PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 81-Emil Sakit


__ADS_3

Pagi harinya Emil terlihat lesu dan beberapa hari ini tidak mau makan, segala bujuk cara pun dilakukan Bram agar putra semata wayangnya mau makan meskipun sedikit, namun usahanya gagal.. Bram merasa sedih melihat kondisi putranya,


"Tuan.. permisi menganggu," ucap baby sitter tergesa-gesa.


"Ada apa sus?" tanya Bram penasaran.


"Den Emil.." ucap baby sitter terpotong.


"Kenapa dengan Emil? dia baik-baik saja kan?" tanya Bram panik.


"Tidak tuan.. badan den Emil panas, semalam sudah saya kasih obat penurun demam namun sampai sekarang tak juga turun, apalagi terkadang badannya mengigil tuan, saya takut terjadi apa-apa," ucap babysitter dengan wajah panik.


"Apa??? kenapa semalam diam aja sus? dimana Emil sekarang?" tanya Bram syok.


"Maaf tuan, saya fikir hanya demam biasa.. sekarang den Emil ada di kamarnya," ucap babysitter ketakutan.


"Suruh pak supir menyiapkan mobil segera, kalau kejadian ini terulang lagi anda terancam saya pecat," gertak Bram.


"Maafkan saya tuan.." jawab babysitter ketakutan lalu bergegas menemui supir.


#Di kamar Emil#


"Hai boy good morning?" sapa Bram.


"Morning too papah," jawab Emil lirih.


"Are you sick, boy?" tanya Bram mencoba tenang dan Emil hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"I see... yuk kita ke dokter, papah gak mau kamu kenapa-napa," ajak Bram menggendong Emil tergesa-gesa.


"Permisi tuan mobilnya sudah siap," ucap babysitter terus menunduk karena takut menatap majikannya.


"Oke terima kasih.." jawab Bram bergegas turun dan masuk ke dalam mobil.


#Di Rumah Sakit Bunda#


"Sebenarnya anak saya sakit apa dok?" tanya Bram cemas.


"Menurut hasil pemeriksaan saya, anak anda mengalami gejala tyipes, tetapi untuk lebih jelasnya akan di lakukan pemeriksaan di laboratorium, jadi untuk sementara waktu anak anda di rawat inap dulu," ucap dokter dengan tenang.


"Astaga.. kenapa anak saya bisa terkena tipes, dok?" tanya Bram terkejut.


"Biasanya karena anak anda terlalu banyak aktifitas hingga menguras energi dan terus menerus di paksa sampai akhirnya tumbang, bisa juga karena kurangnya cairan di dalam tubuh," ucap dokter dengan lugas.

__ADS_1


"Anak saya tercukupi cairannya dok, karena saya memberinya susu dan juga jus," ucap Bram tak terima.


"Kalau air putih, apakah cukup?" tanya dokter.


"Apalagi air putih, Emil sangat suka minum air putih dan jus, jadi kecil kemungkinan penyebabnya karena kurang cairan," protes Bram.


"Baiklah kalau begitu nanti kita menunggu hasil tes laboratorium," ucap dokter mengalah.


Atas persetujuan Bram, kini Emil di pindahkan ke ruang VVIP.


"Anak papah.. yang kuat ya boy, lawan rasa sakit itu," gumam Bram duduk di sebelah ranjang Emil.


Ceklek.. suara pintu terbuka.


"Papah?" ucap Bram kaget.


"Bisa-bisanya ya kamu tidak memberitahu pada kami tentang kondisi Emil, kamu menganggap kita apa Bram?" tanya Wijaya dengan ketus.


"Maaf pah karena tadi Bram sangat panik jadinya gak sempat memikirkan apapun selain membawa Emil ke rumah sakit sesegera mungkin," jawab Bram lirih.


"Tapi tetap saja kamu ini mengabaikan kami, apa kamu lupa bahwa kita serumah? ha? hal seperti ini jangan kau tanggung sendiri, kami masih mampu menjaga Emil.. membiayai seluruh perawatannya di rumah sakit pun mampu" ucap Wijaya emosi.


"Sudah lah yang penting kita sudah sampai sini dan bisa melihat cucu kita, mungkin memang benar apa yang di katakan Bram, dia mana sempat berfikir lain? yang dia pikirkan hanya membawa Emil ke rumah sakit secepat mungkin agar segera mendapat pertolongan," ucap Wina menengahi mereka.


"Lain kali kalau kau masih saja tidak memberitahukan apapun perihal Emil, awas," ancam Wijaya serius dan Bram hanya mengangguk patuh. ia tidak mau berdebat dengan papahnya karena fikirannya sekarang masih kacau.


"Bram apa kamu gak memberitahu istrimu?" tanya Wina penasaran.


"Tidak," jawab Bram ketus.


"Ma..mamah.. mamah.. hiks..hiks," ucap Emil terus mengigau sambil menangis.


"Lihat anakmu.. lihat Bram, dia rindu ibunya, kabari dia," pinta Wina memohon.


