
Sesuai janji kemarin kini Bram melajukan mobilnya menuju sebuah bar ternama.
Ting.. Notifikasi hp Bram.
"Itu share location gue. Vip room nomor 1 di lantai 2," isi chat Deo dan Bram hanya membacanya saja lalu melajukan mobil sportnya sesuai tempat yang di tuju di maps.
30 menit kemudian Bram sudah tiba di bar dan banyak pasang mata yang meliriknya, terutama kaum hawa yang haus akan uang.
"Cmon handsome kita having fun," rayu gadis bar dengan meraba dada Bram.
"Lepasin tangan kotormu dari pakaian gue," ucap Bram ketus.
"Aw.. Makin galak makin cakep dan seksi" bisik gadis bar dengan suara menggoda dan Bram menghempaskan tubuh gadis tersebut secara kasar lalu menaiki tangga untuk menemui Deo.
"Sialan beraninya dia tolak gue, tunggu tanggal mainnya baby.. Gak ada yang boleh menolak gue," gumam gadis bar yang bernama Tari dengan senyum sinis.
-Di Vip Room-
"Sialan baju gue ternoda," gerutu Bram dengan wajah kesal.
"Hay bro whats wrong? Datang-datang langsung ngambek," tanya Deo heran.
"Tadi ada cewek gila goda-goda gue, di fikir gue gampang tergoda apa.. malah yang ada gue ngerasa jijik," jawab Bram bergidik ngeri.
"Haha namanya aja cari cuan bro. Kalau gak pakai cara itu gimana dia bisa memenuhi gaya hidupnya," ucap Deo terkekeh geli.
"Ya tapi jangan gue dong, disini kan banyak cowok, napa gak loe aja," ucap Bram kesal.
"Dia nyari yang banyak cuannya bro.. Mana mungkin cowok kayak gue di deketin mereka," ucap Deo santai sambil menghisap rokok.
"Dasar matre.. darimana mereka bisa tau mana yang berduit sama bukan?" tanya Bram heran.
"Dari penampilan lah. Pakaian loe selalu branded dan terkadang limited edition, cewek mana yang gak melirik ketika tau ada cowok tajir," puji Deo menuangkan wine.
"Ahh pusing kalau bahas cewek, emang dia fikir jadi kaya itu secara instant? enak aja mau enaknya doang," ucap Bram kesal.
"Udah gak usah terlalu di tanggepi yang penting malam ini kita senang-senang. Cheers," ajak Deo sambil angkat sloky dan mereka bersulang.
"Proyek yang loe garap udah sampai mana?" tanya Bram setelah menenggak segelas wine.
"Ya tinggal tahap finishing.. 90 persen lah. Thanks ya bro berkat recomendasimu pada para kolega membuat gue banjir job," ucap Deo dengan bangga.
"Itu memang sudah rezekimu saja. Gue hanya fasilitator yang menjembatani kalian, semoga semakin sukses ya," ucap Bram merendah.
"Aamiin.. Job gue full sampai akhir tahun bro. Banyak kolega yang menyukai hasil kerja gue," ucap Deo berbangga diri.
__ADS_1
"Syukurlah gue seneng dengernya," jawab Bram senang.
"Makanya itu sebagai perayaan goal nya proyek gue, hari ini loe bebas mau pesen apa nanti gue yang bayar," ucap Deo.
"Wah gue di traktir nih," goda Bram tersenyum senang.
"Thats true, pesen apa aja yang loe mau," ucap Deo menyerahkan buku menu pada Bram.
"Gak usah bro lebih baik uangnya disimpen untuk masa depan atau pun dana daruratmu, gue udah di traktir minum aja bersyukur kok," ucap Bram tak enak hati.
"Jangan gitu lah sekarang gue sudah kaya nih.. Deo bukanlah yang dulu lagi," ucap Deo tertawa renyah.
"On the way to be razy rich dong nih," goda Bram.
"Itu keluargamu Bram, kekayaan gue mah hanya rempahan rengginang dari kekayaan keluargamu," sindir Deo.
"Apaan sih gak sampai gitu juga kali. Udah kita bahas yang lain aja," ucap Bram tak suka.
"Yayaya.. Gimana dengan cewek barumu itu? Lebih cantik mana sama Thalia?" tanya Deo mengejutkan Bram yang sedang minum hingga ia tersedak.
Uhuk.. uhuk.. uhuk.."Cewek yang mana sih?" tanya Bram bingung.
"Yang loe ajak liburan di villa keluargamu lah. Dia bukan Thalia kan? Diem-diem loe jago juga ya bro," puji Deo.
