." Tanya Pandu sudah bisa membaca arah pembicaraan Felicia.
"Gue tidak mau menuduh siapapun apalagi saat itu posisinya kita menjadi sepasang kekasih, setelah gue minum itu obat tiba-tiba badan gue terasa panas dan aneh, gue tiba-tiba ingin mendapat sentuhan. Makin lama rasanya makin gak karuan." Ucap Felicia terpotong lagi oleh Pandu.
"Terus setelah itu loe dan Bram main gila di apartemen gue sebagai penuntas nafsumu, gitu? Menjijikan. Setelah ini gue mau jual ini apartemen, gue gak sudi menghuni apartement yang pernah digunakan untuk mesum." Tuduh Pandu sinis.
"BISA GAK LOE HARGAI ORANG YANG LAGI NGOMONG, BERANI LOE CELA LAGI AWAS!." Ancam Bram menatap Pandu tajam.
__ADS_1
"Buat apa gue menghargai orang yang udah menciderai perasaan seseorang yang sangat mencintainya." Ucap Pandu menahan sakit hati.
"Tolong dengerin gue dulu Pandu." Pinta Felicia memohon.
"Oke, silahkan." Jawab Pandu acuh.
"Setelah gue merasakan hawa yang menyiksa gue langsung turun dari ranjang dan mencarimu, namun saat itu posisimu sedang berpelukan mesra dengan Nita.. Hati gue waktu itu hancur Ndu.. Hancur.. Bisa-bisanya loe dengan gampangnya tidur berpelukan dengan Nita di depan temen-temanmu. Gue tau posisi kalian saat itu lagi mabuk berat tapi tolonglah apa kamu gak bisa bedain mana aku mana nita? Karena rasa sakit hati yang sangat amat sakit, gue terus berjalan ke arah teras, kebetulan disana ada Bram dan rasa aneh di diri gue semakin menjadi-jadi. Bram deketin gue buat nanyain apa yang terjadi, tapi entah karena fikiran gue lagi buntu tiba-tiba gue minta Bram untuk menolong gue.. Dan akhirnya terjadilah hal diluar batas, tetapi kami lakuin itu gak disini.. Loe salah paham, kami melakukannya di hotel. Baru pagi harinya kami saling menyadari kesalahan masing-masing dan sepakat untuk menjaga jarak, namun sialnya beberapa bulan setelah kejadian itu gue positif hamil Ndu.. Tidak hanya mama dan papa yang kecewa, keluarga Bram juga.. Maka mau gak mau kami memutuskan menikah karena orang tua kami gak mau kalau kita sampai punya fikiran untuk aborsi, karena bagi mereka sama saja membunuh darah daging dan penerusnya." Ucap Felicia dengan detail dan terisak.
"Jadi loe nuduh gue ngasih obat perangsang? For what Felicia?? Kalau gue mau udah gue cicipi tubuhmu dari dulu tanpa perlu pakai cara murahan seperti itu." Cibir Pandu tak suka.
"Terserah apa katamu yang terpenting semua sudah dijelaskan." Ucap Felicia menyeka air mata.
"Bilang aja kalian memang saling suka dan berinisiatif selingkuh, jangan mengkambing hitamkan nita di masalah kalian. Dia udah berbaik hati membelikanmu obat, tidak hanya loe aja yang dibeliin tapi semua temannya. Jadi jangan membuat alibi sepeti anak TK." Ucap Pandu dengan ketus.
"Udahlah Fel biarin aja dia mau nganggap kita bagaimana yang terpenting semua sudah clear, tak perlu lagi saling menutupi. Gue tau dia sakit hati sama kita." Ucap Bram acuh.
"Sakit hati? Pasti.. Malahan sangat sakit, semua tidak seperti mimpi kami dulunya. Semuanya sudah hancur, untuk apa gue meneruskan kuliah jika orang yang ingin gue perjuangkan udah jadi milik temen gue sendiri." Sindir Pandu menatap keduanya bergantian.
"WAKTU ITU GUE GAK TAU KALAU LOE MENGHAMILINYA!! KENAPA WAKTU ITU KALIAN GAK JUJUR." Teriak Pandu kesal.