"Gak.. dia mana becus urus anak, nanti yang ada Emil di telantarkan lagi," tolak Bram dengan tegas.


"Lihatlah anakmu, dia terus menerus memanggil mamahnya, kabari dia Bram.. turunkan egomu, singkirkan dulu permasalahan kalian, keselamatan anak kamu yang terpenting," pinta Wina.


"Bram gak mau mamah.." tolak Bram.


"Kalau kamu tetap bersikukuh gak mau mengabari istrimu, jangan harap mamah dan papah akan mengizinkanmu bertemu dengan Emil, biar adil.. gak kamu ataupun istrimu, semuanya kami larang bertemu dan merawat Emil," ancam Wina serius.


"Mah.. dia anakku, hak Bram untuk merawatnya," protes Bram tak setuju.

__ADS_1


"Tapi dia juga cucuku dan mamah gak mau mempunyai cucu dengan orang tua yang sama-sama egois, kabari istrimu atau akan mamah bawa Emil pergi jauh dari kalian," ancam Wina serius. lalu dengan terpaksa akhirnya Bram mengabari istrinya.


Drrtt... drrt... dering hp Felicia.


"Bram? akhirnya dia menghubungiku, semoga ini awal yang baik," gumam Felicia senang.


"Halo Bram?" sapa Felicia canggung.


"Saya mau mengabari bahwa Emil sekarang di rumah sakit Bunda, dia terkena tipes dan terus menerus memanggilmu, bisakah kamu kesini?" ucap Bram to the point.


"A..apa?? kenapa Emil bisa masuk rumah sakit?? kamu mengatakan aku sebagai ibu yang buruk, aku diam Bram.. tapi kenapa kamu malah menelan ludahmu sendiri dengan membuat anakku masuk rumah sakit? siapa yang buruk disini?ha?" ucap Felicia emosional.


"Saya hanya ingin mengabarkan itu, jika masih ada hati nurani silahkan datang tetapi ingat satu hal, jangan berdebat denganku di depan Emil.. sekali kau lakukan itu maka jangan harap kau bertemu dengannya lagi," ancam Bram lalu mematikan telfonnya.


"Astaga... sabar Felicia sabar... ingat anakmu sekarang terbaring lemah di rumah sakit dan sangat membutuhkan ibunya, urusanku dengan Bram biar dibahas nanti," gumam Felicia menenangkan diri dan bergegas menuju rumah sakit.


#Felicia tiba di rumah sakit#


"Emil sayang.." sapa Felicia membelai rambut Emil yang sedang tertidur sembari meneteskan air mata karena rasa rindu pada anaknya juga di satu sisi ia tak tega melihat anaknya terbaring lemah.


"Usap air matamu, saya tidak mau Emil berfikir yang bukan-bukan," ucap Bram ketus.


"Saya masih punya hati dan saya ini ibunya, mana ada ibu yang tega melihat anaknya terbaring lemah di rumah sakit," ucap Felicia penuh penekanan.


"Mana ada ibu yang menelantarkan anaknya," sindir Bram tersenyum sinis.


"Sekali lagi mau bahas itu, jangan salahkan saya berbuat nekad!! ingat syaratmu tadi di telfon? kalau masih mau berlanjut mari, akan saya layani," tantang Felicia menatap tajam.


"Cih.. gak, sekarang mau fokus kesembuhan Emil dulu, itu yang utama dan paling penting," jawab Bram sinis.


"Makanya itu sampingkan dulu egomu yang setinggi langit itu dan juga filter kata-kata yang nantinya akan kau ucap, ayo kita fokus dulu mengurus Emil bersama karena dia anak kita berdua, bukan cuma anak salah satu dari kita," ucap Felicia penuh penekanan.


"Mamah..." sapa Emil tersenyum senang karena Felicia berada di rumah sakit menjenguknya.


"Halo sayangnya mamah... udah makan belum?" tanya Felicia menyeka air mata dan berusaha tersenyum.


"Belum mamah.. Emil mau di suapin mamah," rengek Emil manja.


"Siap baby boss, yuk sini duduk," ucap Felicia menata posisi Emil duduk dan bersandar bantal.


"Mamah udah selesai urusannya?" tanya Emil sembari mengunyah.


"Ssstt.. makan dulu ya sayang, setelah selesai baru bicara, oke?" ucap Felicia dengan lembut dan Emil mengangguk.

__ADS_1


"Ketika kamu minta di suapin, mamah jadi flashback kejadian yang udah lalu..dimana mamah malah mengabaikanmu dan memilih menemui Pandu, andai waktu itu bisa terulang, mamah tidak akan menemuinya dan mamah akan fokus dengan tumbuh kembangmu sayang.. maafkan mamah yaa. mamah janji akan mengurusmu dengan baik hingga sembuh, mamah anggap itu sebagai penebus kesalahan fatal mamah terhadapmu Emil," batin Felicia sembari menyuapi Emil dan berlinang air mata.


"Sepertinya dia sudah menyesal.. tetapi aku gak boleh mengambil keputusan dengan cepat," batin Bram menatap Felicia dan Emil.


__ADS_2