"Ya jago akting pada dua cewek. Thalia aja udah cantik begitu bisa-bisanya loe masih kurang puas. Kenapa dia yang loe ajak ke villa keluargamu? Harusnya Thalia dong. Atau sekarang loe udah bosen ya sama Thalia?" cecar Deo bagai burung beo.
"Apaan sih maksudmu. Cewek gue ya cuma Thalia dan hanya dia.. Gak ada yang lain," bantah Bram kembali minum wine.
"Tapi yang loe bopong itu bukan Thalia kan?" tanya Deo kepo.
"Gak ada yang gue bopong dan gue kesana sendirian, besok rencananya mau balik karena urusan disini udah selesai," ucap Bram mengelak.
"Gue lihat sendiri kok kalau loe bopong cewek dan gue amati sampai rinci kalau itu bukan Thalia. Udahlah jujur aja sama gue, rahasia loe dijamin aman," desak Deo tak sabar.
"Gak ada yang gue tutupi. Kalau gak percaya cek aja sendiri," tantang Bram.
"Gak.. Villa keluargamu jarang di kunjungi pastinya banyak hiii.." jawab Deo bergidik ngeri.
"Banyak apa? rumput? ilalang?" tanya Bram bingung.
"Ya itu makhluk tak berwujud.. hii.." jawab Deo bergidik ngeri.
"Itu karena loe aja yang penakut, disana kan ada yang jaga dan bersihin villa," ucap Bram santai.
"Tapi kan mereka gak tidur kesana," jawab Deo tersenyum kaku.
__ADS_1
"Setidaknya setiap hari ada yang menjaga villa," jawab Bram tegas.
"Tetep aja beda Bram," gerutu Deo yang di dengar oleh Bram.
"Itu semua tergantung dari kita sendiri bagaimana menyikapinya. Jika kita berkeyakinan kuat dan tidak mengusik maka mereka tidak akan mengganggu, setidaknya simbiosis mutualisme," ucap Bram sambil menghisap rokok.
"I..iya sih tapi gak ah gue tetep gak mau kesana. Kenapa jadi bahas ini sih," ucap Deo kesal.
"Loe sendiri kan yang mulai," jawab Bram heran.
"Yaya gue minta maaf.. bentar ya gue tinggal di kamar mandi dulu," ucap Deo bergegas ke kamar mandi dan Bram memilih menghabiskan rokok sambil meminum wine, ia ingin rileks sejenak setelah melalui masalah yang bertubi-tubi.
Tiba-tiba hpnya berdering.
"Halo Fel," sapa Bram setengah berteriak karena bising.
"Halo Bram loe dimana sih?" tanya Felicia penasaran.
"Halo?? gue gak denger Fel. Bentar gue keluar dulu," ucap Bram lalu berjalan ke kamar mandi.
"Udah?" tanya Felicia memastikan.
"Udah.. Ada apa Fel?" tanya Bram penasaran.
"Loe dimana? Gila ya gue di tinggal sendirian disini," protes Felicia kesal.
"Gue lagi sama Deo," jawab Bram cuek.
"Astaga loe enak-enakan ketemu temen sedangkan gue dikurung disini sendirian. Waras gak sih? Ini udah malem Bram kalau ntar ada apa-apa gimana? Gue mana bisa melindungi diri kan gue lagi hamil," protes Felicia emosi.
"Gue hangout sama Deo bentar setelah itu langsung balik. Jangan panik gitu kenapa sih," Ucap Bram kesal.
"Ya gimana gak panik ini kan bukan rumah gue ditambah gak ada siapapun disini yang nemenin. Setidaknya kalau mau ninggalin gue tuh suruh orang buat jaga," protes Felicia.
"Gue tambah gak yakin kalau ada orang asing yang jagain loe, gue lebih merasa aman loe disana sendirian. Santai aja gue pantau dari sini dan semua akses keluar masuk udah gue kunci," ucap Bram menenangkan Felicia.
"Terus gue harus gitu nungguin loe pulang?" tanya Felicia kesal.
"Jangan menunggu gue pulang, loe langsung tidur aja. Gue juga udah order makan malam, gue taruh dimeja," ucap Bram penuh perhatian.
"Ok," jawab Felicia ketus lalu mematikan panggilan.
Ketika Bram jngin kembali ke ruangan, ia melihat Thalia sedang bersama seorang pria. Karena penasaran ia mendekati sang kekasih untuk mendengarkan apa yang sedang di bicarakan.
"Itu bukannya Thalia? Kenapa dia bisa disini? siapa pria yang bersamanya kenapa mesra sekali?" gumam Bram menahan gemuruh di dada lalu mendekati mereka.
__ADS_1