"Mau tau? Semua karena Felicia. Dia sangat menyayangimu makanya ia gak mau pernikahan dan kehamilan ini di ketahui olehmu dan juga orang tuamu. Ia sampai berbohong agar loe masih tetep sayang sama dia, sekarang loe malah jijik ngeliat Felicia." Ucap Bram membuat Pandu terkejut.
"Kalau memang Felicia sangat sayang padaku harusnya ia bisa menahan gejolak di tubuhnya, jangan malah mencari mangsa. Sama aja dia mau berhianat." Cibir Pandu dengan kesal.
"Loe mana tau bagaimana tersiksanya terkena obat perangsang, loe mau coba gak dan setelah itu gue yakin loe akan tarik kata-katamu barusan." Protes Bram kesal.
"Gue gak yakin Nita berbuat seperti itu terhadapmu. Obat itu gue yang lihat sendiri jika kemasannya memang untuk pereda mabuk." Protes Pandu.
"Cewek ular kaya dia kenapa loe bela? Setelah kejadian itu dia menghilang bak di telan bumi. Gue udah mencarinya kemana-mana belum mendapatkan hasil." Cecar Bram tak suka.
"Dia ada di Amerika, untuk apa loe cariin dia'" Jawab Pandu acuh.
__ADS_1
"GUE MAU MEMBUAT PERHITUNGAN, KARENA KELICIKANNYA MEMBUAT GUE DAN FELICIA MENJADI SEPERTI INI.. FELICIA MASA DEPANNYA HANCUR DAN GUE HARUS BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP ANAK YANG DI KANDUNG NYA." Gertak Bram emosi dan mengepalkan tangan.
"Jangan menuduh tanpa bukti, jika kalian salah ya ngaku aja. Jangan menyalahkan orang lain juga." Protes Pandu tak terima.
"Jangan-jangan loe tau keberadaannya? Tell me now." Gertak Bram serius.
"Gue gak tau lah, emang gue siapanya dia?." Tanya Pandu tak suka.
"Kenapa loe bisa tau dia ada di Amerika." Cecar Bram.
"Dia sempet hubungi gue dan bilang kalau stay di Amerika, ya dia sempet ajakin gue hangout tapi belum terlaksana." Ucap Pandu.
"Kalau loe tau posisinya kabari gue." Pinta Bram penuh harap.
"Buat apa? Gue yakin kalau Nita bukan dalang dibalik semua ini." Bela Pandu.
"Jika ia terbukti?." Tantang Bram.
"Gak akan." Bantah Pandu.
"Ohh atau perlu kita buat sedikit drama untuk menjebak Nita?? Loe bisa ajak dia ketemuan dan nantinya gue yang akan mengintrogasi dia." Usul Bram.
"GUE GAK SUDI MEMBANTU KALIAN!!! DI BELAKANG GUE AJA KALIAN TEGA BERKHIANAT DAN MENYEMBUNYIKAN INI DENGAN SANGAT RAPI, UNTUNG ADA CELAH UNTUK MENGETAHUINYA SEBELUM TERLALU JAUH.. JADI JANGAN HARAP GUE MAU MENOLONG." Teriak Pandu dengan mata memerah.
"Ini demi sebuah keadilan." Pinta Bram.
"Keadilan untuk kalian, sedangkan untuk gue?? Apa yang gue dapat? Perasaan yang makin sakit. Gue rasa udah cukup pembahasan ini, silahkan pergi." Usir Pandu membukakan pintu dan akhirnya Felicia dan juga Bram mengalah pergi.
Setelah Felicia dan Bram dipastikan pergi, Pandu meneteskan air matanya karena perasaan yang teramat sakit. Pandu tak habis fikir jika mereka merahasiakan pernikahan dan kehamilan dengan begitu rapinya.
"Sakit Fel.. Ini sangat sakit, gue sangat menyayangimu, gak pernah sekalipun gue ada niatan buat merusakmu.. Tapi apa? Sekarang di depan mata kepala gue sendiri, loe hamil dan menikah dengan Bram.. Apa loe gak bisa mikir gimana perasaan gue nantinya, apalagi dengan alibi kalian yang menyalahkan Nita.. Kalau dulu kalian bisa mengontrol semuanya mana mungkin bisa hamil, memang kalian sudah saling ada rasa." Gumam Pandu menangis.
__ADS_1